Psychopath Prince

Psychopath Prince
-17- Kabar Tak Terduga


__ADS_3

Aroma sedap makanan yang baru matang menguar begitu saja diruang keluarga saat Yuzen melangkah masuk. Pria itu membawa 2 buah piring berisi Spageti buatannya dan menaruhnya di meja depan sofa.


Wanda menatap pria itu dengan pandangan terpaku. Bagaimana bisa pria itu terlihat begitu sempurna dimatanya sekarang?


Wanda meneguk ludahnya gugup dan langsung meraih remote TV untuk mengganti saluran. Berusaha mengabaikan Yuzen sekuat tenaga. Ternyata, dia bisa tergoda juga dengan Yuzen. Wanda baru sadar. Biasanya dia tidak peduli akan siapapun.


"Kak Yuzen memasaknya sendiri? Bukan para pelayan yang memasaknya?"


Wanda tidak yakin saat pria itu bilang akan memasak makan siang mereka tadi. Tapi lihat apa yang ada dihadapan mereka kini. 2 piring spageti. Paling tidak pria itu dibantu oleh seorang pelayan, kan?


"Aku mengusir semua pelayan hari ini, agar kita bisa berduaan."


Wanda dapat merasakan darah mengalir ke pipinya dengan deras. Astaga dia tak bisa berada di dekat pria itu lebih lama. Seharusnya tadi dia memaksa berangkat kuliah saja. Tapi Yuzen sepertinya tahu jadwal kuliahnya dan menyadari bahwa kelasnya sudah mulai dan dia terlambat. Apalagi dia tak ada lagi jadwal kuliah selain tadi pagi. Sehingga pria itu bisa memaksanya untuk tinggal dan membolos.


"Mari makan." Wanda berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan mulai memakan spagetinya dengan lahap.


Yuzen yang melihatnya hanya menyengir senang. Tahu sekali jika gadis itu ingin segera kabur karena cara makannya yang begitu cepat. Oh ayolah, dia sudah hafal gadisnya luar dalam. Meski kadang dia juga tidak bisa menebak pikiran gadis itu. Tapi secara garis besar dia tahu.


"Jadi, kita benar-benar pacaran sayang. Bukan hanya aku yang menganggapnya seperti itu. Oke?" Yuzen mengelap sudut bibir Wanda yang belepotan, tak peduli dengan reaksi gadis itu yang menegang. "Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengan pria lain. Atau memikirkan pria lain."


Wanda tak peduli apa yang diucapkan pria di sampingnya. Gadis itu terus makan dengan lahap agar cepat selesai.


"Mulai sekarang aku tinggal disini. Dan mungkin sesekali akan pulang kerumahku. Tapi yang pasti aku akan memastikanmu hidup nyaman dan makan dengan lahap. Jangan lupa, aku juga akan mengantar dan menjemputmu kuliah. Jika kau ingin kemana-mana kau harus bilang padaku. Dan masalah uang, kau bisa minta padaku berapapun. Jangan merasa sungkan."


Wanda kini menhentikan gerakannya menyendok makanan. Merasa bahwa telinganya salah mendengar akan apa yang diucapkan Yuzen.


Dia baru menjabat sebagai kekasih pria itu kan? Bukannya istri? Tapi kenapa pria itu berkata seperti itu? Dan kenapa ucapannya membuatnya merasa dikekang?!


Wanda menggeleng tak peduli. Lalu kembali memakan makanannya. Tujuan utamanya adalah kabur dari sini secepatnya. Dia belum siap berduaan dengan pria itu. Apalagi jika harus melakukan hal yang intim. Dia masih terlalu malu!


"Jika ada apa-apa kau bisa mengadu padaku. Jika ada yang menyakitimu di kampus bilang saja padaku. Jika kau tak paham tugas kuliahmu kau bisa konsultasi denganku. Tak peduli kita beda jurusan, tapi aku pasti akan berusaha membantu. Lagipula aku jenius." Ujar pria itu bangga. Membuat Wanda mendelik tak suka pada pria itu.


Hell! Dia juga pintar. Lagipula dia juga anak beasiswa. Mendengar ucapan Yuzen membuatnya merasa seperti gadis bodoh dan hanya bisa memoroti uang kekasihnya.

__ADS_1


"Dan yang harus paling kau ingat adalah jangan dekat-dekat dengan pria lain. Kau hanya harus mendekati dan mencintaiku!"


