
Gadis itu tersenyum manis pada sang kasir, membuat pemuda yang sebelumnya tampak lesu karena lelah itu segera berbinar menatap gadis cantik dihadapannya. Pria itu balas tersenyum pada sang gadis.
"Selamat Siang. Mau pesan apa mbak?" Ujar pria itu sopan. Tapi kentara sekali wajahnya penuh lirikan menggoda.
Wendy mengetukkan telunjuknya ke dagu seakan berpikir. Lalu mengubah posisinya dan membiarkan kepalanya bertopang pada kedua kepalan tangannya yang bersandar pada meja pesanan. Ditatapnya Sang kasir dengan pandangan menggoda. Okey, dia sangat suka diperhatikan. Jangan protes. Yang penting hatinya untuk Yuzen. Sayang sekali pria itu sedang marah.
"Aku mau pesan lychee float dan ayam seember." Putusnya dengan semangat. Oh astaga, jarang-jarang dia bisa makan sepuasnya seperti ini. Ini semua karena kartu yang diberikan Yuzen! Hidup pangeran tampannya!
"Mau dibawa pulang atau dimakan di sini mbak?"
"Makan disini."
Pria itu tampak mulai mengetikkan pesanan Wendy ke dalam komputer. Wendy menunggu sambil terus menatap pria itu. Membuat sang pria salah tingkah karena ditatap sedemikian intens oleh gadis cantik dihadapannya.
"Mau bayar cash atau pakai kartu?"
Wendy langsung tersenyum lebar. Lalu merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah kartu dengan bangga. "Kredit!" Ujarnya semangat.
Wendy juga tak tahu cara menggunakannya sebenarnya. Tapi dia pernah lihat orang-orang tinggal menyerahkan kartu itu kalau mau membeli sesuatu pada kasir. Dia tinggal mengikuti saja kan? Itu mudah. Dulu juga dia seperti itu saat menggunakan kartu Bodyguard Yuzen yang dipalaknya.
"Mau pakai pin atau tanda tangan?"
"Eh?" Wendy terdiam sejenak. Dahinya mengernyit bingung. Pin? Dia tidak tahu pinnya. Tanda tangan? Wendy tidak pernah tanda tangan sebelumnya. Waktu membeli baju dulu dia memasukkan nomor pin yang diberitahukan bodyguard Yuzen.
Wendy menggaruk belakang kepalanya bingung.
Sang kasir yang melihat kebingungan Wendy juga ikut mengernyit bingung. Mereka terdiam lama. Sang kasir muda itu bahkan sedikit curiga bahwa kartu itu hasil curian. Gadis dihadapannya itu sepertinya tidak tahu pinnya dan takut membubuhkan tanda tangan. Tapi masak gadis secantik itu pencuri?
"Kalau begitu..."
"Tanda tangan saja. Dan kau, berhenti menatap gadisku atau kucongkel matamu!" Desis tajam seseorang dari balik tubuh Wendy. Sang kasir tampak gelagapan dan segera menunduk tak ingin melihat pria yang berdiri tepat dibelakang gadis cantik dihadapannya.
Wendy sendiri tersentak mendengar suara itu. Dia sangat kenal suara itu dan yang paling mengerikan dari suara itu adalah amarah yang kini terdengar jelas mengiringi setiap kata. Sepertinya pria itu tidak sedang marah hanya karena si kasir yang terus memperhatikannya.
"Silahkan ditanda tangani, tuan." Sang kasir menunjukkan struk pembelanjaan dan langsung ditanda tangani pria yang baru datang itu.
Mereka masih berdiri disana sambil menunggu pesanan mereka jadi. Wendy bergidik ngeri saat merasakan aura dibelakangnya. Dia tak berani menoleh. Apalagi sadar dirinya sebentar lagi dieksekusi. Mati dia.
"Yuzen.... Bagaimana bisa.. Kau me-menemukanku?" Wendy berkata gugup. Dia sedikit takut pada aura Yuzen kini. Tapi dia penasaran bagaimana Yuzen bisa menemukannya.
Yuzen menggeram marah. Lalu dengan cepat melingkarkan tangannya pada pinggang Wendy dari belakang dan memeluk gadis itu erat. Pria itu berusaha meredam amarahnya. Bukan hal bagus jika dia sampai menyakiti gadisnya.
"Kebetulan" Ujar Yuzen tajam. "Kau tahu, tempat ini bahkan tidak sampai 500m dari rumah!"
