
"Dimana kau simpan kartu kredit pemberian Yuzen?"
Wanda berpikir sejenak saat mendengar pertanyaan itu. Lalu dia mengambil tas kuliahnya dan mulai membongkar isi tas itu. Tak lama dia menemukan sebuah kartu kredit yang menyelip dibagian bawah tasnya.
"Ckck, aku heran kau bisa mengabaikan benda itu. Sekali gesek kau bisa beli apapun, kau tahu?"
"Tapi kan ini punya kak Yuzen." Ujar Wanda polos. Wendy sendiri rasanya ingin menggetok kepala gadis itu jika tubuh mereka berbeda. Terkadang kepolosan Wanda agak keterlaluan.
"Ya, tapi dia memberikannya padamu. Jadi kau bisa menggunakan seluruh uang di kartu itu. Masa bodoh saja dengan jumlah tagihan Yuzen nanti, toh salah pria itu sendiri yang memberikannya secara cuma-cuma."
"Tetap saja itu uang kak Yuzen. Lagipula aku kan hanya pacar, bukannya istri yang harus dipertanggung jawabkan."
Wendy merasa tersedak mendengarnya. Jadi sekarang Wanda sudah bisa membahas tentang istri-istrian?
"Jika kau lupa, 2 minggu lagi kita jadi istrinya." Wanda tiba-tiba merasa tersipu mendengar ucapan itu dalam kepalanya, tapi juga sebal karena ada kata kita. Seakan Yuzen menikah dengan 2 gadis sekaligus. Tapi, kenyataannya kan memang begitu. Apa yang bisa dilakukan Wanda dengan rasa sebalnya? Jawabannya tidak ada. Dia hanya harus belajar dan menerima hal ini. "Jadi kau tidak perlu sungkan menggunakan uangnya, paham? Justru jika dia tak memberimu uang, kita tinggal saja dia dan cari pria kaya lainnya." Lanjut Wendy.
"Kau… tidak mencintai kak Yuzen?" Wanda melemparkan pertanyaan yang menohok Wendy.
"Menurutmu? Tentu saja aku mencintainya bodoh."
"Tapi, tadi kau bilang akan cari pria lain semudah itu…"
Wendy mendengus. "Itu hanya kiasan Wanda! Paham?"
Wanda hanya mengendikkan bahunya tampak cuek. "Jadi rencanamu apa?" Gadis itu berusaha mengembalikan obrolan ke pembahasan mereka tadi.
Wanda bergidik. Dia dapat merasakan Wendy sedang menyeringai licik dikepalanya. Wanda tak tahu pasti bagaimana sifat Wendy. Tapi semalam dia sempat mengintrogasi Yuzen sedikit, dan Yuzen hanya berkata bahwa Wendy orang yang berani melakukan apapun dan sangat peduli padanya. Wanda sendiri tak yakin Wendy benar-benar peduli padanya.
Menurut apa yang dibacanya di internet, kebanyakan kepribadian berusaha merebut tubuh kepribadian utama agar bisa dipakainya sendiri.
Ah sudahlah, dia akan pusing jika mengkhawatirkan hal itu juga.
"Mudah. Kau takut ke tempat spa dan salon? Aku yang akan menggantikanmu. Untuk sesi Gym, kau bisa melakukannya bersama Yuzen secara private. Minta pria itu menemanimu."
Wanda mengangguk setuju.
Kepercayaannya pada Wendy sedikit naik sebanyak 10%. Karena gadis itu tidak egois dan membiarkannya juga ikut serta mempercantik diri dengan gym bersama Yuzen. Wendy memberinya bagian yang mudah.
"Kau ingin mewarnai rambut tidak?"
Wanda mengernyit bingung. "Menurutmu bagus iya atau tidak?"
"Hm, bagaimana jika coklat?"
"Aku tak tahu bagaimana yang bagus. Aku serahkan padamu."
"Tentu, serahkan padaku. Kita akan jadi sangat cantik dan membuat Yuzen blingsatan hahah."
Bibir Wanda tersenyum tipis saat mendengar tawa Wendy. Dan rasa percayanya pada gadis itu naik 15% saat kata-kata 'kita' terucap dari bibir gadis itu. Sepertinya Wendy tak menganggap mereka orang yang berbeda. Wendy seakan menganggap mereka adalah satu ke satuan. Jadi Wanda akan berusaha menganggap mereka satu juga, sehingga dia tak perlu merasa sebal lagi karena cinta Yuzen terbagi.
__ADS_1
"Bagaimana dengan warna kutek?"
Wanda mendesah lelah saat mendengar pertanyaan itu. "Terserah. Aku tak mengerti hal begitu."
Lagi-lagi suara tawa Wendy menggelegar dalam kepalanya. Oke, Wendy sepertinya tak peduli bahwa suara tawanya membuat kepala orang ingin pecah.
"Baiklah. Jadi kita bertukar shift sekarang?"
"Shift?"
"He'em. Kita pakai istilah Shift saat kita bertukar, oke."
Wanda hanya mengangguk patuh. "Jadi kita bertukar sekarang. Lalu, kapan kau akan mengembalikan tubuhku?"
"Setelah semua kegiatan mempercantik diri hari ini selesai dan tambah seharian besok untukku bersenang-senang. Aku akan mengembalikan tubuhmu dalam 2 hari." Wendy menyeringai senang. Dia tak peduli jika Wanda menolak, toh dia mampu mempertahankan ke eksisannya selama 2 hari.
Tapi luar biasanya, Wanda mengangguk. "Deal."
