Psychopath Prince

Psychopath Prince
-20- Ketahuan


__ADS_3

Ruangan itu terasa dingin. Menyengat hingga ketulang, memberikan getaran kebencian diudara.


Sunyi senyap. Tidak ada yang berbicara selama lebih dari 5 menit. Seorang sipir berdiri diluar ruangan mengamati dari dinding yang dilapisi kaca. 2 kursi berada di tengah-tengah ruangan dengan meja panjang yang menjadi pembatasnya. Yuzen hanya bersedekap di kursinya. Tampak angkuh dengan mata dinginnya yang memandang pria tua ringkih dihadapannya.


"Kau mengunjungiku, nak." Pria tua itu menatap baik-baik anak muda di depannya. Dia mengenal pria muda itu. Jauh... Jauh sebelum pria itu mengenal putrinya.


Yuzen terdiam. Dalam nada pria itu, dia tahu tidak ada kebencian. Tapi siapa yang tahu. Yuzen hanya ingin mengamati, apa yang harus dia lakukan pada pria tua itu kedepannya. Tak peduli bahwa pria itu adalah panutannya sejak dia kecil. Pria yang berperan sebagai sahabat ayahnya dan sering mengunjungi rumahnya dahulu.


"Apa... Wanda baik-baik saja? Dia tak pernah mengunjungiku lagi setelah  bulan ke-3 aku ditahan." Lanjut pria tua itu.


"Dia baik-baik saja." Yuzen bergerak. Memindahkan tangannya hingga saling menyatu di atas meja. "Aku tak mengerti dengan tingkahmu."


Pria tua itu tersenyum kecil. Tahu keresahan yang dirasakan anak muda di depannya. Tahu apa yang ditakutkan pria itu. "Aku tidak akan mengadukan kalau kau yang membunuh istriku."


Yuzen menggertakkan giginya menahan luapan amarah yang mulai naik. "Silahkan kalau kau ingin melapor. Toh tidak ada buktinya."


"Wanda." Ujar pria itu santai. "Wanda menyaksikan semuanya."


Yuzen terdiam.


Benar. Gadisnya menyaksikan semuanya. Sedangkan sang ayah datang setelah istrinya hanya tinggal seonggok tubuh tanpa detak jantung. Tapi sekarang Wanda tak ingat apapun tentang kejadian itu. Sisi lain Yuzen merasa senang. Tapi sisi lainnya, dia sedih dilupakan.


"Awalnya..." Pria tua itu tampak menerawang. "Aku kira Wanda yang melakukannya. Aku pernah melihatnya yang membunuh seekor kucing atau anjing liar yang lewat didepan rumah beberapa kali. Kadang, emosi gadis itu tak terkendali. Seperti aku tidak mengenalnya sama sakali. Karena itu, aku pernah berpikir dialah yang membunuh istriku. Aku takut dia menanggung beban yang berat. Terlepas dari kesalahannya aku sangat menyayanginya. Karena itu, aku menyerahkan diri."


"Tapi ternyata. Setelah aku dijatuhi hukuman dan Wanda beberapa kali menemuiku, aku baru tahu kalau bukan dia yang melakukannya. Dia bercerita padaku. Dia tampak ketakutan dan nyaris gila. Karena kenyataannya... Kekasihnya sendiri yang membunuh ibunya. Kaulah yang melakukannya dan justru bertindak seperti orang dungu tak tahu apapun." Lanjutnya. Tapi ada senyum kecil dibibir itu. "Aku tak tahu, kenapa anak patuh dan jenius sepertimu melakukannya. Apa salah istriku padamu? Aku terluka kau melakukannya. Tapi.. Tinggal disini selama 2 tahun membuatku banyak berpikir. Aku tidak ingin menjadi orang yang pendendam. Aku masih punya Wanda yang harus kujaga dan kutuntun. Psikisnya sedikit mengkhawatirkan. Aku hanya ingin kau menyerahkan diri dan menerima hukumanmu Yuzen. Bukan karena aku membencimu. Tapi semua tindakan harus mendapatkan balasannya. Apa yang kau tanam adalah apa yang akan kau petik."


"Tidak akan." Balas Yuzen datar. Pria itu memejamkan matanya sejenak. Lalu kembali membuka matanya dengan pandangan yang lebih dingin. "Aku mencintai putrimu. Hingga mampu membunuh siapapun yang menyakitinya atau berusaha memisahkan ku dengannya. Dan istrimu melakukan 2 hal yang kubenci pada putrimu. Sebagai ayah yang sering bepergian ke luar kota, apa yang kau tahu?"


Yuzen bangkit. Dia tak ingin terus berbicara hal tak penting ini dengan pria tua itu. Amarahnya terus menanjak naik mendengarkan kalimat pria tua itu yang berkata seenaknya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pria tua sialan yang selalu meninggalkan putrinya dengan istrinya yang membenci putrinya sendiri.


