Psychopath Prince

Psychopath Prince
-44- Sahabat?


__ADS_3

“Kak Hanzel!”


Gadis itu melangkah dengan cepat dan akhirnya memilih berlari kecil saat melihat pria yang dipanggilnya tak menoleh sama sekali. Bukannya semakin dekat, jarak mereka semakin jauh. Kaki kecil gadis itu jelas-jelas kalah dengan kaki panjang pria itu. Perbedaan tinggi yang cukup jauh memang membawa perbedaan mencolok.


Gadis itu mendengus dan dengan jengkelnya berhenti. Dilepasnya sepatunya dan dengan sekuat tenaga dilemparkannya ke arah sang pria. Gadis itu mengomat-kamitkan doa dan berharap sepatunya mengenai pria itu.


Dan…


Tak!


Kena!


Pria itu berhenti dan menoleh tajam kearah sang gadis, dipungut nya sepatu yang baru saja menghantam kepalanya dan dengan kasar dilemparkannya sepatu itu ke dalam tong sampah sebelum kemudian melanjutkan jalannya lagi.


“Sepatuku! Kenapa kau membuang sepatuku?!” Pekik gadis itu. Dan dengan sebelah kaki yang nyeker, gadis itu berjalan ke arah tong sampah dimana sepatunya berada.


Melongok ke dalam tong sampah dan sedikit bersyukur karena tong sampah itu kosong dan tak ada sampah menjijikkan yang akan menempel ke sepatunya.


Syukurlah sepatu putihnya masih tampak bersih.


Gadis itu memakai lagi sepatunya dan kemudian berlari lagi ke arah pria tadi berjalan. Berlari cepat dan menerobos beberapa orang yang menghalangi jalannya. Lalu dia melihat lagi pria itu yang sedang berhenti di sisi koridor dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya tampak serius, dan entah kenapa setiap melihat wajah itu dia jadi kesal bukan main. Meski begitu, keterpesonaan masih memancar dari matanya.


Ayolah, siapa yang tak akan terpesona dengan seorang Hanzel?


Pria itu punya mata abu-abu paling indah. Belum lagi badannya yang jangkung dan wajah--sedikit--blasterannya. Meski tak setampan Yuzen, Hanzel tetap saja masuk kategori tampan.


Gadis itu berdiri di depan Hanzel dengan tatapan tajam, bibirnya bergerak ingin berbicara. Tapi sebelum suaranya keluar, pria itu mendengus dan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan untuk gadis dihadapannya agar diam.


“Jadi bagaimana, kau sudah memikirkan undangan pesta tuan Gregor? Pihak mereka mengundangmu di acara lelang amal mereka dan kau dipastikan harus hadir. Jikapun tidak hadir aku yang akan menggantikanmu. Pesta ini cukup penting, boss. Kau akan mewakili perusahanmu dan milik ayahmu.”


“.....”


“Oke boss. Sebaiknya kau tidak terlalu lama memonopoli gadismu.” Pria itu melirik gadis di depannya. “Aku lelah jadi buruan, kau tahu?”


Pria itu langsung menutup telponnya dan menatap gadis di depannya tajam. Mereka sama-sama melontarkan tatapan permusuhan. Sebelum kemudian si pria mendengus dan mulai berjalan lagi.


“Hey, Kak Hanzel! aku akan terus mengikutimu sebelum kau memberitahuku dimana Wanda! Kau kan teman kak Yuzen, pasti Wanda bersama kak Yuzen. Mereka sama-sama tidak masuk hampir 2 minggu ini.”


Hanzel memutar matanya.


Dia baru tahu ada jenis gadis seperti itu. Bagaimana bisa gadis itu masih betah saja menerornya dan mengikutinya kesana kemari hanya agar dia memberitahu dimana keberadaan Yuzen, terlebih Wanda. Hell, dia akan dibunuh boss-nya itu jika memberitahukan pada gadis itu. Yuzen tak ingin diganggu sama sekali soalnya.


“Kak Hanzel, apa kau bisu? Bisakah kau membalas semua ucapanku?!” Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, tak ayal gadis itu tak berhenti berlari-lari kecil mengikuti langkah Hanzel.


“Hmm… Lupakan saja. Sebentar lagi mereka juga akan masuk kuliah.”


Gadis itu berlari semakin cepat dan berhenti tepat didepan Hanzel. Tangannya terentang dan menghalangi pria itu untuk terus jalan.


“Benarkah?” Ucapnya tak percaya.

__ADS_1


Hanzel lagi-lagi memutar matanya.


“Ya. Aku tidak tahu dimana Yuzen  dan aku tidak akan memberikan alamat rumahnya padamu! Aku masih sayang nyawaku kau tahu?”


Gadis itu merenggut.


Dia juga tak ingin terus-menerus meneror Hanzel. Dia hanya ingin tahu dimana Wanda. Dia khawatir dengan gadis itu. Lagipula ayah Wanda juga khawatir. Pria paruh baya itu juga berpesan padanya jika Wanda masuk kuliah, dia harus mengabari pria paruh baya itu.


