Psychopath Prince

Psychopath Prince
-36- Pembantaian


__ADS_3

"Hallo..."


"Putrimu tidak akan pulang. Tenang saja dia bersamaku. Kami butuh privasi, Kau tahukan pengantin baru. Jangan berani-beraninya mengganggu."


Tuuuttt-----


Yuzen langsung melemparkan ponselnya ke dinding setelah berhasil menghubungi mertuanya melalui telpon rumah Wanda. Dia bahkan tak menunggu jawaban mertuanya diseberang sana. Emosinya sangat meluap-luap sekarang.


Dengan dingin dipandangnya serpihan ponsel yang kini hancur menjadi beberapa keping. Tangannya mengepal erat dan dari balik pintu dihadapannya, dia bisa mendengar isakan Wanda.


Sedari pernyataan Wanda yang mengejutkan itu, gadis itu hanya diam. Tak ingin berkata apapun dan kini saat Yuzen memilih meninggalkannya di dalam kamar pribadinya dirumah keluarganya, gadis itu tiba-tiba terisak keras.


Yuzen meraih kunci dalam sakunya. Kunci yang tadi diambilnya dari laci. Dengan ekspresi dingin, dimasukkannya kunci itu pada lubang kunci pintu dihadapannya. Memutarnya 2 kali ke kiri tanpa suara dan pintu itu benar-benar terkunci sekarang.


Tanpa banyak kata, pria itu segera berlalu.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Rambut pria itu acak-acakan, ekspresinya dingin nan kejam, dan sorot matanya tampak sesekali kosong. Tubuh atletis yang dibalut kemeja putih itu berbercak merah, terciprat darah dari orang-orang yang menjadi bahan pelampiasannya.


Pria itu kembali berjalan beberapa langkah dan berhenti didepan satu-satunya sel yang masih berpenghuni di ruang bawah tanah rumahnya. Penghuni terakhir sebelum kemudian dia bantai seperti 2 penghuni lainnya. Pria itu bisa melihat ketakutan yang membayangi wajah korbannya. Ketakutan yang akhirnya membuatnya tertawa kosong.


"Hallo, kau pasti tahu apa yang akan kulakukan." Yuzen mengamati pria yang meringkuk di sudut ruang itu. "yang lainnya tadi cukup berisik kan? Kuharap hal itu dapat menghiburmu sebelum menjemput ajal."

__ADS_1


Yuzen menyeringai. Lalu menscan sidik jarinya pada panel yang terdapat disamping jeruji besi. Pintu jeruji terbuka dan pria disudut semakin gemetaran. Mulutnya membisu, tak ingin terbuka bahkan untuk sebuah jeritan. Yuzen dihadapannya bak malaikat kematian. Membawa pisau dikedua tangan dan darah yang terciprat diwajah serta bajunya. Selama menjadi bos mafia, pria itu bahkan tak pernah melihat pria semengerikan Yuzen. Tak punya belas kasih sama sekali.


Yuzen berjalan masuk dan berjongkok tepat dihadapan pria itu. Tangan kanannya yang memegang pisau terangkat kearah wajah pria itu, mengeluskan ujung mata pisaunya pada wajah pria yang semakin gemetaran itu.


"Kau tidak ingin berbicara? Yang lainnnya sudah berteriak memohon ampun saat aku masuk." Yuzen memiringkan kepalanya. Menatap intens ekspresi pria dihadapannya.


Yuzen mendesah.


Tatapannya menerawang keatas dengan pandangan kosong. Membunuh 2 orang sebelumnya bahkan tidak membuat perasaannya baik. Dia masih resah, marah, dan sedih. Dia ingin berlari ke kamar gadisnya dan memohon pada gadis itu untuk menerima cintanya. Tapi disisi lain dia takut amarahnya justru yang tiba-tiba meledak dan membuat gadisnya tersakiti. Dia takut hal-hal yang diluar kendalinya akan terjadi jika dia menemui gadisnya dengan keadaan seperti ini. Terkadang dia tidak bisa mengontrol emosinya.


