Psychopath Prince

Psychopath Prince
-33- Insiden Kecil


__ADS_3

"Yuu...."


"Ya sayang?" Yuzen menoleh dengan senyum lebar. Bahkan dia terkekeh kecil, yang masih tidak dimengerti Wanda kenapa pria itu suka terkekeh sejak pagi.


Tapi seketika Wanda langsung melotot ngeri saat Yuzen tidak segera menoleh kearah jalanan lagi. Pria itu tersenyum padanya lama, dalam keadaan menyetir. Tampak kegirangan dan tak peduli nyawanya.


Pria gila!


"Yuu, menyetir yang benar!" Pekik Wanda horor. "Lampu merah!"


Dan benar saja, pria itu langsung mengerem mendadak saat sadar dihadapannya lampu merah. Nyaris menabrak motor yang sudah berhenti dibelakang lampu merah. Pengendara motor itu bahkan sudah berteriak-teriak karena nyaris tertabrak. Jarak motor dan mobil Yuzen hanya tersisa beberapa centi lagi, nyaris saja terjadi kecelakaan.


Wanda masih melotot dengan tangan yang memegang erat sabuk pengaman. Dia takut sekali tadi.


Tak lama, ketukan beruntun terdengar dari jendela bangku pengemudi. Menyadarkan Wanda dari ke kagetannya. Wanda menoleh kearah jendela di samping Yuzen dan mendapati seorang pria yang tadi duduk diatas motor yang nyaris ditabrak Yuzen.


"Woi, buka gak?!"


Yuzen mendengus dan membuka kaca jendelanya. Dan pria diluar sana langsung menarik kerah kaos yang digunakan Yuzen. Yuzen hanya menatapnya dingin.


"Kenapa?" Tanya Yuzen datar.


"Kenapa? Kau nyaris menabrakku bung!" Bentak pria itu pada Yuzen.


"Lalu?"


"Kalau tidak bisa menyetir, Jangan nyetir. Kalau punya mata dipakai. Bukan jadi pajangan."


Wanda bergidik. Dan tubuhnya sedikit bergetar. Dirapatkannya tubuhnya pada jendela, kakinya naik keatas kursi dan di peluknya ke dada. Pria diluar sana menakutkan. Nada suaranya penuh bentakan yang dibenci Wanda. Dan Yuzen menyadari ketakutan Wanda. Dengan cepat Yuzen mencengkram leher pria diluar sana dan menariknya hingga kepala pria itu sedikit masuk ke mobil.


"Lalu apa yang kau inginkan? Aku tidak menyentuh motor sialan mu sama sekali dan kau marah-marah tidak jelas hingga membuat gadisku takut."

__ADS_1


Pria yang di cengkraman Yuzen melotot ngeri saat merasakan cengkraman Yuzen yang tidak main-main di lehernya. Yuzen seperti ingin benar-benar membunuhnya, Dan mata yang dipancarkan benar-benar terasa bengis.


Yuzen tidak terima ini. Dia tidak menabrak apapun dan justru dipermasalahkan hingga membuat Wanda ketakutan. Emosinya naik begitu saja, wajah ketakutan Wanda membuatnya marah dengan orang yang berani membuat gadisnya begitu.


Wanda yang sadar akan ekspresi pria diluar sana yang seperti sesak nafas dengan wajah memerah, perlahan mendekati Yuzen. Meski ketakutan, gadis itu tidak ingin Yuzen menjadi pembunuh. Pria diluar sana seperti nyaris mati kehabisan nafas! Bahkan beberapa orang yang ikut mengantri lampu merah tidak berani mendekat. Meskipun bisa dibilang jalanan ini sangat sepi. Hanya ada dua tiga motor yang ikut berhenti dilampu merah.


"Yuu..." Wanda menggenggam lengan atas Yuzen erat, berusaha menyadarkan pria itu. "Yuu, lihat aku. Aku tidak ingin kau membunuh orang."


Dejavu....


Wanda mengernyit saat merasakan sisi kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit. Tapi hanya sesaat, seakan ada yang ingin menyeruak dalam isi kepalanya. Entah kenapa rasanya seperti dejavu. Seakan dia pernah melakukan hal ini pada Yuzen.


