Psychopath Prince

Psychopath Prince
-32- Mertua


__ADS_3

"Bisakah kau keluar dari ruanganku?" Yuzen berdesis kesal. Jika dihadapan orang tua ini, dia tak perlu bersusah payah memasang topeng ramah. Tak peduli juga jika orang tua dihadapannya berstatus ayah mertuanya. Siapa peduli. Lagipula pria itu sudah tau dirinya luar dalam, meski Yuzen yakin, pria tua itu tidak tahu seberapa tinggi kadar kebengisannya.


Pangestu tidak bereaksi. Dia masih setia memandang tajam Yuzen yang terus mengerjakan laporannya. Pria tua itu benci anak muda dihadapannya. Setidaknya setelah pria dihadapannya itu mengaku sudah menikahi putrinya tanpa ijin. Tanpa ijin? Sialan, dia masih berstatus ayah putrinya!


"Tidak. Sampai kau menjelaskan bagaimana bisa kau menikahi putriku tanpa ijin dariku lagi."


Yuzen meletakkan pulpen yang sedari tadi digenggamnya dan menatap pangestu dengan sebelah alis terangkat. "Kurasa tidak perlu."


"APA?!" bentak Pangestu. Harga dirinya sebagai ayah terluka. Dan lalu... bagaimana Wanda bisa tak mengabarinya?


"Ck, aku tahu dalam pikiranmu kau sedang mempertanyakan bagaimana Wanda bisa tidak memberitahumu. Yang pertama, jangan menyalahkan putrimu tanpa bukti. Tidak ada yang boleh menyakati istriku termasuk ayahnya sendiri. Mengerti kau pria tua!"


Pangestu menarik nafasnya dalam-dalam. Berusaha meredakan emosinya. Menghadapi Yuzen memang harus banyak-banyak stok sabar. Padahal pria itu waktu kecil lugu sekali. Kenapa bisa berubah mengerikan seperti ini?


"Tapi sebagai pria seharusnya kau bersikap gantle dengan ijin pada ayah gadis yang ingin kau nikahi."


"Terlalu merepotkan." Ujar Yuzen tak peduli.


Pangestu terdiam. Pria tua itu menghempaskan punggungnya kesandaran sofa dan menatap kesal anak muda yang mulai kembali menekuni pekerjaannya. Pikirannya tiba-tiba menjadi kusut. Kenyataan bahwa putri kecilnya yang ingin dijaganya dengan baik-untuk menebus kesalahannya yang selama ini menjadi ayah yang tak bertanggung jawab--sirna sudah. Putri kecilnya bukan tanggung jawabnya lagi. Namun...

__ADS_1


"Apa Wanda mau begitu saja menikah denganmu?" pangestu bertanya tiba-tiba.


Yuzen tidak menoleh sama sekali. Masih fokus dengan pekerjaannya, meskipun dia juga memperthatikan tingkah ayah mertuanya secara diam-diam. Dan Yuzen sadar kemana arah pertanyaan itu.


Yuzen hanya terdiam.


Pria itu menunggu ayah mertuanya melanjutkan ucapannya.


"Apa putriku tidak marah padamu sama sekali?" Lalu pangestu terdengar menghela nafas dengan berat. "Secara kau membunuh ibunya dan dia menyaksikannya."


Masih dengan membaca laporan perusahaannya, Yuzen mulai berujar. "Untuk apa dia menangisi ibu kandungnya yang suka menyiksa itu." Lalu Yuzen menyempatkan melirik ayah mertuanya untuk melihat ekspresi yang ditunjukkan.


Dalam hati, Yuzen tertawa sinis.


"Itulah mengapa aku mengatakan kau bodoh." Yuzen tersenyum sinis pada pengestu selama beberapa detik dan kembali lagi menatap berkasnya. Siapa peduli dengan mertuanya itu, dia harus menyelesaikan segunung laporan perusahaan dan kemudian menghabiskan waktu dengan Wanda sepuasnya. "Lihat aku, aku memegang 2 perusahaan dan masih sibuk kuliah. Tapi sedikitpun aku tak pernah mengabaikan Wanda. Dan kau... hanya manager sebuah peusahaan multinasional sudah menelantarkan keluargamu. Kepala keluarga yang sungguh buruk."


Perkataan yang menohok. Pangestu sadar itu, dia selalu sibuk mengejar target perusahaan dan mengincar kedudukan. Meski begitu, dia tak bisa disamakan dengan Yuzen yang jenius dan masih muda. Iya kan?


Yuzen tiba-tiba tertawa. Dia puas sekali menghina ayah mertuanya.

__ADS_1


Pangestu hanya terdiam mendengar tawa mengejek Yuzen.


Sejenak Yuzen melirik jam tangannya dan tersenyum saat sadar ini waktunya dia menjemput Wanda. Tinggal 1 laporan lagi yang harus dikerjakannya, dengan cepat dia memeriksanya dan dalam 10 menit semua sudah beres. Yuzen membereskan semua laporannya dan berdiri. Tapi sebelum itu dia meraih sebuah amplop coklat kecil yang terdapat di laci paling bawah.


Pria itu berjalan kearah pengestu dengan seriangaian kejinya. Lalu menarik kerah kemeja yang dikenakan Pangestu.


"Kau tahu bahwa istrimu jago berakting dihadapanmu? Aku tidak akan heran jika mental Wanda terganggu jika sejak kecil dia disodorkan dengan banyak adegan siksaan. Aku hanya membantunya dengan membunuh ibunya."


Pluk!


Yuzen menyodorkan ampolop yang dipegangnya dan meletakkan di dada Pangestu.


"Dan shtttt...." Yuzen meletakkan jari telunjuknya dibibir. "Sebaiknya kau tidak mengatakan tentang kejadian pembunuhan itu atau kenyataan bahwa kau berada dipenjara selama ini. Atau kau ingin mental putrimu terganggu." Yuzen tersenyum lebar. Tampak sangat senang. "Wanda trauma dan melupakan segala yang terjadi tentang pembunuhan itu. Yang dia tahu hanya tentang ibunya sudah meninggal dan dia tidak ingat karena apa."


Yuzen berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Pangestu yang masih terpaku. Yuzen berhenti sejenak di ambang pintu dan melirik mertuanya yang dengan tergesa membuka amplop coklat yang diberikannya.


Dia memiringkan kepalanya, tampak senang melihat ekspresi terkejut pria tua itu. Itu hadiah yang sudah disiapkannya sebagai perayaan kebebasan mertuanya.


Didalam sana, terdapat puluhan foto Wanda yang sedang disiksa ibunya. Dan beberapa foto saat Yuzen mengobati lukanya sejak mereka berpacaran. Foto yang dia ambil diam-diam untuk berjaga-jaga jika dia harus mengambil jalur hukum karena Wanda yang terus membujuknya untuk tak menyakiti ibunya. Membuatnya harus menahan diri agar tak membunuh ibunya.

__ADS_1


Tapi akhirnya, dia tetap membunuh wanita itu. Meski dalam waktu yang lama karena dia tahu sebagaimanapun wataknya, Wanda mencintai ibunya. Cinta yang mengerikan karena rela disiksa.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


__ADS_2