Psychopath Prince

Psychopath Prince
-Secret Chapter- Pertemuan Pertama


__ADS_3

Author Note:


Hallo....


Chapter dengan judul Secret Chapter itu khusus part Flashback ya....


Terimakasih ☺


Jangan lupa like-nya ya. Dan berkenan meninggalkan komentar^^


Oh satu lagi tolong bantu vote-nya dong hehehe...


Maruk ya?


gpplah ya.... Namanya juga usaha. 😂


✍👀✍


Usianya baru 10 tahun.


Tapi kepahitan hidup telah menerjangnya dengan sangat sadis. Menyembunyikan lukanya, menyembunyikan bagaimana kegilaan otaknya yang trauma.


Namanya, Yuzenno Wangsadinata.


Dalam kurun 10 tahun ini kejadian mengerikan sudah melebihi dari 10 jari tangannya. Hm, pertama, dia menjadi bahan bully-an disekolah. Tahun lalu, dia berhenti sekolah dan orang tuanya mulai memilih


meng-home Schooling-kannya. Dia benci sekolah, terlebih teman sekolahnya. Mereka selalu sok jagoan dan menghinanya anak manja karena orangtuanya kaya dan dia juga selalu diikuti para bodyguard kemanapun. Membawa bekal kesekolah, dan selalu diistimewakan guru karena status orangtuanya. Semua temannya iri. Dan parahnya diikuti sifatnya yang pendiam. Semakin menjadilah dia jadi bahan bully-an.


Pada akhirnya, dia meledak setelah memendam semua bully-an itu. Menghajar orang-orang yang membullynya hingga kritis di rumah sakit dan kemudian ia dikeluarkan dari sekolah karena tuntutan dari semua pihak, tak peduli orang tuanya sekaya apa dan mempertanggungjawabkan semua


biaya rumah sakit untuk lebih dari 5 anak.


Kemudian pindah ke sekolah lain saat dia kelas 4 SD. Tidak ada hal yang berubah, dan dia akhirnya dikeluarkan dari sekolah lagi saat


menjelang pertengahan semester karena hal yang sama. Baginya, tidak ada teman. Semua teman sekolahnya adalah sampah yang suka menghakimi.


Begitulah akhirnya kisah sekolahnya.


Kedua,


Tidak tahu lebih parah mana ini daripada menjadi bahan bullyan. Yang pasti, hal kedua adalah dia sering diculik. Jika diingat, selama 10 tahun hidupnya sudah 7 kali ia menjadi korban penculikan. Ya ya, kalian bisa menganggap bahwa hampir setiap tahun dia diculik. Tentu saja untuk dimintain tebusan dengan harga fantastis.Punya orang tua kaya kadang memang menyebalkan. Itu masih mending. Ada 2 atau 3 kali dia diculik oleh musuh perusahaan orang tuanya. Dan itu selalu berakhir dengan penyiksaan. Berbeda dengan penculik yang hanya minta uang, mereka selalu merawatnya meski di sekap. Tapi, jika musuh orantuanya yang menculik, dia menjadi bahan siksaan dan mengancam akan membunuhnya jika orangtuanya tak


menyerahkan berkas perusahaan.


Anehnya, dia masih hidup setelah melalui 7 penculikan itu.


Ketiga, ini fase paling mengerikan karena rasa sakitnya tak terlihat.


Pergi ke psikiater secara rutin.


Yah. Dengan semua yang dilaluinya, orangtuanya memutuskan membawanya ke psikiater secara rutin setiap sebulan sekali. Para pskiater itu menjijikkan. Mereka akan menanyaimu banyak hal dan berkata hal bijak yang  penuh omong kosong. Yuzen benciitu. Setiap menemui pskiater, kegilaan otaknya rasanya makin menjadi. Dan dibulan ke-6 dia check-up, sebuah pikiran aneh melintasinya. Sebuah pikiran kuat yang memaksanya untuk membunuh pskiater itu agar dia tak perlu kembali ketempat itu. Meski akhirnya dia berhasil menahan hasrat itu. Tapi satu hal, emosinya dari waktu ke waktu semakin tidak stabil.


