
Gadis itu melenguh, mengerjap pelan sebelum kemudian matanya memindai sekitar dengan mata bulatnya.
"Ini kamar siapa?" Bisiknya. Kamar yang dia tempati terasa familiar sekaligus asing. Dinding-dinding kamar itu dicat berwarna putih bersih. Dan langit - langitnya diberi lukisan langit malam yang indah. Lalu beberapa perabotan tampak baru dan kamar itu sungguh bersih dengan tata letak perabotan yang disusun apik.
Gadis itu semakin menajamkan penglihatannya.
"Tapi ini seperti kamarku." Lanjutnya lagi.
Gadis itu perlahan bangkit dan langsung merasakan pusing merayapi kepalanya. Lalu ingatan terakhirnya muncul begitu saja.
Ah... Sebelumnya dia kan dikeroyok di ruang ganti. Kenapa sekarang bisa disini? Dan jam berapa sekarang?
Gadis itu menoleh pada jam yang ada di atas nakas dan mengernyit saat waktu menunjukkan pukul 10 pagi lewat sedikit.
Apa dia pingsan seharian kemarin?
Dahi gadis itu mengernyit. Sejenak gadis itu berpikir, lalu menggeleng saat tidak tahu kenapa dia bisa sampai dirumah. Entah kenapa. Padahal tidak ada yang tahu rumahnya di kampus.
Gadis itu turun dari ranjang. Berjalan pelan menuju kamar mandi. Tapi saat melewati meja rias, gadis itu tersentak lalu menyentuh seluruh tubuhnya kalap. Bajunya berbeda dengan kemarin. Siapa, siapa yang mengganti bajunya dengan baju tidur?
Terlebih rambutnya yang sangat berbeda. Rambutnya kembali panjang dengan warna coklat serta aksen kuning gelap. Siapa yang mengubahnya?
Gadis itu kembali menggeleng tak percaya. Dengan cepat dia berlari memasuki kamar mandi dan kembali terpaku didepan pintu.
"Aku memang selalu berharap kita bisa sering mandi bersama. Tapi tak kusangka kau menawarkan diri, sayang."
"AAAAHHHH." Dan teriakan sang gadis kembali memenuhi gendang telinganya.
Wanda terkejut bahkan saking terkejutnya matanya justru terbuka lebar. Mengamati seorang pria yang berdiri di depan cermin wastafel dengan krim cukur didagunya. Pria itu telanjang dan hanya handuk kecil yang mencapai setengah paha melilit dari pinggangnya.
Yuzen justru menyeringai ditempatnya. Yakin sekali jika gadis didepannya adalah Wanda karena teriakan gadis itu. Pria itu menaruh pisau cukur nya di wastafel sebelum kemudian berjalan mantap ke arah Wanda yang masih terpaku. Gadis itu lucu sekali. Ekspresinya menggemaskan dan yakinlah saat ini Yuzen menahan kikikannya sekuat tenaga.
"Kau ternyata mesum juga ya sayang. Mau mandi bersama? Kau belum mandi dari kemarin, hm." Goda Yuzen. Tangan pria itu segera mengalung dipinggang Wanda sebelum gadis itu kabur.
Wanda pun hendak mendorong Yuzen. Tapi tangannya justru tersentak saat menempel pada dada telanjang Yuzen yang kekar. Gadis itu gemetar. Dan ingin menangis saat sadar keadaan mereka yang terlalu intim dengan pakaian Yuzen yang tak pantas. Keadaan yang sangat berbahaya.
__ADS_1
Yuzen paham dengan apa yang dirasakan Wanda. Lagipula dia sudah pernah menghadapi Wanda yang seperti ini saat mereka baru berkenalan. Dan lebih parah, karena gadis yang dahulu lebih labil dimasa pubertas nya.
Tak ingin menyiksa Wanda lebih lama, pria itu segera menarik lengan Wanda hingga mereka berdiri di depan wastafel. Yuzen menyerahkan pisau cukurnya dan menatap Wanda dengan senyuman manis. Kini, dia benar-benar tersenyum tulus pada Wanda. Hanya pada gadisnya.
"Tolong bantu aku bercukur."
Wanda mengerjap. Lalu memandang pisau cukur dan Yuzen bergantian. Lama berpikir, gadis itu mengulurkan tangannya takut - takut. "Ta-tapi aku tidak tahu caranya."
Yuzen menarik tangan Wanda yang memegang pisau cukur lalu menuntun tangan itu untuk mencukur dagunya dengan pelan. "Mudah bukan." Ujar pria itu senang.
Sejak dulu, dia ingin sekali melakukan hal-hal sepele seperti ini dengan gadisnya. Namun, waktu jeda 2 tahun itu membuatnya harus menjauh. Sial memang.
Tangan Wanda sedikit bergetar awalnya. Namun, kemudian gadis itu melupakannya. Dia sedikit menemukan kesenangan dalam mencukur Yuzen. Tangan Yuzen bahkan sudah terlepas dari tangan Wanda. Membiarkan gadis itu melakukannya sendiri.
