Psychopath Prince

Psychopath Prince
-6- Hiburan Malam


__ADS_3

...Kau tahu apa nyanyian paling menghibur?...


...Nada-Nada rendah penuh permohonan....


...Serta,...


...Nada-Nada tinggi penuh kesakitan....


...~✈✈✈...


Yuzen berjalan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Melangkah dengan semangat dan senyum lebar yang terukir di bibirnya.


Pria itu bersenandung kecil. Kepalanya di goyangkan ke kanan dan kekiri dengan riang. Tangannya berada didalam saku, namun sesuatu tergenggam dikedua tangannya yang berada didalam saku. Dirinya semakin senang saat hidungnya mulai mencium bau besi berkarat disertai bau amis nan busuk.


Sebuah pintu besi menghadangnya saat dia sampai diruang bawah tanah.  Ada sebuah lubang kecil ditengah pintu dan Yuzen mendekatkan matanya kearah lubang itu. Lalu sedetik terdengar suara 'klik' menggema. Tapi pintu itu belum terbuka. Dan justru sebuah panel sandi terbuka disamping pintu itu. Yuzen menyeringai kecil dan mulai mengetikkan 10 angka yang menjadi sandinya. Sebuah suara kemudian menggema lagi. 'Welcome mr. Yuzenno.' dan pintu itu langsung terbuka otomatis.


Ruang bawah tanah itu gelap. Hanya ada 2 lampu kecil yang menerangi tempat itu, tapi Yuzen terbiasa akan kegelapan. Kegelapan justru membuat adrenalinnya girang bukan main.


Suara sepatunya menggema dilorong yang dilaluinya. Memberikan rasa takut pada para penghuni yang berada didalam sana. Tentu saja bukan hanya Yuzen makhluk hidup yang berada didalam ruang bawah tanah kedap suara itu.


"Hallo... Sepertinya ini malam keberuntunganmu bisa bertemu denganku." Yuzen menatap sosok yang meringkuk dipojok salah satu sel yang dikunjunginya. Pria itu terkekeh lalu menyeringai dan mengeluarkan tangannya yang menggenggam 2 buah pisau kecil yang sangat tajam. "Aku sedang senang hari ini. Kau tahu, akhirnya aku bisa tinggal bersama gadisku. Akhirnya kami bisa bersama lagi."


Yuzen terkekeh senang. Diarahkannya salah satu jarinya kearah panel yang terdapat disamping pintu jeruji dan ditempelkannya jarinya. Jeruji itu kemudian terbuka membuat orang didalam sana terkesiap dan langsung meringkuk semakin ketakutan.


"Jadi, malam ini kita mau bermain apa?" Yuzen memiringkan kepalanya. Menatap pria yang meringkuk itu dari atas kebawah. Meneliti baik-baik mangsanya. "Karena aku sedang senang kau boleh memilih permainan yang kau mau. Kebetulan aku sedang bosan dan terlalu senang untuk bisa terlelap. Gadisku? Dia pingsan lagi setelah berhasil menahannya selama berjam-jam." Ada nada sedih diakhir kalimat Yuzen.


Setelah makan malam beberapa jam lalu dan mengutarakan maksudnya tentang mereka yang akan tinggal bersama, gadis itu berusaha kabur lagi. Tentu saja tidak berhasil, toh tenaga Yuzen lebih kuat dan banyak penjaga berjaga diluar. Yuzen  akhirnya mengurung Wanda di dalam kamar bersamanya. Tapi gadis itu justru terus berteriak histeris dan memohon dilepaskan. Karena Yuzen terlalu sayang pada Wanda, pria itu berusaha menenangkan gadis itu. Memeluknya dan memperlakukannya dengan lembut. Mereka berpelukan sambil berbaring diranjang. Tapi Wanda semakin histeris dan yah... Berakhir pingsan.


Salahnya juga, dia ingin menenangkan gadis itu. Tapi dia lah sumber ketakutan gadis itu. Bagaimanapun dia tidak tahan mendengar gadis itu terus menerus histeris. Dia ingin menenangkan, dan berakhir dengan tidak tahan jika tidak memeluk gadisnya.


Ah membingungkan.


Akhirnya Yuzen memilih meninggalkan Wanda dan membiarkan gadis itu menenangkan dirinya. Melalui CCTV dikamarnya, Yuzen tahu gadis itu sudah sadar beberapa menit sebelum dia turun ke ruang bawah tanah. Ini baru pukul 2 dini hari. Yuzen ingin gadis itu terlelap dengan nyaman. Dan besok... Dia akan membuat gadis itu histeris lagi dan lagi. Sampai gadis itu terbiasa dengan dirinya lagi. Toh dia tak takut gadis itu bisa kabur, dia sudah meneralis jendela kamarnya serta menyingkirkan benda-benda berbahaya yang bisa melukai diri.


