Psychopath Prince

Psychopath Prince
-48- Ketakutan Yuzen


__ADS_3

Yuzen merasa kacau. Setelah mendengar semua kenyataan, dia tak bisa berpikir. Meski orang tuanya suka berpergian karena keperluan pekerjaan dan jarang dirumah, Yuzen tetap saja menyayangi kedua orang tuanya.


Tapi…


Kini,


Dia merasakan sebuah kemarahan yang tiba-tiba muncul. Kemarahan itu meluap begitu saja, diiringi dengan kesadarannya bahwa Pangestu menghilang begitu saja.


“Kau lihat om Pangestu?” Yuzen menoleh dengan marah kearah kepala pelayan Ahn.


Kepala pelayan Ahn yang ditatap seperti itu merasa bergidik ngeri. Bagi pria itu, Yuzen bisa sangat terlihat manis dan baik hati, tapi saat pria itu benar-benar marah dan sisi gilanya muncul, Yuzen benar-benar menakutkan.


Kepala pelayan Ahn segera menggeleng. Dan Yuzen yang tidak mendapatkan jawaban dari kepala pelayan Ahn segera berlalu pergi dan mencari kemana perginya Pangestu. Yang pasti, tujuan pertamanya adalah menemui Wanda. Pangestu pasti mencari putrinya.


Pria itu berderap cepat kearah dapur, tapi dapur sudah kosong dan tak ada siapapun. Lalu pria itu mulai berderap lagi menaiki tangga. jika tidak didapur, Wanda pasti berada dikamarnya.


Dan benar saja…


Dia melihat pintu kamar Wanda terbuka dengan adegan pelukan antara Wanda dan Pangestu.


Sialan.


Dia kecolongan.


Sebelum benar-benar masuk. Yuzen berusaha mengontrol mimik wajahnya. Dia pandai berakting menjadi pria baik-baik. Bukan masalah besar. Tapi saat dia benar-benar melihat wajah Pangestu, rasanya aktingnya sia-sia. Rasa amarahnya tak terbendung.


Yuzen tak yakin apa yang membuatnya marah pada Pangestu. Apa karena dia mengambil kekasih gelap ayahnya? Tidak. Tidak. Dia justru bersyukur, dengan begitu orang tuanya bisa seharmonis sekarang. Apa karena Pangestu membiarkan tingkah laku ayahnya yang selingkuh selama bertahun-tahun dan memilih bungkam? Pangestu memang pengecut. Tapi rasanya itu bukan masalah yang bisa membuatnya semarah ini.


Ah…


Yuzen memejamkan matanya. Berusaha mengenali rasa marahnya. Dan satu alasan yang kini disadarinya membuat amarahnya menggelegak tak terbendung. Seketika itu, Yuzen langsung menerjang Pangestu dan memisahkan pelukannya dengan Wanda.


Dengan seringaian keji, Yuzen memukul mertuanya sendiri.


Dia benar-benar marah.


Satu pukulan keras Yuzen diwajah Pangestu, berhasil membuat pria tua itu jatuh tersungkur. Wanda seketika memekik melihat apa yang terjadi. Lalu gadis itu kembali menangis tersedu-sedu dan berusaha meraih ayahnya. Wanda terduduk dilantai dan memeluk sang ayah.


“Kak Yuzen, kenapa kakak memukul ayahku.” Rintih gadis itu disela isak tangisnya. “Ayah hiks… tidak apa-apa? Kak Yuzen kenapa jahat?”


Wanda syok.


Tentu saja.


Bagaimana tidak syok saat tahu pria yang dicintainya memukul ayahnya.


Yuzen tertawa keras. Amarahnya sudah tidak terkontrol lagi dan saat melihat kejadian dihadapannya, Yuzen benar-benar ingin tertawa.

__ADS_1


“Ayah?! Kau seharusnya tidak mencintai ayahmu Wanda! Dia brengsek!” Lagi-lagi Yuzen tertawa. Lalu pria itu berjalan kearah Wanda dan menyeret gadis itu agar menjauh dari ayahnya. Wanda memberontak, tapi Yuzen mendekap gadis itu erat-erat.


