
Wanda terbangun, di sebuah kamar dengan selang infus ditangan kirinya.
Gadis itu mengerjap pelan, lalu mulai memindai ruangan itu. Putih bersih dengan aroma menyengat obat dan desinfektan. Wanda mendesah.
Rumah sakit.
Lalu saat kepalanya menoleh ke arah kanan, matanya terbelalak lebar. Gadis itu segera bangkit, tak peduli jika hal itu mengakibatkan selang infus nya tertarik dan terlepas. Darah langsung menetes dari luka itu.
Matanya membulat lebar dan mulutnya terbuka tak percaya. Perlahan rasa panik mulai menghinggapi dan membuat Wanda tanpa sadar bangkit dengan sendirinya. Namun kemudian dia jatuh, rasa lemas langsung menghinggapi dirinya. Tubuhnya benar-benar tak bertenaga.
Pintu kamar ruang inap itu langsung terbuka dan salah satu bodyguard masuk untuk membantunya berdiri.
"Nona tak apa? Nona sebaiknya tetap berbaring. Nona sudah pingsan selama beberapa jam dengan diagnosa, maag, kekurangan cairan dan gizi, serta stres berat. Tak lupa hipotermia ringan karena nona ditemukan berendam selama lebih dari sejam di air dingin."
Wanda tak mendengarkan ucapan bodyguard itu, matanya terus memandang ke depan. Kearah sebuah ranjang yang tak jauh dari ranjang tempatnya berbaring.
Tangannya perlahan terangkat dan telunjuknya menunjuk kearah ranjang tak jauh darinya. "Kenapa.... Kenapa Yuzen disana?"
Wanda menahan nafasnya sesak. Lalu tanpa sadar air matanya mulai terjatuh. Melihat Yuzen berbaring seperti itu membuatnya takut. Perban melingkari tubuhnya. Meski tertutupi baju rumah sakit, Wanda bisa melihat tonjolan benaran perban dari dada hingga bawah perut. Yang membuatnya semakin takut adalah suara iringan pendeteksi detak jantung. Apa keadaan Yuzen parah?
Wanda mulai sesunggukkan.
Lalu memaksakan diri merangkak kearah ranjang Yuzen.
"No... Nona. Berbaringlah terlebih dahulu. Jangan memaksakan diri." Seru sang bodyguar panik.
Wanda mengabaikannya dan terus merangkak hingga mencapai ranjang Yuzen. Sang bodyguard sendiri kelimpungan. Dia mau saja menggendong Wanda, tapi bagaimana jika dikira pelecehan?
Wanda berpegangan pada pinggir ranjang dan menarik dirinya agar bisa naik ke ranjang Yuzen dan melihat pria itu lebih dekat. Tapi tubuhnya justru terhempas lagi ke lantai.
Sang bodyguard meringis melihatnya dan berakhir memilih membantu Wanda untuk duduk dipinggir ranjang Yuzen. Wanda bahkan tak histeris saat disentuh orang asing, pikirannya sudah terarah pada keadaan Yuzen. Sang bodyguard kemudian memilih pamit dan menjadi berjaga diluar.
"Nona kalau perlu apa-apa, panggil saja. Saya dan teman saya berjaga diluar." Pesan Sang bodyguard sebelum benar-benar keluar.
Wanda meneliti Yuzen dari ujung kepala hingga kaki. Tangannya terangkat dan menyentuh wajah Yuzen. Pria itu masih terlelap. Tampak damai dalam ketidaksadarannya.
Air mata gadis itu semakin banyak terjatuh. Tangan gadis itu mulai membuka satu persatu kancing baju inap Yuzen dan kepanikan semakin merayapinya saat melihat dengan matanya sendiri bagaimana perban itu melilit tubuh Yuzen.
Wanda histeris seketika.
Kepanikan membuat asam lambungnya semakin naik. Lalu Wanda mulai muntah dipinggir ranjang Yuzen. Hanya air, bahkan lama-lama tak mengeluarkan apapun. Lagipula Wanda memang tak memakan apapun selama 3 hari ini.
Bodyguard yang tadi keluar masuk lagi saat mendengar suara muntahan Wanda. Dan pria besar itu langsung memencet tombol disebelah ranjang Yuzen untuk memanggil dokter.
