
Hari menjelang sore saat pria paruh baya itu berdiri di depan rumah mewah depan pagar besar hitam yang menjulang. Rumah gaya victorian klasik yang sudah direnovasi sana-sini. Sudah cukup lama dia tak datang kemari, hanya ada sedikit perubahan yang terjadi di rumah dengan dominasi warna putih itu.
Pangestu sedikit ragu, tapi dibulatkan nya tekadnya untuk menekan bel di sebelah pagar hitam yang menjulang itu.
Tak lama, seorang dengan seragam satpam mengintip dari celah pagar yang dibuat khusus untuk melihat terlebih dahulu tamu yang datang.
Satpam itu sama tuanya dengannya. Jadi Pangestu melemparkan senyum ramah dan menyapa satpam itu sekedar basa-basi.
“Selamat sore Pak, apa Yuzen-nya ada?”
Satpam itu tampak berkerut. Tamu yang mencari Yuzen memang bukan hal wajar dirumah itu. Jadi bisa dibilang Yuzen merupakan pria yang hampir tidak pernah kedatangan tamu di rumah ini. Pria itu tertutup bahkan untuk sekedar membocorkan alamat rumahnya sendiri.
“Kalau boleh tahu anda siapanya ya?”
“Saya…” Sejenak Pangestu berhenti. Lalu sedikit meringis saat mulai menjawab. “Mertuanya. Saya juga sahabat Beni, ayahnya.”
“Me-mertua?” Satpam itu tergagap. Dia tidak tahu, memang sejak kapan tuan mudanya sudah menikah? “Tunggu sebentar, saya akan menyampaikannya pada tuan Yuzen.”
“Baiklah.”
Lalu celah dipagar itu kembali tertutup. Pangestu mengusap dagunya pelan, lalu mulai menatap sekitarnya dengan pandangan meneliti. Ah, dia cukup rindu pada rumah itu. Bagaimanapun dulu dia rutin datang kesini saat masih bekerja di perusahaan sahabatnya itu. Mendiskusikan pekerjaan dan terkadang sekedar berkunjung dan bermain dengan Yuzen.
Mengingat Yuzen, Pangestu sedikit sedih. Kepribadian pria itu berbeda dengan saat pria itu kecil. Tapi yang cukup disyukuri Pangestu adalah bahwa Yuzen mencintai putrinya. Meski terkadang, tingkah Yuzen agak keterlaluan. Sejak dulu, Pangestu sadar Yuzen terlalu posesif pada putrinya. Mungkin karena mereka pernah diculik bersama dan Yuzen merasa bersalah karena hal itu terjadi karenanya.
Tapi hal itu berkembang agak keterlaluan.
Tak sampai 10 menit, pintu pagar kemudian terbuka dan dia dipersilahkan masuk.
“Silahkan tuan, saya akan mengantar anda ke pintu masuk.”
Lalu satpam itu berjalan di depannya. Pangestu hanya mengekori dan sekali lagi, pandangannya mengedar melihat sekitar.
Senyum terbit dibibirnya. Namun hanya sebentar, karena kemudian pria yang menyembunyikan putrinya itu berada didepannya. Menunggunya di teras rumah dengan postur angkuh.
✍👀✍
“Yuu, tidak ingin makan juga?”
Seingat Wanda Yuzen sama sepertinya tadi siang, memilih meninggalkan makanannya dan tak berniat melanjutkan lagi.
Jadi pria itu belum makan siang kan? Pipi Wanda memerah malu dan merasa bersalah. Hari ini benar-benar buruk buatnya. Dia membuat Flo marah dan Yuzen tidak makan siang hari ini. Perasaannya tidak karuan sekarang.
Melihat Wanda yang tiba-tiba menunduk, Yuzen meraih dagu gadis itu dengan santai. Lalu mendongakkan kepala gadis itu agar menatapnya.
“Kenapa, hm? Perasaanmu cepat sekali berubah-ubah.” Yuzen menyelipkan rambut Wanda yang berantakan ke belakang telinga gadis itu.
Wanda hanya menggeleng dan membiarkan Yuzen menyuapinya lagi. Yuzen pun tidak menuntut jawaban Wanda. Hari ini pria itu jadi sangat lembut, membuat Wanda meneliti ekspresi Yuzen lebih teliti. Agak heran. Bukannya Yuzen itu pemaksa?
Melihat Yuzen yang kalem, Wanda dengan berani merebut sendok yang dipegang Yuzen dengan berani. Gadis itu menggigit kecil bibirnya dan terkekeh kecil saat melihat Yuzen mengangkat sebelah alisnya.
Yuzen cukup terkejut dengan tindakan Wanda. Tapi tak ayal, pria itu tersenyum kecil dan semakin lebar saat melihat kekehan Wanda.
“Sayangku nakal ya. Sudah berani memberontak.” Ujarnya dengan jahil.
