
"Wanda, kita harus bergegas. 10 menit lagi kau naik kepanggung."
Itu Flo.
Wanda buru-buru menghapus air matanya. Lalu berbalik menatap Flo dengan senyum kecil yang dipaksakan.
Sedangkan Yuzen sudah melotot marah kepada gadis sialan itu, Flo. Jika bukan sahabat Wanda, sudah sejak dulu gadis itu musnah. Selalu memaksa Wanda melakukan ini itu, gadis itu juga sering sekali menarik perhatian Wanda darinya.
"K-kau kenapa?" Meski takut dengan tatapan Yuzen, Flo tetap berlari ke arah Wanda dan menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Gadis itu lama menatap mata Wanda. "Kenapa menangis? Kak Yuzen menyakitimu?"
Yuzen menggeram. Enak sekali gadis itu menuduhnya.
"Kau yang menyakitinya sialan!" Gertak pria itu. Ucapannya sangat tajam hingga membuat Flo beringsut mundur. Gadis itu semakin takut dengan Yuzen.
"Ke-kenapa?"
"Kak Yuzen tak apa. Aku akan berganti pakaian. Kakak keluarlah." Suara Wanda parau. Siapapun yang mendengarnya yakin jika gadis itu habis menangis. "Aku tidak apa-apa Flo. Hanya.... Sedikit takut diatas tadi."
Flo terdiam.
Jika Wanda menangis, itu artinya bukan sedikit. Gadis itu benar-benar takut. Mereka sudah berteman bertahun-tahun. Tentu dia tahu hal itu.
Flo menggeleng. Dia tampak merasa bersalah. Dia yakin Wanda tak bisa naik ke atas panggung lagi. Gadis itu akan semakin ketakutan.
Sedangkan Yuzen masih berdiri di sana dan belum beranjak sama sekali. Lalu dia melihat Fella yang berjalan ke arah mereka dengan mata berbinar senang. Cih, Yuzen ingin sekali memaki gadis dungu itu.
"Wanda, ayo ganti baju aku akan meriasmu dengan cantik. Waktu kita tidak bany...."
Bruk!
Yuzen menerjang Fella. Mendorong gadis itu hingga terantuk meja besar dibelakangnya.
"Kau tak lihat keadaan Wanda? Enak sekali kau berbicara sesuka hati."
Fella mengerjap. Bukannya takut, dia hanya kaget karena tiba-tiba diterjang Yuzen. Lalu gadis itu menoleh ke arah Wanda yang membelalakan matanya melihat kejadian barusan. Fella bisa melihat jika gadis itu habis menangis.
Kemudian Fella kembali menatap Yuzen. "Lepaskan aku." Ujarnya.
__ADS_1
Yuzen melepaskan gadis itu kasar, lalu kembali berjalan ke arah Wanda yang masih syok akan kejadian barusan. Flo pun juga begitu. Dia tak percaya Yuzen menerjang Fella.
Yuzen menarik Wanda kembali kedalam pelukannya. Dengan sayang, dielusnya rambut panjang gadisnya. Yuzen tak peduli ditatap dua gadis disana. Sedangkan Wanda sudah malu bukan main. Pipinya memerah.
"Aku akan membawa Wanda pulang."
"Ta-tapi masih ada satu gaun lain." Fella angkat bicara. Bukannya dia buta, dia tahu Wanda menangis dan tampak enggan naik ke panggung lain. Meski dia tak tahu apa sebabnya.
"Brengsek." Maki Yuzen.
Tapi Wanda segera menyela. "Baiklah, aku akan berganti pakaian. Kak Yuzen keluarlah." Kemudian Wanda melepaskan pelukannya.
"Tapi...."
"Kak, semangati aku ya."
Deg.
Yuzen terpaku.
"Oh aku punya ide!" Tiba-tiba Fella memekik senang. "Yuzen mau tidak naik ke atas panggung? Aku punya pasangan gaun yang dipakai Wanda nanti. Meski aku tidak tahu akan pas atau tidak ditubuhmu. Tapi dicoba saja. Nanti kau bisa berjalan berpasangan diatas panggung bersama Wanda. Kau bisa pasang pose bermesraan, membuat semua orang iri!"
Semua orang terdiam.
Lalu Flo mulai angkat bicara. "Apa tidak melanggar peraturan? Kak Yuzen kan tidak terdaftar."
