Psychopath Prince

Psychopath Prince
-55- Wendy dan Flo


__ADS_3

Angin berhembus lembut menerbangkan anak-anak rambut Wendy saat gadis itu mulai berjalan. Lalu gadis itu seketika berhenti didepan gadis lainnya yang kini juga berhenti dan menatap dirinya terkejut. Mereka saling menatap sejenak, sebelum kemudian Wendy tersenyum pongah dihadapan gadis itu. 


"Hai, Flo. Atau ku sebut saja kau, Mantan…. Sahabatku?" Wendy menyeringai saat melihat tatapan terkejut Flo. Wendy kembali melangkah hingga jarak mereka hanya sejengkal saja. "Bukan kau yang akan membuangku, tapi aku yang akan membuangmu."


"Wanda…." Bisik Flo, masih tak percaya akan apa yang didengarnya. "Apa maksudmu mantan sahabat?"


Wendy lalu menaikkan tangannya dan mengelus pelipis Flo dengan jarinya. Jarinya perlahan turun dan membentuk garis hingga ke dagu. "Kau tidak tahu apapun, dan mulai menghakimiku. Kau marah padaku, dan berbalik pergi. Bukankah itu artinya kau membuangku?!" Nada suara Wendy naik saat mengatakan kalimat terakhir. Lalu dengan keras gadis itu mendorong pundak Flo hingga gadis itu tersungkur. 


"Aku tidak suka sahabat fake sepertimu yang hanya bisa menyalahkan. Memangnya kau mengenalku berapa lama? Sudah nyaris 3 tahun, tapi kau seakan tidak mengenalku sama sekali. Kau berharap aku menghubungimu? Kau tahu aku tidak punya ponsel. Dan kau tahu apa yang terjadi? Aku masuk rumah sakit dan Yuzen bahkan dalam keadaan lebih parah. Bagaimana bisa aku mengabarimu?" Wendy berujar sinis. Gadis itu lalu berjongkok dan meraih dagu Flo. "Aku tidak butuh kau lagi. Aku tidak butuh sahabat yang suka menghakimi. Aku tidak butuh siapapun selain Yuzen."


Lalu Wendy kembali mendorong Flo. Flo kembali tersungkur. Namun tubuhnya dengan segera ditangkap Hanzel. 


Hanzel sendiri tak percaya akan apa yang dilihatnya. Bukankah Flo dan Wanda bersahabat baik? Kenapa sekarang mereka bertengkar? . 


"Wanda, apa yang kau lakukan?" Tanya Hanzel dengan nada bingung. Lalu, perlahan-lahan Hanzel membantu Flo bangkit. Untungnya disekitar mereka sedang sepi.Jadi tak ada yang melihat kejadian barusan. 


"Oh, Hai tampan. Bagaimana ciuman terakhir kita? Masih membekas diingatanmu?" Wendy berujar santai, menatap Hanzel dengan ekspresi menggoda. 


Hanzel yang ditanyai begitu justru bergidik ngeri. Dia tak berharap diberi ciuman lagi oleh Wanda apapun yang terjadi. Bahkan jika perlu dia harus jaga jarak minimal satu meter dari Wanda. Membayangkan Yuzen mengurungnya di penjara bawah tanah rumahnya karena cemburu, cukup membuatnya nyaris terkencing. 


"Ka-kalian berciuman?!" Kini pertanyaan dengan nada terkejut keluar dari bibir Flo. Bagaimana bisa Wanda dan Hanzel berciuman? Lalu apa kabar dengan Yuzen? 


"Tidak. Jangan salah paham. Wanda yang menciumku duluan. Dia ingin membuat Yuzen cemburu dengan menjadikanku korban." Terang Hanzel. Tentu saja dia tak ingin targetnya salah paham dan membuat jarak mereka semakin jauh. Waktunya tidak banyak untuk menaklukkan Flo. "Kau tidak tahu betapa menyeramkannya Yuzen saat marah begitu? Aku sudah bisa merasakan nyawaku melayang saat itu." Tutur Hanzel pada Wendy dengan emosi menggelegak. 


"Jadi?" Tanya Flo lagi, dia cukup merasa bingung, hubungan apa yang terjalin antara Wanda dan Hanzel? Tiba-tiba Flo merasa kesal. Jangan sampai ada pria lagi yang mendekatinya karena ingin dekat dengan Wanda? 