Pria tua sialan.


"Kau seperti orang tolol Om Pangestu." Yuzen melangkah dan memegang gagang pintu dengan erat sebelum membukanya. "Aku akan mengijinkanmu memasuki hidup Wanda seperti dulu. Tapi jika kau berani mengusik zona nyamanku dan berusaha memisahkanku dengan Wanda, apa yang terjadi pada istrimu akan terjadi padamu juga."


Dan Yuzen membuka pintu. Melangkah meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Pangestu yang masih mencerna setiap kata dari kalimat Yuzen.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Yuzen mengacak rambutnya kasar. Menyugar rambut itu kebelakang dan mendesah dengan kesal. Setelah dari lapas siang tadi, dia mengemudikan mobilnya kembali ke kampus dan berniat menjemput Wanda untuk pulang karena seingatnya Wanda baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya hari ini.


Tapi sampai diparkiran dan dia menelpon bodyguard gadis itu untuk bertanya dimana gadisnya, jawaban yang dia dapat justru membuatnya semakin kesal.


"Nona Wanda sedang bersama sahabatnya nona Flo, tuan. Dan mereka sudah bersama sejak 2 jam lalu."


"2 jam kau bilang?!"


"Ya tuan. Kelas nona Wanda dibatalkan hari ini."


"Ini sudah ketiga kalinya mereka bersama dan menghabiskan waktu sangat lama. Apa mereka menghabiskan waktu di salah satu ruang tata busana lagi?"

__ADS_1


"Ya tuan."


Yuzen berdecak lalu mematikan sambungannya. Apa yang dilakukan kedua gadis labil itu? Hal yang sangat tidak wajar. Apa Wanda menemani Flo? Karena setahunya Wanda tidak punya teman selain Flo. Apalagi yang berasal dari jurusan tata busana. Mustahil.


Awalnya dia mengacuhkannya setelah menerima laporan itu. Toh, Wanda bersama Flo. Jadi dia yakin Wanda aman. Tapi ini sudah 3 kali dalam kurun waktu hampir 2 minggu ini! Tidak wajar sama sekali!


Yuzen membuka pintu mobilnya dan segera berjalan cepat ke arah gedung jurusan yang dimaksud. Langkah-langkahnya sesekali terhenti saat beberapa orang menyapanya. Yuzen hanya tersenyum kecil. Tapi saat beberapa gadis mulai menghalangi langkahnya dan berusaha mengajaknya mengobrol, dia mulai kesal.


"Kak Yuzen tumben terlihat disini? Gedung jurusanmu kan jauh sekali dari sini."


"Iya betul."


"Ya ampun. Mimpi apa aku semalam bisa berhadapan dengan kak Yuzen. "


"Kak Yuzen, minta nomor ponselnya boleh?"


"Iya iya... Aku mau juga."


"Heheh... Aku bahkan mau dijadikan selingkuhan. Lihat, aku cantik kan?"


"Oh, aku bahkan lebih cantik dari Wanda, bagaimana? Kau pasti hanya bermain-main dengannya kan?"


Yuzen mengernyit jijik. Apa gadis jaman sekarang semurahan ini semua? Kenapa mereka merendahkan diri mereka. Apalagi membawa nama Wanda. Dia jadi semakin kesal saja. Mungkin karena gedung jurusan ini sangat jauh dari jurusannya, tak banyak yang tahu kenyataan bahwa dia sangat mencintai Wanda. Bahkan semua orang di jurusannya atau disekitar gedung jurusannya tahu bahwa dia takluk pada Wanda. Apalagi sejak kejadian cemburunya dikantin. Hal itu sudah menyebar dari mulut ke mulut. Tak ada lagi yang mempertanyakan hubungannya dengan Wanda dan menghina gadis itu.


"Kalian tahu, aku tak suka barang murah. Terlebih lagi mulut hina yang hanya bisa berkata tolol tanpa berpikir." Ujar Yuzen datar.


Ketiga gadis yang ada dihadapan Yuzen seketika tersentak. Ada rasa malu tapi juga ada rasa tersinggung yang membeludak.


Mereka terdiam sejenak sambil saling menatap tajam.


"Kau kira kita menghadangmu tanpa ada niatan?" Gadis itu tersenyum miring. "Aku ingin memberimu hadiah sebenarnya. Tapi karena tidak enak langsung memberikannya, kami berbasa-basi tadi."


Gadis itu melirik kearah gedung jurusannya dan melihat 2 orang gadis baru keluar dari sana. Seringaian nya semakin melebar.


"Lihat gadismu disana." Yuzen menoleh kearah yang ditunjuk sang gadis. Saat Yuzen teralihkan, gadis itu merogoh saku depan celana Yuzen dan mengambil ponsel pria itu.