"Tidak apa. Aku akan bilang ke penanggung jawab acara. Bagaimana?"
Yuzen terdiam. Otaknya berpikir cepat dia enggan naik keatas panggung. Tapi, bisa berpasangan dengan Wanda dan dilihat banyak orang memberikannya banyak keuntungan. Semua orang akan tahu betapa serasinya mereka, lalu tidak akan ada yang memandang mesum Wanda, dan Wanda tidak akan ketakutan. Dia bisa menenangkan Wanda saat berjalan diatas panggung nanti.
Ah....
"Oke."
Dan Wanda terbelalak mendengar jawaban Yuzen. Namun begitu, dirinya yang ketakutan perlahan tenang.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
__ADS_1
Semua orang terdiam. Benar-benar tidak ada suara saat pasangan Yuzen dan Wanda memijak panggung. Apalagi warga kampus yang tahu hubungan mereka. Tak ada yang menyangka bahwa Yuzen akan ikut berpartisipasi dalam acara ini.
Apalagi pakaian mereka.
Dress putih Wanda yang elegan tampak seperti gaun pengantin. Lalu setelan Yuzen dengan jas yang disampirkan ke bahu tampak sangat memukau. Rambut pria itu ditata kebelakang sedemikian rupa. Membuat penampilan pria itu sangat berkelas.
Tidak ada yang bisa berkata-kata. Mereka bak pengeran dan putri di negeri dongeng.
Yuzen menoleh kearah Wanda dengan senyum manis yang terpatri. Membuat Wanda semakin tenang dan teralihkan ke arah Yuzen. Wanda tak lagi peduli dengan banyaknya penonton yang kini terpukau dengan penampilan mereka. Apalagi tangan mereka yang saling bertaut mesra. Membuat Wanda merasa benar-benar aman.
"Kau tahu sayang, aku sangat mencintaimu."
Yuzen memanfaatkan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaannya pada Wanda dan memperbaiki kesalahannya.
"Jadi aku tidak mungkin mau bermain dengan gadis lain. Kau sudah lebih dari cukup bagiku. Kau segalanya."
"Tapi...."
"Shttt..." Yuzen menutup bibir Wanda dengan jari telunjuknya. Adegan itu membuat para penonton terkesiap seketika. Adegan itu terlihat romantis entah kenapa. Suara-suara mulai kembali terdengar. Kini penuh dengan pembicaraan akan mereka berdua. Yuzen tidak peduli. "Gadis itu yang menciumku. Aku tidak suka dicium olehnya sayang, sungguh. Karena itu, aku sangat marah dan berlalu begitu saja. Aku ingin segera menghapus bekas ciuman itu hingga aku berlalu begitu saja tanpa menoleh padamu. Aku malu padamu, aku dicium gadis lain tepat di hadapanmu. Maafkan aku. "
Wanda menatap mata Yuzen. Entah kenapa dia langsung luluh. Dia memaafkan pria itu. Meski kenyataannya, alasan utama Yuzen pergi setelah ciuman, bukan itu.
Lalu mereka berhenti di bagian paling depan panggung dan mulai berpose dengan mesra. Semua orang kembali terkesiap. Kini pekikan-pekikan heboh terdengar bagai kumpulan lebah, tidak terdengar jelas karena banyaknya suara yang saling bersahutan.
"Maafkan aku juga. Aku marah tidak jelas padamu." Wanda mengeratkan jalinan jari mereka.
Yuzen tersenyum. Lalu tanpa aba-aba, pria itu mencium kening gadisnya dengan lembut. Lama, hingga semua kamera berkali-kali berhasil mengabadikan moment itu. Yuzen menyeringai dalam hati. Kini tidak akan ada yang meragukan hubungan mereka, benar-benar tidak ada.
Tangan Yuzen yang bebas meraih tangan Wanda dan ikut menggenggamnya erat. Kini kedua tangan mereka saling bertautan. Yuzen melepaskan ciumannya dan tersenyum lebar menatap Wanda.
"Aku harap bisa membawamu ke altar secepatnya."
Lalu kemudian Yuzen kembali menggiring Wanda untuk berjalan. Wanda tidak tahu apa yang dirasakannya kini. Tapi yang pasti ada yang meledak-ledak dalam dirinya. Dan tanpa sadar, bibirnya melengkungkan senyum yang tak bisa dihentikannya.
Yuzen-nya sangat mendebarkan.
Dan hanya miliknya.
__ADS_1