Lalu tak lama Wanda memilih memejamkan matanya dan membiarkan pikirannya kosong. Kata Wendy sebelumnya, itu adalah cara tergampang agar mereka bisa bertukar. Jika dia tak memasrahkan dirinya, Wendy berkata, dirinya akan kesakitan. Seperti sebelum-sebelumnya, saat suara-suara yang dulu tak diketahuinya muncul dikepalanya, dia merasa kesakitan. Karena secara reflek jiwanya merasakan adalah jiwa lain yang memberontak. Ada jiwa lain yang mengusiknya yaitu sosok kepribadian lainnya. Tapi setelah kini Wanda sadar keberadaan Wendy, dirinya perlahan mulai menerima dan tak merasa kesakitan. Hanya sesekali saja.
Perlahan Wendy mulai menggantikan Wanda. Kegelapan semakin melingkupi Wanda dan kini dia tertidur. Wendy tersenyum senang. Lalu buru-buru membereskan bukunya dan memasukkannya ke tas. Kelas pagi itu sudah sepi, tentu saja kelas sudah berakhir sejak sejam yang lalu.
Wendy segera keluar dari kelas, tapi sebelum itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Dengan matanya, dia bisa melihat 3 bodyguard yang berbaur bersama mahasiswa lainnya.
Wendy berpikir sejenak, haruskah dia kabur mengendap-endap. Atau membiarkan para bodyguard itu mengikutinya?
Ah….
Lalu berjalan dengan santai melewati koridor, membiarkan para bodyguard mengikutinya secara diam-diam.
Tidak apa.
Wendy akan menyumpal mulut mereka agar tak bercerita pada Yuzen kemana saja dia seharian ini.
Sebuah ancaman dengan bonus satu bogem mentah disetiap wajah sepertinya bisa menyumpal mulut ember mereka. Toh, tugas utama mereka kan hanya memastikan agar dia baik-baik saja.
Kenapa Wendy tak kabur saja dari pada merepotkan diri untuk menyumpal mulut para bodyguard? Karena setelah Wendy pikir-pikir, dia perlu pembawa barang belanjaannya nanti.
Lihat saja tagihan Yuzen nanti. Siapa suruh membiarkan seorang Wendy memegang kartu kreditnya.
✍👀✍
From: Bodyguard Wanda 1
Hai sayang, kau lebih suka yang mana?
Warna hitam atau merah?
Suka model transparan atau penuh renda?
__ADS_1
Your love.
Yuzen baru saja menyelesaikan meeting siangnya dan berniat kembali ke kampus karena sejam lagi dia ada kelas. Tapi saat berjalan di lobi gedung kantor ayahnya, Sebuah pesan mengejutkan masuk dari nomor salah satu bodyguard Wanda.
Yuzen sungguh melongo saat menerima pesan itu. Tak lama kemudian keterpakuannya terganti dengan wajah memerah malu.
Pasalnya di dalam pesan itu ada 2 foto lingerlie sexy yang sangat terbuka. Yuzen tahu yang mengirim ini adalah gadisnya. Bukan Wanda tentu saja, ini jelas sekali pekerjaan Wendy yang jahil. Parahnya, Yuzen mulai membayangkan gadisnya memakai lingerlie itu dan sedang menunggunya diatas ranjang hangat dan harum.
Ah sial,
Adiknya dibawah sana mulai merengek.
Yuzen menggelengkan wajahnya berusaha menghilangkan bayangan itu, kemudian dia memandang sekitar dan lobi itu penuh orang. Jangan sampai ada yang menyadari bahwa adiknya sedang ingin berperang saat ini.
Harus Yuzen taruh mana wajahnya nanti? Sebagai salah satu atasan, image memang hal penting. Jangan sampai diremehkan oleh para pekerja.
Lalu…
Berusaha menyingkirkan pikiran mesumnya, Yuzen kembali menatap isi pesan itu. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan Wendy? Jangan sampai gadis itu melakukan hal yang tidak-tidak, apalagi sampai terluka. Ayolah, sebentar lagi mereka menikah secara resmi. Pikiran parno Yuzen sudah kemana-mana. Bagaimana jika ada hal besar maupun kecil yang akan mengganggu pernikahannya? Yuzen berusaha mengantisipasi semua kemungkinan.
Tapi tak lama, sebuah pesan kembali masuk.
From: Bodyguard Wanda 1
Bagaimana? Itu untuk malam pertama kita lohhh… pilih yang mana hayo.
Your love.
Keparat.
Yuzen kini sudah terbatuk-batuk karena tak percaya akan isi pesan itu. Ayolah, kalau digoda seperti ini terus, dia juga bisa kehilangan kendali.
Dengan cepat, dia mulai menghubungi nomor bodyguard itu. Sialnya tidak diangkat, kemudian pria itu mulai menghubungi nomor 2 bodyguars lainnya. Sama, tidak diangkat.
Yuzen menggeram kesal.
Dia harus menemukan gadisnya dimanapun gadis itu berada. Oke, lupakan kelasnya nanti.
Dia harus menemukan Wendy atau gadis itu akan bertingkah aneh. Semisal, menggoda pria lain? Ayolah, pria mana yang tidak akan tergoda? Gadisnya itu terlalu mempesona.
Lihat saja, jika bertemu nanti, Akan Yuzen pastikan Wendy menrima hukuman.
Lalu seringaian penuh ide licik terukir di bibirnya.
✍👀✍
Update lagi gak nih hari ini? 😆
Yuk kalau mau, jangan lupa vote cerita ini dan komen yang banyak ya. hehehe..
__ADS_1
semangat kalimat Vote, komen, dan like membuatku semakin semangat 😍😍
Terimakasih banyak semuanya 😘