
Pagi itu sangat cerah. Awan menghiasi langit dengan diterangi cahaya matahari yang cukup bersinar terik. Masih jam 9 pagi, tapi tiba-tiba orang-orang yang berada di parkiran kampus dikejutkan dengan sebuah mobil pajero--yang banyak dari para gadis hafal plat nomornya--baru masuk ke area parkir dan mengisi salah satu sisi yang kosong.
Para gadis tiba-tiba terpekik karena tahu milik siapa mobil itu. Bagaimana mereka tidak girang jika hampir 2 minggu pemilik mobil itu tidak datang ke kampus. Mereka merindukan pria itu, tentu saja. Pria paling populer di kampus, tampan, kaya, dan murah senyum. Pria paling diidamkan di kampus untuk dijadikan suami.
“Ke-kenapa mereka berkerumun seperti itu?” Wanda membelalak tak percaya saat melihat para gadis tampak membentuk sebuah brikade didekat mobil mereka.
Yuzen mengendikkan bahunya dan mematikan mesin mobil. Melepaskan sabuk pengamannya sebelum kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Wanda. “Kau tampak manis hari ini, sayang.” Dan kemudian mengecup dahi Wanda dengan sayang.
Wanda sendiri tersipu malu. Jantungnya berdebar kencang meski Yuzen sudah berkali-kali melakukan hal intim lebih dari ini.
Setelah kejadian pengakuan itu hubungan mereka semakin dekat. Wanda merasa nyaman didekat pria itu. Meski terkadang jika Yuzen terlalu intim, tubuhnya akan sedikit bergetar dan kadang berteriak histeris. Tapi hal itu sudah berkurang drastis. Pria itu terlalu jahil padanya, terlalu sering bertindak nekat dan membuat Wanda spot jantung. Bagaimana bisa dia tak segera terbiasa?
“Keluar, hm?”
Wanda reflek menggeleng dan membuat Yuzen terkekeh melihat tingkah lucu gadisnya. Hal-hal sederhana pada diri Wanda selalu bisa membuatnya gemas.
“Kenapa? Ayo. Sini aku lepaskan sabuk pengamanmu.”
Tapi Wanda menahan tangan Yuzen agar tak melepaskan sabuk pengamannya. Gadis itu agak takut melihat kerumunan para penggemar Yuzen. Yuzen bahkan bukan artis, kenapa penggemarnya sepertinya sangat Fanatik!
Wanda takut.
Dia jadi ingat kejadian di gedung olahraga waktu itu. Bagaimana jika ada yang berbuat jahat lagi padanya?
Yuzen memiringkan tubuhnya dan menatap gadisnya dengan ekspresi nakal. “Tenanglah sayang, mereka tidak memakan orang. Paling hanya mencakar.”
Dan wajah Wanda seketika horor.
Dengar, dicakar!
Itu tetap saja sakit.
“Ba-bagaimana jika ada yang membully-ku lagi?”
Senyum jahil Yuzen menghilang dan digantikan dengan ekspresi keras pria itu. Dia tidak suka. Dia tidak suka saat membayangkan gadisnya jadi bahan lampiasan para fans tak bergunanya itu. Jika Wanda sudah membahas hal-hal seperti ini, Yuzen tak berniat menjahili gadisnya lagi.
Dengan lembut diraihnya kedua jemari gadisnya, lalu diremasnya pelan. “Aku akan melindungimu, aku janji.” Lalu, lagi. Pria itu mengecup dahi Wanda lagi. Namun kini, kecupan itu berlanjut menuruni wajah Wanda dan meraih bibir ranum gadis itu.
******* sebentar sembari mengalihkan perhatian Wanda dari sabuk pengamannya. Satu tangan Yuzen melepas jemari Wanda dan beralih melepaskan sabuk pengaman gadisnya.
Yuzen melepaskan ciumannya, namun melihat bibir itu basah dan sedikit bengkak, dia tergoda lagi untuk melumatnya. Setidaknya sekali lagi, hitung-gitung menambah semangatnya mengikuti kelas hari ini. Dan pria itu benar-benar mencium Wanda dengan rakus. Membiarkan salah satu tangannya sedikit jahil dan meremas pinggang gadis itu.
