
Yuzen berdiri di gerbang kampus dengan nafas tidak teratur. Keringat bercucuran dari dahinya dan rambutnya sudah acak-acakan. Pria itu bahkan sudah tidak peduli image-nya hancur didepan orang-orang. Sejak tadi dia hanya memasang wajah garang dan mengumpat kasar pada gadis - gadis yang mengganggunya. Tak bisakah mereka melihat situasi? Dia sedang kalang kabut mencari gadisnya! Ini sudah 2 jam lebih gadisnya menghilang!
Hanzel bahkan sudah menyadap CCTV kampus dan area sekitar. Sejenak terlihat gadis itu dibeberapa CCTV dengan tampilan mengenaskan. Tapi setelah itu gadisnya tidak tertangkap kamera sama sekali. Sial.
Jika yang sedang menguasai tubuh itu Wendy, masuk akal jika gadis itu tak tertangkap kamera. Sepertinya gadis itu sedang ingin bermain-main dengan bebas.
Yuzen mendesah kesal.
Wendy memang seperti itu. Gadis itu lebih banyak berontaknya. Meski yah terkadang bersikap manis. Dan dia harus segera mencari gadis itu segera! Dia tak ingin Wendy berbuat macam-macam.
*From: Rahanzel
sent pict.
*Bukankah ini kekasihmu bos, atau hanya mirip? Pasalnya dia berbeda sekali. Astaga**.
Yuzen membuka sebuah pesan yang dikirim Hanzel. Dahinya mengernyit heran. Lalu tiba-tiba dia tersentak dan mendekatkan ponselnya dengan wajahnya.
Itu gadisnya!
Meski penampilannya berbeda, mana mungkin Yuzen tidak mengenalinya. Pria itu bernafas lega untuk sesaat. Tapi tak lama dia langsung menggeram marah karena melihat gadis itu duduk dengan seorang pria yang hanya terlihat punggungnya.
Keparat!
Dengan cepat Yuzen menghubungi nomor Hanzel.
"Dimana?"
Hanzel yang dihubungi dengan cepat menjawab. "Kantin jurusan kita."
Tut--
Sambungan itu segera mati. Tanpa perlu membuang waktu lebih lama, Yuzen bergerak dengan cepat. Pria itu bahkan berlari lagi.
Lihat saja, Wendy! berani sekali kau bermain dengan pria lain!
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
"Kau tahu tidak, jika aku pria paling populer di kampus? Kau akan menyesal jika menolakku. Apalagi aku merupakan putra satu - satunya seorang pengusaha Real Estate ternama. Jika kau berpacaran denganku akan kuberikan apapun yang kau mau."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Jika aku mau mobil, kau mau belikan?"
Wendy terus menjawab segala kalimat yang dilontarkan Jerome dengan blak-blaknya dan tanpa berpikir. Sepertinya pria itu bodoh sekali. Dan lebih suka menggunakan otot daripada otak. Bagaimana bisa dia sangat royal pada para gadis yang diincarnya. Meski Wendy menduga bahwa para gadis yang dipacari pria itu pasti berakhir menyerahkan tubuh mereka. Tidak mungkin Jerome mengeluarkan uang tanpa meminta seluruh hal yang dimiliki para gadis itu kan? Padahal kalau Jerome lebih pintar dan tak menganggap para gadis sebuah piala, dia akan bisa minimalisir pengeluaran dengan menyewa gadis bayaran. Yah, meski tak bisa dipamerkan dan diajak jalan dengan bebas.
__ADS_1
"Tentu saja. Asal kau jadi pacarku." Jawab Jerome bangga.
Wendy hanya memutar matanya diam-diam dan kembali melanjutkan makannya.
"DIA TAK AKAN JADI PACARMU BRENGSEK!" suara itu sangat keras hingga memenuhi seluruh kantin. Semua orang menoleh ke sumber suara dan kaget karena Yuzen-lah pelakunya.
Wendy sendiri terbelalak dan menyeringai senang.
