
Pria bermanik abu-abu itu menatap pria didepannya dengan jenaka. Lalu kembali mengalihkan tatapannya pada sepasang sahabat yang masih mengantri makanan jauh di depan sana.
"Hey bos, kau menatapnya seakan dia makanan."
Manik hitam kelam Yuzen menoleh tajam pada Hanzel lalu kembali lagi menatap pada gadisnya yang masih berdiri didepan sana dengan Flo sahabatnya. Pria itu mendesah. Lalu seakan tersadar, pria itu menatap sekeliling kantin dengan tatapan ingin membunuh.
"Dan sekarang kau menatap semua pria dengan niat membunuh." Desah Hanzel yang paham apa yang sedang dipikirkan pria dihadapannya. "Lagipula semua orang punya mata untuk melihat. Tidak ada yang salah dengan melihat Wanda. Toh hanya sekedar melihat." Ujarnya santai dan kembali memakan bakso yang masih tersisa di mangkuknya.
"Aku ingin mencabik-cabikmu." Yuzen berujar sarkas. Kesal sekali dengan ucapan Hanzel.
"Silahkan saja. Tapi aku jamin kau tidak akan punya asisten sehandal aku lagi dan bisa menjaga rahasiamu dengan aman." Hanzel menampilkan smirk-nya dengan ekspresi jenaka. Senang sekali bisa menggoda pria dihadapannya.
"Brengsek."
Lalu Hanzel tertawa keras. Pria itu menggeleng pelan, tak menyangka dia bisa menggoda seorang Yuzen. Baru kali ini dia melihat Yuzen benar-benar melirik seorang gadis sejak mereka saling kenal saat memasuki kuliah. Meskipun dia tahu Yuzen menyukai Wanda sejak SMA. Tapi kan dia belum kenal Yuzen saat itu.
Seakan teringat sesuatu, Hanzel merogoh tasnya dan memberikan sebuah map pada Yuzen.
"Aku sudah menyelidikinya. Wah tak kuduga mereka semua punya sesuatu yang bisa menjelekkan nama mereka masing-masing. Aku sudah menyadap banyak CCTV dan kau tak akan menduga berapa banyak yang kutemukan dalam semalam."
Yuzen mengangkat alisnya tertarik. Pria itu membuka map dan mulai membaca satu per satu.
Pria itu tersenyum sinis kemudian dan kembali menutup map itu setelah selesai membaca. Dilempar nya kembali map itu dan memberikan sebuah cek pada Hanzel. "Bonus untukmu. Terimakasih telah lembur semalaman."
"Owh tidak masalah bos. Apalagi kalau ada bonusnya." Pria itu tertawa senang lalu memasukkan cek itu ke dalam tasnya. "Ngomong-ngomong aku tak menyangka bahwa Rena yang paling populer dikalangan anak baru itu bahkan suka jalan dengan om-om. Mengerikan sekali."
"Hm."
"Dan kau tahu video - video yang ku upload subuh-subuh tadi di sosmed kampus langsung trending. Berita tentang kekasihmu langsung tenggelam begitu saja. Kau tega juga ya bos. Padahal mereka hanya menatap kekasihmu tidak suka dan sinis kau membalas mereka berkali-kali lipat."
Semalam Hanzel ditelpon oleh bosnya itu--Yuzen--dan diberikan tugas untuk mencari bukti-bukti keburukan beberapa mahasiswi untuk disebarkan ke sosmed kampus. Hanzel pun hanya menjalankan tugasnya dan meretas akun-akun milik mahasiswi yang dimaksud. Tidak hanya itu, dia bahkan menyadap ponsel dan CCTV disekitar mereka dengan berbagai cara. Dan tada, 6 mahasiswi yang ditargetkan ternyata bukan gadis baik-baik. Hanzel pun tidak menyangka.
"Mereka membuat Wanda tidak nyaman dikelas. Tidak hanya itu. Mereka menyebarkan rumor tidak baik tentang Wanda disosmed kampus."