Wendy meringis mendengarnya. Yuzen berucap tepat di telinganya. Tajam dan sinis. Tapi hanya dapat didengar mereka berdua. Untung tempat makan inu tidak terlalu ramai. Lihat tingkah mereka yang intim membuat banyak mata yang ada didalam tempat makan itu memperhatikan mereka.
Wendy sendiri sebenarnya tidak peduli. Apalagi Yuzen.
"Aku kelaparan dan tidak kuat berjalan jauh." Wendy memberi alasan. Wajahnya cemberut.
__ADS_1
Gara-gara kelaparan niat kaburnya jadi rusak. Dia bahkan langsung tergoda untuk masuk ke tempat makan ini saat lewat tadi. Padahal jaraknya sangat dekat dengan rumah. Niat kaburnya jadi sia-sia. Rasa lapar sialan! Wendy tak mengerti, kenapa Wanda bisa tahan sekali kelaparan.
Yuzen yang mendengar alasan itu mendesah. Untuk pertama kalinya, dia bersyukur gadis itu tidak makan sejak kemarin. Jahat memang.
"Ini pesanan anda."
Wendy tersenyum senang dan mulai mengambil nampan pesanannya. Tak peduli sama sekali pada Yuzen yang jengkel karena gerakan tiba-tiba Wendy membuat pelukannya terlepas.
Yuzen mendengus kasar dan segera merebut minuman dan ayam seember milik Wendy. Pria itu keluar dari tempat makan itu dan memasuki mobil. Tak perlu takut Wendy kabur, karena gadis itu pasti mengikuti makanannya karena terlalu lapar.
Wendy yang melihat Yuzen memasuki mobil dengan makanannya menghentakkan kaki kesal. Lalu dengan enggan mengikuti pria itu memasuki mobil.
Sedetik setelah duduk di kursi penumpang sebelah supir. Wendy merasa bodoh. Kenapa dia ikut masuk?! Yuzen sedang marah padanya, seharusnya dia kabur! Ah, insting laparnya bekerja baik ternyata.
Ugh sial.
Rasa lapar membuatnya tidak fokus!
"Jadi, bisa jelaskan tentang foto ini?" Yuzen tersenyum datar. Senyum yang tidak mencapai matanya. Senyuman yang terselubung perasaan mengerikan. Wendy bergidik saat melihatnya.
Yuzen menunjukkan fotonya yang ciuman dengan Hanzel beberapa saat lalu. Wendy hanya diam untuk sesaat. Dia harus berkata dengan benar, atau Yuzen semakin marah. Tapi... Bukankah dia juga harus marah? Yuzen duluan yang memulai perang ini dengan mencium gadis lain!
Brengsek.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Bukankah kita impas?" Wendy menyeringai. Lalu dengan cepat merebut ayam dipangkuan Yuzen.
Wendy langsung melahap ayam itu. Berusaha masa bodoh dengan ekspresi mengerikan yang kini ditunjukan Yuzen.
Wendy diam. Gadis itu terus melahap ayamnya.
"Wendy, kau! Jawab pertanyaanku atau aku akan menghukummu!"
"Hukum saja. Memang kau mau melakukan apa?! Membunuhku, seperti hobimu?!" Dengus Wendy. Dia ingin keluar dari mobil, tapi beberapa detik lalu dia mendengar suara pintu terkunci secara otomatis.
"WENDY!" Suara Yuzen menggelegar. Dia marah. Bagaimana bisa gadisnya menuduh dia akan membunuhnya? Setelah itu terjadi, bisa dipastikan dia akan ikut mati. "Kau keterlaluan!"
"Kau yang keterlaluan!" Bentak Wendy tak mau kalah. Matanya melotot pada Yuzen. Enak saja dia di salahkan sendiri. Yuzen juga salah.
Cransssh...
Wendy menggigit ayamnya dengan gigitan besar. Meski begitu matanya tak berhenti melotot pada Yuzen.
"Apa salahku sayang?! Kau yang keterlaluan berciuman dengan Hanzel!"
"Kau yang mulai duluan dengan mencium wanita lain! Aku hanya membalas."
Lalu Wendy membuang mukanya ke arah luar jendela. Dia marah pada Yuzen, tapi juga sedih karena dibentak pria itu.
Dengan kesal, dilemparnya sisa tulang ditangannya ke kepala Yuzen. Membuat pria itu seketika tersadar dari rasa tersentaknya karena Wendy menyebutnya berciuman dengan Wanita lain.
__ADS_1
Kapan?
Yuzen berusaha mengingat-ingat.