Dan dengan topeng anak polos dan senyuman yang menghiasi, Yuzen berusaha menyembunyikan semua emosi tak wajarnya.


Itu dia saat menginjak usia 10 tahun.


Kembali dari lamunannya, Yuzen kecil mengalihkan tatapannya pada sang papa yang menyetir didepannya. Sang mama bahkan sudah terlelap disamping bangku pengemudi. Sudah satu jam perjalanan. Sebenarnya kemana papa-nya akan membawanya akhir pekan ini?


“Pa, hari ini mau kemana? Kapan sampainya?” sebagai anak kecil, perjalanan seperti ini membuatnya bosan. Bahkan Yuzen


sempat-sempatnya melamunkan hal-hal mengerikan yang sudah dilaluinya. Astaga,


otaknya error.

__ADS_1


“Merayakan ulang tahunmu, tentu saja.” Papa-nya melirik dari kaca spion depan. “Yang pasti tempatnya rahasia.”


Yuzen mendengus. Dia benci kejutan. Kejutan adalah hal yang tidak diketahuinya akan apa yang terjadi. Orang ***** mana yang suka


kejutan?


Tapi Yuzen menyembunyikan emosinya dan tersenyum polos. “awas saja jika kejutannya tidak bagus.” Rajuknya.


Sang papa terkekeh dan mengulurkan tangannya ke belakang untuk mengacak rambut  buah hatinya.


Yuzen cemberut, bersikap bak anak-anak yang tak suka dianggap masih kecil. “Papa, aku sudah besar. Jangan diacak-acak rambutku, nanti tidak tampan lagi.”


Dan semua topengnya hingga saat ini tidak membuat orangtuanya sadar. Dimata mereka, dia masih anak yang manis dan lugu seperti


dulu.


✍👀✍


Yuzen memandang sebuah rumah minimalis yang terdiri dari 2 lantai. Kebunnya lumayan luas dan tampak asri. Ada sebuah kolam ikan di dekat pohon mangga yang menjulang besar. Rumah siapa ini?


Butuh sekitar 1,5 jam untuk sampai sini dari rumahnya. Tidak terlalu jauh sebenarnya, mengingat yang mereka hadapi adalah kemacetan nyaris separuh jalan tadi.


“Wah, kalian sudah sampai. Bagaimana perjalanannya? Macet ya?” sebuah suara mengintrupsi.


Yuzen buru-buru mendongak. Dan saat melihat siapa yang berada dihadapan papa-nya, dia nyaris mengangga.


“Om pangestu!” pekiknya dan berlari kearah pria akhir 30-an itu. Yuzen berhenti dihadapan pangestu dan menatap pria dewasa itu


dengan mata berbinar. “Apa kabar om?”


Kedua pria dewasa itu terkekeh melihat tingkah Yuzen yang girang bukan main. Memang sudah lama Yuzen tidak menemui Pangestu sekitar 2 tahun. Apalagi sejak Pangestu memilih keluar dari perusahaan orang tua Yuzen dan memilih merintis kembali karirnya di sebuah perusahaan multinasional. Pria itu jadi sangat sibuk dan sering ke luar kota.


“Hei boy, kau sudah bertambah tinggi ya.” Pangestu hendak menggendong Yuzen, tapi pria kecil itu memilih menghindar. “Aw, aku ditolak.” Sedih pria itu. Tapi kemudian


tersenyum menatap Yuzen.


Papa Yuzen tertawa. “Sudah kubilang, dia tumbuh terlalu cepat.”


Pangestu mengangguk menyetujui. Lalu memilih menggandeng Yuzen dan menggiring bocah itu masuk kedalam rumah.Yuzen mengikuti dan membiarkan orang tuanya berjalan memasuki rumah sambil bercakap-cakap dengan om kesayangannya itu.