Yuzen terus memandangi gadis itu intens. Mata itu, hidung itu, pipi tirus itu, lalu bibir itu yang menggoda. Astaga, Yuzen bisa gila rasanya. Bahkan dengan penampilan acak-acakan itu, Yuzen tak bisa menahan untuk tidak menyentuh Wanda terus menerus. Tangannya selalu gatal ingin menyentuh Wanda dengan intim. Tapi dia menahannya. Tak ingin menjadi pria bejat bagi gadisnya.
"Su-sudah." Cicit Wanda.
Yuzen menyadarkan dirinya dari keterpakuan. Lalu tersenyum kecil pada gadisnya dan mengecup dahi Wanda singkat.
"Kau belum mandi sayang." Ujar Yuzen santai.
"A-aku akan mandi sehabis ini."
Namun Yuzen menggeleng mendengar jawaban Wanda. Pria itu berjalan mendekat dan kembali memeluk pinggang Wanda. "Aku akan memandikanmu."
Wanda mengernyit tak paham. Maksudnya pria itu memandikannya?
Tapi sebelum Wanda sempat berpikir lebih jauh. Yuzen menarik kancing baju tidur Wanda hingga terlepas semua.
Wanda berteriak histeris dan meronta ingin lepas dari Yuzen. Tapi Yuzen justru mengecup pipi Wanda dan membuka baju itu dengan paksa. Oke, lupakan dia yang bilang tidak ingin menyiksa Wanda. Lupakan! Dia sedang sangat tergoda sekarang. Salahkan Wanda yang terlalu menggoda. Atau dia yang gampang tergoda? Ah... Yuzen merasa murahan. Tapi yah hanya dengan gadisnya sendiri. Tak apa kan?
Yuzen terus berusaha membuka pakaian Wanda hingga gadis itu telanjang bulat. Yuzen mencampakkan semua pakaian dan dalaman Wanda yang robek ke atas lantai kamar mandi.
Wanda bergetar hebat dan histeris bukan main. Dan air mata pun sudah mengalir dari matanya. Yuzen mengerjap merasa sangat bersalah. Dia janji, dia akan menghukum dirinya nanti. Tapi biarkan dia melakukan ini, dia ingin memanjakan mata dan tangannya.
__ADS_1
"Jangan pingsan, sayang."
Wanda masih histeris dan menangis. Tapi gadis itu berusaha untuk tidak pingsan sekuat mungkin. Sejak bertemu Yuzen, Wanda merasa hidupnya seperti roller coaster.
Pria itu tidak mudah ditebak. Kadang bersikap lembut dan perhatian. Tapi lebih banyak sisi brengsek dan pemaksanya. Pria bar-bar memang.
Yuzen pun langsung menggendong Wanda bridal. Membawa gadis itu untuk masuk ke dalam Bath-up. Yuzen mengisi air Bath-up dengan air hangat yang sudah dipasangnya dirumah ini. Lalu memasukkan sabun beraroma terapi dengan banyak ke dalam Bath-up.
Pria itu menggiring Wanda untuk tiduran dalam Bath-up nya. Wanda pun hanya pasrah dan membiarkan tangis mengisi keheningan diantara mereka. Suara air pun beriringan dengan tangisan Wanda.
Yuzen mengusap mata gadis itu. Dan kemudian membiarkan gadis itu berendam didalam busa-busa lembut.
Yuzen mengecup dahi Wanda lembut. Tampak tenang melihat keadaan Wanda, tapi aslinya dia panas dingin dengan situasi saat ini. Tangannya sekuat tenaga dia tahan agar tak menyentuh tubuh Wanda. Memejamkan matanya berusaha menjernihkan pikiran, sebelum kemudian membukanya lagi.
Yuzen sejenak memandang gadis itu dengan rasa bersalah. Gadis itu masih sesunggukan, dan entah kenapa Yuzen lama-lama tidak bisa mengontrol dirinya melihat kondisi Wanda. Akhirnya pria itu mengumpat keras. Membuat Wanda terkejut.
Pria itu segera berdiri dan memasuki area shower. Pria itu menarik tirai coklat muda hingga area shower itu tertutupi. Yuzen merasa lemah, bagaimana bisa dia kalah hanya dengan memandangi gadisnya?
Wanda mengamati dari tempatnya. Tirai itu memang tidak menerawang. Tapi Wanda bisa mengamati bayangan Yuzen meski tidak terlalu kentara.
Wanda mengamati bagaimana pria itu melepaskan handuk di pinggangnya dan menyalakan shower. Wanda merasa menjadi tukang intip. Tapi dia penasaran, toh dari tempatnya dia bisa memandang area shower dengan jelas.
Tapi kemudian dia mendengar desahan pria itu. Pelan. Namun dapat terdengar didalam kamar mandi yang hanya diisi oleh suara air.
Wanda mengernyit. Terus mengamati bayangan Yuzen hingga dia sadar apa yang sedang dilakukan pria itu.
Wanda langsung menutup wajahnya yang memerah parah. Bagaimana tidak, saat kau tahu kau sedang se ruangan dengan pria yang sedang mastrubasi!
Wanda merasa sungguh malu!!!
Apalagi namanya yang digumamkan pria itu.
Wanda ingin menangis saking malunya.
Oh god, help me!!
__ADS_1
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