
Yuzen masih mematung di kursinya. Matanya menerawang setelah cerita Pangestu selesai. Dia yang memaksa Pangestu menceritakan semuanya. Tak peduli bahwa itu aib keluarga mereka. Bahkan dia mengancam tak akan mempertemukan pria tua itu dengan Wanda jika tak menceritakan semuanya.
Tapi sekarang?
Dia syok.
Bagaimana bisa kedua orang tuanya yang selalu terlihat saling mencintai bisa punya masa lalu sebegitu mengerikannya? Tidak. Pangestu pasti berbohong.
Mana mungkin…
Mana mungkin ayahnya sebrengsek itu. Ayah-nya berselingkuh dengan ibu Wanda? Lulucon apa itu! Lalu ibunya yang bodoh rela diselingkuhi? Yang benar saja. Ayahnya saja sebegitu bucin dengan ibunya. Lalu berakhir dengan Pangestu yang memperkosa selingkuhan ayah dan kemudian menikahinya dengan dalih cinta dan agar ayahnya bisa bahagia dengan ibunya? Bodoh sekali jika benar.
Ini bukan April Mop kan?!
Yuzen tersentak berdiri. Bahkan dia sudah tak sadar dengan keberadaan Pangestu yang masih duduk ditempatnya. Pria tua itu sendiri sudah tidak nyaman ditempatnya. Rasanya bersalah sekali menceritakan Aib keluarga sahabatnya dan keluarganya sendiri. Lebih para ini pada menantunya, pada anak sang keluarga yang aibnya dia ceritakan.
Pangestu masih mengamati Yuzen yang masih syok. Pria itu berjalan keluar kamar begitu saja. Membuat Pangestu heran. Tapi ketenangannya segera sirna. Pangestu ikut berdiri dan keluar dari ruangan itu. Dia mengamati rumah itu. Lalu segera berjalan keliling rumah.
Jadi, dimana Wanda berada?
Bukankah ini kesempatan bagus? Tak akan ada yang menghalanginya bertemu Wanda saat ini.
Dan Pangestu memanfaatkan keadaan dengan sebaik mungkin. Dia rindu putrinya. Keluarganya satu-satunya.
✍👀✍
“Dimana tuan Ahn?!” Yuzen langsung menyentak seorang pelayan yang ditemuinya dijalan. Sorot matanya kosong, tapi ekspresinya mengeras dan tampak suram.
Pelayan itu tampak gemetaran. Sudah jadi hal umum bahwa seluruh pekerja dirumah itu takut pada Yuzen. Bagaimana tidak, semua pekerja tahu betapa gila Yuzen dan suka menyiksa orang di penjara bawah tanahnya. Meski tak ada yang pernah menyaksikan langsung. Tapi keberadaan penjara bawah tanah yang rahasia itu sudah seperti rumor umum di kalangan pekerja rumah Yuzen. Dan yah, sebenarnya tak ada yang tahu letak penjara itu, kecuali orang-orang tertentu. Itu semua bagai sebuah rumor, tapi semua pekerja tahu itu nyata. Hal paling nyata yang beberapa pekerja pernah melihat adalah adalah, Yuzen yang suka menyiksa dirinya. Lalu menstalking semua hal tentang Wanda. Dua hal itu saja cukup untuk mengkatagorikan Yuzen sakit jiwa. Tapi tak ada satupun dari mereka membuka mulut mengadu pada orang tua Yuzen. Bagaimana pun gaji mereka yang diberikan Yuzen luar biasa besar, terlepas gaji yang orang tua Yuzen berikan.
Dan kini, mendapati Yuzen dengan ekspresi suram dan suara membentak membuat pelayan itu ketakutan.
“I-itu… kepala pelayan Ahn ada di area kolam renang tuan. Dia mengawasi pekerja yang sedang membersihkan kolam renang.”
Tanpa menyahuti, Yuzen kembali berjalan dengan sangat cepat. Dia tampak seperti predator yang mengejar mangsa. Dan tak ada pekerja rumah yang berani menghalangi jalan Yuzen saat pria itu tampak mengerikan. Yuzen jarang berekspresi seperti itu. Meski dicap sakit jiwa, pria itu selalu tersenyum dan baik. Tapi yah, ada saat-saat pria itu menjadi mengerikan.
“TUAN AHN!” Yuzen berujar keras. Saat sampai didekat kolam renang. Dia berhenti, tidak berniat menghampiri. Dia hanya memanggil pria tua itu hingga pria tua itu menoleh padanya. “IKUTI AKU.”
