
"Kak Yuzen..."
Pria yang dipanggil bergumam kecil. Matanya masih memandang sekitar dengan sorot tajam. Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang merengkuh lembut seorang gadis yang duduk di sampingnya. Kepalanya ia sandarkan dipundak sang gadis dan tangannya melingkar posesif pada pinggang gadisnya.
Dia bahkan tidak malu saat orang-orang yang lewat ditaman belakang kampus memandang mereka dengan penasaran. Biarkan saja. Toh Yuzen memang mau pamer kemesraan dengan gadisnya. Ini salah satu tindakannya untuk membuat semua pria sadar jika gadis itu miliknya.
Sesekali Yuzen melayangkan tatapan. Bengisnya pada beberapa pria yang memandang Wanda lebih dari 3 detik. Membuat para pria itu langsung kabur dengan nyali menciut. Semua warga kampus tahu, meski Yuzen tak pernah berkelahi dikampus maupun mendapatkan predikat anak nakal, tapi pria itu adalah mantan juara nasional taekwondo selama 3 tahun berturut-turut sejak SMA. Siapapun tidak akan berani melawan pria itu.
"Bahuku pegal. Selain itu aku.... Malu." Ujar Wanda jujur. Meski begitu Wanda sendiri merasa takjub karena dia tak gemetaran dan ketakutan lagi saat Yuzen menyentuhnya. Hanya sebuah perasaan tersentak diawal Yuzen menyentuhnya. Dan setelah itu, rasanya nyaman. Meski terkadang jantungnya berdebar.
"Kenapa malu, hm? Kau kan kekasihku dan calon istriku." Yuzen menegakkan kepalanya dan meraih dagu Wanda dengan jari-jarinya. Membuat gadis itu kini memandangnya tanpa bisa mengalihkan wajahnya kearah lain
Pipi Wanda terasa panas mendengar kata terakhir Yuzen. Entah kenapa sejak beberapa hari terakhir ini Yuzen sering sekali menekankan kata pernikahan dan calon istri. Seakan-akan mereka pasti akan menikah dimasa mendatang.
"Kak Yuzen..." Panggil Wanda pelan.
"Hm." Yuzen tidak bergerak sama sekali. Tetap menyandarkan kepalanya dibahu Wanda. Astaga, dia suka sekali posisi bermanja dengan Wanda seperti ini.
"Bukankah kakak ada kelas sebentar lagi?"
"Masih lama."
"Bukankah kelas kakak dimulai jam 1?" Wanda melirik jam tangan mahal ditangan Yuzen yang sedang melingkari pinggangnya. "10 menit lagi jam 1."
"Biarkan saja."
"Tapi tidak baik membolos. Kasihan orang tua kak Yuzen yang berusaha membayarnya dengan kerja keras." Dengan polosnya Wanda berusaha menegur pelan. Dia memang tak suka jika melihat para mahasiswa membolos. Pasalnya dia sendiri anak beasiswa yang mendapatkan kesempatan kuliah dengan susah payah.
"Sebentar lagi ya sayang. 5 menit." Yuzen ingin berdecak kesal sebenarnya. Tapi dia menahannya dan berganti dengan mengeratkan pelukannya.
"Tapi gedung jurusan kak Yuzen jauh dari sini."
Yuzen akhirnya mendesah kesal. Tak bisakah Wanda membiarkannya bermanja sebentar? Ingin sekali Yuzen mencium Wanda dan membungkam gadis itu.
"Aku akan berlari sayang. Tidak akan telat, aku jamin."
Wanda akhirnya mengangguk pasrah. Lalu tak lama pipinya dibombardir oleh kecupan bibir sensual Yuzen. Wanda menoleh dengan mata melebar tak percaya lalu pandangannya menyapu sekitar dengan tatapan malu.
Astaga mereka ditempat umum!
Yuzen hanya terkekeh melihat ekspresi Wanda sebelum kemudian pria itu menegakkan kepalanya dan melepaskan pelukannya. Pria itu meraih tas punggungnya dan mengambil sebuah map. Diserahkannya map itu pada Wanda. Tak lupa sebuah pulpen.
