
"Biarkan aku bertemu Yuzen, Wanda!"
"Kau tega sekali padaku. Aku kan juga ingin merasakan euforia habis dilamar bersama Yuzen."
"Kan aku yang dilamar." Ujar Wanda polos. Dia tak berniat menggoda bahkan membuat marah Wendy. Dia hanya kelewat jujur atas apa yang dipikirannya.
"Kau!" Disisi Wanda kesal. "Kau dan aku itu satu. Yuzen melamarmu berarti juga melamarku. Jahat sekali kau ini. Lagipula Yuzen lebih mencintaiku."
Deg!
Wanda yang sedang mengetik di laptop yang dipinjamnya dari Yuzen berhenti. Gadis itu menatap kosong tugas kuliahnya yang terpampang dilayar dihadapannya. Apa kata suara itu tadi? Yuzen lebih mencintai kepribadian lainnya itu?
Wanda menatap cincin pemberian Yuzen yang melingkar indah di jarinya. Meskipun mereka satu tubuh, tapi kepribadian masing-masing punya sifat yang berbeda. Apa Yuzen lebih suka pada sifat Wendy?
Mengikuti kata hatinya, gadis itu berdiri. Gadis itu berjalan kearah ruang kerja Yuzen dan mendapati pria itu yang bekerja dihadapan komputernya.
Wanda berhenti disebelah Yuzen. Menatap pria itu dan menunggu pria itu mendongak menatapnya. Tak menunggu lama, pria itu langsung menutup pekerjaannya dan menatap Wanda dengan sayang. Pria itu menarik pinggang gadisnya dan membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya.
Wanda menatap Yuzen sedih. Lalu mengikuti keinginan hatinya, gadis itu merangkul leher Yuzen dan membenamkan wajahnya dilakukan leher pria itu.
"Oh wow sayang, kau kenapa hm?" Yuzen merasa agak heran dengan tingkah Wanda. Sejak kapan gadis itu seagresif ini? Biasanya Yuzen harus mengerahkan tenaga ekstra untuk sekedar menyentuh Wanda karena gadis itu terkadang masih takut-takut disentuh.
Apa lamarannya tadi memberikan efek seluar biasa ini?
Yuzen menyeringai. Oh, tentu saja dia senang sekali.
Di peluknya erat Wanda dan menghindu aroma gadis itu yang selalu membuatnya rindu. Wanda selalu punya aroma khas bayi meski gadis itu tidak mandi. Yuzen pun terkadang heran, setahunya Wanda memang terkadang menggunakan sabun bayi karena kulitnya agak sensitif dengan bahan kimia.
"Kau ternyata punya inisiatif juga untuk memeluk Yuzen."
Suara Wendy kembali bergema dalam kepalanya. Wanda memejamkan matanya. Dia berusaha mengabaikan suara itu. Untuk saat ini dia kesal pada Wendy, sangat kesal. Wanda rasanya tak pernah sekesal ini pada orang.
"Mau makan malam?" Tanya Yuzen. Pria itu mengangkat tangannya dan mengelus rambut Wanda dengan sayang.
Wanda yang masih menenggelamkan wajahnya pada leher Yuzen menggeleng. Yuzen pun merasa merinding sendiri merasakan hembusan nafas Wanda. Jika boleh jujur, lehernya sebenarnya sangat sensitif. Apalagi jika gadisnya yang menyentuhnya. Yuzen rasanya ingin menyingkirkan semua barang diatas meja kerjanya dan menindih gadisnya diatas meja.
Oh yang benar saja, kenapa pikiran mesumnya muncul lagi? Padahal baru beberapa saat lalu dia memandikan Wanda.
Apa ini efek dia sebentar lagi akan bisa menyentuh Wanda sepuasnya? Lagi-lagi seringaian senang tidak bisa ditahannya. Membayangkan pernikahan resminya 2 minggu lagi benar-benar membuatnya amat senang.
__ADS_1
"Yuu…."
Nah, panggilan itu menambah parah hasrat Yuzen. Yuzen meneguk ludahnya susah payah.
"Ya sayang?" Suara pria itu menjadi semakin berat.
"Kau…." Wanda terdiam sejenak. Gadis itu sesaat merasa ragu untuk bertanya.
"Tanyakan saja apa yang ingin kau tahu, sayang."
Yuzen menarik Wanda semakin menempel padanya. Dan hal itu semakin berakibat fatal saat pria itu bisa merasakan lekukan buah dada Wanda.
Hasrat sialan. Rutuk Yuzen.
Apakah hasratnya separah ini karena dia masih perjaka?
Tidak. Sepertinya dia memang terlalu mesum. Tapi yah tak apa. Dia hanya merasakan begini pada gadisnya seorang.
"Yuu, kau lebih mencintai siapa? Aku atau Wendy?"
Deg!