Lalu Yuzen berbalik dan berjalalan kembali ke ruang kerjanya. Dibelakang pria itu kepala pelayan Ahn mengekori dengan was-was. Dia sudah lama tidak melihat Yuzen dengan ekspresi seperti saat ini.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja Yuzen. Yuzen berdiri menghadap jendela dan memandang halaman samping rumahnya. Dia tak ingin melihat kepala pelayan Ahn. Dia tak ingin melukai pria tua itu. Tapi, Rasanya dia kini perlu pelampiasan. Sialan sekali, tidak ada sisa tahanan di penjara bawah tanahnya.
Yuzen memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Di genggamnya tangannya erat-erat. Sampai dia yakin tangannya sendiri berdarah karena kuku-kukunya.
“Tuan…” Kepala pelayan Ahn berusaha mengamati sikap Yuzen. Dan dia tahu sekali Yuzen sedang berusaha menahan amarahnya dan sedang frustasi akan sesuatu hal.
“Sudah berapa lama kau bekerja pada keluarga ini?”
“Saya sudah bekerja dengan keluarga ibu anda bahkan sebelum dia menikah.” Kepala pelayan Ahn menjawab cepat.
“Bagus.” Desis Yuzen. Setahunya kepala pelayan Ahn memang sudah bekerja dirumahnya sejak dia kecil. “Jadi kau tahu semua rahasia keluarga ini. Ceritakan padaku semua cerita orang tuaku saat mereka baru menikah hingga bisa seperti sekarang. Tidak ada yang perlu ditutupi, atau kau akan tahu akibatnya.”
“Tuan muda…” Kepala pelayan Ahn tampak terkejut. Dia tak menyangka Yuzen memintanya menceritakan masa lalu. Apa Yuzen mengetahui hal itu?
__ADS_1
Kepala pelayan Ahn meneguk ludahnya.
Lama tak ada sahutan, Yuzen berbalik. Tangannya keluar dari saku celana dan terlihat beberapa tetes darah menetes. Lalu dalam sekejap, pria itu berjalan kearah kepala pelayan Ahn dan mendorong pria tua itu hingga tersungkur disofa. Yuzen memegang kerah kemeja yang digunakan pria tua itu.
“Katakan. Apa ayahku dulu… selingkuh?! CERITAKAN SEMUANYA!”
dan akhirnya mengalir lah semua cerita itu dari mulut kepala pelayan Ahn tanpa ditutupi lagi. Hal itu menjadi satu keterpurukan Yuzen. Karena apa yang diceritakan Kepala pelayan Ahn, sama dengan apa yang diberitahukan Pangestu. Meski dari sisi yang berbeda.
Kesimpulan yang Yuzen dapat, Ayahnya berselingkuh. Kemudian berniat bercerai saat ibunya hamil anak kedua. Tapi kemudian ibunya kecelakaan dan depresi akun hingga tak berbicara lagi dengan siapapun. Ibunya kehilangan anak kedua yang dikandungnya. Lalu, selingkuhan ayah menikah dengan ayah Wanda karena diperkosa dan kemudian hamil anak ayah Wanda. Meski ada keraguan, tapi saat Wanda lahir tes DNA langsung menunjukkan jika Wanda anak Pangestu. Sedangkan ayahnya terpuruk karena selingkuhannya menikah dengan sahabatnya. Tapi hingga nyaris setahun itu, Ayahnya masih tidak peduli dengan ibunya yang depresi. Namun perlahan saat Yuzen semakin besar, Ayahnya mulai peduli dan kemudian perlahan mengurus ibunya hingga sehat. Dan kedua orang tuanya mulai jatuh cinta dimasa-masa itu.
seperti cerita novel. Bullshit sekali.
Jadi…
Keluarganya memang sangat kacau ternyata.
Yuzen tertawa dalam hati.
Jadi, sepertinya ayahnya memiliki jiwa gila juga. Meski hanya sedikit.
Yah sedikit.
Tidak bisa dibandingkan dengan jiwa gilanya saat ini yang suka membunuh dan menyiksa diri sendiri. Benar kata orang, gila itu bisa jadi turun menurun meski dengan kadar berbeda.
Kini setelah cerita itu selesai mengalir dari kepala pelayan Ahn, Yuzen tertawa keras. Lalu berlalu dan menghancurkan semua barang di ruang kerjanya.