Wanda yang akhirnya kesusahan bernafas meronta. Berusaha mendorong Yuzen agar menjauh. Dari apa yang dipelajarinya, Yuzen memang terlalu sering kalap jika sudah menciumnya. Pemikiran itu membuat Wanda tersipu. Bukannya dia juga tidak menolak?
Ah… Wanda kau sangat murahan bisa disentuh seperti itu oleh Yuzen.
__ADS_1
Yuzen melepaskan ciumannya dan terkekeh melihat gadisnya yang tersipu malu dengan nafas tersenggal. Astaga, pemandangan yang sangat mengundang. Yuzen meneguk ludahnya susah payah.
Yuzen memejamkan matanya berusaha menjernihkan kepalanya, setelah dirasanya cukup, dia membuka matanya lagi dan mendapati mata bulat itu memandangnya heran.
“Kau tampak menggoda, sayang.” Yuzen menepuk puncak kepala Wanda dengan sayang. “Ayo, kau ada kuliah sebentar lagi hm. Kita sudah tidak kuliah hampir 2 minggu. Terlalu banyak absen dan aku tidak ingin membiarkanmu telat ke kelas pagi.”
Wanda menatap sejenak ke luar mobil dengan ragu. Yuzen yang mengerti kecemasan gadisnya berujar, “Aku akan menendang mereka jika berani menyentuhmu. Lagipula semua orang kan sudah tahu kau kekasihku. Apa hak mereka.”
Wanda mengerjap mendengar nada sinis yang dilontarkan Yuzen. Terkadang Yuzen benar-benar bisa bernada lembut, terkadang bernada jahil, terkadang juga manja, terkadang lagi keras dan sinis. Nada suara pria itu selalu mengikuti suasana hati jika bersama Wanda.
Pria itu segera keluar dari mobil dan berputar untuk membukakan Wanda pintu mobil. Yuzen tidak peduli sama sekali dengan teriakan para gadis saat Yuzen keluar dari mobil. Lalu keterdiaman mereka saat melihat Wanda keluar dari bangku penumpang. Meski ada beberapa gadis aneh yang justru membuat fans club hubungan mereka. Sepertinya para gadis dikampus tak ada kerjaan sama sekali. Tidakkah mereka hanya membuang Waktu mengurusi hubungan seseorang?
“Ja-jangan lepaskan aku ya.” Cicit Wanda dengan nada memohon.
“Jadi sayangku tak ingin dilepaskan? Padahal dulu ada yang selalu menjerit setiap kusentuh.”
Wanda merona malu. Akhir-akhir ini Yuzen memang suka sekali melontarkan kalimat usil. Pria itu benar-benar tampak menikmati aksinya.
Yuzen terkekeh, lalu meraih Wanda dan menarik gadis itu dalam rengkuhannya. Tangan Yuzen merengkuh pundak Wanda dan menempelkan sedekat mungkin tubuh gadis itu padanya.
Lalu tak lama berondongan kata-kata dari para gadis itu meledak. Ada juga beberapa pria di sekitar sana. Dan sudah jadi rahasia umum jika Wanda menjadi salah satu kandidat pacar paling diincar dikampus meski gadis itu masihlah berstatus mahasiswa baru.
Sejenak Yuzen memandang penampilan Wanda. Gadis itu memakai rok tutu sedikit dibawah lutut berwarna peach dengan kemeja berwarna putih yang terdapat beberapa renda dibagian kerah. membuat kulit putih gadis itu semakin tampak cerah.
Sejenak pria itu menyesal telah mengisi Walking closet-nya dengan banyak pakaian perempuan yang feminim dan trendi untuk Wanda. Gadis itu jadi terlihat sangat cantik dan manis.
Ah sial.
Demi memanjakan matanya, dia jadi ikut memanjakan mata para pria kurang ajar itu.
Yuzen semakin merapatkan tubuh Wanda padanya. Dan matanya tak berhenti memberikan peringatan pada pria yang berani menatap Wanda lebih dari 3 detik. Mata-mata sial yang wajib dicongkelnya.