“Jadi nona Flo, sampai kapan kau akan menghalangi jalanku? Kau ingin aku buang air kecil disini? Ingin aku mempermalukan diriku disini? Kau tahu, aku ingin ke toilet!”


“Eh!” Flo berjengit. Lalu meringis mendengar bentakan Hanzel. Pria itu pasti kesal sekali padanya.


Flo langsung menyingkir dari jalan Hanzel dan hanya menatap pria itu yang kemudian masuk ke toilet pria tak jauh dari tempatnya berdiri.


Flo mengacak rambutnya kesal. Satu bagian hatinya kesal pada Hanzel yang masih saja tutup mulut. Tapi sisi lainnya kesal karena menghancurkan image-nya sendiri didepan pria tampan itu.


Ah… sudahlah.


✍👀✍


26/5 Monday. 09.40 A.m.


Postby MissBeuty


[Sent pic]


Berbahagialah kalian para fans kak Yuzen!


Hari ini pria itu masuk kuliah.


Jiwa fangirl kalian yang beberapa minggu ini tandus akan tersiram manisnya hujan bernama Yuzen lagi.


Astaga…


Jika kalian berada di parkiran tadi,


Kalian akan tahu betapa hebohnya para gadis!


Ugh, pokoknya siap-siap aja ngebucin sama ketampanan kak Yuzen.


Ps. Senyumnya malted banget!


Ps. (Lagi) Abaikan gadis disebelah kak Yuzen.


. .


..


Flo nyaris menyemburkan minumannya. Gadis itu buru-buru menelan minumannya dan meletakkan sendok di piring nasi gorengnya lagi. Diabaikannya menu makan siangnya dan kembali meneliti foto yang sudah diposting di media sosial kampus  sejak pagi tadi.

__ADS_1


Foto Yuzen dan Wanda di parkiran.


Flo buru-buru bangkit. Astaga, dia menyesal sekali telat mengecheck medsos kampus. Lihat, postingan itu bahkan sudah ada sejak beberapa jam lalu. Dengan cepat gadis itu meraih tasnya dan segera berjalan ke gedung jurusan Wanda.


Dia harus menemui sahabatnya yang bisa-bisanya menghilang itu. Kalau perlu dia akan beri pelajaran pada Yuzen yang berani menyembunyikan Wanda.


Demi apapun, sejak dia mengenal Wanda di kelas 2 SMA, tidak pernah sekalipun Wanda menghilang dari pandangannya! Bagaimana bisa gadis itu tidak menemuinua selama hampir 2 minggu ini? Apa dia sudah tidak dibutuhkan Wanda lagi? Apa dia sudah tidak berarti apa-apa? Persahabatan mereka kini hanyalah omong kosong? Dia harus meminta penjelasan pada Wanda.


Gadis itu melesat cepat, lalu bertanya sana sini akan keberadaan Wanda pada banyak orang. Hingga kemudian dia dituntun ke arah kantin jurusan Wanda.


Mengedarkan pandangannya, Flo menemukan gadis itu. Flo jengkel setengah mati, apalagi melihat bagaimana Wanda duduk berdua dengan Yuzen dan sedang bersantap ria. Tidaklah Wanda ingin memberinya setidaknya secuil kabar padanya terlebih dahulu?


Tapi gadis itu tak melakukannya!


Flo mendengus.


Dia berjalan pelan ke arah meja pasangan itu. Lalu berdiri di samping meja itu dan menatap Wanda dengan datar. Dia rindu dengan sahabatnya itu, tapi entah kenapa ego dirinya yang sedang kesal menang.


Flo hanya diam. Sampai kemudian Wanda sadar akan keberadaannya dan menoleh.


Gadis itu tersenyum padanya. Tapi Flo memilih terus berwajah datar.


“Apa aku sudah tidak dibutuhkan lagi?” Ujarnya datar. Tidak ada emosi yang beriak dari nadanya. “Kau tidak mengabariku sama sekali.”


Wanda sendiri hanya mengerjap. Tak pernah sekalipun dia melihat Flo seperti itu. Flo adalah pribadi yang baik, gadis itu bahkan selalu menolongnya dan bisa memahami dirinya.


“Tahukah kau bahwa aku khawatir karena kau menghilang tidak ada kabar?”


Flo menarik nafasnya lelah.


“Sudahlah. Kau sudah punya kak Yuzen. Tidak ada lagi tempat untukku.”


Dan Flo memilih berbalik. Pergi secepat mungkin tanpa ingin tahu bagaimana reaksi Wanda. Dia kecewa. Dan dia juga takut. Kenyataan bahwa dia tak menjadi tempat terpenting bagi sahabatnya lagi membuatnya down.


Apalagi kenyataan bahwa hanya dirinyalah yang khawatir seperti orang bodoh.


Wanda?


Gadis itu ternyata sangat bersenang-senang dengan Yuzen.


Tidak.


Flo tidak benci Wanda yang berpacaran dengan Yuzen. Dia hanya… hanya merasa tak dianggap lagi


✍👀✍


Update selanjutnya?


InsyaAllah besok malam ya... ♡´・ᴗ・`♡

__ADS_1


__ADS_2