
Cahaya matahari masuk dari celah gorden berwarna pastel yang terpasang apik di jendela besar disisi ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi, tapi dua orang yang tertidur nyenyak diranjang itu tak beranjak sama sekali.
Ini hari sabtu.
Yuzen tidak ada jadwal kuliah sama sekali, dan pekerjaannya pun bisa dia kerjakan dari rumah nanti. Pria itu juga sudah mengecheck jadwal Wanda, gadisnya juga tidak mempunyai jadwal kuliah sama sekali.
Tapi kenapa?!
Yuzen mengerang kesal. Pintu kamar mereka diketuk beberapa kali sejak tadi. Siapapun yang mengetuk, Yuzen akan memastikan orang itu mendapatkan balasannya. Mengganggu tidur orang saja!
Seiring ketukan itu, Yuzen semakin mengeratkan pelukannya. Wajahnya terbenam dilekukan leher gadisnya dengan nyaman. Meski kernyitan di dahinya tidak hilang karena kesal akan ketukan yang belum berhenti dipintu.
Semenit kemudian, ketukan itu berhenti.
Yuzen mendesah lega. Lalu kembali tertidur dengan nyaman. Gadisnya sendiri tampak damai dalam tidurnya.
"Wanda." Bisik Yuzen lirih. Kesedihan tak luput dari suaranya. Dia berharap kali ini Wanda yang terbangun. Sudah 3 hari sejak Wendy yang menguasai tubuh itu. Dan sudah sejak 2 hari lalu Wendy berusaha merasakan keberadaan Wanda dan mengembalikan kesadaran gadis itu.
Tapi nihil.
Keberadaan Wanda memang terasa, tapi lebih lemah dari biasanya. Wendy sendiri panik, apalagi dirinya yang takut kehilangan. Meski ada Wendy dan tubuh itu tetap sama, Yuzen tak ingin kehilangan. Dia tidak bisa memilih salah satu. Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan untuk Wanda dan Wendy. Bagaimana bisa dia membuang salah satu dari mereka.
"Kali ini kau harus bangun." Lanjutnya. Jika lebih lama lagi, Yuzen yakin akan semakin sulit membangunkan Wanda. Ini salahnya, harusnya dia tidak terbawa emosi dan membuat gadis itu salah paham tentang ciumannya dengan gadis sialan itu. Dia kembali menyakiti Wanda.
Namun,
Tokk... Tokkk... Tokkkk...
Tak sampai 10 menit, pintu itu kembali terketuk. Lebih keras dari sebelumnya dan lebih bar-bar.
Yuzen mengerang kesal.
"WANDA KAU HARUS BANGUN, HARI INI FESTIVAL KAMPUS DAN KAU HARUS SIAP-SIAP. KAU BAHKAN MELEWATKAN GLADI BERSIH KEMARIN."
Yuzen mengernyit, siapa itu?
Dan festival kampus?
Ah benar. Hari ini festival kampus. Tapi apa hubungannya dengan Wanda? Gadis itu tak harus datang. Yuzen ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan gadisnya. Berani sekali gadis diluar sana berusaha menyeret Wanda dari dekapannya!
Ketukan itu terdengar sangat keras. Bahkan Yuzen merasa orang diluar sana berusaha mendobrak masuk. Yang benar saja.
"WANDA, KITA SEBENTAR LAGI TERLAMBAT. FASHION SHOW DIMULAI JAM 11 SIANG! DAN KAU HARUS MENDAFTAR ULANG BERSAMA FELLA!"
Tunggu...
Fashion show?
Mendaftar ulang?
Ini keterlaluan. Apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa di tak tahu tentang ini?
__ADS_1
"Enggh..."
Sret!
Yuzen langsung menoleh kearah sampingnya. Pria itu langsung bangkit. Membungkuk diatas gadisnya dengan mata penuh harap.
Yuzen tak berkata apapun. Dia terus memperhatikan gadisnya yang melenguh dan mulai membuka mata. Siapakah yang kini terbangun?