Jadi...


Kembali fokus pada pria mengenaskan dihadapannya.


Pria itu hanya diam dengan tubuh bergetar ketakutan. Tentu saja semua tahanan disini takut dengan kedatangannya, karena itu adalah tanda bahwa ajal menyakitkan mereka telah didepan mata.


"PERHATIAN SEMUA PENGHUNI. HARI INI AKU INGIN MEMBERIKAN HIBURAN PADA KALIAN YANG SUDAH TERKURUNG DISINI SELAMA BERHARI-HARI. AKU BAIK BUKAN? TAPI KARENA TOKOH UTAMA KITA MALAM INI TIDAK MENJAWAB INGIN BERMAIN APA, AKU AKAN BERBAIK HATI DAN MENYERAHKAN PILIHANNYA PADA KALIAN SEMUA. JADI, PERMAINAN APA YANG AKAN SANGAT MENYENANGKAN?"


Yuzen berbicara dengan suara menggelegar, membuat semua penghuni langsung merinding dibuatnya. Ada 4 orang penghuni disana, termasuk pria mengenaskan dihadapan Yuzen. dan terkurung di jeruji masing-masing dengan penampilan yang tak kalah mengenaskan. Mereka adalah para penjahat kelas kakap, dan 2 dari mereka adalah pembunuh bayaran yang sebelumnya berani menyinggung Yuzen.


1 menit.


Yuzen kehabisan kesabaran karena tidak ada yang menjawab. Sebagai balasannya, pria itu berjalan cepat kearah pria dihadapannya dan menendang pria itu keras hingga membentur dinding. Pria itu menjerit dan memohon ampun. Yuzen terkekeh, dia suka jeritan itu. Ini baru yang dinamakan hiburan.


"JIKA TAK ADA YANG MENJAWAB, MAKA SALAH SATU DARI KALIAN AKAN MENGGANTIKAN PRIA YANG MENJADI PEMERAN UTAMA HARI INI." tahanan lainnya merinding seketika. Sedangkan pria yang baru ditendang Yuzen berdoa semoga tahanan lain sedang tidur dan tak ada yang akan menjawab Yuzen. Meski mustahil. "AKU BERI PILIHAN. DI MUTILASI KECIL-KECIL ATAU... DIKULITI?"


Seketika sahutan demi sahutan putus asa terdengar. Yuzen menyeringai senang. Sedangkan pria dihadapannya sudah menangis meminta pengampunan.


"TERIMAKASIH PARA PENDENGAR SETIA. SEKARANG.... DUDUKLAH DENGAN MANIS DI SEL MASING-MASING. HIBURAN KALI INI ADALAH.... TEBAK KESUKAAN DAN KETIDAKSUKAAN GADISKU. JIKA SALAH.... kau akan dikuliti." Yuzen berbisik diakhir kalimat. Menyeringai dengan lebar dan memainkan pisau ditangannya dengan riang.


Yuzen mendekat kearah pria itu. Memasukkan satu pisaunya ke dalam saku dan dengan satu tangannya mengangkat pria itu. Memasang borgol yang terpasang di dinding ke kedua tangan pria itu. Hingga tangan pria mengenaskan itu terbentang di dinding seperti salib dan memaksa pria itu untuk terus berdiri.


"Jadi kita mulai saja langsung. Kau tahu menunggu itu membosankan. Dan aku tidak ingin membuat para pendengar kita mati kebosanan." Yuzen memainkan satu pisau ditangannya. "Pertanyaan pertama, Siapa ciuman pertama gadisku?"


Pria mengenaskan itu menatap Yuzen horor. Dia tahu sebentar lagi dia akan menemui ajalnya dengan amat menyakitkan. Tapi tetap saja dia berusaha mendengarkan pertanyaannya dan berharap semua jawabannya benar. Tapi sekali lagi... Itu hal yang mustahil. Dia tidak kenal dengan sosok 'gadisku' yang dimaksud.

__ADS_1


"A-anda... Tuan... Yu-Yuzen." Pria mengenaskan itu menjawab dengan terbata-bata. Matanya langsung terpejam erat setelah menjawab. Dia takut pisau kecil nan tajam itu menggores kulitnya.


Yuzen tertawa keras. "Tentu saja aku." Pria itu girang bukan main.


Pria mengenaskan itu secara otomatis menghembuskan nafas lega. Sedangkan di sel lain aura tegang juga melingkupi. Ada yang menutup telinga, ada yang berusaha tidur sekuat tenaga. Mereka semua tidak ingin mendengarkan teriakan - teriakan kesakitan.


