
Malam itu langit penuh dengan bintang. Suara ombak terdengar merdu ditelinga, membuat mereka berdua betah untuk berada disana. Meskipun udara dingin menerpa tubuh mereka.
Yuzen terus memeluk tubuh Wendy erat dari belakang. Membiarkan gadis itu bersandar pada dada bidangnya yang hangat. Seharian ini mereka sudah berkencan ke banyak tempat dan memilih mengakhirinya di sebuah pantai yang sepi.
"Bintangnya banyak sekali." Wendy mengerjap takjub, karena tak setiap malam kau bisa melihat bintang. Apalagi di kota penuh cahaya. Dipantai memang nyaris tak ada cahaya sama sekali. Bahkan penerangan mereka hanya dari lampu senter ponsel. Jadi bintang bisa terlihat lebih jelas. "Yuzen tolong belikan aku sebuah bintang dong. Terus namai bintang itu dengan namaku ya. Seperti artis-artis Korea itu loh yang suka dibeliin bintang oleh fans-nya."
Yuzen mengernyit mendengarnya. "Untuk apa beli bintang? Tidak berguna sekali."
Wendy menghentakkan tubuhnya kebelakang hingga menabrak dada Yuzen. Gadis itu kesal. "Kau pelit sekali hey orang kaya!"
Yuzen mendengus lalu mendusel-duselkan dahinya pada puncak kepala Wendy.
"Lebih baik aku pakai uang itu buat memberimu makan sebanyak - banyaknya. Aku ngeri sekali jika memelukmu erat-erat. Takut patah."
"Ck, itu juga salahmu kan? Jika dari awal kau tak membunuh Ibuku. Semua ini takkan terjadi."
Wajah Yuzen langsung berubah datar. Pelukan pria itu semakin mengerat membuat Wendy tersentak dan menyadari apa yang sudah diucapkannya.
"Lagipula aku dipihakmu. Aku suka kau membunuhnya." Lanjutnya kikuk.
"Aku tidak menyesal sama sekali." Ujar Yuzen. "Tak peduli Wanda tidak menyukainya, tapi aku tidak menyesal sama sekali."
Wendy berbalik. Lalu memeluk Yuzen erat. Tangannya terangkat dan mengelus rambut tebal pria itu. Mungkin Yuzen memang membunuh ibunya dan pria itu memang punya alasan. Tapi meski begitu membunuh bukanlah hal yang benar. Awalnya Wendy pun marah dan membenci Yuzen sama seperti Wanda. Tapi setelah waktu berlalu, rasa benci justru berganti menjadi rasa berterimakasih. Dari dulu dia membenci ibunya karena suka menyiksa. Dan setelah sekian lama wanita tua itu mati, dia merasa bersyukur. Tidak ada rasa bersalah dihatinya. Dia merasa lega karena tak tersiksa lagi meski hidup serba kekurangan karena sebatang kara. Meski begitu Wanda berbeda. Mau sejahat apapun ibunya, gadis itu tetap mencintai ibunya dengan amat besar. Itulah yang membuatnya trauma hingga melupakan Yuzen. Bagi Wanda, Yuzen adalah orang terjahat dihidupnya.
__ADS_1
"Wendy, kau milikku kan?" Lirih Yuzen.
Sejenak hanya keheningan sebelum kemudian Wendy menjawab dengan pasti. "Aku milikmu. Tapi jika kau tidak memberikanku perhatian dan kasih sayang yang banyak, aku akan cari pria lain."
Yuzen melepaskan pelukan mereka dengan mata melotot marah. Dilihatnya Wendy hanya menyengir tanpa merasa bersalah.
"Kau benar-benar ya..." Umpat pria itu. "Lihat saja kau pasti akan kualahan dengan segala kasih sayangku! Kau milikku! Sekarang tinggal Wanda yang harus ku kejar."
Wendy terkekeh. "Ya ya... Dan Wanda lah yang tersulit."