"Aku ingin kau menandatanganinya sayang."
"Apa ini?" Wanda membuka map itu dan hanya mendapati selembar kertas yang berisi dua garis titik-titik disebelah kanan dan kiri kertas. Tepat dibagian bawah kertas. Lalu dibawah masing-masing garis titik ada sebuah tanda kurung.
Apa maksudnya?
"Tanda tangani yang sebelah kanan sayang. Dan bubuhkan nama lengkapmu."
Wanda mengedip cepat. Dia agak ragu. Untuk apa tanda tangannya.
"Sayang, kau percaya padaku kan? Ini bukan untuk hal buruk. Aku hanya ingin tanda tanganmu. Lagipula, kau harus cepat. Ingat kelasku akan segera mulai."
Dengan ragu, Wanda menggerakkan pulpennya di atas kertas dan mulai menandatanganinya.
Yuzen tersenyum senang lalu memasukkan kembali kertas yang sudah ditanda tangani Wanda ke dalam tasnya. Setelah selesai, Yuzen bangkit berdiri dan mengacak rambut Wanda dengan sayang.
"Kau ada kelas lagi?"
Wanda menggeleng.
"Okey. Pulanglah bersama supir dan tunggu dirumah."
Yuzen mengecup kepala Wanda dan mulai melangkahkan kakinya. Tapi baru selangkah, Wanda segera menarik tangan Yuzen dengan ekspresi ragu.
"Kenapa sayang?"
"Boleh aku bertemu Flo?"
Yuzen tersenyum kecil. "Boleh, Flo masih dikampus?"
__ADS_1
Wanda mengangguk.
"Kalau begitu hati-hati. Jangan melirik pria lain."
Wanda kembali mengangguk dengan senyumannya yang mengembang. Lalu Yuzen mengacak sekali lagi rambut Wanda sebelum kemudian pria itu benar-benar pergi.
Setelah menjauh dari Wanda, Yuzen memanggil salah satu bodyguard yang senantiasa menjaga Wanda dengan isyarat.
"Jaga dia. Dan laporkan semua kegiatannya padaku nanti."
"Baik tuan."
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
"Wow, lingkar pinggangmu kecil sekali Wanda."
Fella melepaskan meteran yang melingkari pinggang Wanda. Lalu mulai turun mengukuri pinggul dan bagian bokong Wanda.
Flo yang sejak tadi tak berhenti mondar-mandir menatap ruang tata busana yang penuh kain itu, hanya bisa menatap kagum sekitarnya. Ada beberapa pakaian yang terpajang di patung dengan indahnya. Flo bahkan tak berani hanya sekedar menyentuhnya. Pakaian itu terlihat sangat bagus dan kalau dijual pasti mahal.
"Kak Fella, yakin menjadikanku model kakak? Aku tidak percaya diri." Wanda berusaha menegaskan bahwa dia merasa tidak bisa melakukannya.
Fella tersenyum kecil. Mulutnya sudah ingin terbuka menjawab pertanyaan Wanda tapi gadis yang sejak tadi berkeliling ruangan menerobos dan mengguncang bahu Wanda keras.
"Ayolah percaya diri sedikit Wanda!" Flo mengerucutkan bibirnya kesal. Dia akan memaksa Wanda menjadi model pakaian ini bagaimanapun juga. Dia ingin sedikit mengembangkan rasa percaya diri gadis itu. "Tidak akan ada hal buruk."
"Flo benar Wanda. Lagipula aku sudah sangat sreg denganmu. Meski terlihat kurus diluar kaos kebesaranmu. Saat aku mengukurmu tadi, aku tahu kau punya lekukan tubuh yang indah. Kau sangat cantik."
"Tuh kan, tidak ada yang bilang kau jelek." Flo bersungut dan melepaskan tangannya pada bahu Wanda.
Wanda mendesah lelah.
"Tentu saja Wanda cantik. Tidak lihat, Yuzen sampai bertekuk lutut seperti itu. Kalian cocok sekali." Ujar Fella. "Aku bahkan pernah menembaknya dan ditolak mentah-mentah."