Dan tanpa benar-benar Yuzen sadari, kedua tangannya sudah menusuk pria dihadapannya berkali-kali. Darah menciprat kemana-mana. Tapi pria itu tidak bersuara sama sekali. Mulutnya bungkam meskipun rasa sakit menerjang. Yuzen akhirnya menatap pria itu dengan eskpresi yang semakin dingin. Dia tak suka.dia ingin pria itu memohon. Yuzen berhenti mengayunkan pisaunya dan membiarkan kedua pisaunya menancap didada dan perut pria itu.


"kau tampak tangguh tuan." Bisik Yuzen. "kenapa kau diam saja?"


Tidak ada jawaban. Pria diahadapannya bernafas tersenggal dengan darah yang terus menetes. Wajahnya yang memang sudah pucat semakin menjadi pucat.


Pria itu terkejut dengan ucapan Yuzen. Tapi tangannya menggenggam kedua pisau dengan erat. Nafasnya semakin terasa berat dan sesak, tapi seruan di dalam kepalanya agar membunuh Yuzen menyeruak dan membuatnya bisa mencabut pisau di tubuhnya dengan teriakan kesakitan yang akhirnya keluar.


Yuzen menyeringai melihatnya.


Dia membiarkan pria itu merangkak susah payah kearahnya. Darah pria itu menetes deras ke lantai. Yuzen tahu, pria itu sebentar lagi akan kehabisan darah dan mati. Dan Yuzen hanya mengamati bagaimana pria itu akhirnya menerjang padanya dengan sisa kekuatan dan menusukkan kedua pisau itu ke tubuhnya.


Yuzen semakin menyeringai saat darah mulai mengalir keluar dari tubuhnya. Rasa sakit langsung menyengat ke seluruh tubuh. Tapi kemudian dia tertawa.

__ADS_1


"Lagi." Bisiknya tercekat. Tapi ada rasa senang dinada suaranya. Dan pria yang sudah menerjangnya hingga bisa menindih tubuhnya itu ikut tertawa. Mencabut pisaunya dan kembali menacapkannya ketubuh Yuzen.


Yuzen mengerang tapi kemudian tertawa. Dan pria diatas Yuzen masih ikut tertawa meski sesekali terbatuk dengan darah yang mengalir keluar dari mulutnya.


"Menyenangkan bukan?" bisik Yuzen.


Seakan menyetujui ucapan Yuzen, Pria itu kembali mencabut pisaunya. Pria itu mungkin memang sudah terganggu pikiran dan jiwanya hingga menganggap hal yang kini dilakukan menyenangkan. Memang siapa yang bisa bertahan tinggal di sel berbulan-bulan dan mendengar jerit siksaan yang terkadang terdengar dari sel lain.


Pria itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan ingin kembali menancapkan pisaunya ke tubuh Yuzen. Namun dengan sigap, Yuzen melempar sebuah pisau kecil seukuran jari kelingking ke leher pria itu—yang diambilnya beberapa detik lalu dari saku celananya.


Pisau kecil itu menancap tepat disaluran pernafasan dan membuat pria itu langsung ambruk dan kesusahan bernafas. Tak lama pria itu tidak bernafas lagi dan mati dengan bermandikan darahnya dilantai.


"Jika sekali lagi kau menusukku, aku akan benar-benar mati bung." Yuzen mengalihkan tatapannya dari tubuh itu dan kembali menatap langit-langit sel yang dipenuhi sarang laba-laba.


Tiba-tiba pria itu tertawa keras.


Rasa sakit semakin menyebar dengan menyeramkan diseluruh saraf tubuhnya. Nafasnya sesak, namun tanpa peduli dia terus tertawa. Tanpa disadarinya, air mata mulai ikut menetes dari kedua matanya.


"sayang, rasanya sakit sekali." Bisiknya.


Dia memang sengaja membiarkan pria tadi menusuknya, karena dia butuh sebuah rasa sakit yang paling tidak, bisa menutupi rasa sakit dihatinya. Hasilnya...?


Lumayan.

__ADS_1


Karena kini rasa amarahnya terlupakan dan berganti dengan rasa ingin memeluk gadisnya. Dia ingin gadisnya disini dan memeluknya hangat. Dia perlu rasa aman dari gadisnya. Karena kini dia ketakutan, dia takut disini sendirian dengan rasa sakitnya serta bermandikan darah.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


__ADS_2