
Kedua pria itu duduk saling berhadapan. Tak ada yang berbicara sejak sejam lalu. Hanya ada suara berkas-berkas yang dibalik dan ketikan di laptop. Kedua pria itu menginjak umur 27 tahun ini, tapi sikap mereka masih sangat labil.
Lihat saja, diluar keseriusan mereka yang saling bekerja keras, mereka tipe pria labil yang masih bersenang-senang dalam hidup. Yang satu seorang kepala keluarga yang suka selingkuh dan yang satu pria aneh yang bergonta-ganti pacar karena tidak bisa move on. Meski begitu, jika tak didesak keadaan, kedua pria itu adalah tipe pria setia. Sayangnya cinta tak memihak masing-masing dari mereka.
“Kau tahu, aku ingin bercerai.” Suara Beni menginterupsi. Pria itu melempar berkasnya ke meja tanpa peduli lagi keadaan kertas-kertas itu. Beban hidup ditambah berkas yang menumpuk membuatnya pusing.
“Kalau begitu tinggal bercerai. Bukankah kau ingin menikahi Nadia?” Pangestu berusaha menyembunyikan nada sedihnya sebaik mungkin. Pangestu tidak mengerti dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mencintai seorang gadis milik sahabatnya? Seorang gadis yang rela ditiduri dan menjadi selingkuhan sahabatnya? Ini tidak masuk akal. Tapi toh konsep cinta memang tak masuk akal.
“Kini masalah semakin rumit, kau tahu? Rere Hamil lagi. Kemarin gadis itu jatuh pingsan dan aku membawanya ke rumah sakit. Dan tadaaa dokter sialan itu menyatakan Rere hamil.”
Pangestu mendengus. Membenamkan ekspresi senangnya sedalam mungkin. “Kau memang pria brengsek. Jika kau tidak ingin Rere hamil pakai pengaman. Atau lebih baik jangan tiduri dia!” Pangestu setengah jengkel saat melihat sifat sahabatnya. Tapi dalam hati dia bersorak. Bukankah ini berarti dia masih punya kesempatan merebut Nadia?
Ah… tidak!
Dia tak boleh jadi ******** perebut kekasih sahabatnya.
Tapi… kan… .
Ah tidak!
Sisi baik dan jahat mulai bertengkar di dalam kepala Pangestu.
“Ck, kau tahu, kucing jika dikasih ikan asin tetap melahap dengan senang hati. Pengaman paling bagus kadang pun kebobolan juga.”
“Kau memang kucing kampung.” Decak Pangestu.
Beni mengacak rambutnya. Dia ingin bercerai. Dia memang tak ada masalah hidup dengan Rere, istrinya. Tapi dia juga ingin menikahi Nadia. Sebenarnya rumah tangganya baik-baik saja, tidak ada yang kurang dari Rere. Dia bahkan punya putra yang lucu. Tapi rasanya dia tak puas jika tidak menikahi Nadia.
“Apa kau tak punya solusi? Sesekali beri aku ide!”
Pangestu menatap Beni sejenak. Lalu memantapkan dirinya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. “Lupakan Nadia. Kau akan punya anak kedua sekarang. Jadi, hiduplah sebagai suami dan ayah yang baik. Apa kau tak memikirkan nasib Yuzen?”
Tak!
Dan sebuah mouse melayang ke kepala Pangestu.
“Brengsek.”
“Kau mencoba menjadi orang bijak, bung? Jangan sok menasehati di depanku. Lihat dirimu. Kau sama brengseknya. Dan itu bukan solusi!”
“Hah!” Pangestu mendengus kasar. “Itu hanya pemikiranku sekarang. Lalu apa? Kau ingin menyuruh Rere menggugurkan anaknya agar bisa bercerai dengannya? Kau setega itu membunuh darah dagingmu?!”
Beni menelan ludahnya susah payah. Konsep membunuh calon anaknya adalah hal paling menjijikkan yang bisa dipikirkan Beni. Tapi itu satu-satunya cara.
Tidak…
__ADS_1
Ada satu cara lagi.
“Menurutmu jika aku menceraikan Rere setelah dia melahirkan, bagaimana? Apa Nadia mau menunggu sedikit lagi?”
Kali ini Pangestu balik melemparkan Mouse yang tadi dilemparkan Beni ke kepala pria itu.
“Kau serius?!” Tanya Pangestu tak percaya. “Kau ingin meninggalkan anakmu yang baru lahir?”
“Aku kan masih bisa mengunjunginya. Lagipula aku akan tetap memberi mereka nafkah.”
Pangestu tak tahu, sejak kapan sahabatnya menjadi sebrengsek ini. Entah apa yang merasuki pria itu. Sejak menginjak dunia kerja, pria itu perlahan berubah. Sedikit demi sedikit sifat baiknya terkikis dan tertutupi niatan licik yang tak ada duanya. Beni benar-benar sosok yang berbeda kini. Tapi yah mereka masih tetap sahabat.
“Ah, bukankah aku bisa menikahi Nadia secara sirih dulu? Menikah diam-diam. Lalu aku akan mempublikasikannya setelah bercerai dengan Nadia setahun kemudian.”
Pangestu tercengang.
Benar-benar, Beni sudah tak tertolong lagi.
Kemudian Pangestu memilih mengabaikan Beni dan balik fokus pada pekerjaannya. Dia bisa ikutan stres mendengarkan Beni berbicara.
✍👀✍
Gadis itu terduduk di ranjang king size-nya dengan seorang balita 2 tahun yang sedang bermain lego disebelahnya. Gadis itu mengabaikan putranya sejenak dan menatap ponsel di tangannya dengan pandangan kosong.