"Ah sudahlah. Susah berurusan dengan orang-orang dungu." Desis Wendy, lalu dia maju dan menarik kerah kemeja yang dikenakan Hanzel. "Kau! Jaga gadismu agar tak mendekatiku, aku benci fake friend."


Flo mematung di tempat. Setelah kepergian Wendy, gadis itu termenung. Kenapa persahabatan mereka jadi seperti ini. Dia awalnya memang salah, dia terlalu menghakimi Wanda. Padahal gadis itu pasti punya alasan hingga tak bisa menghubunginya. Namun kini, persahabatan mereka hancur karena kesalahannya. Tapi…. Rasanya gadis itu berbeda. Dia tidak seperti Wanda yang selalu ketakutan, penuh pikiran negatif, dan lembut. Gadis itu… Tampak. Sangat berbeda. 


Tidak mungkin kan dia bukan Wanda? Wajah itu jelas-jelas wajah Wanda. 


Flo hanya bisa mendesah dan ikut bahagia jikalau Wanda sudah mendapatkan keberaniannya, meskipun gadis itu terlihat agak urakan dan bebas. 


Wanda apa yang terjadi selama aku tidak ada didekatmu. Kenapa kau bisa berubah sejauh ini? Bisik Flo. Kenapa Wanda bisa sangat kasar padanya? 


"F-flo, kau harus tahu. Aku benar-benar tak ada hubungan apapun dengan Wanda. Aku hanya sekedar teman Yuzen. Serius. Aku…. Aku hanya ingin dekat denganmu." Ujar Hanzel gugup diakhir kalimat. 


Meskipun dalam kekalutan akan hubungannya dengan Wanda yang rusak, Flo tetap merasa tersipu dengan kata-kata Hanzel. Entah kenapa pengaruh pria itu semakin besar dan besar. 


Tidak. 


Apapun, jangan sampai dia jatuh cinta dengan pria sesempurna Hanzel. 


Diputus para mantan pacarnya yang rupanya biasa-biasa saja dia sakit hati. Apalagi dengan Hanzel. Ya Tuhan, jangan sampai. 


✍👀✍


"Eh, si ******!"


Sebuah suara terdengar berteriak. Lalu derap langkah banyak kaki terdengar mengarah kearahnya. Wendy berhenti, lalu menoleh saat kemudian tubuhnya di dorong hingga jatuh tersungkur. 


Wendy menatap keatas dengan marah, dia belum siap tadi, hingga bisa jatuh menyedihkan seperti ini. Dia bisa melihat segerombolan mahasiswi sedang mengerubunginya. Mereka semua tampak memandangnya dengan meremehkan. Ada satu, dua, tiga, empat,... Ah… Ada delapan gadis yang sedang mengerubunginya. 


"Rasain tuh, beraninya gadis murahan merebut Yuzen kami."


"Iya betul. Sadar diri dong."


"Lo itu jelek. Jangan sok cantik. Pakai make-up dan baju mahal gak akan bikin lo jadi cinderella yang dapat pangeran."


"Dasar iblis murahan."


"Jauhin Yuzen kami."


"Jangan sok polos, dasar bermuka dua. Bisa-bisanya bersikap polos dihadapan Yuzen."


Setelah semua makian demi makian, Yang mengejutkan Wendy adalah saat para gadis itu secara tiba-tiba melemparkan telur padanya. Tak lupa tepung dan kopi yang membuatnya sangat kotor dan bau. 


Wendy seketika menjerit dan ingin bangkit. Tapi lagi-lagi dia didorong, kini oleh banyak tangan dari berbagi sisi. 

__ADS_1


Sialan. 


Sejago apapun dia menghajar orang, kalau dikoroyok gini tetap saja kalah. Kini Wendy pasrah tubuhnya bau telur dan kopi. Tepung terigu itu memberikan warna putih bebarengn dengan warna hitam kopi yang menempel di seluruh sisi tubuhnya. Dari rambut hingga badannya, kini lengket semua. Gadis-gadis itu tak main-main melemparinya dengan banyak telur. 


Karena kesal, Wendy melepas sepatunya dan dengan brutal melemparnya ke sembarangan arah, yang penting kena dua dari mereka. 


Dan benar saja, dua dari mereka terkena lemparan sepatu Wendy. Salah satunya tepat diwajah. 


Gadis yang terkena lemparan sepatu diwajah segera menendang Wendy keras hingga terhuyung. Wendy menggeram. Sial, bahunya kanannya terasa sakit terkena tendangan itu. 


