Psychopath Prince

Psychopath Prince
-11- Wendy (2)


__ADS_3

Yuzen membanting ponselnya, membuat semua kepala dikelas termasuk dosennya menoleh padanya kaget. Pria itu menatap dingin pada ponselnya yang hancur. Tak ada senyuman diwajahnya membuat semua orang bergidik ngeri karena baru pertama kali melihat Yuzen dengan ekspresi sedingin itu. Tak lama pria itu bangkit, meraih tasnya dan langsung berlari keluar begitu saja. Tak peduli bahwa namanya diteriaki sang dosen.


Yuzen terus berlari kearah gedung olahraga. Dan berhenti saat dia memandang 3 bodyguard nya berdiri didepan ruang ganti wanita menunggunya. Pria itu mengintip ke dalam ruang ganti wanita dan melihat bahwa semuanya sudah dibereskan seakan tak terjadi apapun.


Tanpa kata-kata, Yuzen menerjang ketiga bodyguard itu dan menghajar mereka hingga tersungkur tak sanggup berdiri. Hanya butuh waktu 2 menit untuk membereskan ketiga bodyguard dengan badan besar itu.


"Ini sudah kedua kalinya Wanda dalam bahaya dan kalian lalai."


Brugh!


Yuzen sungguh kesal, dia menendang salah satu bodyguard terdekat dan membuat pria itu memuntahkan darah. Yuzen menggeram dan mengacak rambutnya. Dia ingin sekali  membunuh ketiga bodyguard-nya. Tapi ditahannya niat itu karena dia masih butuh mereka.


"Jelaskan situasinya padaku."


Salah satu bodyguard yang masih sanggup berdiri angkat bicara. "Kami tidak tahu situasi pastinya bos. Nona Wanda hendak mandi seperti biasanya. Dan kami mengawasi dari luar seperti biasanya. Tapi karena nona Wanda mandi sangat lama melebihi waktu biasanya, kami memilih untuk menerobos dan melihat keadaan nona Wanda. Tapi yang ada di dalam justru 3 gadis ketakutan dan seorang yang sudah pingsan dengan banyak luka. Gadis itu sudah kami larikan ke rumah sakit terdekat. Dan semua jejak sudah berusaha kami tutupi termasuk ke-empat gadis itu agar tidak buka mulut."


Yuzen menggeram. Dia tak peduli keadaan 4 gadis itu. "Bagaimana Wanda? Dimana gadis itu?"


Yuzen bisa menebak sebenarnya. Bahwa Wendy yang menguasai tubuh itu. Bagaimanapun, Wanda tak mungkin melakukan semua itu. Menghajar dan menjadi kuat bukanlah sifat Wanda. Gadis itu terlalu penakut dan pasrah.


Yuzen mendesah.


Bersyukur karena Wanda memiliki Wendy.


"Nona Wanda pergi begitu saja dengan cepat dan menghilang. Kami sudah berusaha mencari di sekitar kampus dan masih belum ditemukan. Tapi... Untuk keadaan, Kepala nona Wanda berdarah dan rambutnya terpotong dengan tidak beraturan dan pendek. Serta bajunya, sobek di mana-mana dan ada lebam dipipinya."

__ADS_1


BUAGHHH!!


Bodyguard itu langsung tersungkur keras. Yuzen menonjok pria besar itu, amarahnya mendidih mendengar penjelasan tentang kondisi Wanda. Berani sekali ke-empat gadis itu melukai miliknya!


"KALIAN KEPARAT! TUGAS KALIAN HANYA MENJAGA WANDA, TIDAKKAH ITU MUDAH?! SEKARANG, BAWAKAN AKU EMPAT GADIS ITU DAN KURUNG DIPENJARA BAWAH TANAH. AWAS KALIAN." Tunjuk Yuzen dan memperingati ketiga Bodyguard itu.


Pria itu segera pergi berlari untuk mencari keberadaan Wanda.


Oh gadisnya. Dimana dia?


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Wendy tak peduli tatapan orang-orang padanya. Tubuhnya terbalut jas yang diambilnya dari salah satu bodyguard yang berjaga dipintu gedung olahraga tadi. Bajunya sudah sobek di mana-mana, membuatnya harus memakai jas yang kebesaran itu. Lalu jeans-nya pun sudah sobek dan terlihat mengerikan sekali. Tapi Wendy masih mengenakannya dan membuat beberapa orang menertawainya. Jangan lupakan rambutnya. Oh astaga, rambutnya mengambil peran besar dalam hal ditertawakan dan dianggap orang gila oleh orang-orang yang melihatnya disepanjang jalan.


Langkah Wendy terhenti di sebuah butik dekat kampusnya. Gadis itu memasuki toko tersebut. Meski awalnya dikira orang gila oleh sang satpam, tapi gadis itu akhirnya bisa masuk dan mulai memilih pakaian layak untuk dikenakannya.


Wendy terus mencari dan kemudian berhenti pada dress santai sedikit diatas lutut dan lengan panjang berwarna Kuning pudar. Lengannya sedikit transparan dan ada semacam pita manis dikerahnya. Wendy menyukainya.


Gadis itu ingin mencobanya terlebih dahulu tapi saat dia melihat pramuniaga dibelakangnya, gadis itu hanya bisa mendesah. Tak mungkin dia mencobanya, jika dia saja dianggap orang gila dan tak punya uang. Kasihan juga jika pramuniaga nya dipecat, apalagi manager toko terus memperhatikan dari kasir. Sepertinya pramuniaga dibelakangnya mempunyai tugas untuk mengusirnya. Sayangnya Wendy tak ingin pergi sebelum mendapatkan Baju.


Wendy berjalan ke kasir tapi langkahnya terhenti saat dia melihat deretan heels dan wedges di etalase. Gadis itu menghampirinya dan menunjuk sepasang wedges 5cm yang tampak manis dan berwarna putih.


"Aku ingin ukuran 36 cm." Ujarnya pada sang pramuniaga. "Taruh di kasir saja. Aku tunggu disana."


Wendy yang bengis menghilang saat itu. Gadis itu dengan senyum lebar memilih belanjaannya. Dia suka berbelanja dan memanjakan diri diluar kebiasaan bar-barnya. Dan dia memang peduli pada orang-orang, asal orang-orang itu tidak mengusiknya dan menghalangi langkahnya.

__ADS_1


Wendy membayar semua barang itu yang ternyata harganya cukup mahal. Gadis itu tak peduli, toh dia menggunakan kartu kredit salah satu bodyguard yang dia ambil jasnya.


Setelah membayar, gadis itu berjalan kearah ruang ganti. Lalu mengganti bajunya serta sepatu butut yang dikenakannya.


Saat dia berjalan keluar, pramuniaga tadi mengikutinya dan menunduk sopan padanya sambil berterimakasih.


"Ini, jas ini untukmu saja." Wendy menyerahkan jasnya yang sebelumnya dia kenakan sebelum kemudian menyusuri trotoar lagi.


Satu masalahnya selesai.


Tapi orang-orang tetap menertawakannya karena rambutnya.


Wendy mengedarkan pandangannya. Lalu tersenyum melihat salon didekat sana. Salon itu cukup besar.


Lalu sebuah ide muncul dikepala Wendy. Dan dia akan menghebohkan satu kampus dan membuat Yuzen marah-marah.


Wendy tersenyum senang membayangkan rencananya.


"Yuzen tunggu aku!" Dan gadis itu terkekeh geli.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


{Hayooo apa rencana Wendy?


Hanya sebuah rencana kecil yang menyenangkan kok.

__ADS_1


Hehehe}


__ADS_2