Psychopath Prince

Psychopath Prince
-21- Bisikan


__ADS_3

"Hey Wanda, kau lihat kan. Gadis itu yang memaksa kak Yuzen. Bukan kak Yuzen yang mau. Kau tahu kan kekasihmu punya banyak fans. Kau mengerti kan?" Flo panik seketika saat melihat air mata Wanda hendak jatuh setelah melihat ciuman tadi.


Flo yang melihatnya pun geram bukan main dengan gadis tadi. Bagaimana bisa dia mencium kekasih orang lain. Semua warga kampus juga tahu jika Yuzen adalah pacar Wanda. Hell yeah.


"Aku tidak mengerti, Flo." Wanda berkata pelan. Suaranya bergetar dan tubuhnya terasa mati rasa. Kenapa? Apa yang dia rasakan sekarang? Kenapa dia merasa marah dan sedih sekaligus? Kenapa tubuhnya terasa lumpuh? Wanda merasa asing dengan perasaannya, sekaligus familiar. Aneh.


Flo mendesah. "Ya. Sebenarnya aku pun tak mengerti. Aku mengerti perasaanmu. Setiap gadis pasti marah kekasihnya berciuman dengan gadis lain. Tak peduli sengaja atau tidak. Apalagi kau baru pertama kali berhubungan dan mengenal..." Flo memberi tanda kutip dikedua tangannya. "Cinta."


Wanda menoleh pada Flo dengan pandangan memelas. Dia tidak mengerti apa yang dirasakannya. "Cinta? Ti-tidak. Aku, aku seharusnya bahagia karena kak Yuzen dekat dengan gadis lain. Jadi, pria itu takkan menggangguku lagi."


"Benarkah?" Flo mengernyit. Wanda memang suka menyendiri dan takut dengan orang asing. Tapi dari pengamatan Flo, Wanda nyaman bersama Yuzen dan sudah tampak terbiasa. "Jadi kau rela kak Yuzen bersama gadis lain? Yakin? Dari pengamatanku, sepertinya pria itu amat mencintaimu."


Wanda hanya terdiam. Lalu menoleh ketempat dimana Yuzen beberapa saat lalu berdiri. Entah kenapa dadanya terasa seperti ditusuk-tusuk.


"Jika mencintaiku, dia takkan pergi begitu saja tadi setelah mencium gadis lain."


Flo bungkam. Tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Sikap Yuzen tadi memang terasa ganjil. Kenapa pria itu pergi begitu saja setelah berciuman dengan gadis lain? Seharusnya pria itu menghampiri Wanda dan menjelaskannya.


"Wanda..."


"Sudahlah Flo, aku tidak ingin memikirkannya."


Flo mengangguk. Dia tak ingin terlalu dalam mencampuri urusan percintaan Wanda dan Yuzen. Di sendiri bahkan tak becus dalam percintaannya. Lagi-lagi pria yang seminggu lalu dipacarinya hanya mendekatinya karena ingin kenal dengan Wanda. Dia kembali ditipu. Ah, Flo tidak marah pada Wanda. Toh, bukan salah gadis itu. Dia saja yang mau-maunya dimanfaatkan oleh pria dan tidak selektif dalam memilih. Sebenarnya bagaimana sih pria yang benar-benar menginginkan kita?


Flo buta!


Bagaimana bisa Flo yang buta tentang pria menasehati gadis disampingnya?


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Wanda tak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Saat ini kepalanya sungguh sakit. Berdentum-dentum dengan iringan detak jantungnya yang cepat. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja. Hanya sejak dia pulang dari kampus dia mulai merasakan sakit ini.


Apa dia sakit?


Tapi Wanda tidak merasa demam. Hari ini dia bahkan sudah sarapan, meski dia melewatkan makan siang dan malam. Saat pelayan yang disewa Yuzen memanggilnya untuk makan malam, Wanda bahkan tidak bergerak dari kamarnya. Dia merasa tidak sanggup. Jika berjalan, rasanya pandangannya goyah.

__ADS_1


Sejenak, Wanda mengamati langit-langit kamar. Rasanya dia semakin mengantuk, tapi ini bahkan belum jam 8 malam. Apa karena rasa sakit dikepalanya? Rasanya seperti seseorang berusaha mengoyak dan mengeluarkan otaknya. Wanda meringis. Memang dia sudah biasa merasakan sakit seorang diri. Tapi sejak bersama Yuzen dan pria itu menempel padanya, Wanda jadi merasa aneh jika hampir seharian ini tidak ditempeli Yuzen. Apalagi saat sakit begini, dia jadi membayangkan Yuzen merawatnya. Ah otak sialan.


