Psychopath Prince

Psychopath Prince
-58- Gaun Pengantin


__ADS_3

Mobil mereka berhenti di depan sebuah butik besar dikawasan elit ibukota. Gadis itu menatap butik itu dengan pandangan takut-takut. Didalam sana tampak cukup ramai dan rasa mewah di dalam sana mengintimidasinya. Seumur hidup, dia tak pernah harus membeli barang mewah dan bahkan memilihnya sendiri. Jika pun dia dapat barang mahal, itu pun dibelikan ayahnya dulu saat dia masih kecil sebagai kompensasi karena ayahnya yang jarang berada dirumah. 


Kini, Wanda merasa sangat tak pantas berada di tempat seperti itu. Dia merasa aneh. 


Tanpa Wanda sadari, Yuzen mengamati reaksi gadis itu. Pria itu mendesah. Lalu tersenyum kecil mengamati ekspresi lucu Wanda yang tampak ketakutan. Dengan santai Yuzen melepaskan sabuk pengamannya dan mendekati Wanda. Pria itu dengan jahilnya meniup telinga gadisnya yg langsung membuat Wanda memekik kaget. 


Wanda menoleh otomatis dan karena jarak wajah mereka yg dekat, bibir mereka hampir saja menempel. Hal itu tak disia-siakan Yuzen dan pria itu langsung mencium Wanda. Tangannya terangkat menyelipkan rambut Wanda yang menempel di pipi dan menyelipkan nya di belakang telinga. Bibirnya masih menempel pada bibir Wanda. Tak ingin melepaskan ciuman itu, Yuzen menahan belakang kepala gadisnya dan memperdalam ciuman mereka. 


"Yuu…" Bisik Wanda setelah berhasil melepaskan ciuman mereka dengan susah payah. Yuzen benar-benar tidak ingin bergeser sedikit pun. Wanda harus mendorong pria itu dengan sekuat tenaga. 


Gadis itu ngos-ngosan dan Yuzen yang melihatnya terkekeh senang. Lalu melap bibir Wanda yang basah dengan jempol tangannya. 


"Maaf ya." Lalu pria itu mengecup samping kepala Wanda dan melepaskan sabuk pengaman gadis itu. 


Tak ingin dirinya hilang kendali dan mencium gadisnya membabi buta lagi, pria itu segera ke luar dari mobil dan buru-buru membuka pintu penumpang Wanda. 


Pria itu menggandeng tangan Wanda dan menggiring gadis itu masuk ke dalam butik. Dua langkah sebelum masuk ke dalam butik, Yuzen berganti merangkul pinggang gadis itu dan berbisik pada Wanda. "Hari ini kau ratunya, kau bebas memilih dan jangan takut pada apapun. Ada aku yang akan menjadi pelindungmu."


Dan Wanda tertegun mendengarnya. Yuzen seakan tahu apa yang dipikirkannya. Yuzen seakan tahu bahwa dia enggan masuk dan merasa rendah diri. 


Gadis itu hanya bisa mendongak dan tersenyum tipis pada pria itu. 


"Gadisku paling cantik saat tersenyum."


Pipi Wanda memerah tersipu dan kembali menunduk malu mendengar gombalan Yuzen. 


Mereka masuk ke dalam butik dan disambut dengan segera oleh seorang pramuniaga cantik dan masih muda yang tampak terpesona dengan keberadaan Yuzen. Wanda yang melihat itu hanya bisa merapatkan dirinya pada Yuzen. Memberi tanda pada pramuniaga itu bahwa Yuzen miliknya. 


"Tolong, beritahu pada Tante Hana. Aku sudah punya janji padanya."


"Atas nama siapa tuan?"


"Wangsadinata."


Pramuniaga itu tersentak sejenak sebelum kemudian mempersilahkan mereka duduk dan menanyakan mereka ingin minum apa. Pramuniaga itu segera berlalu dan tak lama kemudian seorang wanita akhir 30-an menghampiri mereka dan memeluk Yuzen sejenak. 


"Jadi, ini calon istrimu?"


Yuzen tersenyum lebar lalu memeluk pinggang Wanda dan memperkenalkan gadisnya. 


"Tante, ini Wanda. Dan Wanda dia adik kepala pelayan Ahn sekaligus pemilik butik ini."

__ADS_1


"Hahah, hallo cantik. Perkenalkan aku Ahn Hana. Kau pasti sudah kenal kakakku kan? Semoga dia bersikap baik padamu ya." 


"Ya." Jawab Wanda kikuk dan gadis itu memegang erat kemeja army yang dikenakan Yuzen. 


Hana tertawa melihat sikap Wanda. Gadis itu seperti yang dibilang Yuzen kemarin, bahwa Wanda sangat takut pada orang asing. Yuzen mengatakan itu pada Tante Hana agar tante Hana tidak merasa heran. Lagipula tante Hana sudah seperti keluarga. Dulu saat Yuzen masih kecil, tante Hana juga ikut bekerja di keluarganya bersama sang kakak. Mereka hanya hidup berdua karena orang tua mereka mengalami kecelakaan saat mereka berdua masih kecil. Jadilah kepala pelayan Ahn yang bekerja keras menghidupi mereka berdua dengan bekerja pada keluarganya dan juga tinggal dirumah keluarga Wangsadinata. 


Namun, saat Hana lulus SMA, ayah Yuzen mengkuliahkan Hana dan jadilah Hana bisa menjadi desainer dan membuka butik nya sendiri. Dan disaat sudah menikah, Hana tinggal bersama suaminya. 


"Jadi, aku sudah menyiapkan beberapa gaun sesuai kriteria yang kau berikan, Yuzen. Mau melihatnya langsung?"