Wanda hanya mengangguk - angguk. Lalu dalam sedetik gadis itu berlari kearah dapur dan mencuci piringnya. Membuat Yuzen yang masih menyisahkan setengah Spageti hanya bisa melihat gadis itu dengan senyum pasrahnya. Sepertinya dia memang harus memberikan gadis itu sedikit ruang. Yah, hanya sedikit sekali.


"Aku ke atas dulu. Mau tidur siang. Dan kak Yuzen jangan masuk ke kamarku." Wanda kembali ke ruang keluarga setelah menyuci piringnya dan kemudian kembali berlari menaiki tangga. Membuat Yuzen hanya bisa menggeleng.


"Tidur yang nyenyak. Tolong mimpikan aku!" Teriak Yuzen sebelum Wanda benar-benar menghilang dibalik tangga.


Lalu tak lama, suara telpon rumah yang berada tak jauh dari TV berbunyi. Yuzen mengernyit. Dia tak tahu jika telpon itu masih tersambung. Dia kira telpon itu sudah putus seperti air dirumah ini. Untuk apa gadis itu mempertahankan telpon rumah yang mau dipakai atau tidak dipakai bayarnya pun tetap mahal. Atau mungkin karena gadis itu tak punya ponsel?


Yah Wanda memang tak punya ponsel. Sebab itulah Yuzen selalu susah melacak atau menghubungi gadis itu.


Yuzen meletakkan piringnya dan berjalan kearah telpon rumah itu. Lalu dengan penasaran diangkatnya telpon itu. Mungkin hanya orang-orang yang sedang menawarkan produk.


Tapi.....


"Selamat siang, apakah benar ini rumah keluarga bapak Pangestu?"


Yuzen berusaha mengingat - ingat. Ah, benar nama Ayah Wanda adalah Pangestu.


"Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa bapak Pangestu akan dibebaskan mulai awal bulan depan. Dan akan diberikan masa percobaan selama 2 tahun penuh sebelum benar-benar dinyatakan bebas."


Yuzen seketika menegang. Matanya nyaris tidak fokus dan genggamannya pada gagang telpon mengerat begitu saja. Ini bukan kabar bagus baginya.


"Ba-bagaimana bisa?" Ucapnya nyaris tak terdengar. Dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Maafkan kami. Setelah 2 tahun ini kami baru bisa membuktikan bahwa bukti - bukti yang ada tidak menunjukkan bahwa bapak pengestu-lah yang membunuh istrinya. Meski bapak Pangestu ada dilokasi dan tidak mempunyai alibi sama sekali. Tapi tidak ada DNA-nya ditubuh korban. Meski bapak pengestu menyerahkan dirinya sendiri, tapi tidak ada bukti di lokasi yang membuktikan dia adalah tersangka. Karena itu kami memutuskan untuk menyatakan bapak Pangestu tidak bersalah dan dibebaskan dengan masa percobaan 2 tahun. Kami dari kepolisian benar-benar meminta maaf."


Deg!


Yuzen langsung menutup telpon itu dengan keringat yang mulai mengalir.


Sial.

__ADS_1


Itu adalah kabar buruk baginya.


Ayah Wanda akan kembali dan dinyatakan tidak bersalah akan pembunuhan istrinya. Tentu saja tidak bersalah, karena kenyataannya Yuzen-lah pembunuhnya.


Keparat.


Dia baru hendak memulai kehidupannya dengan Wanda dan kini ada lagi halangan.


Apa dia... Bunuh saja pria tua itu?


Yuzen sejenak menyeringai. Tapi beberapa detik kemudian menggeleng dan berusaha menekan jiwa bengis nya.


"Tidak. Jika aku juga membunuh ayahnya dan Wanda tahu... Gadis itu bisa depresi lagi dan parahnya bunuh diri. Wanda sangat menyayangi ayahnya dan tahu ayahnya bukan pelaku yang membunuh ibunya meski tak ingat."


Apa yang harus dilakukannya?


Dia sudah lega pria itu menyerahkan diri dan Yuzen sudah berusaha membuat pria itu benar-benar dianggap bersalah. Tapi... Sial!


Wanda... Tidak boleh mendapatkan ingatannya kembali. Karena Yuzen sadar, Wanda akan sangat membencinya jika dia ingat.


Apalagi, ayah Wanda pasti tidak akan menyetujui dia berhubungan dengan putrinya lagi.


Double sial!


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


[Author Note:


Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.


Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗


dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]


__ADS_2