Yuzen mendengus dan kembali memeluk Wendy erat. Sesekali pria itu mengecup dahi dan pipi Wendy bergantian. Kali ini, pria itu benar-benar merasa nyaman. Rasanya dia ingin waktu berhenti dan membiarkannya menikmati waktu bersama gadisnya seperti ini. Santai, tanpa mengkhawatirkan apapun.
"Tidurlah sayang. Aku akan membangunkanmu saat matahari terbit." Hari masih menunjukkan pukul 4 pagi. Sudah dua jam penuh mereka berada di pantai dan mereka memang berada disana untuk menikmati pantai, bintang, dan hendak melihat matahari terbit.
Kedua tangan Wendy terangkat kebelakang kepala Yuzen. Mengelus rambut itu sejenak sebelum kemudian mendorong kepala pria itu hingga mendekat pada wajahnya. Dalam sekejap bibir Yuzen sudah menempel pada bibir Wendy.
Wendy menahan kepala pria itu. Mengecap sejenak bibir penuh pria itu sebelum kemudian melepaskannya dengan seringaian.
Yuzen sendiri membeku. Tapi kemudian berdecak tidak suka karena ciuman mereka bahkan hanya 5detik! Waktu yang singkat dan dia tidak puas.
Pria itu hendak mendekatkan wajahnya kembali pada Wendy. Tapi Wendy buru-buru menutupi bibirnya dengan kedua tangan.
"Ah, aku mengantuk sekali. Selamat tidur Yuzen."
__ADS_1
Dan Wendy segera membenamkan wajahnya pada dada Yuzen. Membuat pria itu hanya bisa pasrah karena kembali dijahili oleh gadisnya.
"Kau tahu, jangan memancing serigala sayang. Aku akan menunggumu sampai mata itu terbuka!"
Wendy tersenyum kecil dalam dekapan Yuzen. Yah, dia akan menantikan ciuman pria itu nanti pagi.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Setelah menghabiskan pagi di pantai dan sarapan, Yuzen memilih membawa Wendy untuk kembali ke rumah. Hari ini minggu, tentu saja mereka tidak ada jadwal kuliah. Dan Yuzen memilih untuk menghabiskan waktu dirumah sekaligus beristirahat.
Mobil pajero pria itu memasuki halaman rumah Wendy yang sudah mulai terawat apik berkat tukang kebun yang di sewanya. Rumah itu pun tidak lagi penuh debu dan sarang laba-laba. Rumah itu sudah tampak cantik dengan dinding yang juga sudah dicat ulang.
Tidak ada lagi rumah hantu. Yang ada rumah sederhana minimalis yang tampak sejuk.
Yuzen membuka pintu bagian penumpang. Disana Wendy tertidur pulas. Gadis itu sepertinya sangat lelah. Dan mungkin setelah ini bukan Wendy lah yang akan terbangun. Karena Yuzen tahu gadis itu sudah puas bermain-main dan akan mengembalikan tubuh itu kembali pada Wanda.
Yuzen memasuki rumah dengan senyum kecil yang mengembang. Pria itu mulai menaiki tangga memasuki sebuah kamar yang sudah tampak lebih cantik dari sebelumnya. Pria itu tersenyum senang dan dengan lembut menaruh Wendy hati-hati ke atas ranjang yang sudah diganti dengan ukuran dua kali lipat dari milik gadis itu sebelumnya. Toh, dia akan memaksa tidur sekamar dengan gadis itu. Tak peduli jika gadisnya marah maupun histeris.
Yuzen mengecup sejenak dahi dan hidung gadisnya. Melewatkan bagian bibir karena bagian itu selalu berhasil memancing nafsunya. Tadi pagi dia sudah berhasil melawan nafsunya. Tidak untuk kali ini.
"Tidurlah sayang. Dan bangun dengan senyum cantik di bibirmu." Bisik pria itu. Sebelum kemudian meninggalkan gadisnya untuk membersihkan diri.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
__ADS_1