Gadis itu membiarkannya saja saat tubuhnya ditarik Yuzen hingga berdiri dan didekap erat pria itu. Menyembunyikan tubuh gadisnya yang mungil agar tak dilihat orang-orang.
Dia sudah kesal saat memasuki kantin dan yang dilihatnya adalah para pria yang menatap tubuh gadisnya lapar. Sialan akan dia congkel seluruh mata pria dikantin ini nanti!
Jerome sendiri tak kalah kaget. Sebelumnya dia tak pernah berurusan dengan Yuzen. Bahkan mereka tak pernah bicara. Tapi tiba-tiba pria itu berteriak dan menarik gadis dihadapannya. Sialan.
"Kau apa-apaan hah?!" Geram Jerome. Pria itu berdiri dan melangkah mendekati Wendy hendak menarik gadis itu.
"Jauhkan tanganmu atau ku patahkan?!" Aura Yuzen semakin menggelap saat melihat tangan Jerome hendak terjulur meraih Wendy. Dia marah. Tidak ada satupun yang boleh menyentuh gadisnya tanpa seijin nya.
Jerome sendiri sedikit takut awalnya. Tapi kemudian ketakutan itu segera sirna dan berakhir dengan dia yang meraih lengan Wendy.
Yuzen yang melihatnya meradang, dan tanpa diduga siapapun dalam kantin itu, pria itu melayangkan kakinya dan menendang perut Jerome hingga terhempas kebelakang.
Pria itu meringis. Tendangan Yuzen sangat kuat meski posisinya masih mendekap Wendy.
Wendy pun tersenyum kecil merasa senang dengan permainannya. Tapi sesaat kemudian dia kembali mengatur ekspresinya dan mulai menghempaskan pelukan Yuzen dengan kekuatannya yang tak bisa dianggap remeh. Gadis itu segera menghampiri Jerome dan membantu pria itu berdiri.
Jerome menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."
"Jauhkan tanganmu darinya!" Gertak Yuzen. Dia memandang tajam tangan Jerome yang berani - beraninya menyentuh gadisnya. "Atau aku benar-benar mematahkan tanganmu."
Jerome tersenyum mengejek dan malah merangkul pinggang Wendy dengan seenaknya. Wendy pun tidak menolak dan justru terus mengamati segala reaksi Yuzen.
"Memang kau siapa berani - beraninya melarang orang menyentuhku." Pekik Wendy.
Yuzen benar-benar marah. Dia menerjang Jerome dan memukulinya hingga kembali terhempas. Lalu pria itu meraih Wendy dan mencengkram bagian atas gaun santai gadis itu. Wendy sedikit terangkat, kaki gadis itu berjinjit diatas tanah. Wendy tidak takut, lagipula Yuzen tidak akan melukainya hingga parah. Paling-paling bergelut sedikit.
"Aku kekasihmu Wendy. Kau milikku!" Yuzen mengucapkannya penuh penekanan. Dia ingin hal itu tertancap dalam di kepala gadis yang suka bermain-main itu.
Wendy menyeringai. "Aku belum menyetujuinya. Lagipula Wanda sepertinya terpaksa."
"Kau--" Yuzen melepaskan cengkramannya pada gaun Wendy dan mengacak rambutnya kasar. "Aku sedang berusaha, tidaklah kau mengerti. Dan aku tidak suka kau dekat - dekat dengan pria lain! Kau kekasihku kini, ingat itu!"
Beberapa orang yang mendengar ucapan Yuzen terkesiap. Lalu memandang gadis bergaun kuning itu meneliti. Bukannya kekasih Yuzen adalah Wanda si gadis miskin dan berpenampilan bak gembel?
Wendy yang tahu reaksi orang-orang kantin menyeringai senang. "Apa? Kalian heran? Bukankah seharusnya hal ini wajar? Aku kan kekasih seorang Yuzenno Wangsadinata. Wajar dong jika aku dapat barang-barang bagus dan hidup enak. Aku bahkan bisa dapat pinjaman kartu kredit dari bodyguard-nya." Ucap Wendy santai.
