
“Hoek!”
“Hoek!”
Pagi itu, di saat baru terbangun, Wanda kembali muntah di pinggir ranjang Yuzen. Gadis itu menangis sesenggukan, dan hanya air yang sejak tadi dimuntahkan. Tak banyak yang keluar, tapi rasa ingin muntah itu terus menghampirinya.
Yuzen sendiri langsung terbangun saat mendengar suara muntahan. Pria itu membelalak melihat apa yang terjadi, dan dengan susah payah berusaha duduk di ranjangnya. Mengabaikan rasa perih dari bekas lukanya dan memegangi rambut Wanda agar tak terkena muntahannya. Satu tangannya yang lain memijat tengkuk Wanda. Berusaha membuat keadaan gadis itu lebih baik.
“Sayang…” pria itu memanggil lirih. Saat Wanda akhirnya tergeletak diranjang dengan sangat lemas, pria itu menunduk diatas Wanda. Meneliti keadaan gadis itu yang kemudian membuatnya khawatir bukan main karena wajahnya sangat pucat.
Satu tangan Yuzen meraih tombol di sebelah ranjang dan memencet nya agar seorang dokter maupun perawat segera datang.
“Mana yang sakit, hm?” Tangan pria itu terangkat dan merapikan anak rambut Wanda yang menempel di wajah. Pandangannya sayu dan pria itu tak bisa melihat Wanda sakit seperti ini. “Bilang padaku. Aku tidak suka saat kau kesakitan, sayang.”
Yuzen mendesah saat yang didapatinya masih tangisan Wanda. Pria itu meraih Wanda dan memeluk gadis itu erat. Membenamkan Wanda didadanya. Dia tak peduli akan rasa sakit yang dirasakannya karena tekanan tubuh gadisnya.
“Kak Yuzen…” lirih Wanda. Gadis itu berusaha menghentikan isakannya. Perutnya benar-benar sakit pagi ini dan kepalanya sedikit pusing. Sepertinya asam lambungnya melonjak tajam karena dia tak memakan apapun selama 4 hari ini.
“Ya sayang?”
Yuzen mengelus rambut Wanda dengan sayang. Dia sempat melirik nampan makanan yang masih utuh diatas nakas. Dan mendesah karena tahu itu milik Wanda. Apa ini karena gadis itu tidak makan?
“Sakit.” Adu Wanda seperti anak kecil. Gadis itu mendongak dan menatap Yuzen dengan mata berkaca-kaca.
Yuzen tersenyum lembut berusaha menenangkan. “Kita tunggu dokter ya. Biar sakitnya bisa hilang.” Wanda memang jarang sekali sakit. Tapi sekalinya sakit, gadis itu akan menangis karena tidak tahan rasanya. Gadis itu akan menjadi manja dan sangat bergantung padanya seperti anak kangguru yang selalu bersembunyi di dalam kantung induknya.
Yuzen hanya harus memberikan perhatian pada gadisnya dan menjaga gadis itu. Dan itu bukan hal berat, dia justru suka rela ditempeli ke mana-mana. Lagipuka dia juga sakit, Wanda juga tidak akan mau melepaskannya. Hah! Yuzen sungguh hafal sifat gadisnya.
Menggemaskan.
Tapi menyedihkan melihat gadis itu menangis seperti ini.
Tak lama, seorang dokter dan perawat masuk dan mulai mulai mengecheck keadaan Wanda dan Yuzen bersamaan.
Yuzen mengangguk sopan pada dokter itu. Dia segera menyuruh sangat dokter itu memeriksa Wanda lebih jauh. Mengatakan hal-hal yang terjadi dan keluhan Wanda.
Gadis itu tidak ingin berbicara dan terus membenamkan wajahnya pada Yuzen. Gadis itu justru berbisik pada Yuzen keluhannya agar Yuzen yang menyampaikan pada sangat dokter.
Tidakkah itu menggemaskan?
Rasanya menyenangkan dijadikan sandaran Wanda akan hal apapun. Dia ingin sekali mencium gadisnya saat ini. Astaga.