Tapi....


Dia baru mengenal Yuzen. Mungkin hanya perasaannya.


"Sayang..." Tak lama, Yuzen menoleh padanya. Meski pria itu belum melepaskan cengkraman nya pada pria diluar sana.


Mata mereka bertatapan. Yuzen terpaku, tiba-tiba hasrat membunuhnya menurun perlahan diikuti emosinya. Pria itu tidak berkedip dan kemudian justru terkekeh setelah tersadar. Dia merasa lucu. Tidak peduli dulu maupun sekarang, Wanda selalu berhasil menenggelamkan hasrat membunuhnya. Dia wajar jika dulu Wanda selalu berhasil menahan hasrat membunuhnya karena dulu dia tak separah sekarang. Selama masa jeda hubungan mereka dan Wanda tak disisinya, dia sudah banyak menyiksa dan membunuh orang. Membuat jiwa psychopath-nya berkembang liar dan semakin parah. Tapi ternyata, efek Wanda masih ampuh menahan hasrat gilanya.


Lucu sekali.


Dia ingin tertawa.


Dan pria itu benar-benar tertawa keras. Wanda mengernyit heran, melupakan semua rasa takut yang dirasakannya beberapa saat lalu.


Yuzen bahkan seakan tidak merasakan tangannya yang sejak tadi dipukul dan dicakar pria diluar sana agar bisa melepaskan cengkraman Yuzen dilehernya.


"Yuu, k-kau kenapa?" Wanda bertanya takut-takut. Dia merasa aneh dengan Yuzen yang tertawa tiba-tiba.


Tapi tak lama, pria itu meredakan tawanya dan segera meraih saku celana belakangnya dengan sebelah tangan yang bebas.

__ADS_1


Pria itu mengeluarkan sebuah cek dari dompetnya dan mengambil sebuah pulpen dari laci dasbor. Lalu menuliskan angka 100 juta disana.


Yuzen berbalik menatap Wanda yang masih tidak beranjak dari posisinya meski tangan gadis itu sudah tidak mencengkram lengannya. Yuzen tersenyum manis dan mengecup bibir Wanda sekilas. "Akan kulepaskan sayang karena kau yang meminta."


Dan Yuzen benar-benar melepaskan cengkramannya pada leher pria diluar sana.


Pria diluar sana langsung jatuh ke aspal dengan tangan yang mengelus lehernya yang memerah. Nafas pria itu bahkan sudah tidak teratur lagi. Jika sedikit lama, pria itu benar-benar akan pingsan dan parahnya tidak bernafas lagi.


"Cek untukmu, meski aku tidak tahu apa yang harus ku pertanggung jawabkan. Tapi aku akan membuat cek yang kau terima bisa berguna selain untuk biaya rumah sakitmu." Yuzen melemparkan cek itu pada pria itu dan menunjuk leher pria itu ketika mengatakan kalimat terakhir.


Dan tepat kalimat itu selesai, lampu merah sudah berganti hijau.


"Pegangan erat-erat sayang. Akan terjadi benturan."


Dan benar saja. Yuzen langsung menginjak gasnya, tak peduli jika di depan mobilnya masih terparkir motor pria tadi.


Motor itu langsung tertabrak mobil pajero Yuzen yang berbodi besar. Terseret aspal dan kemudian terlempar ke pinggir.


Yuzen hanya menyeringai kecil sebelum kemudian kembali melajukan mobilnya seperti tidak terjadi apa-apa.


Wanda terbelalak dengan kejadian barusan. Dan gadis itu menoleh kearah Yuzen dengan tidak percaya.


"Kenapa kau tabrak?!"


Yuzen hanya mengangkat bahunya asal. Lalu mendekati Wanda dan kembali mengecup bibir gadis itu.


"Tidak apa. Aku sudah ganti rugi tadi." Jawabnya santai. Membiarkan Wanda yang masih shock akan kejadian tadi.


Pria disampingnya benar-benar bar-bar!


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆

__ADS_1


__ADS_2