
Ruangan itu bau apak penuh debu. Ada bau asap tertinggal diudara, serta bau bir murahan yang ikut membaur. Suara gemericik api terdengar saat beberapa kayu usang dimasukkan kedalamnya. Tong besar sebagai wadah api itu berbunyi nyaring saat kayu-kayu itu bersentuhan dengan pinggiran tong yang terbuat dari seng tebal.
Pria kecil itu perlahan membuka matanya, merasakan kaku di sekujur tubuhnya yang diikat total dari atas ke bawah. Sepertinya para penculik kali ini tahu bagaimana rekor dirinya yang sering diculik dan selalu selamat. Jadi mereka mengantisipasi dengan mengikat sekujur tubuhnya pada salah satu pilar bangunan. Yuzen pun merasakan kakinya pegal berdiri. Entah sudah berapa lama dia terikat seperti itu.
Lalu seakan teringat sesuatu… Yuzen segera berteriak. “WANDA!” Matanya berkeliling mencari dan dia menemukan Wanda terduduk didekat tong yang dijadikan wadah pembakaran, gadis itu duduk lesehan dilantai semen penuh debu itu dengan tangan dan kaki terikat. Tubuh gadis itu bersandar di tong lainnya yang kosong.
“Berisik kau, dasar bocah!”
Seseorang didekatnya mengumpat, lalu memukul kepalanya kuat hingga kepalanya sejenak terasa pening. Yuzen mengerjap berusaha memfokuskan kembali pandangannya.
Dia mengabaikan salah satu penculik yang barusan memukulnya, dan kembali menatap Wanda, gadis kecil itu masih pingsan. Yuzen cukup bersyukur, karena dia takut Wanda tak bisa menghadapi situasi mengerikan ini.
Kalau dia? Sudah biasa.
Ini seperti makanan sehari-hari baginya. Entah berakhir mati atau tidak, siapa peduli. Dia sudah lelah menghadapi situasi ini.
“Sudah sadar ternyata.” Suara itu serak seperti orang yang sedang sakit tenggorokan.
Lalu seseorang mendekat padanya dan memegang dagunya erat agar mendongak. Yuzen menatap sang pelaku tajam dan meludah ke wajah orang itu tanpa takut.
“Bocah keparat!”
Pegangan pada dagunya terlepas. Sebagai gantinya bogeman mentah bersarang di pipinya.
Pipinya langsung berdenyut-denyut dan Yuzen dapat merasakan darah mengalir dari gusi bagian kirinya. Sialan, pukulan itu amat sakit. Tapi Yuzen menahan erangan nya dan memilih diam sambil terus menatap tajam.
“Apa maumu?” Mata Yuzen berubah dingin. Dan sorot nya terlihat bengis untuk anak seumurannya.
Sejenak orang di depannya terpaku, sebelum kemudian melayangkan bogeman lagi hingga membuat Yuzen mau tak mau memuntahkan darah yang berkumpul dimulutnya. Sialan, gusi dan bibirnya pecah.
“Mauku? Seseorang menyuruhku agar menyiksamu. Mengirimkan rekaman penyiksaan itu pada orang tuamu.” penculik itu menyeringai. Tapi kemudian seringaian nya hilang saat mendengar jawaban angkuh Yuzen.
“Ingin menyiksaku?” Pria kecil itu balik menyeringai. “Coba buat aku setidaknya mengerang. Kau tahu, aku cukup masokis loh.”
Bugh!
Kemudian bogeman lainnya bersarang di perutnya.
Bugh!
Satu kali lagi ditempat yang sama.
Yuzen sedikit bergerak merasakan sakit di perutnya. Tapi hanya itu. Bibirnya masih menyeringai dan ekspresinya tidak merasakan sakit sama sekali. Membuat penculik itu mengangkat sebelah alisnya heran. Bagaimana bisa bocah 10 tahun itu tidak tampak kesakitan oleh pukulan pria berotot sepertinya?
“Hanya itu?” Pria kecil itu dengan jahil kembali memprovokasi. Dia bukannya bodoh hingga memancing penculik didepannya agar memukulnya terus menerus.
Tapi di dekat tong pembakaran, gadis kecil itu sudah sadar. Masih menunduk dan tampak mengintip dari sela rambutnya. Yuzen tak tahu ekspresi gadis itu seperti apa. Apakah gadis kecil itu ketakutan? Tapi yang pasti dia berusaha menggeleng dan berusaha mengisyaratkan gadis kecil itu agar tak bersuara. Dengan tundukan seperti itu, para penculik disini tak akan sadar jika gadis kecil itu sudah sadar. Yuzen tak ingin gadis kecil itu menjadi bahan siksaan juga. Karena dari ucapan penculik yang memukulnya, penculikan ini dilakukan untuk menjatuhkan perusahaan ayahnya. Dan Yuzen tahu, siksaan ini tak akan tanggung-tanggung.
