Psychopath Prince

Psychopath Prince
-38- Rumah Sakit


__ADS_3

Ruangan itu bersih. Segalanya putih. Dan bau memuakkan obat tersebar di mana-mana. Sekeranjang buah tergeletak dinakas sebelah ranjang tanpa pernah tersentuh sama sekali. Dan tanpa sepengetahuan orang yang berbaring diranjang, 2 orang bodyguard berjaga di balik pintu. Menjaga keamanan agar tidak ada yang mengusik tuan mereka.


Hari ke-3.


Alat pendeteksi jantung itu tak banyak berubah. Terus berbunyi konstan memecahkan kesunyian.


Seorang dokter kemudian masuk bersama seorang perawat. Dibelakang mereka, pria paruh baya ikut melangkah masuk dengan raut tenang. Tangannya saling menyatu didepan tubuh dengan sikap sopan. Pria paruh baya itu hanya terdiam dan mengamati bagaimana dokter dan perawat itu mulai memeriksa keadaan tuannya.


"Bagaimana keadaannya?" Dia, Kepala pelayan Ahn. Pria paruh baya yang bekerja sebagai kepala pelayan dikediaman orang tua Yuzen. Meski begitu, pria tua itu selalu menjaga rahasia Yuzen. Bak tangan kanan Yuzen.


"Tuan Yuzen sudah stabil. Operasinya tidak ada masalah sama sekali dan luka-lukanya perlahan membaik. Tinggal menunggu tuan Yuzen sadar. Saya yakin tidak lama lagi."


Kepala pelayan Ahn mengangguk.


Dia cukup lega tuannya baik-baik saja. Bagaimanapun dia cukup terkejut menemukan Yuzen sudah dalam keadaan darurat pagi harinya setelah pria itu menyiksa para tahanannya. Hal yang tak pernah terjadi.


Yuzen tak pernah menyiksa dirinya sampai sekarat ini. Meski suka menyiksa diri sendiri, Yuzen selalu tahu batasannya.


Yuzen dibawa ke rumah sakit dengan keadaan mengerikan. Ditusuk di beberapa bagian, dan salah satu tusukan itu berhasil merobek lambungnya. Bersyukur, pria itu selamat. Meski nyaris saja tidak tertolong.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit sangat dokter.


Kepala pelayan Ahn mengangguk dan mempersilahkan dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan.


Kepala pelayan Ahn berdiri disana dan masih mengamati Yuzen. Tak lama, pria tua itu memilih duduk disamping ranjang Yuzen.


"Tuan, kapan kau akan sadar?" Meski sarat akan kesedihan, ekspresi pria tua itu masih tenang. Begitulah dia, hidup yang sudah cukup lama dijalaninya mengajarinya untuk selalu menampilkan ketenangan. "Apa kau tidak merindukan nona Wanda? Nona Wanda pasti merindukanmu. Nona Wanda pasti kebingungan mencarimu, kau tidak muncul selama 3 hari ini di hadapan nona Wanda."


Pria tua itu mendesah.


Sudah 3 hari dia berada dirumah sakit menemani Yuzen. Keadaan Yuzen benar-benar kritis selama 2 hari lalu. Dia bahkan tak berani mengabari orang tua Yuzen. Karena dia tahu, Yuzen tak akan menyukai hal itu.


"Tuan, kau harus lekas sembuh. Kau selalu ingin melihat nona Wanda setiap harinya. Apa kau tidak apa-apa dengan tidak melihat nona Wanda 3 hari ini?"


Kepala pelayan Ahn tahu bagaimana pentingnya Wanda bagi Yuzen. Dia selalu tahu rahasia Yuzen. Dia yang menjaga pria itu tumbuh sejak bayi. Dan dia tahu segala kepahitan yang dilalui Yuzen. Dia tahu bagaimana Yuzen bisa terbentuk menjadi pria yang mengerikan saat ini.


Dia....

__ADS_1


Kepala pelayan Ahn mengusap wajahnya kasar, merasa sedikit frustasi.


Tapi sesaat kemudian, keheningan itu kembali terganggu dengan suara deringan ponsel.


Kepala pelayan Ahn meraih ponsel dalam saku celananya. Menggeser tombol warna hijau dan mulai mendekatkan ponsel itu pada telinganya.


"Halo, tina?"


Tina salah satu pelayan menelponnya.