Yuzen menoleh dengan amarah yang mulai naik. Apa maksud gadis sialan itu?


Gadis itu mundur, dan mulai mengutak-atik ponsel Yuzen dengan cepat. Yuzen ingin menghampiri gadis itu dan merebutnya. Tapi kemudian Flo berteriak memanggilnya dan melambai, Yuzen pun menoleh dan melihat gadisnya yang tampak malu-malu. Lalu gadisnya memukul lengan Flo yang seperti orang konyol menggoda Wanda karena ada Yuzen. Yuzen tersenyum lalu melambai kecil pada Wanda. Sejenak melupakan amarahnya.


"Kau sepertinya sungguh dalam tahap kasmaran. Tapi maaf, aku akan menghancurkannya." Gadis itu membuat Yuzen kembali menoleh padanya. Ponselnya pun disodorkan gadis itu dan sebuah pesan langsung masuk kedalam chat-nya. Sepertinya gadis itu mencuri nomor ponselnya.


Yuzen tidak membukanya. Dan justru menatap gadis dihadapannya dengan tatapan datar. "Apa yang kau inginkan?"


"Yang kuinginkan?" Jawab gadis itu santai. "Aku hanya ingin melihat orang yang sudah menghancurkan hubunganku ikut hancur hubungannya."


Yuzen mengernyit. Siapa yang dimaksud gadis itu menghancurkan hubungannya?


"Lihat apa yang kukirim padamu. Pria didalam foto dan video yang kukirim adalah mantan kekasihku. Jika kau bertanya kenapa aku mengirim sekarang, jawabannya adalah karena aku menunggu hubungan kalian semakin berkembang erat." Gadis itu tersenyum kecil. Lalu senyuman itu berubah menjadi seringaian. "So, sebagai pembukaan..... Cup!" Gadis itu kembali menarik kerah kemeja Yuzen. Membuat pria itu terpaksa menunduk dan mengecup bibir penuh pria itu secara paksa.

__ADS_1


Yuzen terbelalak kaget dan segera mendorong gadis itu hingga mundur beberapa langkah. Yuzen mengusap bibirnya kasar lalu secepat mungkin pandangannya beralih pada Wanda yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Wanda..." Bisiknya.


Yuzen menoleh lagi ke arah gadis tadi yang sudah berjalan menjauh dengan 2 orang temannya. Pria itu geram bukan main.


"Apa maumu jalang?!"


Gadis itu terkekeh mendengar amarah Yuzen. Sejenak gadis itu berhenti dan menoleh pada Yuzen. "Lihat apa yang kukirim padamu. Kau akan mengerti semuanya." Lalu gadis itu kembali berjalan hingga menghilang dari hadapannya.


Yuzen menggeram kasar karena marah. Lalu buru-buru membuka ponselnya dan menemukan sebuah chat. Dia membukanya dan matanya langsung membelalak melihatnya.


Ada beberapa foto dan sebuah video disana.


Amarahnya justru semakin membumbung naik. Sepertinya hari ini dia dibuat marah oleh banyak orang. Yang paling parah adalah karena foto ini.


Foto gadisnya sedang berciuman dengan seorang pria. Dan video itu, memperlihatkan betapa panasnya ciuman itu yang terjadi di sebuah club malam. Bahkan tangan pria itu tidak tinggal diam dan meraba tubuh gadisnya.


Lalu sebuah chat kembali masuk dari nomor yang sama.


*From: 08XXXXX


Kau lihat betapa jalangnya gadismu? Bahkan dia menggoda kekasihku hingga akhirnya kami putus karenanya. Sialan*.


Yuzen membanting ponselnya kasar. Dalam sekejap benda itu sudah hancur berkeping-keping. Lalu dia menoleh pada gadisnya yang masih melihatnya dengan tatapan sulit diartikan jauh didepan sana. Namun perlahan, mata itu di penuhi genangan air mata yang siap jatuh.


Yuzen tetap diam ditempatnya. Amarah menguasainya dengan liar dan dia berusaha mati-matian untuk tak bergerak mendekati sumber amarahnya. Atau.. Gadisnya bisa hancur ditangannya.


Yuzen berteriak kesal dengan amarah yang mengumpul. Membuat orang-orang disekitar situ terkaget termasuk Wanda dan Flo yang masih mengamati Yuzen.


Pria itu berbalik.


Lalu berjalan menjauh dari sana. Dia marah. Sungguh marah. Dia ingin menarik Wanda dan menghukum gadis itu karena berani-beraninya bermain dengan pria lain.


Tapi...


Dia harus menahannya.


Atau...


Dia akan menyesal nantinya.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


[Author Note:


Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.


Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗

__ADS_1


dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍


Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]


__ADS_2