Psychopath Prince

Psychopath Prince
-34- Sekeping Masa Lalu dan Lamaran


__ADS_3

Mobil pajero itu berhenti dilahan parkir luas disalah satu taman hiburan terbesar dikota. Wanda mengernyit saat menyadarinya. Lalu menoleh menatap Yuzen yang mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengamannya. Pria itu balas menoleh menatap Wanda dan menatap gadisnya dengan senyum kecil.


"Kita mampir dulu." Ujar pria itu santai.


Yuzen keluar dari mobil dan berjalan ke sisi lain mobil untuk membuka pintu penumpang Wanda. Pria itu mengulurkan tangannya dan menarik Wanda dengan lembut. Senyum pria itu merekah dan tanpa diduga, pria itu mengecup bibir gadisnya secepat kilat. Wanda membelalak, jantungnya berdetak menyesakkan lagi, tapi rasa lain yang terasa hangat, menyusup. Tanpa sadar pipinya memerah hingga ketelinga.


Yuzen terkekeh melihat rona itu yang semakin pekat. "Sebelumnya kau menciumku seperti itu, aku hanya menirunya." Dan rona itu meledak di wajah Wanda.


Wanda menunduk dan secepat kilat berjalan, tak peduli kakinya sudah jalan kearah mana. Yang penting saat ini adalah menghindari Yuzen secepat mungkin.


Yuzen tersenyum kecil melihat punggung itu yang berusaha menjauh. Satu tangannya naik ke dada dan merasakan detak jantungnya yang mulai menggila. Diliriknya jam yang terpasang dipergelangannya, semakin dekat waktunya. Semakin cepat jantungnya berdetak. Parahnya diiringi gugup yang tak berkesudahan sebelum dia menuntaskan hajatnya.


Ah sial.


Sadar Wanda sudah terlalu jauh, pria itu berlari dan mengejar sang gadis. Mengagetkan Wanda dengan refleknya yang langsung merengkuh pinggang sang gadis.


Yuzen berjalan santai sembari memeluk pinggang Wanda. Sedangkan Wanda masih menunduk berusaha menetralkan jantungnya yang justru semakin gila.


'Ayo balas cium dia. Dia kekasihmu'


Deg!


Wanda mengernyit. Barusan seperti ada angin yang lewat dalam kepalanya dan membisikkan sesuatu. Parahnya sentuhan angin di dalam kepalanya seperti mengetuk-ngetuk tempurung kepalanya, terasa tidak nyaman. Namun hanya sekilas, membuatnya tidak sempat bereaksi. Apa itu tadi?


Wanda membiarkan Yuzen terus menggeretnya hingga masuk ke dalam taman hiburan yang penuh wahana permainan. Taman hiburan itu masih agak ramai, namun tak sedikit dari mereka yang sepertinya hendak pulang.


"Mau bermain?" Tanya Yuzen.


Wanda tak memperhatikan pertanyaan Yuzen. Dia memandang sekitarnya dengan ekspresi takjub. Banyak wahana besar penuh warna. Orang-orang mengenakan kostum hewan maupun Disney dan balon-balon yang terpasang indah di berbagai tempat. Padahal ini bukan akhir pekan, tapi sepertinya taman hiburan itu tak mengendurkan kualitasnya. Lalu Wanda menatap Yuzen yang masih tersenyum, namun kemudian menatap pemandangan sekitarnya dengan pandangan kosong.


"Yuu, aku mau naik komedi putar."


"Tidak, itu untuk anak kecik." Pria itu berujar santai dan masih menarik tangan sang gadis.


"Tapi aku mau itu. Aku mau naik kuda!"


Pria itu justru melepaskan genggamannya dan berjongkok di hadapan sangat gadis.


"Sini naik. Hari ini aku jadi kudamu."


Gadis itu bersemu dan menggeleng. Memilih berjalan duluan dan meninggalkan sang pria yang masih berjongkok.