"Kapan aku mencium wanita lain?" Tanya Yuzen dengan tampang bodoh. Seketika amarahnya menyurut. Jika iya, berarti itu salahnya kenapa Wendy bisa mencium Hanzel. Sebab, Wendy memang tipe gadis yang suka balas dendam. Yuzen tahu itu.
"Kau pura-pura bodoh? Yang benar saja tuan Jenius!" Bentak Wendy. Gadis itu langsung berbalik dan melotot pada Yuzen. "Kau berciuman dengan gadis lain dihadapan Wanda! Kau membuat Wanda depresi karena melihatmu berciuman, meski dengan bodohnya gadis itu tidak sadar. Pokoknya, Wanda merasa dikhianati, disakiti, dan tidak dibutuhkan lagi! Kau menyakitinya hingga dia merasa keberadaannya bukan hal penting bagimu lagi. Kau tahu kenapa dia kemarin malam kesakitan? Karena keberadaanku semakin kuat dan dia perlahan bisa merasakanku. Bahkan semalam dia bisa mendengar aku berbicara dalam benaknya! Luar biasa sekali." Sinis Wendy dan kembali membuang tulang ayam ke wajah tampan Yuzen.
Yuzen sendiri mengabaikannya. Kata-kata Wendy membuatnya Syok. Dia menyakiti Wanda?
Lalu sekelebat ingatan lewat dalam otaknya. Ah iya, gadis sialan waktu itu memang menciumnya dihadapan Wanda. Hanya karena dia syok akan foto-foto Wanda dengan pria lain, dia jadi melupakan fakta bahwa dia mencium gadis lain dihadapan gadisnya. Brengsek kau Yuzen!
Dengan cepat Yuzen memeluk Wendy erat. Membuat setengah sisa ayam dipangkuan gadis itu jatuh berserakan dilantai mobil.
"Maafkan aku." Yuzen berkata lirih. Dia merasa sangat bersalah. "Gadis itu yang menciumku tiba-tiba. Dia... Dia menunjukkan sesuatu yang membuatku terkejut dan berlalu meninggalkan Wanda begitu saja."
Wendy mendorong Yuzen kuat. Lalu tanpa diduga, gadis itu melayangkan tangannya pada Yuzen. Menampar pipi pria itu. Wendy menatap Yuzen dengan kesal. "KAU MEMBUAT AYAMKU JATUH YUZEN. KAU TIDAK LIHAT AKU KELAPARAN. KAU INGIN AKU MATI KELAPARAN?!"
Yuzen terperangah. Namun sedetik kemudian dia mendengus melihat tingkah Wendy. Yah, gadis satu itu memang tidak betah lapar sedikit pun. Berbeda dengan Wanda yang tahan tidak makan selama beberapa hari.
"SEHARUSNYA KAU MINTA MAAF PADA WANDA. KALAU AKU MANA PEDULI, AKU TINGGAL CARI PRIA LAIN YANG MAU MENGASIHIKU. CK."
"Yakin mau cari pria lain?" Yuzen mendengus. Tapi dia marah mendengar kata-kata Wendy. Berani sekali gadis itu hendak mencari pria lain.
Wendy memalingkan wajahnya kearah luar jendela. Menghindari menjawab kata-kata Yuzen.
Yuzen terkekeh. Namun kemudian, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa foto yang dilipat dalam sakunya.
"Aku akan memberikanmu makanan apapun yang kau mau." Wendy langsung menoleh kearah Yuzen dengan pandangan berbinar. Yuzen mendengus. Lalu menyerahkan foto-foto itu pada Wendy. "Tapi jelaskan dulu tentang foto ini. Bagaimana bisa kau mencium 3 pria berbeda ini? Aku yakin sekali itu kau dan bukan Wanda."
Wendy terperangah melihat 3 lembar foto yang menunjukkannya berciuman dengan 3 pria berbeda. Wendy meringis. Bagaimana bisa Yuzen tahu? Waktu itu kan Yuzen dirumah sakit dan Wendy sudah menghindari bodyguard pribadi yang diutus Yuzen untuk senantiasa mengikutinya, Wanda maksudnya.
"Eh, itu. Kau dapat darimana?" Wendy meringis. Sedikit merasa bersalah. Tapi toh itu sudah lama.
Yuzen melotot. Itu artinya gadis itu mengaku bukan?
"Jelaskan Wendy!"
Wendy terkekeh kecil dengan suara tercekik. Astaga, habis ini dia benar-benar mati ditangan Yuzen.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
[Author Note:
Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.
Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗
dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]