"HEY, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Sebuah suara berteriak keras. Menerobos kerumuna itu dan berdiri melindungi Wendy. Para gadis itu tampak terkejut, namun kemudian berdiri kembali dengan angkuh. 


Tempat ini jarang dilewati karena berada di sudut kampus, salah satu jalan menuju area parkir dosen yang jarang dilewati saat jam aktif kuliah. 


Wendy berharap ada yang lewat, tapi dia tak berharap orang bodoh macan gadis yang berdiri membelakangi nya ini yang menyelamatkannya. Gadis bodoh? Tentu saja, jika pintar, gadis itu akan meminta pertolongan orang lain dulu sebelum menghampiri. 8 fans bucin Yuzen melawan mereka berdua? 


Wendy mendesah. 


Tapi dia cukup bersyukur. Biarpun nanti dia terluka, tapi gadis di hadapannya sudah membuat celah untuk dirinya dapat bangkit. 


"Kau tidak apa-apa Wanda?"


Wendy yang hendak bangkit terkejut, dia mendapati Flo-lah yang kini berdiri dihadapannya. Sial. Dia tak ingin berhutang budi dengan gadis bodoh itu. 


"Owh, Satu-satunya teman si ****** datang menolong." Ujar angkuh salah satu gadis. Dan kemudian gadis itu melayangkan tangan kanannya dan menampar Flo dengan keras. Flo terhuyung kesamping tapi dengan sigap Wendy yang berdiri agak dibelakang Flo menangkap gadis itu agar tidak jatuh. 


Para gadis itu tertawa. 


Wendy benar-benar benci mendengarnya. Tak ada salah satupun yang boleh menyakitinya maupun Wanda. Tak ada. Wendy akan membalas mereka semua sekecil apapun kesalahan mereka 


"Menyingkirlah, Flo." 


Dari ujung matanya Wendy bisa melihat Hanzel berlari ke arah mereka. 


Tadi saat Hanzel pergi ke toilet, dia kehilangan Flo. Hanzel mencari ke mana-mana dan kemudian menemukan Flo sedang berada dalam kerumunan kucing garong. Hanzel bergidik melihatnya, dengan  segera dia berlari menghampiri. 


"Obati dia, bibirnya berdarah." Ujar Wendy. Namun melihat Hanzel belum beranjak, gadis itu berujar sinis. "Pergi sana."


"Ta-tapi kau, mau kujadikan korban kecemburuan Yuzen lagi?" Ancam Wendy. 


Hanzel cepat-cepat menggeleng. Dengan segera dia menyeret Flo keluar dari kerumunan. Namun Flo memberontak dan tak ingin meninggalkan sahabatnya. Baginya Wanda sangat rapuh, Wanda tak akan mampu menghadapi para gadis itu. Wanda orang yang selalu takut dengan orang asing. namun, Flo tak tahu, jika gadis itu bukanlah Wanda yang lemah. 


Memanfaatkan keterjutan gadis itu yang tampak panik karena kehadiran Hanzel yang tak terduga, Wendy mulai melayangkan tangan dan kakinya untuk memukuk para gadis itu. 4 dari mereka langsung tersungkur jatuh dan menyerang kesakitan. Hah, satu pukulannya ternyata cukup menumbangkan para gadis manja itu. 


Disisi lain, Hanzel mendudukkan Flo di tempat aman tak jauh dari sana dan mulai menghubungi Yuzen. Pria itu berjalan mondar-mandir gelisah saat menunggu telponnya diangkat. Dia menatap Wendy yang mulai melayangkan pukulannya. Hanzel ingin melerai mereka, tapi jujur, Hanzel tak bisa berkelahi dan dia takut memukul seorang gadis. 


"Bos, kau dimana?!" Hanzel berujar cepat saat telponnya diangkat. "Gawat bos, Wanda dikeroyok para fans-mu di jalan kearah parkiran dosen!"


Hanzel dengan cermat menatap Wendy yang membuat 4 orang tersungkur kesakitan sekaligus. Pria itu menganggap. Tak percaya, jika Wanda bisa memukul orang. Tapi kemudian kekhawatirannya semakin menjadi saat 4 gadis lainnya meraih kayu atau benda-benda lain disekitar mereka untuk dipukul kan pada Wendy. Hanzel tak tahu jika pertarungan para gadis bisa sebrutal ini. 


Pria itu ingin berteriak memperingati Wendy saat kemudian suara bosnya tampak mencekam dan membungkam mulut Hanzel. "Kau cari semua info mereka. Aku akan kesana segera. Dan, kau awasi saja Wanda, jangan lakukan apapun."