Baginya, kado ultahnya kali ini cukup keren.


Dia suka.


Pangestu menoleh lagi kearah Yuzen sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, “Baru kali ini kan Yuzen berkunjung ke rumah


om?” Tanyanya lembut yang kemudian dijawab oleh Yuzen dengan anggukan semangat.


“Kan om yang selalu berkunjung ke rumah Yuzen.”


“Iya ya.” Pangestu terkekeh. “Yuzen tau, om punya putri juga loh. Umurnya masih 8 tahun. Nanti ajak main ya, dia anaknya pemalu.”


Yuzen memiringkan kepalanya sejenak. Dia tak suka berteman, tapi ini anak om pangestu. Tidak mungkin dia menolak. “Oke om.” Jawabnya terpaksa namun dengan nada senang tak terkira.


✍👀✍


Makan malam itu penuh gelegar suara tawa kedua pria dewasa di meja makan. Mama Yuzen sesekali menyahuti obrolan itu. Hanya itu. Selebihnya dipenuhi oleh suara dentingan alat makan.


Yuzen mengamati semua hal itu. Sesekali tangannya menusuk daging steak yang sudah dipotong-potong oleh mama-nya dan memasukkannya ke dalam mulut. Matanya masih mengamati sekitar secara diam-diam. Suasana memang terasa ramai, tapi hanya di satu sisi. Aneh.


Apa memang istri dan putri om pangestu tipe yang tak banyak bicara? Atau pemalu?


Istri om pangestu hanya diam saja dan tampak memakan makanannya dengan lambat. Tak berbeda jauh dengan putrinya yang wajahnya bahkan tak terlihat jelas. Gadis kecil itu bahkan tak mengangkat kepalanya dan membiarkan rambutnya yang panjang nyaris menutupi seluruh wajahnya.

__ADS_1


Yuzen mendengus. Tapi dengan bijaksananya dia memilih memanggil gadis kecil yang duduk dihadapannya. Hitung-hitung menyapa. Karena sejak tadi mereka tidak berbicara sama sekali. Suara gadis itu bahkan belum terdengar sekali pun sejak dia menginjak rumah ini tadi siang. Bahkan saat orang tua gadis itu bertanya, gadis itu hanya mengangguk atau menggeleng.


“Wanda?” Panggil Yuzen cukup keras. Diujung matanya dia bisa melihat om Pangestu yang tersenyum padanya. Dan papa-nya yang tampak mengangguk bangga.


Yuzen menggerutu dalam hati. Jika bukan karena permintaan om Pangestu, mana mau dia menyapa orang duluan.


“Aku sudah selesai makan. Kau juga, kan?” Yuzen bisa melihat piring gadis kecil itu yang sudah kosong. Bahkan gadis itu sudah menghabiskan makanannya dalam kurun waktu tak sampai 10 menit. Dan sisa waktunya hanya dihabiskan dengan duduk diam tanpa bergerak. “Mau menemaniku berkeliling?”


Wanda diam.


Lalu nyaris satu menit kemudian, gadis itu mengangguk setuju. Gadis itu berdiri dan mulai berjalan.


Yuzen memiringkan kepalanya sebelum kemudian bangkit dan buru-buru mengikuti gadis itu.


“Tunggu aku!” Desis Yuzen cepat. Diam-diam dia berdecih kesal melihat kelakuan gadis itu. Benar-benar aneh!


Yuzen terus mengikuti di belakang gadis itu. Tampak heran karena gadis itu terus berjalan mengelilingi rumah tanpa peduli dia benar-benar diikuti atau tidak. Gadis itu bahkan tidak repot-repot menoleh kebelakang untuk melihat keberadaan Yuzen.


Yuzen berdecak.


Dia biasanya suka dengan keheningan. Tapi mendapati keadaan saat ini, dia jengah juga.


Tanpa aba-aba dia segera menangkap lengan Wanda dan menyentak gadis itu agar menghadap dirinya.