"Pertanyaan kedua." Yuzen menjalankan mata pisaunya ke kulit tangan pria itu yang terus bergetar. Menelusuri sepanjang tangan itu. "Gadisku lebih suka ciumanku atau pelukanku?"


Pria itu meneguk ludahnya susah payah. Astaga, dia tak ingin melakukan ini lebih lama. Tak bisakah langsung bunuh saja?! Dia ingin segera mengakhiri ini. Tapi jika salah menjawab dia akan dikuliti. Dan dikuliti hidup - hidup itu bukan hal yang bisa dibayangkan rasa sakitnya. Kau akan memohon-mohon untuk langsung dibunuh saja. Namun dari segala penyiksaan yang pernah dilakukan Yuzen, pria itu tak pernah mengampuni siapapun.


"Di... Cium." Jawab pria mengenaskan itu pelan.


Yuzen kembali tertawa. Membuat pria mengenaskan itu sedikit merasa lega. Jika Yuzen tertawa, bukankah berarti jawabannya benar?


"Ding dong." Dan Yuzen seketika menggeram marah. "Bagaimana bisa kau hanya menjawab dicium, huh?! Gadisku tentu saja menyukai ciuman dan pelukanku. Meskipun sekarang dia lupa dan butuh pendekatan lagi, tapi dia suka sekali dicium dan dipeluk!"


Yuzen memegang salah satu lengan pria itu. Lalu tangan satunya mendekatkan pisau kearah kulit lusuh pria mengenaskan itu. "Kau harus dihukum. Teriak lah sekuat mungkin, berikan hiburan pada yang lain."


Lalu....


Terjadilah.


Teror mengerikan selalu berhasil dilakukan Yuzen. Membuat penghuni lain selalu merasa terguncang dan ketakutan.


Malam itu kembali di penuhi teriakan kesakitan selama 1 jam penuh. Yuzen selalu menyiksa perlahan, menikmati teriakan demi teriakan hingga korbannya....


Mati karena Syok dan kehabisan darah.


...✾n-o-t✾...


Pagi itu, Kampus menjadi heboh. Semua orang terpaku pada sosok Yuzen yang berjalan keluar dari mobilnya dengan menggandeng seorang gadis mungil urakan yang justru tampak ketakutan.


Para gadis mengangga tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Meskipun Yuzen terkenal ramah dan suka tersenyum, tapi pria itu sangat sulit didekati. Tidak pernah ada gadis yang terlihat dekat dengan Yuzen. Tapi kini, pagi ini pria itu menggandeng seorang gadis dengan posesifnya. Membuat semua orang bertanya - tanya.


Sedangkan beberapa pria serentak merasa putus cinta melihat gadis yang diincar mereka digandeng oleh seorang Yuzen. Siapapun tahu bahwa Yuzen bukan pria yang mudah dikalahkan. Dari urusan tampang sampai harta. Yuzen adalah pria dalam katagori sempurna. Jika kau melihat Yuzen, kau akan tahu apa perbedaan tampan dan tampan sekali. Pria itu dalam katagori tampan sekali.


Brengsek memang.


"Kak Yuzen, aku bisa ke kelasku sendiri." Cicit Wanda. Genggaman tangan pria itu lembut tapi sekaligus sulit dilepaskan. Wanda bahkan masih merasa linglung kenapa dia bisa berakhir ditangan pria ini.


Yuzen berhenti dan menoleh kearah Wanda dengan senyuman lembut yang merekah. "Aku akan mengantarmu."


Entah kenapa Wanda merasa pria itu kini sedikit berbeda. Pria itu memang terlihat ramah. Tapi terkesan sangat pemaksa dan tak ingin dibantah. Tanpa ada rayuan sama sekali. Pria itu seakan bertekad membuatnya menjadi tahanan. Bahkan pagi ini saat dirinya bangun setelah berhasil tidur dijam 4 dini hari, pria itu hanya duduk disofa dekat jendela dengan tangan yang penuh goresan dan darah yang menetes dari tangannya. Lalu tersenyum padanya saat mata mereka bertemu.


Wanda bergidik mengingat pagi tadi. Senyum itu memang hangat, tapi mata itu terasa dingin.


Yang tak diketahui Wanda, Yuzen hanya sedang menghukum dirinya. Setelah melewati malam penuh hiburan didalam ruang bawah tanahnya, dia kembali ke kamar untuk melihat gadisnya secara langsung. Dan saat melihat Wanda, rasa bersalah langsung menyeruak karena membuat gadis itu histeris dan pingsan kembali. Tak boleh ada yang melukai Wanda, termasuk dirinya sendiri.