Flo dan Wanda seketika membelalak kaget. Bukan hal asing memang jika Yuzen sering ditembak seorang gadis. Tapi gadis seperti Fella yang cantik dan anggun itu ditolak mentah-mentah? Wanda sendiri merasa mata Yuzen sepertinya bermasalah. Bagaimana bisa Fella ditolak sedangkan dia yang berantakan dan kurus kering ditembak pria itu?
Wow.
"Kau tidak memeletnya kan Wanda?" Flo menoleh tak percaya pada Wanda. Lalu melirik gadis itu dari atas kebawah dan bergantian melirik Fella. "Kurasa kau benar-benar memeletnya."
"Tau ah." Hanya itu yang bisa dikatakan Wanda. Dia kesal sekali mendengar tuduhan Flo, meski dia tahu itu bercanda.
"Sudah... Sudah. Lagipula aku tidak tertarik lagi dengan Yuzen kok." Lalu Fella berjalan kearah 3 pakaian yang terpajang di patung. Ditatap nya 3 pakaian itu dan berganti menatap Wanda. "Mana yang kau sukai dari ketiga pakaian ini Wanda?"
Wanda berjalan menghampiri Fella dan menatap 3 pakaian yang tampak sangat indah itu. Flo sendiri tampak mengekor dibelakangnya dan tak kalah berbinar menatap 3 pakaian itu.
"A-aku tidak tahu kak. Semuanya tampak indah." Wanda mengerjap takjub. Pakaian-pakaian itu nanti akan melekat pada tubuhnya? Tidak bisa dipercaya.
Fella yang mendengar jawaban Wanda hanya terkekeh pelan. "Kau akan mengenakan ketiga pakaian itu saat Fashion show nanti.
Wanda melotot saat itu juga. Ketiga pakaian itu?! Wanda tidak bisa membayangkan dirinya naik turun panggung sebanyak 3 kali. Membayangkan satu kali saja rasanya dia ingin pingsan.
Flo yang sadar akan perasaan Wanda, mendekati gadis itu dan menepuk bahunya menenangkan. " Paling tidak, nanti Yuzen akan melihatmu yang tampil sangat cantik."
Fella menangguk setuju.
Sedangkan Wanda hanya bisa terdiam. Tiba-tiba rasa bergidik ngeri hinggap dalam pikirannya.
Jika Yuzen menonton, bukankah akan menjadi hal buruk? Pria itu bahkan sering mempelototi para pria yang hanya sekedar menatapnya. Apa kabarnya Fashion Show nanti yang akan ditonton banyak orang?
Oh Wanda bisa membayangkan betapa marahnya pria itu jika tahu hal ini.
Semua ini salah Flo!
Gadis itu harus tanggung jawab nanti jika Yuzen marah padanya.
Wanda mencebikkan bibirnya. Lalu tanpa aba-aba menatap Flo dan memukul pundak gadis itu pelan.
"Hei, kenapa kau memukulku?!"
Wanda hanya menggeleng. Dia memang agak kesal. Tapi yah nasi sudah menjadi bubur. Toh Flo hanya sedang berusaha membuatnya terbiasa bersosialisasi. Meski sering tidak menanyakan pendapatnya.
__ADS_1
"Bisakah kita langsung berlatih berjalan saja?" Wanda tidak ingin membuang waktu. Paling tidak, pertemuan ini diadakan 2 atau 3 kali saja. Dia tidak ingin Yuzen sampai tahu. Paling tidak, tidak akan ada omelan sebelum hari H.
Toh dia tak ingin mengecewakan Fella jika dia batal ikut karena Yuzen. Meski itu keinginannya. Tapi ya sudahlah.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
"Ini dokumennya bos. Semuanya sudah selesai." Hanzel duduk di depan meja kerja Yuzen dan bersandar dengan raut lelah disana.
Yuzen sendiri membuka dokumen yang diserahkan Hanzel dan tak lama, Bibirnya mengembangkan senyum yang lebar.
Hanzel mengamati perubahan ekspresi itu. Dia turut senang, tapi rasanya ini agak tidak benar.