Mata itu berkedip beberapa kali. Tampak lemah. Lalu mata bulat nan indah itu menatapnya terkejut dan kemudian berteriak tertahan sebagai bentuk keterkejutan.
Dan Yuzen... Jangan ditanya. Pria itu langsung memeluk gadisnya. Tampak girang dan terkekeh dengan semangat.
"Wanda, Wanda kau akhirnya bangun. Maafkan aku.. Maafkan aku jika aku salah."
Tentu saja Yuzen langsung tahu jika itu Wanda. Teriakan gadis itu menjadi bukti kuat. Lalu pancaran mata itu yang tampak polos dan ketakutan menjadi tambahan yang tak terelakkan.
"Kak... Kak Yuzen." Ujar Wanda terbata-bata. Gadis itu pasrah dan sedikit bergetar. Gadis itu merasa sudah tertidur lama tapi entah kenapa perasaannya terasa agak lega. Terakhir kali dia bangun, Wanda ingat dia amat kesakitan dan ada perasaan rendah diri yang terus menjalari dirinya. Tapi sekarang dia hanya merasa rindu akan Yuzen. Kenapa?
"Ya sayang?" Yuzen mengangkat kepalanya, menyatukan hidung mereka dan membiarkan tangannya mengelus wajah dan rambut gadisnya dengan sayang.
Astaga dia rindu tatapan itu. Lalu gestur tubuh polos dan getaran tubuh Wanda. Oh God!
"WANDA BANGUN!!!!"
sialan. Yuzen mengumpat dalam hati. Sebenarnya siapa diluar sana. Tidak tahukah dia sedang bermesraan dengan gadisnya?
"Kak Yuzen, sepertinya itu Flo. Kenapa dia mengetuk seperti itu?"
"Flo?" Yuzen mengernyit. "Apa hubunganmu dengan fashion show?"
"Jangan bilang... Kau ikut acara itu?" Yuzen berkata dengan nada tak percaya. Gadisnya yang pemalu dan anti sosial ikut acara sebesar itu? Dia akan dilihat banyak orang! Bagaimana bisa Wanda mengatasinya? Dan... Dan akan ada banyak mata yang memandangi gadisnya kurang ajar.
Fashion show.... Bukankah itu berarti Wanda akan didandani? BRENGSEK! dia tidak Terima.
Dengan cepat Yuzen bangkit dari atas tubuh Wanda dan berjalan dengan dada telanjang ke arah pintu kamar. Dibukanya kasar pintu itu dan menatap sinis orang dihadapannya.
Flo yang sejak tadi semangat menggedor pintu kamar Wanda tersentak. Gadis itu susah payah meneguk ludahnya. Entah mimpi apa dia semalam, yang pasti Flo tak menyangka dapat sarapan super hot sepagi ini. Wajah tampan dengan tubuh atletis yang hanya terlapisi celana pendek. Sial. Bagaimana bisa ada orang sesempurna Yuzen!
"Ha-hai kak Yuzen."
"Pergi! Kau mengganggu pagiku." Ujarnya tajam. Dia tak akan membiarkan gadis sialan ini membawa Wanda.
Flo tercekat. Gadis itu merinding melihat sorot mata Yuzen dan nada bicara pria itu.
Ngomong-ngomong, kenapa pria itu ada di kamar Wanda?
Jangan-jangan....
Flo membekap mulutnya. Merasa tak percaya bahwa temannya yang polos dan takut orang asing itu bisa melakukan hal itu bersama Yuzen. Bahkan hubungan mereka belum ada seumur jagung.
"Tapi, kak..."
__ADS_1
Flo merasa takut untuk membuka suara. Namun dia harus melakukannya. Atau Fella batal menampilkan rancangannya. Tak mungkin mencari orang baru karena rancangan-rancangan itu sudah dipaskan dengan tubuh mungil Wanda.
"Pergi kubilang." Suara itu semakin rendah. Terasa lebih horror dari sebelumnya.
"Flo..." Wanda muncul dari balik tubuh Yuzen dengan tampilan khas bangun tidur. Baju tidurnya masih menempel dengan apik dan entah kenapa Flo mendesah lega. Tapi yah siapa yang tahu.