__ADS_1
Wanda menggeleng cepat. Pipinya memerah. Apalagi jika mendengar kalimat-kalimat Yuzen yang penuh romantisme, astaga pria itu membuatnya malu. Jantungnya pun berdetak kencang. Untungnya dia sudah terbiasa. Ugh, sejak di rumah sakit, kedekatan mereka membuatnya harus mampu terbiasa dengan cepat.
Yuzen sudah seperti lem yang selalu menempel!
Mengalihkan rasa malunya, Wanda berusaha menyendok sup krim-nya lagi. Melihat sendok sup krim-nya sejenak sebelum kemudian mengarahkannya pada Yuzen dengan ekspresi polos.
Wanda hanya berpikir karena Yuzen belum makan dan dia ingin Yuzen juga ikut makan. Tapi…
“Jadi, sayangku sudah bisa bersikap romantis?”
Dan Wanda rasanya ingin menenggelamkan wajahnya ke bantal saat mendengar kalimat itu.
Kenapa rasanya segala tindakannya serba salah?!
Dan rona yang semakin memerah di pipi Wanda membuat Yuzen tertawa. Rasanya pria itu puas menggoda Wanda-nya yang polos.
Tapi suasana hangat itu tak lama terpecah saat bibi yang tadi di dapur meminta izin untuk berbicara pada Yuzen.
Yuzen menjadi kesal karena waktunya bersama Wanda diganggu. Tapi dia menyembunyikannya sebaik mungkin dan mulai memasang senyum palsunya lagi. Pria itu mengacak ribut Wanda sejenak dan kemudian berbalik menghampiri sang bibi pelayan yang berdiri di pintu masuk dapur.
Wanda yang sejenak melihat senyum Yuzen mengernyit tidak suka. Senyum itu lagi. Senyum itulah yang selalu ditampilkan Yuzen pada orang-orang. Wanda tak tahu, kenapa Yuzen suka tersenyum seperti itu.
Sudahlah.
Untung saja Yuzen tak tersenyum seperti itu padanya. Senyum itu memang tampak ramah tapi sekaligus membuat Wanda bergidik. Senyum itu penuh kepalsuan, menurut Wanda.
“Ada apa, bi?” Tanya Yuzen saat pria itu sampai di depan sang bibi.
“Itu tuan, ada pria paruh baya yang ingin bertemu tuan muda. Pria paruh baya itu mengaku sebagai mertua anda.” sang bibi juga sebenarnya heran dengan kata 'mertua' itu. Tapi dia memilih menyampaikan sesuai apa yang dibilang sang satpam.
Lalu pria itu berbalik lagi ke arah Wanda. Berdiri disamping gadis itu dengan pinggul yang bersandar pada meja.
“Aku ada tamu sayang, jadi aku akan meninggalkanmu disini. Tak apa kan? Dan habiskan makananmu ya. Jangan disisa kan.”
Wanda menangguk patuh. Dan membiarkan Yuzen meninggalkannya begitu saja.
Yuzen berjalan ke arah depan rumah, berhenti di teras rumah dan matanya kemudian menangkap sosok pria tua yang masuk ke halaman rumah orang tuanya.
Kedua tangan Yuzen bersidekap di dada dengan angkuh. Lalu saat pria paruh baya itu menginjak lantai teras rumahnya, Yuzen mulai menyambut.
“Ada apa om Pangestu datang kemari?”
Yuzen tidak merasa bersalah sama sekali karena tidak mempertemukan pria tua itu pada Wanda. Padahal sudah bertahun-tahun mereka bertemu. Banyak alasan sebenarnya. Dia tak suka Wanda memperhatikan orang lain daripada dirinya, dan tentu saja kedatangan ayahnya itu akan menyita perhatian Wanda. Kedua, pernyataannya yang mengatakan ia dan Wanda sudah menikah pada ayah gadisnya itu. Bagaimanapun pernikahan mereka hanya resmi dimata hukum. Wanda bahkan tidak tahu. Dia tidak akan membiarkan hal itu terbongkar, tidak akan. Jika terbongkar, dia tak akan bisa memonopoli Wanda lagi dan tak akan bisa tidur seranjang lagi. Ah… Menyebalkan.
“Aku tahu kalian sudah menikah. Tapi tak bisakah kau mempertemukanku dengan Wanda? Aku dengar kau baru-baru ini masuk rumah sakit, aku yakin sekali Wanda bersamamu disana, jadi aku tidak mengganggu. Tapi kau sudah keluar, jadi aku ingin menemui putriku.” Pangestu tidak ingin berbasa-basa. Dia hafal Yuzen, jadi dia tahu pria itu juga tak suka menghabiskan waktunya untuk berbasa-basa tak penting.
Yuzen tak membuka suaranya. Lalu dengan tangan kanannya dia mempersilahkan pria tua itu masuk. “Ikuti aku. Kita berbicara ditempat lain.”
Lalu mereka berjalan ke arah ruang kerja Yuzen. Dan masuk kedalam sana.
“Duduklah. Mau minum apa?”