Hanzel hanya mengangkat bahunya tidak peduli. "Kau benar-benar berbahaya saat jatuh cinta, bos. Jadi bagaimana dengan gadis botol itu? Kau belum melakukan apa-apa padanya."
"Dia ketua salah satu fansclub-ku."
"Lalu?"
"Dia akan melakukan kesalahan lain karena terlalu terobsesi padaku."
"Dan?"
"Aku sedang menunggu kesalahan selanjutnya." Yuzen kembali menatap kearah Wanda yang sepertinya selesai memesan dengan bibir yang memamerkan smirk kejam. Lalu menoleh lagi sejenak pada Hanzel, menatap pria itu penuh arti.
Hanzel yang ditatap seperti itu pun merasa merinding. Karena dia tahu kemana arah jalan pikiran Yuzen. Semakin parah seseorang membuat kesalahan dimatanya, maka semakin parah juga pembalasan yang diberikan Yuzen. Dia hanya berharap gadis yang pernah melempar botol pada Wanda itu tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Yuzen marah. Oh seandainya mereka tahu betapa berbahayanya pria dihadapannya.
"Wanda, duduk disini!"
Lamunan Hanzel buyar saat mendengar suara lantang Yuzen. Pria itu melambai kecil dan tersenyum manis ke arah Wanda. Semua gadis di kantin yang melihat senyum Yuzen pun meleleh. Membuat Hanzel memutar matanya malas. Benar-benar akting yang menakjubkan, pikirnya.
Wanda yang ditatap dengan senyuman seperti itu pun membeku sejenak. Mungkin hanya dia yang melihat senyum Yuzen dengan maksud lain. Bagi semua orang termasuk Flo di sampingnya, senyum Yuzen sungguh manis memikat hati. Tapi baginya senyum itu seakan berkata, kemari atau kau tahu akibatnya jika membantah. Owh mengerikan sekali!
Senyum manis yang memuakkan!
Wanda akhirnya menyerah dan memilih mengikuti kemauan pria itu. Dia tidak ingin membuat masalah di depan umum. Apalagi dihadapan para wanita pemuja Yuzen.
Flo pun menyikutnya. "Aku masih tidak menyangka kau benar-benar pacaran dengan kak Yuzen. Padahal waktu itu kau bilang tidak akan berurusan dengannya. Bullshit sekali sayang." Flo tersenyum mengejek membuat Wanda mencebikkan bibirnya tak Terima.
Andai saja Flo tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti gadis itu akan terkaget-kaget dengan kegilaan seorang Yuzen yang dikaguminya itu. Cih.
Wanda mendudukkan dirinya 2 kursi disamping Yuzen sedangkan Flo duduk tepat disamping pria yang tak Wanda kenali itu. Disisi lain, Flo yang menatap tingkah sahabatnya pun hanya menggeleng kecil. Dia tahu tabiat sahabatnya yang tak suka orang asing. Tapi buka kah Yuzen kekasihnya?
Atu jangan-jangan....
"Jadi kalian benar-benar pacaran. Maksudku, kak Yuzen dengan.... Dia?" Flo tak bisa membendung rasa penasarannya, telunjuknya menunjuk pada Wanda dengan ekspresi tak percaya. Bahkan dia masih tak menyangka bisa duduk sedekat ini dengan pria paling populer di kampus.
"Ya. Ada yang salah?" Tanya Yuzen. Pria itu memasang senyumnya dengan ekspresi ramah. Lalu menarik Wanda paksa agar duduk tepat disampingnya.
Wanda memalingkan wajahnya kesal. sedangkan Hanzel mendengus pelan saat melihat senyum itu. Sepertinya dia meja ini hanya Flo-lah yang buta tak tahu apapun.
"Tidak. Melihat sikap Wanda dan rekornya yang tak pernah pacaran.... Apa kak Yuzen yang menembak Wanda?"
Wanda menggumam tak jelas dengan suara kecil. Tangan mungilnya memainkan garpu dan mengaduk-aduk mie gorengnya dengan kesal. Dia tak suka duduk disini dan dia juga tak ingin Flo dekat - dekat dengan pria gila itu. Bisa bahaya nanti.