"Wanda, ayo berangkat. Kita harus siap - siap!" Flo berkata dengan semangat. Melupakan keberadaan Yuzen yang semakin kelam disamping Wanda.
"Ayo..." Sret!
Yuzen memotong ucapan Wanda dengan menarik gadis itu masuk kedalam kamar dan langsung mengunci pintu kamar itu cepat. Flo mengangga diluar kamar melihat adegan itu. Sedangkan Wanda menatap bingung Yuzen yang tampak marah padanya. Tapi pria itu tak berkata apapun dan terus menerus menatap Wanda dengan intens.
Teriakan Flo diluar seakan angin lalu. Wanda mundur selangkah, merasa merinding ditatap sedemikian rupa oleh Yuzen.
"Kak Yuzen..."
"Suruh temanmu pergi." Yuzen menyilangkan tangannya didada. Perlahan dihembuskan nya nafasnya kasar. Berusaha menetralkan emosinya. Dia tidak marah, lebih ke arah merajuk sebenarnya. Wanda akan meninggalkannya dan ikut fashion show sialan itu. Ditatap banyak orang, dan dia merasa terancam!
Wanda sejenak berpikir dan langsung mengangguk meski ragu. Gadis itu berjalan hendak ke pintu kamar, tapi Yuzen langsung mencekalnya.
"Berteriaklah dari sini."
Wanda pasrah dan mengikuti Yuzen. Membantah pria itu bukanlah hal bagus. Pengalamannya selama ini, menyadarkan itu. Pria bar-bar itu tidak akan melepaskannya sebelum keinginannya dituruti.
"FLO PERGILAH DULU. NANTI AKU MENYUSUL SECEPATNYA."
"Wanda!" Yuzen menggeram.
Tapi Wanda memantapkan dirinya. Berusaha menghalau semua rasa takutnya meski kini kakinya masih sedikit bergetar. Yuzen tampak sekali menahan untuk tak mengeluarkan emosinya. Meski begitu Wanda memberanikan dirinya, Untuk pertama kalinya, gadis itu menatap Yuzen dengan tajam.
"Apa pedulimu? Kau tidak berhak mengatur-aturku!"
Yuzen terbelalak tak percaya. Ini Wanda kan? Bukannya Wendy?
Wanda berjalan mendekat pada Yuzen. Mendongak menatap pria itu dan mengacungkan jarinya pada dada Yuzen. Dengan telunjuknya, gadis itu mengetuk-ngetuk dada Yuzen keras. "Kau, seharusnya kau malu pada dirimu. Bagaimana... Bagaimana bisa kau bermain dengan gadis lain dihadapanku? Kau kekasihku kan? Kau sendiri yang selalu mengikutiku ke mana-mana. Aku memang tidak cantik. Tapi kau sendiri yang berkoar-koar mengklaimku, bertindak sebagai pacar possesive dan pencemburu tapi bermain dengan gadis lain. Kau manusia bukan? Tidak tahu kalau kau menyakiti orang lain? Dasar bar-bar! Dasar playboy brengsek!" Wanda menanggalkan segala hormatnya pada Yuzen. Menghilangkan panggilan kakak dari kalimatnya.
Dan sebagai penutup, Wanda dengan keras menginjak kaki Yuzen yang tak beralasan dengan kaki telanjang.
"Awh.." Yuzen mengerang pelan. Memundurkan tubuhnya dan berusaha menghindari serangan lebih lanjut dari gadisnya.
Sebenarnya kenyataan bahwa gadis dihadapannya Wanda lebih membuatnya tercengang daripada pernyataan gadis itu.
"YUZEN BODOH!"
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup begitu saja. Meninggalkan Yuzen yang masih terpaku.
Pria itu menghempaskan dirinya di ranjang dengan kasar. Mengusap wajahnya lalu mengerang begitu saja. Beberapa saat, dia sadar kesalahannya. Dia belum menjelaskan pada Wanda tentang ciuman sialan itu. Dia harus apa?
Gadisnya marah!
__ADS_1
Ah brengsek.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