Kepala pelayan Ahn yang sebelumnya keluar untuk makan siang yang terlambat segera menghampiri Wanda dan menepuk punggung gadis itu lembut.
__ADS_1
"Nona, tenanglah." Kepala pelayanan Ahn berusaha menenangkan Wanda yang masih menangis sesunggukkan. Gadis itu tampak mengenaskan. Sejenak kepala pelayan Ahn melirik Yuzen yang masih tak sadarkan diri. "Tuan Yuzen tidak apa-apa. Tuan akan segera sadar. Tidak akan terjadi apa-apa pada tuan Yuzen."
Wanda menoleh menatap kepala pelayan Ahn dengan pandangan mengiba. Kepala pelayan Ahn bisa melihat pandangan linglung dan ketakutan gadis itu. Seperti dulu. Seperti saat mereka masih berpacaran di jaman SMA. Kepala pelayan Ahn ingat, waktu itu Yuzen sakit demam berdarah dan harus dirawat dirumah sakit. Dan selama itulah pandangan Wanda tampak seperti sekarang ini. Gadis itu bahkan tak lepas dari ranjang Yuzen selama seminggu Yuzen dirawat dulu.
Yang dia tahu dari karakter Wanda, saat ini gadis itu hanya sedang takut. Takut Yuzen meninggalkannya. Takut tak bisa melihat Yuzen lagi. Pria yang selalu ada untuknya.
"Hiks... Tidak. Dia tidak sadarkan diri. Dia kenapa-napa." Bantah Wanda tegas. Lalu setelah rasa muntah nya berkurang dan meraih tisu yang disodorkan kepala pelayan Ahn, dia segera berbaring dan memeluk Yuzen pelan, berusaha tak menyentuh lukanya. Wajahnya terbenam di ceruk leher Yuzen. Gadis itu masih saja menangis.
Tak lama, seorang dokter masuk diikuti seorang perawat.
Dokter itu melihat sejenak bekas muntahan Wanda dilantai dan mulai mendekati Wanda.
"Nona Wanda sudah sadar? Bagaimana perasaannya?" Dokter itu tak mendapatkan jawaban. Wanda bahkan semakin membenamkan wajahnya. Tapi Sang dokter merasa maklum dan mulai memeriksa keadaan Wanda.
Setelah selesai, dokter itu menghadap kearah kepala pelayan Ahn dengan sopan, "nona Wanda sudah tidak apa-apa. Tapi dia harus diinfus sebotol lagi dan saya akan memintakan perawat mengantarkan makanan ke kamar. Nona Wanda harus mengisi perutnya. Setelah istirahat semalam, nona Wanda bisa pulang esok harinya."
"Terimakasih dokter, ah terimakasih juga sudah mengabulkan permintaan saya agar menyatukan ruangan mereka bersama."
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu."
Kepala pelayan Ahn mengangguk dan membiarkan dokter itu segera keluar. Pria tua itu menoleh kembali kearah Wanda, dan kemudian mendesah lelah. Ah... Pulang esok?
Paling-paling Wanda tak akan pulang hingga Yuzen ikut pulang. Hmmmm...
โ๐โ
Kepala pelayan Ahn menatap iba pada Wanda yang terus saja mendekap Yuzen. Matahari bahkan sudah terbenam, tapi tak ada tanda-tanda Wanda akan beranjak. Begitu pun dengan makan, gadis itu bahkan tak mau membuka mulutnya sama sekali meski kepala pelayan Ahn menawarkan untuk menyuapi. Tapi gadis itu justru bergetar hebat.
Lagi-lagi Wanda hanya menggeleng lemah.
Gadis itu semakin membenamkan wajahnya pada ceruk leher Yuzen. Kehangatan dan aroma pria itu menenangkannya. Dia ingin Yuzen, dia ingin pria itu sadar dan melindunginya lagi. Keberadaan kepala pelayan Ahn membuatnya tidak nyaman.
'Kau harus makan Wanda! Kau tidak ingin makan? Kau ingin mati? Kau tidak ingin bertemu Yuzen lagi?!'
'Apa kata Yuzen jika melihat keadaanmu yang mengenaskan ini?'
'Bukankah kau sendiri yang membuat keadaan seperti ini? Kau menolak Yuzen, dan lihat apa yang kini terjadi.'
