Psychopath Prince

Psychopath Prince
-60- Kartu Undangan


__ADS_3

"Kau tahu, Nominasi Ratu kali ini luar biasa." Ucap pria pertama. 


"Hm, si cindy lagi-lagi masuk nominasi dan masih bertahan di peringkat satu. Tak heran sih, pria yang digoda gadis itu banyak sekali akhir-akhir ini. Dan gadis itu menyuruh para pria memvotenya. Belum lagi teman gengnya yang banyak itu." Balas pria ke dua. 


"Tak masalah. Toh dia memang sangat cantik." Pria pertama kembali menyeletuk.


"Tapi…" Pria ketiga yang sejak tadi hanya mendengar pembicaraan temannya memilih angkat bicara. "Betapa sensual dan cantiknya nominasi lain, aku lebih suka Wanda."


Para pria meringis mendengarnya. "Bro, jika disuruh memilih pasangan, banyak pria akan memilih Wanda tentu saja. Gadis itu bahkan sangat cantik saat penampilannya berantakan, lebih bagusnya gadis itu terlihat manis dan menggemaskan, apalagi disaat ketakutan dengan sekelilingnya. Tipe gadis baik dan mudah diatur. Tapi…" 


Pria keempat kemudian melanjutkan. "Gadis itu milik Yuzen kau tahu? Meskipun Yuzen tampak seperti pria baik, semua pria di kampus tahu bahwa Yuzen tak suka diganggu. Kau ingat, insiden 7 pria yang masuk rumah sakit tiba-tiba? Rumornya Yuzen yang membuat mereka babak belur. Apalagi dengan fakta bahwa ke-7 pria itu menyukai Wanda. Tak ada yang berani membicarakan rumor itu, hingga tak banyak yang tahu."


"Jika tak ada Yuzen, yakin deh gadis itu pasti langsung naik ke peringkat satu dan bukannya bertahan di peringkat tiga." Balas pria pertama. 


"Yah, sayang sekali. Jika saja dia belum ada yang punya." Balas pria ketiga yang merasa sesak karena memiliki Wanda rasanya seperti angan-angan saja. 


Lalu pria kedua yang mengecheck ponselnya menyelutuk heboh. "Hei, lihat. Dalam semalam peringkat Wanda naik ke peringkat dua!"


Keempat pria itu buru-buru membuka Media sosial kampus dan melihat papan voting. Mereka cukup terkejut dengan peringkatnya. Ternyata banyak juga yang memilih Wanda. Selain para pria enggan memvote Wanda karena gadis itu sudah ada yang punya. Mereka juga tak ingin Wanda menang dan kemudian bersanding dengan Yuzen. Dikehidupan nyata mereka sudah melihat Wanda terus jalan bersama Yuzen. Haruskah meraka melihat maskot kampus juga pasangan itu? 


Semua pria mendesah. 


"Eh tunggu, bukankah kemarin fotonya adalah dengan gaun pengantin?!"


"Eh benar."


"Kok bisa berganti?" 


Para pria itu bingung. Karena kini foto Wanda adalah dengan kaos yang bisa gadis itu kenakan. Namun, meski begitu tetap terlihat cantik. Tapi mereka cukup kecewa karena tak bisa melihat Wanda dan gaun pengantinnya. Kalau boleh jujur, imajinasi mereka berkeliaran bebas saat melihat Wanda dengan gaun pengantin. 


Satu kesimpulan kemudian hadir di otak mereka. 


"Yuzen kah?"


"Siapa lagi yang bisa menggantinya."


"Kalau tidak menghampiri dan menyuruh para panitia acara mengganti foto Wanda."


"Ya membobolnya."


Lalu para pria itu terkekeh miris. Mereka satu jurusan dan angkatan dengan Yuzen. Tentu saja mereka tahu sedikit kemampuan Yuzen dalam membobol sistem. Lagipula pria itu adalah mahasiswa terpintar di setiap kelas. Dengan Hanzel yang menyusul kemudian. Jadi tak ada yang meragukan kejeniusan Yuzen. 


Lalu seakan belum cukup, Tiba-tiba Yuzen lewat di depan mereka dengan mata yang menatap dingin seakan ingin mengiris-iris tubuh mereka. 


Jika para gadis menganggap Yuzen tampan dan manis dengan umbaran senyumnya. Para pria selalu merasa Yuzen seperti dewa kematian. Meski seringnya pria itu juga tersenyum, tapi senyumnya selalu seperti dewa kematian yang sedang tersenyum senang saat menarik jiwa. 

__ADS_1


Keempat pria itu meneguk ludahnya susah payah. Mereka berharap Yuzen tak mendengarkan pembicaraan mereka. 


Tapi kemudian Yuzen berhenti di hadapan mereka dan ekspresi dinginnya berganti dengan senyuman. 


Para pria itu menjadi kaku. 


"Karena kalian sudah membicarakan gadisku. Kurahap kalian bisa dengan baik hati membantu mengevote-nya ya. Terimakasih."


Dan pria itu berlalu dengan aura mengerikannya. Ucapan lembut dan senyum itu bahkan tak bisa menutupi aura mengerikannya. 


Benar-benar menakutkan. 


✍👀✍


"Jadi bos, kenapa akhir-akhir ini kau ngebut sekali kerjanya? Bahkan kerjasama yang tak masalah diselesaikan bulan depan kau bereskan sekarang."