"Aku mau kuda sungguhan." Ujarnya kecil. Harapan naik kuda komedi putar kini berganti jadi kuda sungguhan.


Disisi lain, pria itu jadi gugup diperlakukan begitu oleh pacar pertamanya. Pria itu memang intens sekali mendekatinya. Hubungan mereka terlalu cepat, padahal baru satu bulan mereka jadian.

__ADS_1


"Wanda!" Panggil pria itu karena sang gadis yang sudah berjalan cukup jauh. Pria itu berdiri dan mulai berlari kearah sang gadis.


"Sayang!"


Wanda tersadar saat bahunya diguncang keras oleh Yuzen. Dahi pria itu berkerut dan tampak khawatir melihat gadisnya hanya diam dengan pandangan kosong selama 1 hingga 2 menit.


Pria itu reflek memeluk Wanda dan mengelus punggung gadis itu saat Wanda akhirnya sadar. Bagaimana tidak khawatir jika sejak tadi dia memanggil-manggil dan gadis itu tidak juga sadar.


"Kenapa hem? Melamun? Dari tadi aku memanggilmu."


Wanda menggeleng. Tangannya mendorong bahu Yuzen agar pria itu melepaskan pelukannya. Matanya mengerjap menatap Yuzen, lalu tangannya naik menyentuh pipi pria itu. Benar. Pria dalam bayangannya tadi adalah Yuzen, tapi... Kapan hari itu terjadi?


Seingatnya ini pertama kalinya dia ke taman hiburan. Dan dia tak mengenal Yuzen yang tampak lebih muda dengan rambut cepaknya itu.


Mungkin hanya imajinasinya.


'Terserah kau menganggapnya apa. Toh cepat atau lambat kau akan ingat.'


Suara itu lagi!


Siapa itu?


Wanda mengernyit dan mulai memukul kepalanya dengan kepalan tangan sebanyak 2 kali, karena setelah itu Yuzen menahan tangannya. Rasanya lebih menyakitkan dari yang tadi. Suara itu menggedor-gedor tempurung kepalanya.


"Hei hei... Sayang, Jangan pukul kepalamu. Kenapa?"


"Berbisik?" Yuzen bertanya bingung. Lalu dia teringat malam itu. "Apa seperti malam dimana kau..... Pingsan?"


"Pingsan?"


"Ya, kau berteriak kesakitan dan memukul-mukul kepalamu."


Ah...


Wanda meringis dan bergidik ngeri mengingat rasa sakitnya dimalam itu. Lalu gadis itu menggeleng. "Tidak. Rasanya jauh lebih ringan daripada malam itu. Tadi tadi hanya sekilas."


Yuzen mengangguk. Dia lupa menanyakan kesakitan Wanda waktu itu pada Wendy. Jika bertemu gadis itu dia akan bertanya ada apa dengan Wanda. apakah Wanda akan segera menyadari keberadaan Wendy?


Yuzen menguraikan senyumannya dengan lebar dan kembali merengkuh pinggang gadisnya. "Kita main di arena tembak bagaimana? Aku akan mendapatkan sebuah boneka untukmu."


Wanda hanya mengangguk. Lalu membiarkan dirinya mengikuti arus langkah Yuzen ke arena berbayar yang mengharuskan membeli tiket untuk mendapatkan peluru tembak. Dan jika berhasil mengenai titik vital seperti tengah kepala dan tengah dada, akan mendapatkan hadiah.


"Tersenyumlah, sayang." Bisik Yuzen ditelinga Wanda saat mereka semakin dekat kearah arena tembak.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆

__ADS_1


Wanda merasa senang. Dia sudah mencoba 3 wahana ditaman hiburan itu. Bahkan tadi dia menaiki Roller coaster meski takut setengah mati. Tapi Yuzen dengan tega menyeretnya dan membuatnya pusing saat turun. Dan kini, ditangannya sudah ada 3 boneka beruang dan panda yang didapatkan Yuzen dari arena tembak.


