
Malam semakin larut, bintang tampak cerah bersinar di langit. Namun suasana tampak sedikit mencekam di jam 1 dini hari itu.
Senampan makanan masih tergeletak utuh diatas meja nakas hingga mendingin. Bahkan setelah kepala pelayan Ahn berkali-kali masuk ke dalam ruang inap dan berusaha membuat Wanda agar mau makan, gadis itu tetap tak ingin memakan makan malamnya.
Wanda berbaring disebelah Yuzen, tak merubah banyak posisi tidurnya seperti sebelumnya. Gadis itu terlelap nyaman, membiarkan ranjang sebelah kosong tak ditempati. Kamar itu sunyi senyap, meski begitu ada lebih dari 4 bodyguard yang berjaga didepan pintu dan sepanjang koridor.
Sret!
Kesunyian itu terpecah oleh suara jendela yang tergeser pelan. Gorden berwarna putih yang menutupi jendela berkibar tertiup angin malam. Seorang pria melangkah setelah berhasil melewati jendela itu, melangkah pelan tanpa suara. Pakaiannya serba hitam, dan wajahnya tertutupi masker serta topi dengan warna senada.
Pria itu memiringkan kepalanya saat melihat bahwa targetnya tidak sedang seorang diri. Dari informasi yang diterimanya tadi pagi, seharusnya pria itu dirawat seorang diri dan para bodyguarnya berjaga diluar. Kenapa sekarang ada seorang Wanita dengan pakaian pasien berbaring disebelah pria itu.
Ah sudahlah.
Yang penting misinya harus selesai. Dan orang yang menyewanya akan membayarnya dengan pantas.
Pria itu berhenti didekat ranjang. Dan mengamati pria yang menjadi targetnya. Salah satu orang kaya raya menyewanya untuk membunuh pria bernama Yuzen Wangsadinata. Satu-satunya pewaris Wangsadinata Group. Perusahaan multinasional yang berpengaruh besar di Asia. Jika dia membunuh pria ini, Wangsadinata Group tidak akan memiliki pewaris lagi.
Pria itu tersenyum meremehkan. Tugasnya kali ini cukup mudah. Membunuh orang yang sedang sekarat? Terlalu mudah. Meski dia pernah dengar selentingan, jika pria ini tidak mudah dibunuh, dan justru pembunuh bayaran lah yang akan terbunuh. Bahkan katanya waktu kecil pria itu sering diculik tapi bisa selalu lolos.
Pria iu cukup takjub dengan rumor-rumor tentang Yuzen yang tersebar didunia bawah.
Tapi rumor itu akan segera berakhir. Dia akan membunuh Yuzen.
Clik!
Pria itu menarik pelatuknya, mengangkat pistolnya kearah Yuzen. Tapi sebelum dia benar-benar menarik kokang pistolnya, sebuah pistol balik teracung kearahnya. Tanpa menunggu sedetik pun, peluru itu meluncur kearah sang pembunuh bayaran. Kepala pria itu langsung berlubang. Jatuh seketika dengan keadaan tak bernafas.
__ADS_1
Seseorang yang barusan menembak tersengal. Nafasnya sedikit putus-putus sebelum kemudian kembali normal. Pistolnya jatuh begitu saja di lantai. Dan tangannya bergetar karena lemas.
Wanda terbangun setelah mendengar suara tembakan itu. Dan beberapa bodyguard langsung masuk dengan sikap waspada.
Gadis itu berusaha duduk di ranjangnya dengan tubuh lemas, lalu matanya terbelalak melihat pemandangan dihadapannya. Seseorang sedang terkapar di lantai dengan darah mengalir dari kepalanya. Gadis itu bergidik lalu berteriak keras.
Tapi tak lama kemudian seseorang menarik tangannya dan membuatnya terbaring kembali dalam pelukan Yuzen.
"***, tak apa. Jangan dilihat lagi."
Wanda mematung mendengar suara itu. Suara yang amat dikenali nya. Suara yang dirindukan nya.
Tak sanggup mendongak, Wanda memeluk Yuzen erat. Lalu menangis sesunggukan didada pria itu.
Yuzen meringis menahan sakit karena pelukan Wanda yang erat. Pria itu baru saja tersadar dari komanya beberapa jam lalu saat Wanda mulai terlelap. Karena merasa tubuhnya sangat lemas, Pria itu kembali tertidur. Tapi karena terbiasa bersiaga sejak kecil, suara janggal seperti jendela yang bergeser membuatnya waspada. Dia langsung terbangun, meski begitu dia tetap memilih menutup mata dan memastikan keadaan. Tapi saat terdengan suara pelatuk pistol, pria itu memilih meraih pistol yang berada dibalik bantalnya secepat mungkin dan langsung menembak pria itu. Yuzen tak peduli siapa yang ditembaknya. Jika dia rasa ada sedikit saja niat buruk, tak alasan baginya untuk tak membunuh pria itu.
Kepala pelayan Ahn memang yang terbaik, pria tua itu selalu waspada. Pria tua itu selalu meletakkan pisau ataupun pistol dibawah bantalnya saat dia harus menginap dirumah sakit.
Seperti berapa lama dia dirawat disini?
Kenapa Wanda menggunakan pakaian pasien? Oke, jangan kira Yuzen tak sadar dengan pakaian Wanda. Apalagi tubuh gadis itu sedikit demam. Yuzen sudah kesal dengan kenyataan itu. Gadisnya sakit.
Atau hal tololnya,
Apa gadis itu benar-benar sedang mengkhawatirkannya atau hanya sedang takut karena ada pria dengan kepala berlubang di lantai?
Ahhh....
__ADS_1
Rasa penasaran tak berguna itu membunuhnya.
"Kak Yuzen...." Isak Wanda lirih. Tangisannya perlahan reda. Rasa sayang yang disalurkan Yuzen perlahan membuatnya merasa aman. Pria itu tak berhenti mengecup kepalanya dan mengusap punggungnya meski pelan.
Mereka mengabaikan para bodyguard yang masih berlalu-lalang membereskan jenazah pembunuh bayaran itu. Bahkan suara tembakan itu mengundang banyak orang datang ke ruang inap nya pada dini hari itu.
Yuzen mendesah.
Habis ini dia pasti berurusan dengan polisi. Dia harus memberi keterangan karena membunuh seseorang. Yuzen benci membunuh ditempat umum seperti ini
Tapi yang pasti disini dia tak bersalah. Pria itu duluan yang berniat membunuhnya.
"Tuan Yuzen anda tak apa?"
Kepala pelayan Ahn berdiri di samping ranjang Yuzen. Yuzen hanya menoleh kearah pria tua itu dan tak berniat melepaskan pelukannya pada Wanda.
"Hmmm tak apa. Untunglah aku bangun tepat waktu. Terimakasih pistolnya kakek Ahn."
Kepala pelayan Ahn tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Kau harus menjelaskan situasi selama aku tidak sadar nanti kakek Ahn." Lanjut Yuzen.
"Baiklah tuan..."
Dan malam itu berakhir dengan Wanda yang tertidur lelap dalam pelukan Yuzen yang ikut terlelap karena badannya masih lelah.
✍👀✍
__ADS_1
Pendek ya?
Hmmmm.....