"Kau mengurusnya dengan sangat cepat."
"Kau menyuruhku melakukannya secara cepat. Yah jadi begitulah. Aku bekerja dengan cekatan kan?" Dinaikkannya alisnya bergantian. Merasa bangga dengan dirinya. "Tapi bos, bukannya ini keterlaluan?"
Yuzen mengangkat sebelah alisnya. Lalu bangkit berdiri dan berjalan kearah sebuah kulkas kecil di sudut ruangan.
Dilemparkannya sekaleng cola kearah Hanzel dan mengambil lagi satu untuk dirinya.
Mereka kini berada di kantor Yuzen yang berada di perusahaan ayahnya. Yah, sejak ayahnya di macau, Yuzen jadi mengambil alih sementara perusahaan Sang ayah di Indonesia meski lebih sering memantaunya dari jauh. Toh perusahaan game-nya yang belum terlalu besar juga ada di gedung ini dengan menyewa dua lantai gedung perusahaan ayahnya.
"Aku hanya ingin mengikatnya." Yuzen membuka kaleng colanya dan langsung meminumnya hingga tinggal setengah.
"Kenapa harus dilakukan diam-diam?"
"Karena aku tahu dia tidak siap."
"Lalu kenapa kau lakukan?" Hanzel tak mengerti jalan pikiran bosnya. "Kau menyuruh Wanda menandatangani sebuah dokumen kosong yang kemudian diubah menjadi dokumen pendaftaran pernikahan diatas tanda-tangan itu. Tidakkah kau ingin memberitahunya?"
"Sudah kubilang dia belum siap." Yuzen menatap Hanzel tajam. Jika bukan asistennya, sudah dia buang Hanzel sejak dulu. Pria itu memang banyak tanya sekali. "Ayahnya akan kembali. Karena itu aku melakukannya."
Hanzel melongo. "Ayahnya yang kau buat masuk penjara itu, bos."
"Yah siapa lagi."
Hanzel tak mengira bahwa ayah Wanda akan bebas secepat itu. Dia memang tidak tahu cerita lengkapnya. tapi dia tahu secara garis besar bahwa ibu Wanda dibunuh Yuzen dan ayahnya masuk penjara karena dituduh membunuh istrinya. Terdengar sangat kejam memang, itulah Yuzen. Hanzel bahkan sedikit prihatin dengan Wanda.
"Kenapa tidak kau bunuh saja?" Hanzel tak tahu kenapa kali ini Yuzen tidak berusaha membunuh pria tua itu. Biasanya jika ada penghalang sedikit saja, Yuzen akan menghancurkan penghalang itu.
"Tidak bisa."
Hanzel mengangkat sebelah alisnya heran.
"Kenapa?"
"Hanya... Tidak bisa." Balas Yuzen. Dia memalingkan matanya ke luar jendela.
"Karena itu kau menyuruhku mengurus dokumen pendaftaran pernikahanmu secepat mungkin? Agar Wanda tidak kabur darimu?" Agak tidak masuk akal. Tapi itulah alasan Yuzen, Hanzel masih tidak percaya. "Selamat. Pernikahanmu sudah terdaftar secara hukum dan negara."
Yuzen hanya mengangguk dan masih memandang keluar jendela.
"Tapi tidakkah kau merasa brengsek karena menipu gadis itu?"
"Sedikit. Tapi kini dia benar-benar milikku. Jika sudah saatnya nanti, aku akan menikahinya secara resmi."
Hanzel hanya menggeleng kecil melihat senyum Yuzen yang mengembang saat mengucapkan kalimat terakhir.
Pria itu begitu bahagia dengan kehadiran gadisnya. Hanzel jadi ingin memiliki satu cinta yang kuat dengan seseorang seperti Yuzen. Tapi dia tak ingin berpikir psycho seperti pria itu.
"Yah, semoga keputusanmu tepat bos. Kini kau sudah sah sebagai suaminya dimata negara."
Lalu mereka berdua terkekeh kecil bersama.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
[Author Note:
Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.
Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗
__ADS_1
dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍
Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]