Ayah gila.
Dan calon mertuanya yang idiot.
Pantas saja semua anaknya gila, termasuk Wanda.
Yuzen mengusap wajahnya.
Pria itu tersenyum dengan ironis.
Tapi…
Tunggu dulu…
Bukankah tadi Pangestu berkunjung? Dimana pria tua itu sekarang?!
✍👀✍
“Tidak bibi, biar aku cuci sendiri piringnya.”
“Aduh non, biar saya saja. Ini kan sudah tugas saya.”
Wanda yang sudah akan berdiri dan membawa bekas makannya ke bak cuci piring untuk dicuci, dicegat terlebih dahulu oleh si bibi pelayan.
Wanda awalnya tersentak tapi kemudian berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kegugupannya.
Dia tak terbiasa dilayani. Meski dia jarang beres-beres rumahnya sendiri, tapi dia lebih tidak suka dilayani. Sejak kecil dia terbiasa mandiri. Seorang diri dan mengurus dirinya sendiri. Hanya Yuzen yang dia biarkan mengurusi dirinya. Awalnya karena pria itu keras kepala tak bisa dibantah, tapi sekarang Wanda suka.
__ADS_1
Lagi-lagi pipi Wanda memerah membayangkan Yuzen.
Wanda menggeleng, berusaha membuyarkan bayangan Yuzen. Lalu dia menatap sang bibi lagi yang tampak memelas. Wanda mendesah dan kemudian pasrah dan menaruh lagi piringnya.
“Yasudah. Maaf merepotkan.” Lalu dia buru-buru pergi. Tetap saja dia tak suka berduaan saja dengan orang asing.
Wanda mengedarkan pandangannya lalu diam-diam berjalan ke ruang tamu. Mengintip diantara dinding yang menyekat ruang tamu, dan berusaha mencari-cari sosok Yuzen.
Tapi tidak ada.
Apa Yuzen membawa tamunya ke ruang kerja?
Wanda mengerjap.
Jika masalah pekerjaan, Wanda tidak ingin mengganggu Yuzen.
Lalu gadis itu memilih berjalan dan menaiki tangga menuju kamar Yuzen. Dia tak ingin berpapasan dengan pekerja rumah lainnya.
Sesampainya dikamar Wanda mulai mengerjakan tugas dari dosennya tadi pagi. Saat Yuzen tidak ada seperti ini, Wanda memang lebih sering mengerjakan tugas kuliahnya. Jika ada Yuzen dia sering tidak bisa berkonsentrasi, keberadaan pria itu membuatnya gugup.
Tapi kemudian, pintu kamarnya terbuka.
Wanda segera menoleh dengan semangat. Pasti Yuzen, pikirnya.
Tapi justru yang didapatinya, membuatnya terkejut setengah mati.
“A-ayah?!”
Wanda berdiri. Matanya menampilkan keterkejutan. Dan perlahan-lahan air matanya keluar begitu saja.
Dia rindu ayahnya. Tak peduli jika ayahnya meninggalkannya begitu saja tanpa kabar. Tak peduli jika selama ini mereka memang tidak terlalu akrab karena ayahnya sering bekerja ke luar kota, tapi dia tetap merindukannya. Dia satu-satunya keluarga yang Wanda punya sekarang.
“Kau tak seharusnya merindukan ayah yang tak pernah peduli akan penderitaanmu. Kau bodoh. Rasa sayang yang bodoh.”
Suara itu berbisik dikepala Wanda. Dan untuk kali ini Wanda mengabaikannya. Dia tak peduli darimana suara itu berasal. Dan dia… Langsung berlari memeluk ayahnya erat.
Menangis sesunggukan bak anak 5 tahun yang tak ingin ditinggal pergi.
“Ayah… Hiks… . Ayah jangan pergi lagi.” Wanda membenamkan kepalanya didada sang ayah. “Ayah maafkan jika Wanda berbuat salah. Maaf. Jangan pergi lagi hiks.”
Dan pangestu mematung.
Tangannya terlalu lemas untuk bisa balas memeluk Wanda. Dia merasa berdosa. Merasa tak berguna.
Bagaimana bisa…
Bagaimana bisa dia meninggalkan anaknya satu-satunya untuk disiksa oleh istrinya. Bagaimana bisa dia mengabaikan anaknya selama ini?
“Maafkan ayah.”
Dan itu satu-satunya kata yang bisa keluar dari bibirnya
✍👀✍
__ADS_1