Sret!


Gadis itu hanya diam. Tidak terkejut atau apapun. Entahlah, Yuzen tidak melihat ekspresi gadis itu karena gadis itu masih setia menunduk dengan rambut panjangnya sebagai pelindung wajah.


“Aku lelah.” Ujar Yuzen dingin.


Dia kesal dengan gadis dihadapannya. Dia biasanya tak suka berinteraksi. Tapi entah kenapa, dengan gadis ini, dia benci diabaikan. Gadis ini benar-benar luar biasa aneh!


Yuzen dengan tarikan kuat menggeret Wanda kearah kolam ikan yang dilihatnya tadi pagi. Ada sebuah lampu taman didekat situ hingga tampak cukup terang. Yuzen mendudukan Wanda di bangku dibawah pohon mangga. Lalu ia sendiri duduk di samping gadis itu sambil memandangi kolam ikan tak jauh dari mereka.


“Aku tak ingin merepotkan diriku lebih jauh. Terserah kau mau berteman denganku atau tidak. Aku lelah mengajakmu berbicara” Sungut nya. Dan kemudian beralih menatap langit malam yang cukup cerah hari itu.


Tak ada sahutan.


Namun siapa peduli, dia sudah lelah.


Menit demi menit berlalu hingga tiba-tiba suasana menjadi mencekam. Yuzen merasakan hawa itu, sedikit bergidik dan mulai menajamkan seluruh indra nya.


“Wanda.” Bisik Yuzen.


Tangannya memegang tangan gadis itu erat. Firasatnya buruk. Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi. Yah, apa yang kau harapkan dari anak yang sering diculik dan dibully? Biarpun dia selalu diikuti bodyguard, bodyguard itu tak pernah masuk ke dalam sekolah dan hanya berjaga disekitar sekolah. Itulah kenapa murid-murid lain tidak takut membully-nya. Dan saat di luar sekolah, para bodyguard itu hanya berjaga beberapa meter darinya.


Yuzen berharap para bodyguard-nya masih berada disekitarnya.


Dengan pelan Yuzen mulai memanggil nama para bodyguard-nya satu per satu. Tidak ada yang menyahut. Biasanya jika dipanggil sepelan apapun, salah satu dari mereka yang terdekat pasti langsung menghadap. Kali ini kenapa tidak ada?


Dan 5 detik kemudian telinganya mendengar suara gedebuk keras dibalik pohon mangga yang tak jauh dari mereka.


Wanda sepertinya juga mendengar suara itu, karena gadis itu menoleh kearah suara itu berasal.


“Kau mendengarnya juga?” Tanya Yuzen. Genggamannya pada tangan Wanda semakin mengerat. “Kuyakini padamu, itu bukan suara mangga jatuh. Terlalu keras.”


Yuzen menarik Wanda berdiri. Dan mengaba-aba pada gadis kecil itu agar berlari kencang. Pria kecil itu tak tahu, apa tanggapan Wanda. Tapi yang pasti, tanpa menunggu respon Wanda yang lambat, dia segera menarik tangan Wanda kuat agar ikut berlari.


Instingnya berkata dia harus segera pergi dan menemui orang tuanya. Karena dia tahu apa yang sedang terjadi dari semua pengalamannya selama ini.


Pintu utama tak jauh dari tempat mereka. Kaki-kaki kecil mereka segera berlari dengan cepat. Tapi sepertinya usaha mereka sia-sia. Karena kemudian 4 orang berpakaian bak ninja dengan warna hitam-hitam nyaris menutupi seluruh tubuh sudah berdiri didepan mereka. Lalu sebelum berhasil berteriak, 2 orang menyekap mulut mereka dan menyuntikkan sesuatu di lengan mereka.


Kesadaran mereka pun perlahan hilang. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, Yuzen merutuk dalam hati.

__ADS_1


Yang benar saja! Masak dia diculik lagi!


✍👀✍


__ADS_2