"Tuan Ahn, tadi pagi tuan menyuruhku membersihkan kamar tuan Yuzen. Tapi kamar tuan Yuzen terkunci."


Sejenak alis pria tua itu mengernyit. Dia tak pernah mengunci kamar Yuzen. Dan Yuzen juga nyaris tak pernah mengunci kamarnya. Yuzen memang memiliki kebiasaan seperti itu, pria itu merasa benci terkunci pada suatu ruangan sendirian. Berbeda lagi jika bersama orang lain, terlebih nona Wanda. Yuzen tidak akan masalah mengunci kamarnya.


"Benarkah? Coba kau cari kunci cadangannya. Sepertinya ada di laci kamarku. Masuk saja ke kamarku dan cari."


Entah kenapa perasaan kepala pelayan Ahn tak enak. Dia merasa melakukan sebuah kesalahan besar. Selama ini hanya dia yang diperbolehkan masuk ke kamar Yuzen dan membersihkan kamar itu. Tapi karena dia di rumah sakit selama 3 hari ini, dia memutuskan untuk menyuruh seseorang membersihkan kamar Yuzen daripada nanti berdebu jika tak dibersihkan semakin lama.


"Apa kau menemukan kuncinya?" Kepala pelayan Ahn kembali bertanya. Sambungan telponnya masih terhubung.


"Aku menemukannya tuan. Dikunci itu ada sticker bertulis kamar Yuzen, kan?"


Kepala pelayan Ahn mengangguk, "Ya, cepat buka pintunya."


Entah kenapa kepala pelayan Ahn tidak ingin mematikan sambungan telpon itu. Dia penasaran, kenapa kamar Yuzen terkunci. Apa yang terjadi? Apalagi didukung perasaan tak enaknya.


"Tu.... Tuan Ahn...."


"Ada apa?!" Kepala pelayan Ahn menyahut cepat. Entah kenapa sebuah firasat buruk menghampirinya. Firasat yang menyambungkan semuanya dengan kenapa Yuzen terlalu menyiksa dirinya kali ini. Selama ini hanya Wanda yang bisa menyiksa Yuzen. Karena Wanda-lah Yuzen sering menyakiti dirinya. Apakah Wanda sedang marah pada Yuzen? Apakah Yuzen membuat kesalahan?


"Ada... Ada suara air dari kamar mandi."


Deg.


Jangan bilang...


Jangan bilang alasan Yuzen mengunci ruangan itu karena....

__ADS_1


"KYAAAAAA!" Kepala pelayan Ahn bisa mendengar teriakan si pelayan diseberang sana. "Tuan Ahn, a... Ada orang tak sadarkan diri di Bath-up!"


Dan setelah itu... Dia bisa mendengar si pelayan berteriak minta tolong pada para pekerja dirumah.


Kepala pelayan Ahn mematikan sambungannya dan menghela nafas shock.


Pria tua itu memandang tuannya frustasi. Ketenangannya menghilang. Kenapa tuannya mengunci Wanda dikamarnya? Dengan keadaan tuannya saat ini, dengan dirinya yang tak membersihkan kamar tuannya karena sibuk menjaga tuannya dirumah sakit, siapa yang akan tahu jika Wanda terkunci dikamar itu!


Berarti sudah 3 hari?!


Tanpa makan dan minum?!


Astaga!


Kepala pelayan Ahn segera bangkit. Buru-buru dia keluar dari ruang inap Yuzen.


"Kalian berjaga lah dengan baik disini. Aku akan mengirimkan bodyguard lebih banyak. Jangan sampai ada yang menyentuh tuan. Jika sampai ada apa-apa dengan tuan Yuzen. Kalian akan tamat." Pesan kepala pelayan Ahn pada 2 bodyguard yang berjaga didepan pintu.


Akan sangat mudah seseorang membahayakan Yuzen saat pria itu tak sadarkan diri seperti ini.


Kemudian kepala pelayan Ahn segera pergi dari rumah sakit. Dia harus memastikan Wanda tidak kenapa-napa. Tuannya akan gila jika saat sadar nanti tahu keadaan Wanda tidak baik.


ahhhhh... god!


โœ๐Ÿ‘€โœ


Hai.... Hai....


spam komen dong


wkwkw gaje amat ya aku.


biarlah....


pokonya biarlah.....


Spam lah kali2 ๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2