Yuzen yang mendengar itu terkekeh kecil. Lalu menopang wajahnya dengan senyum ceria. "Ya. Karena aku sangat mencintainya jadi aku mendekatinya. Tak peduli bagaimana pun reaksinya."
__ADS_1
Flo mendekap mulutnya cepat-cepat agar teriakan histerisnya tak keluar. Dia menatap Wanda dan Yuzen bergantian lalu menghentak-hentakkan kakinya dibawah meja dengan ekspresi histeris luar biasa. Astaga, dia ikut bahagia jika sahabatnya bisa mendapatkan pria populer nan baik itu. Flo masih tak menyangka bahwa sahabatnya bisa mendapatkan pria itu. Apalagi ungkapan cintanya yang blak-blakan.
Sedangkan Wanda membulatkan matanya tak percaya akan ucapan pria itu.
Cinta katanya?
Kalau memang iya, cinta pria itu mengerikan sekali. Bukannya pria itu hanya sedang gila dan perlu pemeriksaan otak? Takutnya otak pria itu sedang tidak sehat melihat tingkah lakunya selama ini. Wanda saja tak mengerti kenapa pria seperti Yuzen terlihat terobsesi padanya. Atau ada maksud lain?
Dia tak percaya kata cinta dari mulut pria gila itu.
Hah, tak bisa dipercaya sama sekali. Jangan harap dia akan luluh dengan ungkapan sampah seperti itu.
"Makan." Perintah Yuzen saat melihat Wanda hanya mengaduk-aduk mie-nya.
Wanda menunduk menatap mie-nya. Lalu memakannya dengan cepat. Semakin cepat dia makan semakin cepat dia pergi dari sini. Yuzen masih saja membuatnya merinding.
"Kau lapar apa memang doyan?" Hanzel mengernyit jijik melihat cara makan Wanda yang terlalu cepat. Belum habis di mulutnya, Wanda bahkan memasukkan kembali mie ke dalam mulutnya. Membuat mulutnya senantiasa penuh.
Flo yang melihat hanya menggeleng. Tahu sekali maksud gadis itu makan cepat-cepat.
Wanda tak menyahut. Sedangkan Flo menoleh kearah Hanzel. Baru sadar jika pria itu duduk disebelahnya.
"Kakak siapa?"
Hanzel menoleh ke samping. Mengernyit dan berdecak saat melihat Flo mulai mengulurkan tangannya.
"Namaku Florence Melati. Panggil saja Flo. Nama kakak siapa? Sepertinya aku pernah beberapa kali melihat kakak dengan kak Yuzen."
"Hanzel." Jawab Hanzel singkat. "Satu jurusan dan angkatan dengan si raja senyum itu." Ujarnya menyindir kearah Yuzen.
Yuzen sendiri sedang sibuk memperhatikan Wanda yang makan terlalu cepat. Pria itu mendesah dan tangannya terangkat mengelus puncak kepala sang gadis. "Makanlah pelan-pelan."
Wanda tak menjawab. Dan masih terus menyuapi makanannya. Saat suapan terakhir masuk ke mulutnya, gadis itu segera berdiri.
"Aku pergi. Sebentar lagi kelasku mulai." Ujarnya cepat-cepat dengan mulut yang penuh. Dan gadis itu langsung berlari meninggalkan kantin. Membuat ketiga orang itu terpaku dengan pandangan berbeda ditempatnya.
"Kekasihmu aneh sekali, bos." Hanzel menggaruk belakang kepalanya.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Wanda berhenti berlari tepat didepan gedung olahraga. Nafasnya ngos-ngosan dan perutnya sedikit sakit karena tadi langsung berlari setelah makan. Astaga Wanda lupa jika Flo dan Yuzen satu jurusan. Jadi mereka pasti makan dikantin gedung jurusan mereka. Wanda tidak mau lagi pergi ke gedung jurusan Flo. Tidak akan. Lebih baik dia mati kelaparan, kecuali Flo mau mentraktirnya makan ditempat lain selain kantin jurusannya.