Hari ini ulang tahun Yuzen ke-2 tahun. Tapi suaminya bahkan tidak ada kabar sejak pergi ke kantor tadi pagi. Sudah jam 8 malam. Tapi tak satupun telpon dan pesannya yang disambut. Padahal, beberapa hari lalu suaminya berjanji akan membawa mereka makan malam diluar dan merayakan ulang tahun Yuzen. Bahkan suaminya juga berjanji akan memberikan banyak hadiah pada Yuzen. Tapi hingga jam 8 malam, tak ada kabar sama sekali dari suaminya.
Rere mendesah lelah. Lalu mengelus perutnya yang sudah hamil 4 bulan. Gadis itu semakin merasa sedih saat menatap perutnya. Anak di dalam perutnya tak diharapkan suaminya. Dia tahu, tahu semuanya.
Dia bukan gadis bodoh.
Dia lahir di tengah keluarga Broken Home yang kaya raya. Perpisahan orang tuanya saat dia menginjak bangku SMP, memberinya banyak pelajaran. Dia mulai berhati-hati dalam segala hal dan memperhitungkan sebab akibat dari semua yang terjadi. Jadi, tak mungkin dia tak sadar dengan sikap Beni. Dia sadar, bahkan sejak mereka baru dijodohkan.
Tapi toh, dia tetap tak bisa menolak. Meski Beni tak menginginkannya, meski Setelah menikah Beni masih mengkhianatinya, meski dalam otak Beni kini terukir berbagai cara agar bisa menceraikannya, dia tetap tak menyesal menikahi Beni. Dia memang tidak Bodoh, tapi idiot.
Dia menyukai Beni saat pria itu menolongnya dibangku Universitas. Cinta yang tumbuh karena kebaikan Beni. Cinta yang tumbuh begitu saja meski mereka tak saling kenal. Dan akhirnya dia egois, dia meminta orang tuanya menjodohkannya dengan Beni. Ayahnya yang merupakan seorang pebisnis ternama dan ibunya seorang anggota DPR. Siapa yang akan menolaknya sebagai menantu? Itulah yang dilakukan orang tua Beni saat ayah dan ibunya yang bercerai bersatu untuk mengajukan perjodohan pada orang tua Beni. Orang tuanya yang merasa bersalah karena membuatnya hidup dalam lingkungan Broken Home, memang selalu menuruti apapun kemauannya.
Dan begitulah.
Mereka menikah. Dan Rere tak peduli jika suaminya selalu berselingkuh. Menyedihkan memang.
Lalu lamunan Rere buyar saat ponselnya berbunyi,
Rere buru-buru mengangkatnya dan tanpa sadar menahan nafasnya.
“Nyonya Rere…”
__ADS_1
Rere kecewa. Dia kira suaminya, ternyata bukan. Seharusnya dia mengecek ID caller-nya.
“Ada apa, Ref?” Jawabnya pada pria diseberang sana. Itu adalah seseorang yang dia bayar agar senantiasa mengikuti kemanapun suaminya pergi tanpa ketahuan.
“Ayah anda sedang rapat di sebuah hotel. Dan kebetulan hotel itu tempat tuan mengajak selingkuhannya. Ayah anda memergoki mereka saat hendak masuk ke dalam lift. Kini, situasinya tak terkendali. Ayah anda mengamuk di lobi hotel.”
Rere menahan nafasnya sekali lagi. Kini diiringi shock.
“Hotel mana?”
“Hotel Paradian.”
Rere segera menutup telponnya lalu bergegas berdiri.
Dia sejenak menatapi Yuzen yang masih asik bermain. Tapi anak itu kemudian ikut mendongak dan menatapnya dengan tatapan bertanya.
“Mama au ke ana?” Bocah itu berbicara dengan lancar, meski masih banyak kata yang kurang jelas. Sebagai anak yang baru menginjak usia 2 tahun, perkembangan Yuzen memang luar biasa. Anak itu sudah mengerti banyak hal.
“Ikut mama mau?”
Yuzen kecil menatap mama-nya lalu kembali menatap lego nya sejenak sebelum kemudian dia mengangguk dan mulai menyingkirkan lego nya agar bisa turun dari ranjang.
Rere ingin meninggalkan Yuzen dirumah sebenarnya. Tapi dia terlalu takut meninggalkan Yuzen tanpa pengawasannya. Karena beberapa hari lalu, Yuzen nyaris diculik baby sitternya sendiri. Rere jadi terlalu parno meninggalkan Yuzen pada para pekerja dirumah.
Rere mendesah dan kemudian memanggil kepala pelayan Ahn.
Dia ingin kepala pelayan Ahn ikut dengannya sehingga pria itu bisa menjaga Yuzen saat dia nanti berusaha melerai ayah dan suaminya. Paling tidak, dia bisa percaya pada kepala pelayan Ahn yang sudah bekerja dengan keluarganya sejak lama.
Dan malam itu, Rere tidak tahu. Bahwa malam itu akan jadi malam yang tragis.
✍👀✍
Hai semua...
maaf update nya telat sehari. Aku gak sadar kalau udah bulan Mei. Efek Libur, tanggal pun lupa.
Maaf ya, kalau masih Secret Chapter. Pasti pada kangen Yuzen kan? iya kan?
Hayo ngaku....
Gak kangen? 😱
Yaudah Yuzen nya aku simpen lagi deh.
Sahur nanti kita update lagi gimana? Satu Secret Chapter lagi ya....
__ADS_1
Habis itu kita fokus ke Yuzen dan Wanda yang bikin greget uhuyyyy.....