Banyak bukan?


Salahkan Yuzen. Pria itu menembakkan seluruh pelurunya tepat di titik vital. Tidak ada yang melenceng. Agak mengerikan kan, bagaimana mahasiswa biasa seperti Yuzen bisa menembak seakurat itu. Dan pria itu berkata bahwa dia suka olahraga tembak. Luar biasa.


Kini Yuzen lagi-lagi seenaknya menyeretnya ketempat makan di dalam taman hiburan. Sebuah restoran cepat saji yang biasa ditemui disetiap tempat wisata. Padahal dia masih agak mual karena diajak naik Roller coaster dan tidak ingin memasukkan apapun ke dalam perut.


"Makan sayang. Aku tahu kau tidak makan siang tadi."


Wanda cemberut. Namun berusaha memakan nasi goreng nya dengan pelan. "Aku makan tadi dikantin."


Yuzen mendengus. Meraih ketiga boneka dalam dekapan Wanda dan meletakkannya ke kursi kosong. "Kau tidak. Flo tidak ke kampus hari ini karena sakit. Dan tentu saja kau tidak akan mau ke kantin sendirian."


Wanda terbelalak. "Bagaimana kau tahu?"


"Temanmu itu sudah bersekongkol denganku dan mengabarkan apapun yang berkaitan denganmu." Ujar Yuzen santai.


"Curang." Desis Wanda dan meletakkan sendoknya dengan kesal. Sesekali memang dia ke kantin sendirian, itu kalau hari sudah sore dan kantin sepi. Jika tidak ada Flo, dia terlalu takut ke kantin dan bertemu banyak orang asing yang tak dikenalinya. Mengejutkan sekali saat tahu ternyata Flo dan Yuzen saling berhubungan. Yah tentangnya sih.


Wanda memaklumi. Dilihat darimanapun, Yuzen tipe yang sangat posesif.


"Makan sayang." Pria itu menyodorkan sendok ke depan mulut Wanda. Dan Wanda mau tidak mau membuka mulutnya dan membiarkan pria itu menyuapinya.


Tidak hanya sekali. Pria itu terus menyuapinya dari bakmie goreng milik pria itu hingga tandas. Untung saja tempat makan itu sudah sepi dan hanya tinggal mereka berdua. Bagaimana tidak sepi, sebentar lagi jam tutup. Langitpun sudah senja dan tinggal beberapa menit menunggu matahari benar-benar tenggelam.


"Aku mau nasi goreng itu. Aku lapar." Ujar pria itu setelah menyingkirkan piringnya ke samping.


"Salah sendiri, makanannya malah disuapkan semua padaku. Kan tadi aku mau makan sendiri."


"Kau tampak bernafsu dengan mie ku, sayang. Jadi aku berikan saja."


Wanda bersemu. Apa tatapannya sejelas itu. Tadi, dia memang agak menyesal memesan nasi goreng dan justru tergiur dengan Bakmie yang dipesan Yuzen.


"Suapi aku nasi gorengnya."


"Makan sendiri." Wanda mendorong piring nasi gorengnya ke hadapan Yuzen. Namun Yuzen kembali mendorongnya ke hadapan Wanda.


"Tanganku sudah capek menyuapimu."


"Kan!" Wanda mencibir. Alasan sekali pria dihadapannya.


"Tidak mau." Wanda memilih berdiri dan meraih tas kuliahnya. "Aku mau ke kamar kecil." Gadis itu segera berlalu ke arah samping tempat makan itu. Tanpa sadar pipinya bersemu kecil. Semua tindakan Yuzen akhir-akhir ini membuat pipinya selalu terasa panas, astaga.


Yuzen yang melihat kepergian Wanda hanya tertawa. Dia mengecheck jam tangannya dan mulai meraih nasi goreng milik Wanda. Hanya beberapa suap sebelum kemudian pria itu berlalu pergi  meninggalkan tempat makan itu.

__ADS_1


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


__ADS_2