Yuzen pun berdecak dan masih sangat kesal dengan Wendy yang suka main-main. Meskipun pria itu tahu, Wendy hanya sedang menghukumnya. Entah untuk kesalahan yang mana.
__ADS_1
Jerome yang sebelumnya hendak kembali meraih Wendy pun terpaku ditempatnya. Ck, ternyata dia sedang bermain dengan kekasih orang?
"Kau bilang tidak tertarik berhubungan. Tapi kau berpacaran dengannya?!" Jerome bertanya tak percaya.
Wendy mengangkat alisnya. Lalu di kibasnya rambutnya ke belakang. "Kalimatku belum selesai. Aku bilang, aku tidak tertarik berhubungan... Kecuali dengan Yuzen."
Jerome menganga tak percaya. Dia merasa dipermainkan. Lalu kembali berjalan kearah Wendy dengan marah. "Dasar ******." Tunjuk nya dan segera berlalu disana. Tapi disudut sisi hatinya, dia sedikit merasa sakit hati.
Yuzen menggeram mendengar kalimat itu. Lalu hendak menghampiri Jerome untuk menghajar pria itu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Wendy berlalu keluar dari kantin.
Yuzen berteriak kesal dan menahan segala emosinya untuk segera menghampiri gadis nakal itu. Saat dia sudah dekat dia langsung menjewer telinga gadis itu.
Wendy hanya cemberut. Sebelum kemudian tertawa lebar merasa senang dengan kegiatannya kali ini. Dia bahkan tak peduli Jerome dapat beberapa bogeman dari Yuzen. Lagipula pria itu sudah mengatainya ******.
"Kau nakal sekali ya. Apa maumu kali ini? Dan apa-apa tampilanmu ini?!"
"Kenapa? Bukankah aku cantik? Kau tahu tidak perjuanganku saat memalaki bodyguard-mu agar mau menyerahkan kartu kreditnya? Lalu betapa malunya aku ditatap sepanjang jalan karena baju dan rambutku mirip orang gila? Untung saja tukang salonnya pintar hingga bisa menyambung rambutku jadi bagus lagi." Curhat Wendy.
Yuzen mendengus.
Tapi pria itu langsung memeluk Wendy erat. Lega sekali gadis itu tidak kenapa-napa.
"Jangan pernah dekat-dekat dengan pria lain." Yuzen menciumi puncak kepala Wendy sayang. "Aku akan memperhatikanmu lebih dan memberikanmu kasih sayang yang banyak. Jangan mencarinya pada pria lain." Tegas pria itu karena tahu sifat Wendy yang suka menjadi pusat perhatian dan ditatap banyak orang. Gadis itu memang suka sekali jika seseorang mengaguminya. Beda sekali dengan Wanda.
"Kenapa? Kau juga suka cari perhatian pada gadis lain." Rajuk Wendy. Mereka berjalan menuju parkiran mobil.
"Kapan?" Pria itu mengernyit heran.
"Lihat saja sekelilingmu tuan tampan!" Wendy memutar matanya kesal. Pria jenius ini kenapa jadi bodoh?
"Itu kan alamiah. Aku tidak mungkin mengusir mereka semua."
"Itu karena kau menjaga image ramahmu!"
"Apa salahnya?"
"Brengsek. Kalau begitu tidak salahkan kalau aku berdandan dan membuat para pria menatapku?" Wanda menendang-nendang pintu mobil Yuzen yang sudah berada di hadapannya. "Buka."
Yuzen pun meraih kunci mobilnya dan menekan salah satu tombol untuk membuka kunci mobilnya.
"Sangat salah sayang. Kau milikku! Dan aku tidak suka kau berdandan." Yuzen membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam sana. Menyalakan mesinnya dan menoleh pada Wendy. "Kita mau kemana?"
"Mall. Aku mau menarik perhatian banyak pria dengan kecantikanku."
Yuzen menggeram marah. Lalu....
"WENDY! JANGAN BERUSAHA MEMBUATKU CEMBURU TERUS-TERUSAN!"
__ADS_1
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