
Wanda mengerjap ditempatnya. Sesaat lalu dia mencari Yuzen ke mana-mana. Pria itu tidak ada dikamar, atau dimanapun biasanya pria itu berada. Dan saat dia menginjak dapur, dia hanya bisa melihat kekacauan. Oh dan keberisikan!
Prang!
Wanda melotot. Dia masih berdiri diambang dapur dan masih menatap punggung lebar pria itu yang berjalan mondar-mandir kesana kemari hingga pria itu tak sengaja menjatuhkan tutup panci. Lalu tak lama kemudian.....
"Ah brengsek panas sekali!"
Pria itu kembali berulah dengan mencicipi kuah masakan yang dibuatnya tanpa meniupnya. Orang bodoh juga tahu itu panas.
Lalu....
"Ayam keparat!"
Wanda bisa mencium bau gosong. Dari tempatnya Wanda bahkan bisa melihat api dibawah wajan yang nyala maksimal. Berkobar besar dan pantas saja ayamnya gosong meski belum semenit digoreng. Pria itu sudah mengomel-ngomel tidak jelas dan langsung melempar ayam gosong nya ketempat sampah.
Pria itu mematikan kompornya dan mulai meraih ponselnya. "Sialan. Katanya harus menggoreng sekitar 3-5 menit hingga kecoklatan. Tapi kenapa gosong?! Belum juga semenit."
Wanda membekap mulutnya erat, dia ingin tertawa. Melihat Yuzen seperti ini, membuatnya sadar Yuzen juga manusia biasa. Pria itu tidak sempurna dan tidak bisa melakukan segala hal. Dan detak yang awalnya menyakitkan setiap melihat Yuzen. Berlahan mulai berkompromi dan hanya menyisahkan detak-detak yang menyenangkan. Melihat tingkah konyol pria itu, rasanya menenangkan.
Wanda berjalan pelan kearah Yuzen. Dan melihat pria itu yang masih sibuk mengaduk-aduk sup-nya dan mengabaikan sisa ayamnya yang masih belum digoreng. Sepertinya pria itu kesal.
"Mau kubantu?"
Yuzen tersentak dan langsung menoleh saat mendapati Wanda berdiri disebelahnya. Dan yang membuatnya terpaku adalah senyum Wanda yang terurai lebar. Yuzen terpesona. Pagi-pagi di beri asupan senyum cantik gadisnya benar-benar hal luar biasa untuk membangkitkan mood. Tapi saat dia sadar keadaan dapur kini, dia jadi malu luar biasa.
"Oh Hai sayang. Sudah selesai ya mandinya?" Pria itu menggaruk pelipisnya malu dan segera mematikan kompor saat dirasa sup-nya sudah cukup matang.
"Masak apa.... Yuu?"
Deg!
Boleh dia perkosa Wanda sekarang?
Yuzen rasanya ingin meloncat-loncat girang saat mendengar panggilan Wanda untuknya. Pria itu selalu senang Wanda memanggilnya begitu. Karena saat Wanda memanggilnya Yuu, seakan tak ada batasan diantara mereka, dia merasa sangat disayang, dan sangat dicintai.
"Masak Sup jagung dan ayam crispy. Tapi ayamnya gosong dan sudah melayang ke tempat sampah."
Wanda terkekeh kecil mendengarnya.
Yuzen sendiri kembali terpaku. Sial. Dia mendapatkan dua kali bom menyenangkan di jantungnya. Gadisnya tampak berbeda setelah mandi. Padahal tadi pagi saat baru bangun, gadis itu masih penakut dan se-cengeng biasanya.
__ADS_1
Yang tak Yuzen tahu, Wanda hanya sedang berusaha menelaah rasa cintanya. Merenung dibawah shower selama setengah jam dan berakhir dengan memutuskan menikmati kisahnya dengan Yuzen tanpa memikirkan hal lain.
Selama ini, Yuzen tak pernah menyakitinya. Dan Wanda berusaha mempercayakan hidupnya kepada pria itu sepenuhnya.
"Kau tertawa sayang?" Yuzen merenggut pinggang Wanda. "Jadi, tak ingin menangis lagi pagi ini?"
Wanda berkedip cepat melihat kedekatan mereka yang mendadak. Jantungnya pun ikut bertalu-talu hebat. Rasa sesak masih menghinggapi. Namun sekali lagi, dia sudah berkompromi. Karena setelah ditelaah, tidak hanya ada rasa sakit. Ada rasa menyenangkan yang tersembunyi dalam detakan itu.
"Tidak." Wanda menggeleng. Lalu ada satu hal yang ingin dicobanya. "Boleh aku menciummu?" Tanyanya polos.
Sebenarnya dia hanya ingin tahu reaksi Yuzen saat ia mencium pria itu.
Apa jantung Yuzen akan berdetak gila sepertinya?
"A-apa?!" Yuzen nyaris berteriak mendengar pertanyaan Wanda.