“Kau menantang ku bocah?” desis penculik itu kesal.
“Hajar saja bos.” Para penculik lainnya mulai menyoraki. Ada 5 orang didalam ruangan ini. Mungkin ada 1 atau 2 lainnya yang berjaga diluar.
Para penculik lainnya mulai mendekati. Dan salah seorang dari mereka mulai membawa handycam dan mulai merekan.
“Kau yang minta bocah.”
Lalu,
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pukulan terus bersarang di sekujur tubuhnya. Yuzen hanya menggeliat kecil. Tidak mengeluarkan suara sama sekali. Meski begitu, tubuhnya sangat kesakitan.
Dengan pandangan sayu dia menatap Wanda yang masih mengintip disela rambutnya. Tangan gadis itu gemetaran dan Yuzen dengan senyum kecil berusaha menggeleng. Dia sudah mengalihkan perhatian semua penculik diruangan ini agar hanya terarah padanya. Dia tak ingin siapapun ingat akan keberadaan Wanda disana. Tidak. Cukup dia saja.
Dia yang bersalah sudah menyeret Wanda dalam situasi mengerikan ini.
Dengan sisa tenaga, Yuzen menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Aku tidak apa-apa. Tetaplah pura-pura pingsan.”
Lalu pukulan itu berhenti. Meski begitu, Yuzen sudah tidak punya tenaga. Tubuhnya kesakitan. Dan perlahan kesadarannya mulai hilang. Lagi-lagi darah kembali keluar dari mulutnya. Pria kecil itu mengumpat dalam hati. Berusaha sekuat mungkin agar terus sadar.
Jika dia pingsan, bagaimana dengan Wanda? Tidak akan ada yang menjaga gadis kecil itu. Dia takut.
Tapi akhirnya, dia tetap pingsan. Meninggalkan Wanda yang tersadar sendirian.
✍👀✍
__ADS_1
Dalam diamnya, Wanda terus berpikir.
Apa yang sedang terjadi? Apa yang harus dia lakukan? Atau bagaimana caranya dia bisa kabur?
Semua pikiran rumit itu berkelebat dikepalanya. Dia bingung, menghadapi hal ini. Tapi otak kecilnya terus dia paksa berpikir. Dia bahkan berusaha mengabaikan ketakutannya. Menahan getaran tubuhnya sekuat mungkin agar tidak ketahuan oleh para penculik.
Wanda memilih kembali terpejam. Berpura-pura pingsan agar tidak disentuh oleh para penculik itu. Hal lainnya, dia juga tidak ingin kembali menatap Yuzen. Keadaan pria kecil itu membuatnya ingin menangis.
“Hm, aku baru ingat gadis kecil ini.” Salah satu seseorang mendekatinya. Menarik rambutnya agar wajahnya terangkat, dan kembali melepasnya sesaat kemudian. “Masih pingsan.”
“Biarkan saja.”
“Boleh kusentuh?” Salah seorang menyahuti dan membuat Wanda bergidik mendengarnya.
“Dasar pedofil gila. Dia masih terlalu kecil!”
“Biarkan saja dia. Dia haus belaian. Memang Wanita waras mana yang mau dengannya?”
Lalu suara tawa terdengar.
“Bangsat.” Dan sosok pria yang mengumpat tadi mulai melangkah keluar dari ruangan apek itu.
“Dia ngambek.”
“Cupu.”
Dan kemudian langkah-langkah lainnya mulai terdengar menjauh. Diikuti suara bantingan pintu serta suara kunci.
Wanda pelan-pelan membuka matanya, dan mengintip. Ruangan itu kosong. Para penculik itu sudah keluar semua.
Wanda mendesah lega.
Sesaat dia benar-benar takut jika para penculik itu menyentuhnya.
Masa depannya bisa hancur. Ah tunggu, memang dia punya masa depan?
Ah… sudahlah.
Gadis kecil itu mulai memandang sekelilingnya. Lalu mengesot dilantai dan mendekati tumpukan kayu didekat tong pembakaran. Setelah sampai, kaki gadis itu mulai menggeser-geser tumpukan kayu dengan kakinya secara pelan. Hingga kemudian dia menemukan kayu seukuran lengannya dengan salah satu sisi yang bergerigi.
Wanda memutar tubuhnya dan berusaha mengambil kayu itu dengan tangannya yang diikat ke belakang.
Dapat.
Gadis itu segera kembali mengesot ke tempatnya semula.
Wanda mendesah lega.