“Sepertinya nona Wanda harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Keadaannya belum membaik dan maag yang dideritanya semakin menjadi-jadi. Nona kemarin juga tidak makan? Dalam catatan, nona Wanda sudah tidak makan sekitar 4 hari hingga hari ini. Nona harus segera mengisi perutnya. Meski hanya secuil tidak apa-apa yang penting sering. Kami akan segera mengirimkan makanan untuk nona Wanda dan tuan Yuzen.”
__ADS_1
“Untuk tuan Yuzen sendiri lukanya sudah tidak apa-apa. Mungkin masih agak nyeri, lusa perban nya sudah bisa dibuka.”
Yuzen mengangguk. Lalu dokter dan perawat itu segera pamit untuk mengunjungi pasien lainnya.
Yuzen segera menggeser tubuh Wanda menjauh dan mendongakkan wajah gadis itu agar bisa menatapnya. Yuzen memberikan tatapan kesal. Membiarkan Wanda mengkerut dibawah tatapannya.
“Jadi, kenapa nona satu itu tidak makan?”
Wanda meneguk ludahnya. Meski wajahnya pucat, hal itu tak melunturkan kesan menakutkan diwajah Yuzen kini.
“A-aku… kemarin perutku sakit, rasanya mual jika aku memasukkan makanan kedalam mulutku. Jadi, aku tidak memakan porsi makanan yang diantarkan pihak rumah sakit.” Lirih Wanda.
Yuzen mengernyit. “Lalu bagaimana dengan hari-hari sebelumnya?”
Wanda memalingkan tatapannya. Tidak ingin menatap Yuzen. Dia tak ingin bilang, lagipula semua ini juga salahnya. Semua tindakan Yuzen karena dia yang membuat pria itu kecewa. Yuzen yang terluka pasti juga karenanya. Dia yang menyakiti Yuzen. Bagaimana bisa dia plin-plan seperti ini. Dia seharusnya sadar jika lamaran Yuzen kemarin serius. Seharusnya dia juga bisa menempati diri dan bukannya memprioritaskan rasa ketakutannya yang bodoh itu.
Dia salah.
Lalu saat Yuzen mendekatkan Wajahnya dan memastikan Wanda menatap matanya, gadis itu justru menangis lagi.
Yuzen tak tahu, apa yang ditangisi Wanda kini. Pria itu kemudian memilih melepaskan Wanda dan memberikan sedikit jarak pada tubuh mereka.
“SALAH SATU BODYGUARD MASUK KEMARI!” Yuzen berteriak agar orang didepan sana mendengar. Lalu salah satu bodyguard masuk kedalam dan menunduk sopan pada Yuzen.
Yuzen mengamati bodyguard itu sejenak sebelum berkata, “Bisa jelaskan apa yang terjadi pada Wanda selama aku tidak sadarkan diri?” Seharusnya Yuzen meminta penjelasan ini pada kepala pelayan Ahn. Tapi pria tua itu sudah Yuzen suruh pulang sejenak untuk mengistirahatkan diri. Lagipula sudah berhari-hari pria itu menjaga Yuzen.
Wanda yang mendengar pertanyaan Yuzen segera menggeleng panik pada sang bodyguard. Wanda tak ingin Yuzen tahu. Dia tak ingin Yuzen merasa bersalah. Ini bukan salah pria itu.
“Katakan!” Bentak Yuzen. Dia mengabaikan gelengan Wanda dan menatap bodyguard itu tajam.
Bodyguard itu menelan ludahnya susah payah. Bagaimanapun Yuzen bosnya, jadi dia langsung menceritakan apa yang terjadi selama tuannya tak sadarkan diri hingga terbangun dini hari tadi.
Yuzen yang mendengarnya langsung terpukul.
Dia ingat, malam itu dia mengunci Wanda dikamarnya, dan kemudian dia menyiksa para tahanannya dan membuat dirinya sendiri terluka dengan sengaja. Akhirnya dia berakhir di rumah sakit.
Ah…
Bagaimana bisa tidak ada yang sadar jika Wanda terkunci dikamarnya? Bagaimana bisa dia enak-enakan tidur disini sedangkan gadisnya terkurung tanpa makan dan minum?