Tapi sedetik setelah melontarkan kata itu, Wanda langsung menciumnya. Hanya menempel. Dan bola mata Yuzen membulat tak percaya dengan kelakuan gadisnya.
Tangan Wanda meraba dada Yuzen, merasakan detakan pria itu dan lalu gadis itu tersenyum dalam ciumannya.
"Jantungmu berdetak cepat sekali." Ujar gadis itu. Dia jadi semakin percaya, pria itu juga merasakan apa yang dirasakannya. "Terimakasih karena selalu ada disisiku."
Yuzen masih bungkam. Wanda yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Lalu menggeret Yuzen ke meja makan.
Sekali lagi pemirsa, hanya menempel!
Wanda hanya mengecup bibirnya tanpa lumatan sedikitpun. Membuat Yuzen frustasi! Dia ingin lagi yang lebih panas, tapi tubuhnya susah sekali bergerak. Ciuman amatiran Wanda membuatnya lemas. Sialan. Bahkan waktu dulu mereka berpacaran, Wanda tak pernah menciumnya terlebih dahulu.
Mata Yuzen hanya bisa mengikuti gerakan gadisnya. Sesekali pria itu mendesah. Dibalik celananya bahkan sudah mulai menggeliat bangkit. Brengsek.
Habis ini dia akan mengatakan pada Wanda bahwa mereka sudah menikah. Lihat saja! Dia akan bermain dengan gadisnya sampai pagi ke pagi lagi.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Yuzen mengalihkan perhatiannya dari laptop saat mendengar pintu yang sudah di klaimnya sebagai ruang kerja dirumah Wanda diketuk beberapa kali. Pria itu melepaskan kacamatanya dan melirik sejenak pada jam dinding dibalik sofa.
Jam 2.14 pm.
Pria itu mendesah. Masih sekitar 2 jam lagi Wanda pulang kuliah karena gadis itu ada kelas sore. Sedangkan dia, tidak ada jadwal sama sekali hari ini. Jadilah dia dirumah dan mengerjakan semua pekerjaannya secepat mungkin agar beres dan tidak menumpuk.
Pria itu berjalan kepintu dan membukanya. Seorang pelayan berdiri didepan sana. Pelayan yang usianya cukup muda. Mungkin akhir 20-an. Entahlah, Yuzen tak peduli.
__ADS_1
"Ada apa?"
Pelayan itu berdiam sejenak dan menatapnya dengan tatapan menggoda.
Yuzen hanya memutar matanya malas. Hampir semua wanita seperti itu padanya, dia bisa apa. Membunuh mereka semua yang mengganggu sangat melelahkan.
"Ada seorang pria tua diruang tamu tuan. Dia mengaku ayah nona Wanda." Suara gadis itu penuh desahan. Yuzen mengernyit, apa gadis ini sedang horny?
Masa bodoh!
Yuzen langsung keluar dan menutup pintu ruangannya. Perkataan pelayan tadi lebih menyita perhatiannya. Tanpa sadar pria itu berjalan cepat.
Ayah Wanda katanya?
Dan saat sampai diruang tamu, dia melihat pria tua itu.
Om Pangestu, ayah Wanda. Tampak lusuh dengan tas kecil yang di jinjingnya. Pria tua itu tersenyum kecil menyambut Yuzen. Namun Yuzen menatapnya dingin. Dia tak suka kehadiran pria tua itu.
Yuzen menghampiri pria tua itu cepat dan langsung meraih kerah kemeja yang dikenakannya pria tua itu.
"Aku benci kau sudah bebas Om. Tapi aku akan membiarkanmu berkeliaran dihidup Wanda. Jangan mengusik hubungan kami dan jangan menghasutnya untuk membenciku apalagi menjauhiku."
"Tenang saja nak. Selama Wanda bahagia, aku akan menyetujui hubungan kalian. Dia hartaku satu-satunya, kebahagiaannya adalah prioritasku saat ini."
"Biarpun berada ditangan monster sepertiku?"
"Kau tidak akan menyakitinya, kan?"
Yuzen menatap tajam om Pangestu sebelum kemudian menggeleng dengan mantap.
Om Pangestu mengangguk menyetujui perjanjian tak tertulis mereka. Lalu tangan pria tua itu meraih tangan Yuzen yang masih memegang kerah bajunya dan berusaha melepaskan cengkraman itu.
Yuzen menarik tangannya. Dan berbalik hendak berjalan kembali ke ruang kerjanya. Tapi om Pangestu kembali berujar,
"Kalian tinggal serumah?!"
Sebenarnya tidak aneh, melihat tingkah Yuzen yang gila apalagi terhadap Wanda. Pangestu sadar akan hal itu. Satu hal yang dia harapkan adalah Yuzen tetap memperlakukan Wanda dengan terhormat.
Yuzen yang mendengar pertanyaan itu berbalik menghadap Pangestu dan menyeringai dengan senang. "Tentu saja. Kami kan sudah menikah."
Deg!
__ADS_1
Pangestu terpaku. Putrinya sudah menikah dan dirinya tidak tahu.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