Yuzen memendam amarahnya. Pria itu segera membereskan lembar pekerjaannya dan berlari keluar dari perpustakaan gedung jurusan Wanda. Yuzen tak habis pikir, bisa-bisanya gadis itu kabur lagi. Percuma saja Yuzen meyewa bodyguard baru yang handal bertarung jika tetap saja kalah oleh Wendy. 


Dia memang tak meminta Hanzel membantu Wendy. Dia tahu Wendy bisa mengatasi mereka, tak peduli jumlahnya. Mungkin akan ada beberapa luak dan itu akan membuat Yuzen punya alasan untuk membalas dendam. Sudah lama dia tak menyiksa orang. Hasratnya berkobar seketika. Lagipula Wendy memang tidak suka diganggu saat berkelahi. Gadis itu terlalu percaya diri jika akan selalu menang, yah kecuali dengannya. 


Disisi lain, 


Wendy mulai menghalau kayu dan beberapa alat berat yang dilayangkan 4 gadis yang mengerubunginya. Gadis itu terpekik tiba-tiba karena salah satu kakinya yang telanjang menginjak kerikil tajam dan tanpa melihat Wendy yakin kakinya berdarah. 


Ah sial. 


Wendy berusaha bergerak lebih gesit dab mengabaikan kakinya yang sakit. Lalu kemudian berusaha memukul titik senaitif gadis itu agar segera tumbang. 


1 gadis berhasil. 


Namun sebuah pukulan kayu mampir ke lengannya. Pasti nanti membiru, rutuk Wendy. 


Wendy menggeram marah dan secara membabi buta berusaha menghajar para gadis itu yang dengan sigap menghindar. Naasnya 3 dari mereka yang sebelumnya tumbang pertama kali mulai bangkit diam-diam dan menambah rambut Wendy dari belakang. Wendy mengerang. Lalu dengan sekuat tenaga, menyikut perut orang dibelakangnya. 2 orang tumbang lagi. 

__ADS_1


2 yang masih memegangi rambutnya, ditariknya. Dan saat dia melihat seorang gadis di depannya yang siap melayangkan kayu-nya, Wendy dengan sekuat tenaga menarik tubuh salah satu yang menjambaknya berpindah ke jalur pukulan kayu itu dengan cepat. 


Dan terkena…. 


Satu lagi tumbang. 


Dan dalam sekejap, Wendy melayangkan sikunya dan menghantam kepala gadis dibelakangnya dengan keras. 


Tumbang satu lagi. 


Wendy ngos-ngosan. Lalu dengan sisa tenaganya dia berlari kearah gadis yang memegang kayu dan menendang kepala gadis itu. 


Wendy menyeringai menatap orang yang tersisa, dia meregangkan tubuhnya yang sakit-sakit. "Ini akan cepat tenang saja."


Dan saat gadis itu ingin berjalan menghampiri 2 gadis tersisa yang tampak mulai ketakutan, tubuhnya ditarik kebelakang seorang dengan tubuh tinggi tegap. Wendy mendongak dan mendapati punggung Yuzen. 


Yuzen kemudian berjalan kearah 2 gadis yang tersisa. 4 dari mereka sudah pingsan dan 2 lainnya kesakitan dan masih terbaring ditanah berumput. 


Yuzen memperhatikan itu semua dengan rahang mengeras. Lalu pria itu berdiri di depan 2 gadis itu yang benar-benar ketakutan karena tertangkap basah. 


PLAK! 


PLAK! 


Yuzen dengan ekspresi dinginnya menampar kedua gadis itu. 


Wendy yang melihatnya terkejut. Ayolah, ini pertama kalinya dia melihat Yuzen menampar seorang gadis. Tak terkecuali Hanzel dan Fli yang melihat dari jauh. 


"Siap dengan hukuman kalian?" Ujar Yuzen dingin. Suara pria itu mengalun bak dewa kematian


✍👀✍


.


.


.


.


Maaf kalau aneh. Karena part ini sempat ditolak karena adegan kekerasan. Jadi banyak yang harus dipotong biar diterima.


.


.


.


.


.


Kemarin ada yang nanya cast Yuzen, kan? Pada penasaran kan siapa yang jadi Yuzen? #menyeringai


Oke, aku udah ada cast Yuzen.


Untuk Informasinya silahkan cek digrup ya.


.


.


.


Hai guys....


Jangan lupa vote, like, komen ya...


Secuil jejak kalian sangat berati buatku

__ADS_1


__ADS_2