
{{10/4 Saturday. 14.06 p.m
Postby Florence
[Sent pict]
Tolong!
Siapapun yang masih ngehate pasangan Yunda(Yuzen-Wanda) tolong pakai otaknya.
Jelas-jelas mereka suka sama suka.
Tatapan Yuzen bahkan penuh cinta begitu.
Orang bodoh aja tahu.
Gini ya, para penggemar Yuzen. Aku disini cuma mau ngingetin aja. Jangan rusak hubungan orang.
Ngefans mah ngefans aja. Gak usah agresif.
Gak usah jadi bucin yang gak ada otak.
Oke maaf kalau kata-kataku kasar.
But, coba liat foto diatas.
Diambil waktu acara fashion show tadi.
Kalau ada yang bilang foto itu editan, sini.
Kayaknya kalian perlu dikasih pukulan dikepala.
Salam hormat,
Flo yang cantik.}}
[+101] [-9]
Oh ya! Aku disana tadi. Mereka benar-benar membuat heboh penonton. Bahkan sepasang pakaian itu langsung terjual paling mahal dilelang.
[+45] [-30]
Bukankah yang buat postingan sahabat Wanda? Aku sering lihat dia jalan bersama Wanda. Hei, tentu saja dia membela Wanda. Dasar!
[+288] [-207]
Hei, aku jadi ingin membuat club shipper mereka. Ada yang mau gabung?
[+132] [-14]
Selalu ada pro kontra untuk hal-hal seperti ini. Kita tidak bisa memaksakan suatu pihak setuju dengan pendapat kita. Toh itu hak setiap orang untuk setuju atau tidak. Tapi satu pernyataan diatas yang ku setujui adalah 'jangan rusak hubungan orang!'. Bayangkan saja jika hubunganmu dengan kekasihmu dirusak orang, apa kau akan suka?
__ADS_1
[+68] [-0]
Astaga, ternyata kak Yuzen pria yang sangat romantis! Aku baper, tolong!
[+133] [-87]
Wanda sangat cantik! Dengan sedikit pulasan make-up, kenapa dia bisa jadi secantik itu?
.
.
Flo menyeringai melihat semua komentar yang masuk pada postingannya di media sosial kampus sabtu kemarin, meski dia meradang untuk beberapa komentar. Tapi, Rata-rata komentar cukup bagus.
Gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan perasaan riang. Lalu kembali menggandeng Wanda yang masih berdiri di sampingnya dengan gelas minuman besar ditangannya. Gadis itu hanya diam dan terus menyeruput minumannya.
"Kau kenapa?"
Wanda menoleh lalu menggeleng tanpa berniat melepaskan seruputannya pada sedotan.
"Yakin? Kau tampak aneh. Sejak tadi tak berhenti melamun."
Wanda cemberut. Lalu melepaskan sedotannya. Gadis itu menatap Flo dengan pandangan gusar lalu meremas pelan minuman yang dia pegang.
"Flo, entah kenapa perasaan ini tidak nyaman bagiku. Aku...." Wanda terhenti. Entah kenapa dia susah melanjutkan kalimatnya. Apa Flo akan memahaminya? Gadis itu mendesah. "Rasanya aneh."
"Aneh?"
"Hmm."
"Wanda, kau bisa cerita apapun padaku. Aku bukan orang asing kan?" Flo berujar lembut. Dia tak ingin memaksa Wanda. Meskipun dia sedikit mendorong Wanda agar gadis itu mau bicara. Dia penasaran.
"Flo, sepertinya aku sakit." Wanda terdiam. Membiarkan kalimatnya menggantung dengan pernyataan yang membuat Flo membelalakan tak percaya.
"Kau sakit?!" Flo memegang kedua pundak Wanda erat. "Sakit apa? Sudah periksa?"
Wanda menggeleng.
Lalu tangan gadis itu terarah ke dadanya. "Aku merasa gusar, Flo. Jantungku sering berdetak tak menentu akhir-akhir ini. Terkadang kepalaku juga pusing."
Flo meremas bahu Wanda. Dia ikut kalut mendengar pernyataan Wanda. Dia tak menyangka temannya yang bahkan belum menginjak usia 20 tahun itu harus sakit parah. Jantung katanya? Astaga. Bagaimana bisa Wanda sakit? Apa karena jarang makan dan olahraga? Apalagi gadis itu tinggal dirumah mewah namun kumuh selama bertahun-tahun.
Flo menggeleng menampik semua hal negatif yang mulai berlalu lalang di benaknya.
Dengan cepat Flo meraih ponsel yang baru dimasukkannya ke dalam tas beberapa menit lalu. Sebelum mengetik Flo menoleh kearah Wanda. "Kau sudah bilang ke kak Yuzen?"
Wanda kembali menggeleng. Namun wajahnya kembali gusar dan Flo dapat melihat itu dengan sangat jelas.
"Kenapa?"
Wanda memejamkan matanya erat sesaat sebelum membukanya lagi. "Jantungku berdetak cepat lagi. Rasanya aneh Flo."
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit ya?" Paksa Flo.
Wanda menggeleng. "Aku ada kelas sebentar lagi, Flo. Ini hari senin, kelas Bu Zubaidah. Nilai ku bisa kosong kalau tidak mengikuti kuis beliau pagi ini."
"BODO AMAT SAMA NILAI WANDA!" Bentak Flo kesal.