Wanda menggeleng.


Dia tak butuh Yuzen. Tak butuh pria yang suka bermain-main dengan gadis lain itu. Pokoknya tidak butuh pria brengsek!


"Ya benar. Dia brengsek."


Deg.


Wanda menoleh ke kanan dan ke kiri lalu memukul kepalanya karena tiba-tiba terasa lebih sakit dari sebelumnya.


Suara siapa itu?


Wanda merasa ada yang berbisik dalam kepalanya. Seperti angin yang berputar disekitar otaknya.


Wanda menggeleng lagi. Mungkin hanya suara batinnya yang menyetujui ke brengsekan Yuzen.


BRAKK!!


Bukankah seharusnya dia yang marah karena merasa dipermainkan?! Meskipun dia polos, tapi dia tidak bodoh hingga bisa dipermainkan.


"Kau tidak memakan makan malammu!"


Yuzen tidak melangkah mendekat. Kaki pria itu seakan terpaku diambang pintu, enggan untuk masuk.


Wanda sendiri hanya mengamati tanpa ekspresi. Menahan rasa sakit kepalanya yang semakin berdentum-dentum saat melihat sosok pria itu.


"Boleh aku beri pelajaran pria itu? Berani sekali berciuman dengan gadis lain!"


"ARGHHH!" Reflek Wanda berteriak karena merasa ada yang berteriak di kepalanya dan membuat pandangannya tidak fokus untuk sesaat.


Lagi!


Sekarang suara itu bahkan sangat keras seakan marah. Wanda memukul-mukul kepalanya berusaha mengurangi rasa sakit yang menghinggapi.

__ADS_1


Yuzen sendiri yang mendengar teriakan itu tersentak. Dia tak mengerti kenapa Wanda berteriak. Tapi saat gadis itu mulai memukul kepalanya, pria itu berjalan cepat menghampiri Wanda dan menahan kedua tangan gadis itu.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Wanda!" Bentak Yuzen.


Wanda menutup matanya. Berusaha menahan rasa sakitnya sekuat tenaga. Lalu tanpa diduga Yuzen, gadis itu menendang perutnya keras hingga Yuzen menjauh dengan perut yang terasa sedikit sakit.


"Wanda!" Bentak Yuzen. Tapi ekspresi itu langsung berubah saat sadar gadis itu benar-benar kesakitan.


Yuzen seketika panik dan segera mengangkat gadis itu hingga duduk dipangkuannya. Yuzen mendekap gadis itu erat agar kedua tangan Wanda tak memukuli kepalanya lagi. "Kau kenapa sayang?"


Rasa amarah Yuzen sejenak terlupa. Dia lebih khawatir dengan gadis itu. Dia tidak ingin gadis itu kesakitan. Satu tangan pria itu terulur mengelus belakang kepala Wanda.


"Kita kerumah sakit ya?"


Wanda menggeleng. Rasa sakitnya mulai berkurang. Tapi rasa kantuk benar-benar tak tertahankan lagi. Tanpa menunggu lama, Wanda benar-benar tertidur. Sebelum itu, dia kembali mendengar suara yang berbisik didalam kepalanya.


"Jangan lemah Wanda. Jangan mau tunduk pada Yuzen lagi. Biar ku beri pelajaran pria itu. Lihat saja."


Setengah sadar, Wanda mengangguk menurut pada suara itu. Entah kenapa perlahan suara itu tak terasa menyakitkan dan sakit kepalanya berangsur-angsur berkurang, dia justru merasa aman. Seakan sosok pemilik suara itu akan melindunginya dari apapun.


Dan Wanda benar-benar tertidur. Meninggalkan Yuzen yang panik setengah mati melihat Wanda tak sadarkan diri.


Yuzen meraih ponselnya dan menelpon salah satu dokter keluarganya untuk segera datang. Sambil menelpon, Yuzen mengguncang pelan Wanda. Tapi gadis itu tidak bangun.


Ada apa dengan Wanda?


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


[Author Note:


Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.


Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗


dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]


__ADS_2