“Yuzen, jangan menyakiti Wanda!” Bentak Pangestu. Dia merasa iba melihat putrinya yang menangis.


“Menyakiti? Lucu sekali.” Yuzen menyeringai lagi. “Aku yang melindunginya selama ini. Kau? Bukankah kau yang selama ini menyakitinya?”


“Yuzen….” Desah Pangestu. Pria itu memilih bungkam. Dia tahu, Yuzen sedang tidak bisa berpikir jernih saat ini. Meski dia jarang menghabiskan waktu dengan Yuzen, tapi dia tahu bagaimana nekat nya seorang Yuzen atau kegilaan yang bisa dilakukan pria itu. Seperti apa yang pernah dilakukan Yuzen pada istrinya.


Pangestu tidak ingin Wanda dilukai, yah meski Pangestu sanksi mengingat betapa tergila-gilanya Yuzen pada Wanda. Tapi tidak apa, sebagai jaga-jaga saja.


Wanda sendiri merasa ketakutan. Yuzen terasa berbeda baginya, pria itu bahkan mendekapnya sangat erat hingga membuatnya sesak nafas.


“Yu… hiks… kak Yuzen, sakit.” Lirih Wanda pelan. Gadis itu memilih menunduk dan membiarkan wajahnya terbenam di lengan Yuzen yang mendekapnya erat.


Kemarahan Yuzen teralihkan sejenak saat mendengar lirihan Wanda. Pria itu melonggarkan dekapannya lalu menunduk menatap keadaan Wanda dan dia tersadar jika menyakiti gadisnya sendiri.


Yuzen melepaskan tangannya, lalu mundur selangkah.


“Wa-wanda… Maafkan aku. Aku… Aku tidak sengaja. Aku, aku tidak tahu, emosiku menggelegak dan aku marah. Aku… aku tidak sadar menyakitimu. Tolong, tolong jangan marah padaku.”


Emosi Yuzen berubah dengan drastis. Pria itu tampak merasa bersalah dan ketakutan. Pria itu benar-benar kacau. Untuk pertama kalinya, Yuzen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia melangkah mundur lagi, dan dengan segera membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah pisau lipat.


Yuzen menatap Wanda, dan dia bisa melihat ekspresi takut dan kesakitan gadis itu. Yuzen merasa bersalah. Tangan pria itu bergetar, dan untuk pertama kalinya, Wanda melihat ekspresi ketakutan pria itu yang entah kenapa membuatnya ikut merasakan takut. Apalagi saat Wanda melihat apa yang digenggam Yuzen.


Yuzen mulai bergumam ‘maaf’ beberapa kali sebelum kemudian melayangkan pisau lipat nya kearah lengannya. Lalu menyayat dari atas lengan hingga pergelangan nya. Yuzen tampak tidak kesakitan, pria itu malah terus meminta maaf pada Wanda.


Wanda menjerit keras.


“Wanda, maafkan aku. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi. Kau boleh bunuh aku, jika aku melukaimu. Lihat, aku akan menyakiti diriku berkali-kali lipat lebih parah jika aku menyakitimu. Ini hukumanku. Lihat, aku lebih baik dari ayahmu kan? Aku tidak akan menyakitimu seperti dia. Dan tolong jangan meninggalkanku. Jangan marah padaku karena kesalahan orang tuaku. Jangan… kumohon.” Yuzen terdengar sedikit merengek. “Aku tidak bisa hidup tanpamu.”


Pangestu tertegun.


Pusat hidup Yuzen ada di Wanda. Dan setelah mengetahui semua kenyataan masa lalu orangtua mereka, Yuzen kacau dan ketakutan.


Pria itu takut jika Wanda meninggalkannya karena kesalahan orang tuanya. Bagaimanapun, hidup Wanda kacau karena kesalahan orang tua mereka. Ibunya menyiksa Wanda karena semua yang sudah terjadi. Pangestu terlalu buruk hingga tidak tahu dan tidak bisa melindungi putrinya. Dan Beni keterlaluan karena membuat seorang Wanita menjadi selingkuhannya padahal sudah menikah.


Pangestu tertegun, karena perbuatan mereka sangat berdampak pada psikologis anak mereka.


Ironis sekali.