“Kak Yuzen, kak Yuzen kemana saja tidak masuk kuliah?”
“Kak Yuzen masih berpacaran dengan Wanda?”
“Astaga, Yuzen tak tahukah kau bahwa kami sangat merindukanmu? Tak melihatmu hampir 2 minggu itu neraka.”
“Padahal aku sudah berdoa agar mereka putus. Tapi justru makin terlihat mesra.”
“Wanda pasti menghabiskan banyak uang Yuzen, lihat pakaiannya. Benar-benar seorang pengeruk harta. Gadis miskin yang kemudian derajarnya diangkat oleh seorang pangeran.”
“Kak Yuzen, tolong menoleh kearahku!”
“Kak Yuzen, aku mencintaimu.”
__ADS_1
Semua ucapan itu saling bersahut-sahutan. Beberapa kalimat memang membuatnya marah, tapi Yuzen berusaha menahan amarahnya. Pria itu justru memasang senyum kecil dan memilih terus berjalan dengan Wanda direngkuhannya tanpa ingin menyahut semua perkataan tak penting itu.
Wanda sendiri sudah merasa ngeri dengan semua tuduhan-tuduhan padanya. Wajahnya pucat dan ketakutan. Tapi rengkuhannya Yuzen entah kenapa membuatnya tenang dan sanggup terus berjalan melewati kerumunan itu. Hingga kemudian memasuki kelas Wanda yang sudah nyaris penuh, Yuzen tak melepaskan rengkuhannya. Membuat orang-orang dalam kelas terkesiap melihat kehadiran pria itu. Beruntung sang dosen belum datang.
“Apa?” Dengus Yuzen saat semua mata menoleh kearahnya. Dia tak mempedulikan lagi tatapan itu dan memilihkan Wanda sebuah bangku diarea belakang.
Kemudian Yuzen memilih duduk disebelah gadisnya. Mengabaikan tatapan heran Wanda yang terarah padanya.
“Kenapa kakak duduk disitu?”
Yuzen memiringkan kepalanya dan menatap Wanda. “Kau melupakan panggilanmu terus sayang. Aku kadang kesal melihat kelupaanmu.” Canda Yuzen.
Tapi Wanda kemudian terkesiap dan meringis.
“Maaf, Yuu…”
Wanda terkadang memang sering lupa memanggik Yuzen dengan nama kecilnya. Karena nama itu terdengar intim bagi Wanda. Dan dia merasa malu memanggil Yuzen seperti itu. Tak terelakkan pipi Wanda merona lagi.
Yuzen mendekatkan wajahnya, kembali menyeringai sebelum kemudian mengecup kedua pipi Wanda. “Akhir-akhir ini kau juga sering merona sayang.” Ujarnya santai. Meskipun dalam hati dia girang bukan main mendengar panggilan Wanda. Terlalu murahan memang. Ah sudahlah...
Lagi-lagi Yuzen memilih mengabaikan tubuh tegang gadis itu dan beberapa suara terkesiap disekeliling mereka akibat tindakan frontal Yuzen ditempat umum.
Apa peduli Yuzen. Dia tak punya urat malu untung hal-hal seperti itu. Yang penting Wanda miliknya.
Dan Yuzen berhasil mengalihkan Wanda dari pertanyaan kenapa dia masih dikelas gadis itu.
Suka-suka Yuzen mau berada dimana. Lagipula kelasnya masih satu jam lagi. Dia hanya ingin terus menempel pada gadisnya dan memastikan tidak ada pria lain yang berniat mendekati gadis itu yang hari ini terlalu berkilau.
Segila itu memang cinta Yuzen.
✍👀✍
Hallohaaaa.....
Bagaimana keadaan kalian semua hari ini?
Semoga sehat Wal afiat ya dan semoga kita semua terlindung dari wabah yang sedang marak saat ini.
Semoga keadaan segera membaik dan kembali pulih seperti semula.
Dan Terimakasih untuk yang sudah setia membaca cerita ini. Maaf sekali Update-nya telat.
Akan Update lagi besok malam atau lusa ya....
Ciayoooo.... (✿ ♥‿♥)
__ADS_1