Tak pernah terpikirkan olehnya jika Wanda akab menanyakan ini saat dia tahu keberadaan Wendy.
"Apa saat kau melamarku, berarti kau juga melamar Wendy?"
Wajah Yuzen semakin pucat. Rasanya dia tak pernah membedakan Wanda dan Wendy. Saat mendapatkan pertanyaan seperti ini, apa yang harus dia jawab?
"Jika kau disuruh memilih salah satu dari kami, siapa yang kau pilih? Bagaimana jika salah satu dari kami harus menghilang? Siapa yang akan kau pertahankan? Pasti Wendy ya, kau kan lebih mencintainya."
"WANDA!" Wendy memang terkadang sadar saat Wanda lah yang menguasai tubuh itu. berbeda jika Wendy yang menguasai tubuh itu, Wanda akan sepenuhnya terlelap. Dan mendengar ucapan Wanda barusan, Wendy tersadar jika tadi dia ada salah bicara. Wanda yang terlalu sensitif memang tidak bisa diajak bercanda. Wendy hanya bisa mendengus kesal dalam kepala Wanda, gadis itu tak tahu harus bicara apa.
Yuzen sendiri yang mendengar rentetan pertanyaan Wanda sudah sangat pias. Disuruh memilih? Tidak. Yuzen tak pernah berpikir untuk memilih. Baginya keduanya penting. Jika dia diharuskan memilih? Yuzen akan mencari segala cara untuk mempertahankan keduanya.
Pelukan Yuzen mengendur. Dia bisa merasakan lehernya basah. Dengan lembut dia berusaha mengangkat wajah Wanda dan bisa melihat bahwa gadis itu sedang menangis tanpa suara.
Satu tangan Yuzen terangkat dan mengelus pipi gadis itu. "Aku tak akan pernah memilih sayang. Bagiku, kalian berdua penting. Dan jika kau bertanya aku lebih mencintai siapa, aku tak bisa menjawab. Cintaku tak pernah bisa diukur, dan aku akan berusaha mencintai kalian dengan porsi yang sama. Cintaku tak bisa memilih salah satu dari kalian."
"Apa kak Yuzen benar-benar mencintaiku?"
__ADS_1
Yuzen terkekeh dan mendekatkan wajahnya untuk mengecup kedua mata Wanda.
"Aku sanggup membunuh orang untukmu." Itu bukan kiasan karena Yuzen benar-benar akan membunuh siapapun yang berani menyakiti gadisnya. Bahkan jika gadisnya mencintai pria lain, Yuzen akan memastikan pria itu mati dan Wanda senantiasa menjadi miliknya.
Tapi Wanda tidak tahu itu. Wanda hanya menganggap kalimat itu sebagai perandaian cinta Yuzen.
Dan entah kenapa Wanda percaya dan perlahan menjadi tenang.
"Bagaimana jika kak Yuzen bertemu gadis yang sangat cantik? Tidakkah Kak Yuzen akan mencampakkanku?"
Yuzen jujur tercengang. Kenapa sekarang ini pertanyaan-pertanyaan Wanda seakan memojokkan nya dan meremehkan cintanya? Ayolah, itu pertanyaan tidak berguna.
"Memang ada yang lebih cantik darimu sayang?"
"Banyak…." Kalimat Wanda terputus saat Yuzen mengecup bibirnya.
"Tidak ada yang sepertimu. Tidak ada yang bisa masuk ke hatiku selain dirimu. Kau tahu, berapa lama aku mencintaimu? Sejak kita kecil. Aku tetap mencintaimu dalam diam, dan kemudian memutuskan untuk eksis di hidupmu sejak kau masuk SMA. Jika kau tak lupa ingatan, kau akan ingat betapa gilanya aku mengejar-ngejarmu dulu. Dan cintaku tak pernah memudar sampai sekarang."
Wanda terdiam.
Lalu kemudian gadis itu menunduk dan mulai menangis lagi. "Maafkan aku… aku tidak bermaksud meragukan kak Yuzen. Aku… aku hanya takut."
"Aku tahu." Bisik Yuzen dan mengecup kening Wanda.
Tanpa banyak bicara lagi pria itu berdiri dan membawa serta Wanda dalam gendongannya.
"Ayo makan malam." Yuzen mulai berjalan keluar dari ruang kerjanya. "Dan halus air matamu sayang. Aku tak ingin ayahmu berpikir kalau aku menyiksamu. Bisa-bisa aku didepak dari daftar calon menantu."
Wanda tanpa sadar terkekeh. Dan Yuzen tertawa melihat gadis itu sudah tidak tampak sedih lagi.
"2 minggu lagi sayang, kau benar-benar jadi milikku." Bisik Yuzen.
Dan Wanda hanya bisa tersipu malu.
.
.
.
__ADS_1
✍👀✍