Bagaimana bisa dia… .
Bugh!
__ADS_1
Tangan Yuzen bergerak otomatis memukul wajahnya dengan keras. Tapi rasanya kurang. Pukulan itu tak berasa, hatinya lebih terasa sakit. Sekujur tubuhnya menggigil dan pandangannya tidak fokus sama sekali.
Bugh!
Sekali lagi.
“Huh,” Yuzen berusaha bernafas dengan mulutnya. Rasanya sesak. Perasaan ini melilit nya hingga kesakitan. Lalu tak lama air matanya mengalir. “Bagaimana bisa aku menyakitimu.” Lirihnya.
Wanda terkejut dan dia panik bukan main melihat air mata Yuzen yang mengalir. Gadis itu berusaha menahan tangan Yuzen yang memukuli wajahnya. Seluruh tubuh pria itu bergetar, dan Wanda tak tahu cara menghadapi Yuzen yang seperti ini.
“Yuzen dengarkan aku, itu bukan salahmu. Tidak. Akulah yang salah, bukan kau!” Wanda mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berteriak pada Yuzen. Dia ingin pria itu sadar dan menatapnya.
Tapi tatapan Yuzen mulai kosong.
“Apa aku mulai menjadi orang-orang keparat itu yang menyakitimu? Apa aku tidak pantas lagi?” Racau Yuzen.
Wanda menggeleng sekuat tenaga. Air matanya mengalir melihat keadaan Yuzen. Dan saat tangannya mulai tak kuat menahan tangan Yuzen yang ingin memukul dirinya sendiri lagi, Wanda maju. Mendekatkan wajahnya dan mencium pria itu. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dan menahan kepala pria itu. Mengelus rambutnya perlahan dan berusaha menyalurkan rasa tenang pada pria itu. Lidahnya bahkan bisa mencecap rasa asin air mata yang mengalir. Entah miliknya atau Yuzen.
Setelah sedikit lumatan dan Yuzen yang tampak sedikit tenang, Wanda melepaskan ciumannya. Hanya memberikan jarak 5 cm di antara wajah mereka, Wanda mulai mengamati wajah Yuzen.
Syukurlah Yuzen tak berusaha memukul dirinya sendiri lagi.
“Jangan menyakiti dirimu. Jangan kumohon.” Bisik Wanda lirih didepan bibir Yuzen. Dan gadis itu sekali lagi berusaha mencium pria itu. “Tidak apa. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Lalu ciuman Wanda naik mengecup kedua mat Yuzen bergantian. “Maafkan aku, aku yang salah. Jika saja malam itu aku bisa meraba perasaanku dan berpikir rasional. Semua ini tidak akan terjadi.” Wanda meneguk ludahnya sejenak. “3 hari dalam kamar itu, aku terus berpikir. Kenapa aku masih meragukanmu? Kenapa aku begitu ketakutan dengan hal asing ini? A-aku… seharusnya aku sadar dengan perasaanku sendiri, bahwa aku… sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau menjauh. Aku ingin selalu melihatmu, dan… mm menyentuhmu.”
Yuzen mengerjap mendadak. Air matanya berhenti, dan dirinya terkejut bukan main. Ditatap nya mata Wanda yang masih setia menatapnya.
“K-kau apa?” Yuzen merasa tak percaya. Pria itu memegang kedua sisi wajah Wanda dan memastikan gadisnya tidak beralih menatap yang lain.
“Aku mencintaimu.” Cicit gadis itu.
Dan Wanda kembali menjadi panik saat air mata Yuzen kembali menetes. Tapi tak lama pria itu tertawa dengan menggelegar. Tertawa sambil menangis.
Wanda tersenyum kecil melihatnya, lalu memilih mendekap Yuzen mencari kehangatan pria itu.
Pagi itu sungguh pagi yang luar biasa bagi merek berdua.
Bahkan bodyguard yang masih berdiri diruangan itu tak mereka pedulikan. Bodyguard yang sejak tadi tak tahu harus melakukan apa.
Hmmm… .
✍👀✍
__ADS_1