Yuzen menoleh kearah Hanzel yang baru saja duduk disebelahnya. Kelas itu masih sepi karena baru akan dimulai 30 menit lagi. Tapi Yuzen memang sudah berada disana sejak setengah jam yang lalu. Sibuk menggoreskan penanya ke dalam tumpukan kertas. Bahkan dua laptop menyala dihadapan pria itu. Hanzel yang baru masuk kelas pun terpaku melihatnya. 


"Mulai besok aku akan meliburkan diri selama 2 minggu. Dan kau, jangan berani-berani menggangguku jika tak penting."


Hanzel mengerutkan keningnya. Merasa penasaran kenapa bosnya harus meliburkan diri. 


Lalu matanya terpaku pada semua pekerjaan itu. Sebagai asisten Yuzen, Hanzel tahu itu semua pekerjaan yang tidak harus diselesaikan sesegera mungkin. Memang pria itu jarang ke kantor akhir-akhir ini, Hanzel lah yang stand by di kantor jika jam kuliahnya sudah selesai. 


"Ngomong-ngomong bos, aku sudah membuat banyak akun di medsos kampus. Lihat, Wanda sudah naik jadi peringkat dua." Hanzel berujar dengan bangga. Tapi Yuzen hanya mendengus mendengarnya. 


Hanzel menerima satu tumpuk undangan itu. Ada sekitar 50 undangan. Dan Hanzel yang penasaran mulai membaca undangannya. Matanya terbelalak saat tahu apa isinya. 


"Undangan pernikahan?!"


Yuzen yang mendengar pekikan Hanzel menoleh dengan sengit. Pria itu berteriak disebelahnya, bagaimana bisa dia tak marah. 


"Ya, satu untukmu. Undangan itu hanya berisi tamu penting. Aku tidak ingin mengundang banyak orang dengan keadaan Wanda yang takut orang asing." Yuzen berkata santai sambil mengerjakan pekerjaanya. 


Hanzel menelan ludahnya susah payah. Kenapa tiba-tiba bosnya menyebarkan undangan pernikahan? Benarkah bosnya akan mengadakan pesta? Bukan pernikahan satu pihak lagi? 


Wah… Luar biasa. 


"Jadi, Wanda setuju untuk menikah denganmu, bos?"


Yuzen mendelik. "Kau berkata seakan aku tidak layak."


"Yah habisnya, kau kan yang selalu ngebet. Kemarin lamaranmu juga sempat ditolak dan kau bahkan frustasi hingga masuk rumah sakit."


"Diamlah."

__ADS_1


Terkadang mulut Hanzel memang lebih kejam daripada Yuzen. 


"Kau duduk saja ditempat lain, jangan duduk denganku!" Lanjut Yuzen yang tak ingin diganggu oleh kehadiran Hanzel yang menyebalkan. "Dan jangan lupa sebarkan undangan itu."


"Kau tidak ingin dibantu bos?"


"Kau kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik. 2 minggu kutinggal nanti, kau harus mengurus semuanya."


"Oke bos. Lagipula nyaris semua pekerjaan kau selesaikan." Lalu Hanzel bangkit dengan santai dan pindah ke bangku bagian depan. 


Pria itu menatap ponselnya sejenak dan mulai menchat nomor Flo dengan penuh tekad. Sejak kejadian pengeroyokan kemarin, hubungannya dengan Flo sedikit dekat, yah hanya sedikit. 


Yang penting ada kemajuan. 


✍👀✍


Sekumpulan orang itu duduk di kursi bundar dengan raut wajah keras. Asap rokok terlihat mengumpal di udara dari beberapa orang yang menghisapnya.


Salah satu orang menekan ujung rokoknya ke asbak dengan kasar dan mematikan rokok itu. Ekspresinya keras namun sebuah senyum licik terbit tak kalah dia mengeluarkan sebuah undangan dari dalam saku jasnya. 


"Kesempatan terbuka. Kita bisa membunuhnya disana. Mungkin takkan mudah, karena pasti keamanannya diperketat."


Salah satu orang meraih undangan itu dan membacanya. "Undangan pernikahan? Kenapa aku tidak dapat."


"Kurasa dia tak mengundang semua koleganya. Hanya orang-orang penting. Sebagai salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ayahnya, tentu saja aku diundang."


Pria yang memegang undangan itu mendengus. Lalu sebuah ide melintas di otaknya. "Bukankah kita bisa memanfaatkan pengantinnya? Kita sandra pengantinnya dan memanfaatkan itu untuk mengancam keturunan Wangsadinata itu."


Lalu suara demi suara saling bersahutan. Hanya 3 dari mereka yang benar-benar orang penting. Sisanya hanyalah bawahan yang mengikuti mereka demi uang besar. 


"Ide yang cukup bagus. Tapi jika ada kesempatan kita bunuh si keturunan Wangsadinata itu. Bagaimanapun, dia sangat berbahaya. Beberapa percobaan penculikan dan pembunuhan bahkan tak bisa membuat nyawanya melayang."


Semuanya mengangguk setuju. Tidak ada yang ingin mengambil resiko dengan membiarkan keturunan Wangsadinata hidup. Bisa-bisa hidup mereka yang terancam. Apalagi dengan kekuatan anak itu yang mulai berkibar didunia bisnis. 


"Kita akan buat si tua beni kehilangan keturunannya dan merebut semua kekayaan kotornya."


✍👀✍


Nah hayooo....


Pernikahannya gak aman nih.


#Authorjahat


#lemparpakeduit

__ADS_1


#ehgolok


__ADS_2