"Tentu." Yuzen menjawab dengan semangat. 


Lalu mereka mulai berjalan ke arah deretan gaun pengantin yang sudah di siapkan sendiri oleh tante Hana. 


Yuzen mengamati satu per satu gaun yang sudah disiapkan. Ada sekitar 10 gaun. Wanda mengamati tingkah Yuzen. Pria itu semangat sekali memilih gaunnya. Bukankah disini Wanda yang akan mengenakannya? Wanda mendengus. Tapi dia senang karena tak harus memilih. Wanda paling malas kalau disuruh memilih baju. Selama ini baju yang dimilikinya saja asal beli. Dan setelah tinggal bersama Yuzen, pria itu yang paling banyak memasukkan baju baru ke dalam lemari dan sebagian Wendy yang berbelanja. 


Yuzen menyerahkan 3 gaun pada tante Hana. 3 gaun itu yang paling menarik baginya. Bagaimanapun, Yuzen ingin saja menyuruh Wanda mencoba semua gaun itu. Tapi dia sadar, Wanda tak akan menyukainya dan pasti kelelahan. Jadi Yuzen memilih 3 saja yg paling cocok. 


"Bagaimana sayang, ada yang kau suka?" Tangan Yuzen terangkat ke atas kepala Wanda dan mengelus nya. Dia tak ingin dianggap mengabaikan Wanda hanya karena gaun pengantin. 


"Aku suka pilihan kak Yuzen."


Yuzen berdecak dan lalu tersenyum jenaka. "Dasar ya." Lalu mengecup dahi Wanda tanpa malu. 


Memang gadis mana yang bisa memalingkan mata dari Yuzen? 


Yuzen terkekeh dan kemudian menyuruh Wanda mengikuti tante Hana untuk mencoba gaun pengantinnya. 


Gadis itu berjalan ragu mengikuti tante Hana. Yuzen yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng sebelum kemudian menghampiri Wanda dan berbisik pada gadis itu. "Mau aku saja yang memakaikannya?"


Wanda menggeleng dengan cepat saat mendengar bisikan itu dan gadis itu buru-buru mengikuti tante Hana. Akan sangat memalukan jika Yuzen ikut masuk ke kamar pass. Apa yang akan dipikirkan orang? Mereka kan belum menikah. 


Tak lama kemudian Yuzen digiring untuk memilih setelan pengantinnya. Tak butuh waktu lama, Yuzen sudah mendapatkan yang diinginkannya. Yang tentu saja akan cocok dengan 3 gaun pengantin yang dipilihkannya tadi. 


Dan saat Yuzen baru sampai di sofa yang menghadap ke ruang pass dimana Wanda mencoba gaunnya, kamar pass itu terbuka dan memperlihatkan Wanda yang sedang menunduk dengan gaun pengantinnya. 


Yuzen tersedak oleh air ludahnya. 


Si4l dia terkejut. 


Wanda berada di level berbeda. Bahkan jaraknya jauh sekali dari pakaian fashion show saat itu. Wanda dengan gaun pengantin adalah perpaduan yang tak tertahankan, apalagi tantenya menata rambut gadis itu dengan sanggul ringan. Si4l sekali. 

__ADS_1


Yuzen menyentuh bawah hidungnya, dia berharap dia takkan bertingkah bodoh dan mimisan seperti orang idiot. Astaga, dia ingin sekali membawa Wanda pulang dan m3ncumbunya hingga puas. Padahal pakaian pengantin itu adalah yang paling tertutup. 


K3par4t! 


Dengan cepat pria itu berdiri. "Tante tolong bantu Wanda memilih gaun pengantinnya dan tolong sesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Aku akan ikut yang manapun yang dipilih Wanda dari 3 gaun itu. Tolong jangan perlihatkan padaku, aku ingin kejutan saat hari pernikahan."


Omong kosong. Yuzen hanya beralasan agar tidak jadi orang bodoh saat melihat gadisnya dan gaun pengantin. Tidak, tidak untuk saat ini.


Pria itu berjalan keluar dari butik dan menghirup udara segar. Saat dia keluar dari butik seorang gadis berhenti didepannya dan tampak menyapa. 


"Kak Yuzen?"


Yuzen menatap datar gadis itu. Lagipula dia sering disapa gadis yang tidak dikenalnya. Jadi hal seperti ini biasa. 


"Ah, kak Yuzen pasti tidak kenal aku. Aku teman satu angkatan dan jurusan Wanda. Jadi kami sering sekelas." Gadis itu terperangah sejenak melihat betapa tampannya Yuzen saat dilihat sedekat ini. "Tenang saja, aku bukan salah satu yang membenci hubungan kalian kok. Kalian tampak sangat cocok!" Gadis itu tersenyum. Lebar. 


"Ah Hai, terimakasih ya. Tolong jaga Wanda juga di kelas." Ekspresi datar pria itu menghilang dan kini digantikan senyum kecil pria itu. 


Gadis itu buru-buru berpamitan pada Yuzen karena tak tahan dengan pesona Yuzen saat pria itu tersenyum. "Aku masuk dulu ke dalam kak." Dan gadis itu berlalu masuk ke dalam butik. 


Meninggalkan Yuzen yang memilih duduk diluar butik. 


"Ah, kenapa hari pernikahannya terasa lama. Apa aku harus memajukannya?" Bisik Yuzen. Bahkan pernikahannya kurang seminggu lagi. Memajukannya? 


✍👀✍


.


.


.


Pendek ya?


Besok pagi insyaallah aku up ya...


Mohon bantuan like, coment, dan votenya.


kucinta kalian semua 😍😍😍


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2