Dia ingin mandi, tadi pagi dia belum mandi karena malas. Dan hanya bagian pembilasan gedung olahraga yang bisa dipakai mandi dan ada air hangatnya. Menyenangkan sekali membayangkan air hangat menerpa kulitnya. Tak peduli bahwa matahari sedang terik-teriknya. Dia sudah bosan mandi air dingin.
Wanda memasuki ruang ganti wanita yang langsung terhubung dengan pembilasan khusus Wanita.
Tapi saat membuka pintu ruang ganti, gadis itu membeku ditempat.
"Siapa kau?"
"Dia bukan anak cheers, kan?"
"Eh bukankah dia, gadis yang waktu itu?"
"Yang mana?"
"Yang sama Yuzen."
"Kekasih Yuzen maksudmu?"
"Jadi dia kekasih kak Yuzen?"
"MINGGIR SEMUANYA!"
Dan kerumunan itu terbelah begitu saja menampilkan seorang gadis cantik dengan dandanan tebalnya. Sepertinya mereka semua baru berganti pakaian. Dari seragamnya, Wanda tahu jika mereka anak Cheers. Ah, bukankah nanti sore ada pertandingan basket antar kampus. Kampus mereka jadi tuan rumahnya. Pantas saja.
Lalu....
"Berani sekali kau kemari ******."
Wanda mengernyit saat mendengar kata-kata itu. Siapa gadis itu?
"Tapi tidak masalah. Aku jadi tidak perlu susah payah mencarimu. Sepertinya kau ingin diberi pelajaran sekarang. " SEMUANYA YANG TIDAK ADA URUSAN KELUAR SEKARANG!" Teriak gadis itu lantang. Beberapa orang langsung berhamburan keluar dan menyisahkan 5 gadis didalam sana termasuk Wanda. Sepertinya ke-4 gadis itu senior dan paling ditakuti di club Cheers.
"Wow ****** ini sepertinya benar-benar cari mati." Si rambut pendek
"Heran deh. Apa sih yang Yuzen suka dari dia." Gadis itu mengibaskan rambut coklatnya.
__ADS_1
"Gak tau diri." Ucap yang lainnya.
Sedangkan seseorang yang berbicara padanya tadi semakin maju ke depan dan langsung mencengkram rambutnya. Menyeret Wanda hingga kemudian dilempar nya menabrak deretan loker dipojok ruangan. Wanda jatuh terduduk karena lemas.
Astaga, Wanda tidak kenal gadis itu. Sepertinya, dari ucapan mereka semua. Mereka adalah fans si pria gila itu.
Ah tamat riwayatnya. Dia salah pilih jadwal mandi.
"Sebagai ketua fansclub Yuzen, kau harus diberi pelajaran. Berani-beraninya menggoda Yuzen. Gak tau diri sekali dasar jelek."
"AKKKHHHH!!!"
Wanda berteriak keras saat gadis dihadapannya menginjak telapak tangannya keras dengan sepatu yang dikenakannya. Tiga gadis lainnya tertawa keras mendengar jeritan itu. Siapapun yang berada di atas garis keras fans Yuzen, tentu saja tidak akan suka dengannya.
"Putuskan Yuzen dan jangan dekat - dekat dengannya. Dengar?"
Wanda masih berteriak mengadu sakit. Memohon untuk melepaskan tangannya. Tapi Viola, sang pelaku penginjakan tak memberi ampun sama sekali. Bahkan gadis itu menggerak-gerakkan kakinya semakin menekan telapak tangan Wanda.
"Ambil gunting." Titah Viola.
Salah satu gadis disana segera berlari menuju lokernya dan menyerahkan gunting itu pada Viola. Tapi Viola menggeleng dan menunjuk Wanda dengan dagunya.
"Kau gunting rambutnya."
Gadis yang mengambil gunting itu menyeringai. Tampak senang jika dia bisa ikut ambil bagian dalam menyiksa gadis yang berani-beraninya mengambil idolanya. Dengan cepat gadis itu berjongkok disebelah Wanda dengan gunting siap memotong rambut gadis itu.