Lalu,


“Tuan muda…”


Kepala pelayan Ahn berderap ke kamar setelah mendengar teriakan Wanda. Melihat keadaan Yuzen, dia berlari lagi ke luar kamar. Tak sampai semenit kepala pelayan Ahn sudah kembali ke kamar dan membawa sebuah suntikan di tangannya. Dengan cepat pria tua itu menyuntikkan nya pada Yuzen.


Tak lama Yuzen merasa mengantuk dan tak bisa mengendalikan saraf tubuhnya. Dia merasa tenang dan damai. Kemudian terjatuh diatas genangan darahnya.

__ADS_1


Wanda meringkuk dilantai. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Tingkah Yuzen menakutkan. Pria itu mengiris sendiri kedua tangannya bergantian tanpa henti sebelum kepala pelayan Ahn menyuntik Yuzen tadi. Dan akhirnya Wanda muntah dilantai. Dia tak kuat melihat kejadian itu dan genangan darah Yuzen membuat mualnya semakin parah.


Kepala pelayan Ahn sendiri mendesah. Dia segera menghubungi dokter pribadi Yuzen. Dan mulai memanggil beberapa pelayan untuk membereskan semua kekacauan.


Pria tua itu menatap suntikan di tangannya, sudah lama sekali dia tak menggunakan obat penenang. Sesekali Yuzen memang diluar kontrol dan dia harus menyuntikkan itu pada Yuzen sebelum Yuzen membuat dirinya kehabisan darah. Jika diingat-diingat, terakhir dia menggunakan suntikan itu adalah saat Yuzen depresi karena merindukan Wanda yang minta putus.


“Tuan, mari saya tunjukkan kamar anda.” Kepala pelayan Ahn menghampiri Pangestu. Pangestu mendongak dan kemudian berusaha berdiri.


“Tapi bagaimana….”


“Tidak apa. Sebentar lagi dokter pribadi tuan Yuzen akan datang dan para pelayan akan mengangkat tubuh Yuzen ke ranjang. Kurasa, nona Wanda pun ingin menemani tuan Yuzen.”


Yah Pangestu bisa melihatnya.


Meskipun Wanda ketakutan dan habis muntah-muntah, tapi gadis itu segera merangkak kearah Yuzen. Meletakkan kepalanya diatas dada pria itu dan mengelus rambut Yuzen yang sudah tak sadarkan diri. Bahkan sepertinya Wanda sudah tak peduli dengan genangan darah Yuzen yang membuatnya takut dan mual.


“Baiklah.” Akhirnya Pangestu setuju. Dia rasa sebaiknya kini tak mengusik putrinya.


“Tuan, sebaiknya anda tak menceritakan kejadian ini pada orang tua Yuzen.” Kepala pelayan Ahn tidak menoleh saat mengatakannya. Dan kemudian semua orang mulai bungkam.


Pangestu kemudian paham, kenapa orang tua Yuzen tak sadar dengan kegilaan putranya.


Selain Yuzen yang jago pura-pura, ternyata banyak orang yang menutupi semua tingkah Yuzen. Kini, yang membuatnya khawatir adalah keselamatan putrinya.


Apa tidak apa-apa membiarkan Wanda terus bersama Yuzen?


✍👀✍


Hmmmm....


Bingung gak?


Intinya sih. Wanda itu segala-galanya buat Yuzen. Jadi kesalahan kecil saja selalu membuat Yuzen paranoid kalau-kalau Wanda ninggalin dia.


Nah ini, muncul kisah masa lalu orang tua mereka.


Yuzen jadi kacau dan emosinya jadi naik turun. Yang pasti, dia takut Wanda ninggalin dia karena kisah orang tua mereka.


Karena bagaimanapun, Wanda yang sering disiksa hingga punya kepribadian ganda, itu akibat dari masa lalu orang tua mereka.


dan....


Wanda jadi pelampiasan?


Yuzen bisa mati karena nyiksa dirinya sendiri nih wkwkw


Rumit amat yak?

__ADS_1


Wkwkwk....


Jujur akupun bingung. Padahal awalnya alurnya gak serumit ini, kenapa sekarang bisa sejauh ini ya? hmmmmm


__ADS_2