Matanya kembali tertutup. Dalam keadaan pura-pura pingsan, Wanda mulai menggesekkan sisi kayu yang bergerigi pada tali yang mengikat tangannya. Entah harus seberapa lama dia menggesek, siapa peduli. Yang penting tali itu bisa terlepas dan membuatnya bisa kabur.
✍👀✍
Bugh!
Bugh!
“Sepertinya orang tuamu keras kepala sekali. Mereka masih saja tidak menanggapi ancaman bosku.” Penculik yang sebelumnya memukulnya, berdiri lagi dihadapan pria kecil itu setelah berhasil memberikan beberapa bogeman saat Yuzen belum ada semenit tersadar dari pingsannya.
Jari-jemari pria besar itu mencengkram dagunya kencang. Yuzen masih berekspresi dingin dan tak menunjukkan kesakitannya.
“Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.”
“Kau mau mengatakan bahwa uang lebih penting dari nyawamu bocah?” Penculik itu meludah kearah wajah Yuzen. “Itu untuk yang tadi bocah brengsek.”
Lalu penculik itu menoleh pada salah satu kawanannya. “Ambilkan balok kayu yang sudah terbakar dan masih panas.” Kembali lagi menoleh kearah Yuzen. “Sepertinya aku harus menyiksamu lebih sadis. Kau pikir aku bodoh? Jika orang tuamu tidak peduli, bagaimana kau bisa lolos dari penculikan-penculikan sebelumnya?”
Yuzen memiringkan kepalanya. Dan mulai menyeringai. “Menurutmu?”
Bugh!
“Jangan bertindak sok didepanku, bocah.”
Yuzen mendesah. Pasti wajahnya hancur sekali sekarang.
“Ini bos.” Salah seorang menyerahkan balok kayu yang ¾ bagiannya sudah menjadi gosong dengan warna merah yang menghiasi beberapa bagian. Arang alami yang masih sangat panas. Disisi lain, seseorang mulai merekam.
“Mati kau bocah.” Desis pria didepannya senang sebelum kemudian menyentuhkan bagian panas balok kayu itu ke tangan kanan Yuzen.
Yuzen tak dapat menahan rasa terbakar itu. Meski begitu dia tak sudi mengeluarkan teriakan kesakitan. Pria kecil itu hanya meringis kesakitan. Tapi saat kayu itu tak kunjung diangkat dan berhasil menghanguskan kulitnya hingga memanggang dagingnya semakin dalam. Rasa sakit itu benar-benar tak tertahankan.
__ADS_1
Yuzen berteriak kesakitan. Teriakan yang pertama kali keluar sejak penyiksaan itu.
Diujung sana, tanpa sadar Wanda sudah menutup telinganya dengan kedua tangan setelah sesaat lalu berhasil memotong ikatannya. Gadis itu gemetaran hebat dan ketakutan-ketakutan menghinggapinya.
“Kak Yuzen…” Bisik gadis itu penuh ketakutan. Dia sadar, jika Yuzen berteriak, berarti kesakitan itu sudah amat parah. Karena sejak tadi Yuzen tidak berteriak saat disiksa.
Menahan segala rasa takutnya gadis itu berdiri perlahan. Tak ada yang memperhatikannya, karena semua mata sedang menonton penyiksaan Yuzen dengan hati gembira.
Gadis itu berjalan. Menggenggam balok kayu yang sebelumnya digunakannya dan kemudian dengan kaki kecilnya, gadis itu berlari kencang. Sekuat tenaga melompat dan memukul kayu itu ke wajah sang pelaku penyiksaan Yuzen. Gadis kecil itu memastikan area bergerigi kayu lah yang menghantam pria jahat itu.
Yuzen terbelalak saat penyiksanya jatuh dengan wajah terkoyak dan berdarah. Lalu pandangannya beralih pada Wanda dengan pandangan melotot tak percaya.
“WANDA!” Yuzen berteriak horor.
“TANGKAP GADIS SIALAN ITU!” Pekik orang yang menyiksanya sebelum kemudian jatuh pingsan.
Wanda menatap sekelilingnya. 4 orang pria disana sudah menatapnya bengis. Tanpa berpikir panjang Wanda segera berlari. Awalnya dia berlari tak tentu arah, mengitari ruangan besar itu saat 4 orang itu mengejarnya. Memanjat beberapa kursi dengan lincah dan sesekali meluncur di kolong meja. Lalu saat jarak cukup jauh, dia mengitari pilar dimana Yuzen terikat. Diam-diam menaruh balok yang masih dipegangnya ketangan Yuzen. Lalu Wanda kembali berlari mengitari ruangan.
Yuzen tak percaya dengan apa yang sedang dilakukan Wanda. Gadis itu, ternyata tak seperti yang terlihat.