Dengan cepat gadis itu mengetikkan sebuah pesan pada sebuah nomor yang tertera nama kak Yuzen di sana. Yah mereka sempat bertukar nomor sebelumnya. Flo sendiri tak menyangka bisa punya nomor mahasiswa paling populer seantero kampus, meski alasannya karena Wanda. Masa bodoh. Tetap saja terasa seperti mimpi.
Flo menghembuskan nafasnya. Jika dia tak bisa memaksa Wanda, setidaknya dia berharap Yuzen bisa. Pria itu kekasih Wanda, pasti peduli kan?
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Mereka menunggu hasil semua uji lab yang mereka lakukan sembari duduk diruang tunggu dibagian sudut. Yuzen tak berhenti memandangi Wanda. Tangannya melingkar pada tubuh Wanda hingga gadis itu berada rapat dalam pelukannya. Berusaha menjaga gadisnya tetap tenang dan baik-baik saja.
Yuzen ingat betapa paniknya dia tadi dan menyetir ugal-ugalan dari kantornya ke kampus karena pesan Flo. Dan disinilah mereka akhirnya berakhir. Menunggu hasil kesehatan Wanda.
"Sayang...." Panggil Yuzen.
Pria itu meraih kepala Wanda ke dalam pelukannya semakin erat saat merasakan gadis itu mulai menangis. Diusapkannya kepala Wanda lembut. Yuzen bahkan memejamkan matanya erat-erat. Dia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada gadisnya itu. Dia tidak bisa kehilangan Wanda. Saat itu terjadi, dia yakin hidupnya juga akan berakhir.
"Sakit?" Tanya Yuzen lembut. Pria itu memindahkan Wanda kedalam pangkuannya dan semakin menyembunyikan gadis itu dalam pelukannya.
Wanda tidak menjawab dan terus menangis. Kedua tangan mungil gadis itu balas memeluknya erat.
"Cup cup... Cepat sembuh." Yuzen mendesah, dia sedikit frustasi membayangkan hasil lab-nya nanti.
Saat nama Wanda dipanggil setelah menunggu sejam lebih, Yuzen tanpa peduli posisi Wanda, segera berdiri dan ikut membawa gadis itu dalam gendongannya. Wanda hanya diam, tak berontak dan memilih berganti memeluk leher Yuzen erat.
Mereka masuk kedalam ruangan seorang dokter. Duduk tepat dihadapan sang dokter, Yuzen memasang wajah penuh intimidasi. Dia tak ingin berbasa-basi dan berharap hasil yang keluar bukanlah hal buruk.
"Jadi apa yang terjadi pada istri saya dok? Saya tak ingin berbasa-basi. Ini menyangkut nyawa istri saya."
Sang dokter meneguk ludahnya susah payah. Sedikit terintimidasi dengan tatapan yang dilayangkan Yuzen. Meskipun dia sedikit heran pasangan dihadapannya adalah suami istri. Mereka terlihat sangat muda. Tapi dari data pendaftaran mereka memang suami istri.
Yuzen pun memang diam-diam sudah mengurus semua surat-surat. Mengurus kartu keluarga mereka dan segala ***** bengeknya. Bahkan Kartu tanda penduduk Wanda sudah berstatus menikah. Gadis itu saja yang tak sadar kartu tanda penduduknya hilang dari dompet tanpa isinya itu. Mungkin karena jarang ada isinya, dompet itupun jarang dibuka.
Kembali ke fokus utama, dokter itu mendesah. Lalu membuka map dihadapannya.
"Tidak ada masalah tuan." Dokter itu membolak-balikkan kertas dihadapannya secara memeriksa kembali semua hasil lab yang sudah dilakukan. "Pemeriksaan jantung, tes darah, tes urin, tes otak, bahkan rongen, tak ada yang salah dengan istri anda. Hanya ada beberapa masalah kecil seperti tekanan darah yang terlalu rendah dan dehidrasi. Tidak ada yang salah dengan jantungnya dan sarafnya."
Tanpa diduga, Yuzen menggebrak meja dokter itu. Membuat dokter itu tersentak. "Kalau dia tidak sakit apapun, kenapa dia kesakitan?"
Yuzen memejamkan matanya. Keparat. Dokter itu tidak berguna.
Lantas Yuzen memilih berdiri. "Tidak berguna." Kakinya dan segera keluar dari ruangan itu dengan marah. Bahkan pria itu menutup pintu itu dengan kakinya secara kuat. Resepsionis Sang dokter yang ada didekat pintu terkaget. Yuzen masa Bodoh. Dia akan pergi kerumah sakit lain dan kembali memeriksakan gadisnya. Pasti ada sebab gadisnya kesakitan, dia harus tahu itu. Gadisnya harus disembuhkan.
Yuzen menunduk, dan tersenyum kecil saat melihat gadisnya tertidur. Sepertinya gadis itu tertidur sejak memasuki ruangan dokter tadi. Yuzen sedikit bersyukur, gadis itu jadi tidak menangis lagi lebih lama.
Ngomong-ngomong....
Hmm... Rahasianya belum terbongkar ternyata. Kapan gadis itu akan tahu mereka sudah menikah? Yuzen ingin saja memberitahunya, tapi ada sisi lain dirinya yang enggan memberitahu sebelum dia berhasil. Menikahi gadisnya secara benar.
__ADS_1
Sudahlah...
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