
Dia benar-benar akan mati!
Mati bosan tepatnya.
Yuzen mengurungnya diruang kerja pria itu diperusahaan. Sedangkan pria itu pergi meeting sejak 2 jam yang lalu.
Wendy menghentak-hentakkan kakinya kesal. Gadis itu sudah berkali-kali mengganti posisinya. Bahkan mengitari ruangan itu berpuluh-puluh kali. Dia tetap saja bosan. Tidak ada yang bisa dilakukan diruang yang hanya ada sofa dan meja kerja itu. Ah, dan sebuah kulkas mini disudut. Tidak ada yang menarik. Inginnya dia kabur, tapi pintu ruangan itu dikunci dengan sidik jari dan password. Sialan.
Wendy mendesah.
Yuzen benar-benar menghukumnya. Pria itu tahu betul jika dia tidak betah diam ditempat dan tak melakukan apapun dalam waktu lama.
Wendy duduk dikursi kebesaran Yuzen dengan kepala yang bersandar pada meja kerja pria itu. Matanya menerawang kosong. Dia belum menjelaskan perihal dirinya yang berciuman dengan 3 pria di club itu. Karena telpon Yuzen tiba-tiba berbunyi dan seorang sekertaris yang menelponnya mengingatkan kalau ada rapat penting.
Selama beberapa saat, Wendy merasa terselamatkan. Namun kemudian, apa? Dia harus menjelaskan apa? Toh dia hanya sedang iseng waktu itu.
Cklek!
Pintu ruang kerja itu terbuka tiba-tiba. Wendy mendongak dan mendapati Yuzen berdiri disana dengan raut dinginnya. Sepertinya rapatnya tidak berjalan lancar. Pria itu sedang kesal. Wendy harap pria itu tak akan membahas masalah di club saat ini.
"Wendy, aku ingin kau segera menjelaskan!"
Yah tak bisa dihindari.
"Aku harus menjelaskan apa? Dan kau... Apa rapatnya tidak berjalan lancar? Kau tampak marah!"
Yuzen mendengus kesal. "Ya, seorang kepala bagian mengacaukan Demo gamenya dan membuat hal itu bocor ke media."
Wendy mengangguk kecil. "Dan kau ingin aku jadi pelampiasan? Kau marah bukan hanya karena kejadian club, tapi juga karena rapatmu."
Yuzen tersentak. Tapi rasanya sulit sekali memendam amarahnya. Rapat tadi membuat amarahnya meledak, apalagi dia awalnya memang sudah marah karena masalah Wendy. Kini rasanya dia ingin melampiaskannya pada sesuatu.
Yuzen mengacak rambutnya kesal. Lalu memilih berbalik dan berjalan keluar. Lebih baik dia menenangkan diri terlebih dahulu atau seperti kata Wendy, gadis itu akan jadi pelampiasan.
__ADS_1
Tapi Wendy yang melihat Yuzen berjalan keluar segera bangkit dan berlari untuk menahan pria itu. Wendy mungkin akan menyesali ini, tapi dia ingin masalah ini segera selesai. Dia bukan pengecut yang mundur dari perangnya.
"Aku akan menjelaskannya sekarang atau tidak sama sekali! Aku tidak ingin lebih lama dibenci olehmu."
"Aku tidak membencimu!"
"Tapi kau marah karena ciuman itu."
Yuzen menggeram kesal. "Tentu saja. Kau milikku, berani sekali mereka menyentuhmu."
Wendy memutar matanya malas.
"Tapi lebih baik nanti saja. Aku ingin mendinginkan kepalaku." Lanjut Yuzen.
Tapi sebelum pria itu bergerak, Wendy sudah menarik wajah pria itu dan mencium bibir Sang pria dengan lembut. "Apa ciuman bisa mendinginkan kepalamu?"
Yuzen mengerjap. Lalu matanya menatap intens Wendy. "Tidak. Tidak jika hanya satu ciuman."
"Ck."
Yuzen mengangkat Wendy. Mengarahkan gadis itu untuk melingkarkan kakinya dipinggang Yuzen. Yuzen berjalan perlahan sambil menggendong Wendy di pinggangnya. Ciuman mereka masih berlangsung dengan membara. Hingga kemudian pria itu menghempaskan Sang gadis disofa dengan lembut.
Pria itu sejenak menatap Wendy. Lalu duduk disofa, sejenak pria itu kembali mengangkat Wendy dan mendudukkan gadis itu dipangkuannya.
"Kau memancingku, sayang."