Seakan sadar dengan keadaannya, Yuzen buru-buru menggesek gerigi balok kayu itu pada tali yang mengikat tangannya. Menggesek cepat agar tali itu segera putus. Matanya masih terus memandang Wanda dengan tatapan khawatir namun sedikit takjub. Gadis itu belum tertangkap. Bahkan saat para pria itu menyebar untuk menangkapnya. Sesekali gadis itu bahkan ber akrobatik dengan memutar tubuhnya diudara saat melompati kursi atau meja. Atau bahkan tong pembakaran.
Tak!
Tali ditangannya akhirnya putus.
Yuzen segera membuka seluruh ikatan ditubuhnya. Kemudian pria itu berjongkok dan memeriksa tubuh penculik yang pingsan itu.
Pistol.
Dia menemukan benda itu diikat pinggang sang penculik. Dan kebetulan dia sangat mahir menggunakannya setelah dilatih khusus oleh pelatihnya yang merupakan mantan tentara selama beberapa bulan.
“Kena kau gadis sialan!”
Yuzen beru-buru mendongak dan dia bisa melihat Wanda yang memberontak di dekapan salah satu penculik. Lalu penculik lainnya tanpa peringatan menampar gadis itu keras. Kemudian dengan cepat yang lainnya membogem Wanda hingga gadis itu tersungkur dengan pipi terkoyak.
Wanda langsung diseret dengan menarik rambut gadis itu.
Yuzen menggeram marah.
Dan saat para penculik itu berbalik dan berhasil menatapnya yang sudah lolos dari ikatan, Yuzen memberikan seringaian terbaiknya. Pandangannya berubah menjadi bengis. Dan tanpa mengangkat tangannya, Yuzen melepaskan kokang pistol itu.
Klik!
“Bocah brengsek. Bagaimana kau bisa lepas!”
Dan sebelum para penculik itu berhasil melangkah, Yuzen mengangkat tangannya dan menarik pelatuk itu cepat. Menembak lagi dalam waktu 1 detik untuk satu tembakan. Tak ada yang meleset. 4 tembakan yang dilayangkan nya bersarang ditempat vital hingga kemudian 4 orang itu sudah tak bernyawa.
Tembakan terakhir, tanpa melihat Yuzen menembak penjahat dibawah kakinya yang sedang pingsan.
Pria kecil itu membuang pistolnya, dan kemudian berlari sekuat tenaga menghampiri Wanda yang terduduk dilantai.
“Wanda… Wanda… maafkan aku. Wanda!”
Tanpa sadar air mata Yuzen untuk pertama kali menetes. Bagaimanapun tidak pernah ada yang berkorban seperti ini untuknya. Bagaimanapun karena dirinyalah Wanda mengalami semua ini. Bagaimanapun juga… Wanda terluka karenanya.
Yuzen bahkan tak sadar jika ada suara tembakan lain diarea luar, mungkin para orang bayaran orang tuanya sudah berhasil menemukan lokasi mereka dan sedang melaksanakan misi penyelamatan.
Yuzen sudah tidak peduli itu semua. Dia pikirannya hanya ada rasa bersalah.
Dan saat itulah, dengan lemah Wanda mendongak menatap Yuzen. Rambut gadis itu tersibak. Dan kedua tangan gadis itu meraih wajahnya. Jari-jemari mungil itu mengusap air matanya lembut. Berusaha tidak menekan luka diwajahnya.
“Tak apa. Aku baik-baik saja.”
Yuzen mendongak mendengar suara Wanda untuk pertama kalinya. Dan saat mata mereka beradu, Yuzen terpana.
Meski dengan pipi terkoyak dan berdarah. Wanda… gadis itu…
Yuzen tak bisa mendefinisikannya.
Yang pasti, itu adalah cinta pada pandangan pertamanya. Ah tidak, dia sudah jatuh cinta akan semua pengorbanan Wanda tadi. Dan semakin gila dengan tatapan lembut gadis itu.
Sejak itu... Bisa dibilang dia menjadi stalker abadi Wanda. Meski setelahnya dia tak lagi bertemu Wanda karena takut. Takut membuat gadis itu terluka lagi. Takut dirinya menjadi penyebab Wanda kesakitan.
Dirinya memilih menguatkan segala potensi dirinya. Berlatih bela diri semakin giat, menembak, belajar, dan semua hal lainnya. Dan saat Wanda masuk SMA, dia memilih memasuki bangku sekolah yang dibencinya. Menjadi kakak kelas Wanda dan mulai mendekati gadis itu lagi yang tak mengingatnya.
Yah bagaimanapun, mereka hanya bertemu sekali. Dan Wanda masih berumur 8 tahun.
✍👀✍
__ADS_1