"Kak Yuzen boleh aku bertanya?" Wanda menatap tangan Yuzen yang terus menggandengnya. Entah kenapa sekarang dia tak merasa sehisteris beberapa menit lalu saat pria itu pertama menggandengnya.


"Ya sayang? Bertanya saja dengan santai padaku."


Sayang?


Wanda tak mengerti, kenapa Yuzen sering menyebutnya begitu. Pria itu sungguh aneh dan Wanda tak berani membantah. Sudah cukup tindakan bar-bar pria itu yang memaksa.


Tapi dia ingin bertanya satu hal penting pada pria itu.


"Kenapa kakak melakukan semua ini?"

__ADS_1


Yuzen kembali berhenti dan kini berbalik menghadapi Wanda. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan gadis itu.


Wanda terkesiap dan merasa was-was dengan tindakan pria itu selanjutnya.


"Pertanyaan yang bagus diwaktu yang tepat." Ujar pria itu.


Wanda berkedip cepat. Apa maksudnya?


"Perhatian semua!" Yuzen tiba-tiba berujar lantang didepan gedung jurusan Wanda yang dipenuhi orang-orang. "Mulai hari ini, Gadis yang ada disampingku adalah kekasihku. Siapapun yang berani mendekatinya atau bahkan melukainya akan berhadapan denganku. Dia milikku!"


Suara terkesiap, pekikan, bahkan ada beberapa gadis yang histeris menggema disana. Tak terima akan pernyataan itu.


Apalagi tidak sedikit fans-fans Yuzen yang berada disana. Bahkan Yuzen memiliki sebuah fansclub yang terbilang besar di kampus maupun luar kampus.


Suara tak Terima terdengar di mana-mana.


"Kak Yuzen kau itu milik bersama, kenapa melakukan hal ini?!" Gadis yang berteriak itu nyaris menangis.


"Apa bagusnya gadis jelek itu?! "


"Sialan. Kau pasti pakai guna-guna. Dasar gadis buruk rupa."


"Yuzen, aku bahkan lebih cantik daripada dia!"


Semua umpatan dilayangkan pada Wanda. Membuat gadis itu bergidik ngeri. Tamat sudah riwayatnya, dia akan menjadi bahan bully-an satu kampus.


Dan...


PLUK!


Sebuah botol air mineral berisi penuh menghantam kepala Wanda. Entah dari arah mana.


Wanda meringis memegang kepalanya. Sedangkan Yuzen langsung menoleh bengis pada arah datangnya botol itu.


Pria itu menggeram. Tak menyangka ada yang berani melakukan tindakan itu didepan matanya.


Sialan.


Dia hanya ingin mengklaim gadisnya secara umum agar tak ada pria yang berani mendekati gadisnya.


"SIAPA YANG MELEMPAR?!" Kini suara itu menggelegar begitu keras. Membuat keadaan sunyi seketika. Tidak ada yang pernah melihat Yuzen marah. Melihat pria itu marah membuat semua orang bergidik. Auranya terasa mengerikan.


Serentak beberapa orang menunjuk seorang gadis cantik dengan dandanan yang cukup mencolok. Gadis yang ditunjuk berdecih kesal. Lalu melotot pada orang-orang yang menunjuknya.


"Sialan. Apa salahnya melempar gadis jelek itu. Pasti dia pakai guna-guna. Sekalian saja mati biar guna-guna nya hilang." Gadis itu berbicara pelan tapi Yuzen bisa mendengarnya karena suasana yang hening.


Yuzen berjalan pelan kearah gadis itu. Bukannya takut, gadis itu justru salah tingkah. Siapa yang tak ingin didekati seorang Yuzen memang?


Tapi gadis itu terlalu bodoh karena mengabaikan aura membunuh yang dipancarkan Yuzen. Gadis itu sudah buta akan kekagumannya pada Yuzen.


Yuzen berhenti tepat didepan gadis itu. Mengangkat dagu gadis itu yang justru kesenangan disentuh Yuzen.


Yuzen mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Kau... Sampai jumpa lagi. Persiapkan dirimu." Bisiknya yang hanya bisa didengar mereka berdua.


Gadis itu terpekik girang dan mengangguk. Semua orang penasaran akan apa yang diucapkan Yuzen. Tapi mereka tetap bungkam.


Yuzen berbalik dan diam-diam menyeringai. Otaknya mulai menyusun sebuah rencana menyenangkan yang akan dilakukannya pada gadis tadi.


...✾n-o-t✾....

__ADS_1


__ADS_2