Wanda memberontak semakin keras. Tangannya yang satunya bergerak bebas mendorong gadis yang berjongkok itu hingga jatuh terduduk ke belakang.
"Dasar ******." Geram gadis yang memegang gunting itu lalu menampar Wanda keras di pipinya.
Wanda terdiam.
Tangannya terangkat mengusap pipinya yang terasa perih. Lalu gadis itu berteriak lagi saat Viola menggerakkan kakinya keras ke telapak tangan kanan Wanda.
Dua orang yang masih berdiri asik menyaksikan, segera maju dan mulai mencekal tangan Wanda yang bebas dan satunya menarik rambut Wanda.
"Potong."
"Tidak... Tidak... Kumohon jangan dipotong!!!" Wanda berontak. Meskipun dia jarang memperhatikan rambutnya, tapi dia sangat suka rambut panjangnya. Alasan konyol sebenarnya, dia hanya suka saat rambu panjangnya bisa menutupi wajahnya saat dia diam-diam tertidur di kelas. "Kumohon!!!"
Crasssh.
Wanda melotot tak percaya. Rambut panjangnya jatuh begitu saja.
Crashhhh.
Lagi. Tidak hanya satu kali. Rambutnya terpotong jadi tidak beraturan.
Wanda berusaha menggeleng keras untuk menghalau gunting itu semakin banyak memotong rambutnya.
Tapi kemudian kepalanya dipukul begitu saja dengan sepatu hingga kepalanya menghantam loker dibelakangnya.
Viola sang pelaku menyeringai. Lalu memakai lagi sepatunya yang tadi dilepaskannya. Kaki satunya yang masih menginjak tangan kanan Wanda diangkatnya dan memandang gadis itu jijik.
"Kau pasti menjual tubuhmu pada Yuzen. Menyedihkan sekali. Kurasa kau suka pamer tubuh." Decak Viola. Gadis itu menatap sang pembawa gunting. "Gunting bajunya. Buat dia senang karena bisa memamerkan tubuhnya."
Wanda hanya diam saat bajunya perlahan digunting hingga tak berbentuk. Celana jeans-nya bahkan ikut tergunting. Dia mirip orang gila dijalanan sekarang.
Tapi Wanda tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing bukan main dan dia dapat merasakan kepalanya yang dialiri cairan amis.
Dia berdarah.
Pukulan sepatu tadi memang keras sekali. Matanya bahkan berkunang-kunang.
Hingga... Kegelapan berusaha merenggut nya secara paksa. Seakan seseorang sedang memaksanya untuk segera tidur.
Wanda menggeleng berusaha untuk tetap sadar. Tapi tak bisa, perlahan dia mulai terlelap semakin dalam. Dan mulai tak sadarkan diri.
Ke-4 gadis itu tertawa senang. Dan menoel-noel pelan tubuh Wanda yang tak sadarkan diri.
Namun, hanya butuh 10 detik. Saat mata itu kembali terbuka dengan sorot bengis yang penuh hasrat membunuh.
"Kalian..." Suara itu begitu dalam penuh ambisi. Bangkit berdiri dan mendorong ke-4 gadis itu hingga terjatuh. "Berani sekali bermain-main dengan Wanda."
Gadis itu menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri seakan sedang pemanasan. Tak dipungkiri kepalanya sakit karena hantaman tadi. Dan dia benar-benar ingin membunuh ke-4 gadis dihadapannya.
"Sialan. Dasar ******, berani sekali kau melawan." Viola melayangkan tangannya hendak menampar Wanda. Tapi Wanda segera menangkap tangan itu dengan satu tangan. Dan tangan yang lainnya secepat kilat balas menampar pipi Viola keras hingga bibir gadis itu berdarah.
__ADS_1
"Hari ini, hari pembalasan untuk kalian. Jadi biar ku perkenalkan diriku." Wanda menyeringai lebar. "Aku, Wendy, akan menghukum kalian atas tindakan keji kalian."