'Kau harusnya sadar dan berhenti merengek! Jangan jadi lemah!'
'Setidaknya kau harus sehat dan balas merawat Yuzen, bukannya berlindung pada Yuzen yang sekarat! Setidaknya saat keadaan pria itu drop, kau bisa merawatnya. Selama ini hanya Yuzen yang memberi, kau tidak pernah memberi timbal balik!'
Air mata Wanda menetes, kedua tangannya terangkat dan mulai menjambak rambutnya. Kepalanya sakit, Kata-kata Wendy berdengung dengan menyakitkan didalam tempurung kepalanya. Suara di dalam kepalanya berkata dengan keras seakan ingin memerintah nya.
"Sakit... Kumohon jangan memarahiku." Bisik Wanda di tengah isakannya.
__ADS_1
Dia ingat mimpinya sebelum ini. Hal yang sangat aneh, bagaimana bisa mimpi terasa senyata itu? Bahkan dia bisa mengingatnya jelas dan tak terlupa saat bangun seperti mimpi pada umumnya.
Wendy.
Nama itu terngiang dikepalanya. Gadis yang memiliki wajah serupa dengannya, namun tampak lebih berani dan tangguh.
Apa dia benar-benar berkepribadian ganda?
Meski tak masuk akal, tapi penyakit itu memang ada. Tapi kenapa bisa terjadi padanya? Dan Wendy pun tampak tidak jahat dan berusaha menguasai tubuhnya seperti yang ada di film-film yang pernah dia tonton. Atau bahkan artikel singkat yang dibacanya saat mencari tugas.
"Nona, kau tidak apa-apa?!" Kepala pelayan Ahn menguncang Wanda berusaha menyadarkan gadis itu yang tampak histeris. Pria tua itu juga berusaha melepaskan jari Wanda yang terus meremas rambutnya.
Sadar jika kepala pelayan Ahn menyentuhnya, Wanda kembali menjerit keras.
Dia menjerit dan memeluk erat Yuzen.
Kepala pelayan Ahn seketika melepaskan sentuhannya. Lalu menatap Wanda dengan kernyitan didahi, meski begitu ekspresi khawatir terpatri jelas di wajahnya.
'Wanda, tenangkan dirimu!'
Wanda hanya menggeleng. Isakannya masih terdengar keras.
Wendy mendesah keras dalam kepala Wanda. Keadaan Wanda memang sedang sangat rentan saat ini. Gadis itu ketakutan dengan keadaan Yuzen dan sakit yang diderita gadis itu menambah daftar alasan kenapa gadis itu benar-benar tidak stabil saat ini.
Wendy salah langkah. Disaat-saat seperti ini seharusnya dia tak menasehati Wanda, apalagi berkata keras pada gadis itu.
Mengambil alih tubuh gadis itu juga percuma. Meski histeris, pertahanan Wanda sedang sangat kuat. Sepertinya gadis itu ingin terus menahan dirinya agar terus sadar dan memastikan kondisi Yuzen. Wanda sedang tidak memiliki celah untuk digantikan.
"Nona, tenanglah. Aku tidak menyentuhmu lagi." Kepala pelayan akhirnya ingat, Yuzen pernah bilang dulu saat mereka masih SMA, bahwa Wanda tak suka disentuh orang asing. Meski sudah lama sekali, dia tak tahu bahwa Wanda masih sebegitu tak sukanya disentuh selain dengan Yuzen. Untunglah dia ingat, jika tidak dia akan terus menyentuh Wanda dan nembuat gadis itu histeris. "Nona, aku akan meninggalkan makanannya disini. Kau harus memakannya ya. Aku akan kembali lagi nanti untuk mengecheck-mu."
Perlahan Wanda merasa tenang setelah mendengar ucapan itu, dengan lemas dia mengangguk.
Kepala pelayan Ahn tersenyum lembut lalu memilih keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Wanda yang mencoba kembali menenangkan diri.
Wendy sendiri hanya diam. Memilih untuk tak bicara lagi atau dia akan mengacaukan keadaan psikis Wanda. Gadis itu benar-benar tak stabil dan hanya ingin berada di dekat Yuzen.
โ๐โ
[Author note: Part ini benar-benar garing ya? wkwkw.
mau double up?
spam komen dong
#pissss]
__ADS_1