Wendy terkekeh. "Kau yang gampang terpancing. Jadi apa kau terpancing untuk melakukannya?" Wendy tersenyum lebar. Sejak dulu dia selalu ingin Yuzen melakukannya, bercinta dengannya. Dia penasaran, tapi alasan utamanya adalah Yuzen yang selalu tampak kesakitan karena menahan hasratnya. Pria itu berprinsip teguh untuk tak merusaknya sebelum benar-benar sah. Pria aneh, itu menurut Wendy.
"Ya." Mata Yuzen tampak sayu. "Kau menggodaku."
"Hem... Apa kau sudah melakukannya dengan Wanda?" Tanya Wendy basa-basi. Padahal sebenarnya dia tahu.
"Tidak. Tapi aku beberapa kali mandi bersamanya."
__ADS_1
Yuzen kembali mencium bibir Wendy.
"Jadi, Wendy... Apa yang kau lakukan waktu di club itu?"
Yuzen berusaha mengalihkan rasa marahnya. Meski kabut gairah melingkupinya, rasa marah itu tetap terasa. Pria itu sekuat tenaga menahan tangannya agar tak menyentuh Wendy lebih. Meski agak susah dengan Wendy yang bersikap open padanya.
"Kami... Kami hanya ciuman. Itu saja. Yah meski tangan kami saling meraba dari luar baju. Itu saja. Aku tidak mabuk kok. Bahkan tidak minum. Kecuali hari ketiga." Wendy sedikit tergagap mendengar pertanyaan to the point Yuzen. Takut jika pria itu tiba-tiba meledak marah.
Yuzen mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan kilatan marah. "Kau mabuk?"
"Ha-hanya dihari ketiga. Dan aku langsung tenggelam dalam kegelapan karena terlalu mabuk, saat itu aku sedang mencium seorang pria. Wanda sadar dan mengambil alih, dan yah gadis itu pingsan langsung karena kaget dia terbangun dengan seorang pria asing menciumnya. Lalu, karena tidak ingin terjadi apa-apa. Aku merebut tubuhnya lagi. Dan segera keluar dari club dengan keadaan mabuk. Yah meski begitu aku selamat sampai rumah. Setelah itu Wanda hanya menganggap malam itu hanya sebuah mimpi buruk. Selesai."
Amarah Yuzen tidak mereda. Bahkan dia punya alasan baru untuk marah. "Kau melibatkan Wanda!"
"Y-ya... Maafkan aku."
Yuzen menggeram. Dia agak jengkel dengan tingkah Wendy yang selalu bertindak tanpa berpikir. Pria itu mendesah keras. Memindahkan Wendy dari atas pangkuannya dan berjalan ke arah jendela besar dibalik meja kerjanya.
"Lanjutkan sayang. Kenapa kau melakukan semua itu." Suara Yuzen tertahan dan matanya sama sekali tak memandang Wendy yang ikut bangkit dari sofa.
"A-aku...." Wendy berusaha mengatur nafasnya. "Aku berusaha mengalihkan rasa frustasiku karena telah menusukmu. Aku marah padamu tapi aku juga kesal karena diriku sanggup menusukmu. Aku... Berusaha mencari pelampiasan. Tapi setelah melibatkan Wanda, aku memilih tidak datang lagi ke club. Dan bersembunyi dalam sisi hati Wanda tanpa berniat muncul jika tidak dalam keadaan darurat."
Yuzen tersentak dan mengangkat kepalanya. Pria itu menatap Wendy dengan intens. Menilik wajah gadis itu yang tampak penuh rasa bersalah.
"Kau membuatku menginap dirumah sakit selama sebulan."
Wendy meringis merasa bersalah. Kemudian memilih berjalan menghampiri Yuzen dan memeluk pria itu dari belakang. Kedua tangan Yuzen pun terangkat dan mengelus punggung tangan Wendy yang tertaut diperutnya.
"Tapi aku memaafkanmu. Bahkan mungkin aku harusnya mendapatkan lebih dari tusukan itu."
Wendy semakin muram. tapi kemudian dengan gerakan secepat kilat dia meraih wajah Yuzen dan mengecup bibir pria itu. Hanya sebuah kecupan kecil. lalu berganti membenamkan wajahnya didada Yuzen.
"Pembicaraan ini sudah selesai. Bisakah kita lupakan saja?" bisik Wendy.
__ADS_1
Yuzen mengangguk. Merasa lega dan senang. Paling tidak Wendy bersikap jujur dan terbuka, meski tingkah laku gadis itu tetap salah. Pria itu mengelus rambut Wendy sayang.
Itu yang terakhir, setelah ini dia tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh gadisnya.