Pangestu menggeleng. Tapi Yuzen memencet sebuah tombol di pinggir meja dalamnya dan seorang pelayan segera datang ke ruang kerjanya.
__ADS_1
“Lemon tea 1.” Ujar Yuzen menyebutkan minuman favorite Pangestu. Bagaimana Yuzen tahu? Ayolah, dia sudah kenal dengan pria itu sejak kecil. Meski minuman favorite itu cukup tak disangka bagi pria tua seumuran itu. Biasanya pria seumuran itu menyukai kopi. Tapi Pangestu justru tak menyukai kopi.
Yuzen menghembuskan nafasnya sejenak sebelum memulai. “Ada 3 hal yang ingin ku tekankan. Pertama, Wanda kehilangan ingatan kejadian itu. Kedua, yang dia tahu kau pergi meninggalkannya sendirian setelah kematian ibunya. Ketiga, apa yang akan kau katakan padanya sebagai alasan?”
Pangestu menelan ludahnya.
Dia tak tahu. Sebelumnya Yuzen memang sudah mengingatkannya bahwa Wanda tidak ingat kejadian itu. Lalu, apa yang akan dikatakannya? Tidak mungkin dia mengatakan dia dari penjara dan dihukum atas pembunuhan istrinya yang sekaligus ibu Wanda. Yah meski hal itu tak benar. Tapi menyebutkan kata penjara bukan hal yang bagus. Lalu…
Pangestu melirik Yuzen dari ekor matanya. Tak mungkin dia berkata pada Wanda jika Yuzen yang membunuh ibunya. Hal itu akan membuat Wanda terguncang.
Pangestu tak ingin Wanda tertekan lagi.
“Aku.. Mungkin penempatan keluar negeri oleh perusahaan. Lalu, aku melakukan kesalahan dan dipecat kemudian.”
Yuzen tanpa sadar terkekeh mendengar alasan itu. “Kau yakin? Kau bahkan tak mengirimi Wanda uang sama sekali. Jadi, apa yang akan dipikirkan gadis itu?
Pangestu menahan nafasnya sejenak. “Kurasa… kau bisa bilang aku sudah menjadi ayah yang buruk dengan memilih mengabaikan putrinya dan membiarkan putrinya tinggal sebatang kara dan tidak tahu bisa makan atau tidak. Lalu aku kembali karena dipecat dan tidak memiliki tujuan.”
Yuzen kini tertawa. Hanya sebentar namun kemudian wajahnya berubah menjadi serius. “Aku juga bertanggung jawab. Akulah yang membuat gadis itu menderita. Tapi kau tahu, aku tidak menyesal. Lebih baik begini, aku tidak ingin melihatnya terus disiksa dan gadis itu justru terus berkata tidak apa-apa. Aku yang akan bertanggung jawab dan terus membahagiakannya mulai sekarang.”
Yuzen mencondongkan tubuhnya ke depan. Membiarkan meja menjadi pembatas mereka. “Aku ingin bertanya.”
Pangestu menangguk.
“Hal ini membuatku penasaran sejak lama.” Yuzen mengetukkan telunjuk kanannya ke meja kaca di depannya. “Apa yang membuat istrimu itu menganiaya Wanda sejak kecil?”
Pangestu meneguk ludahnya. Dia baru tahu jika istrinya menyiksa anak mereka dari Yuzen. Awalnya dia bahkan tak percaya. Tapi setelah mendapatkan foto-foto itu, Pangestu tidak bisa berkata apa-apa. Dan hanya ada satu alasan kenapa istrinya yang tampak tenang dan dingin di luar ternyata dalamnya terlalu gila hingga mampu menyiksa darah dagingnya sendiri.
“Aku menghamilinya. Dan menikahinya secara paksa.”
Pangestu melihat reaksi Yuzen, tapi pria itu masih tampak tenang. Meski begitu ada kenyataan lain dibalik pernyataannya. Dan dia yakin pernyataan ini akan membuat Yuzen terkejut.
“Kau tahu aku dan ayahmu bersahabat sejak SMA. Dan istriku adalah kekasih ayahmu sejak SMA. Diam-diam aku menyukainya juga. Tapi aku tak ingin menikung, tentu saja. Namun, kemudian ayahmu dijodohkan dengan ibumu.” Pangestu berusaha mengingat-ingat. “Tentu saja hubungan mereka tidak berakhir disana. Saat awal-awal pernikahan, Beni, ayahmu masih berhubungan dengan istriku itu. Lalu karena aku lelah melihat semua itu dan kasihan terhadap ibumu. Aku memperkosa istriku. Tentu saja bukan hanya karena ingin memperbaiki keadaan, aku juga masih mencintai istriku itu. Lalu dia hamil dan kemudian kami menikah.”
“KAU BERBOHONG!” Yuzen reflek membentak. Dia tak suka pernyataan yang dilontarkan Pangestu.
Bagaimanapun setahunya, Ayah dan ibunya saling mencintai. Ayahnya tak mungkin mengkhianati ibunya. Lihat, mereka juga masih sangat romantis.
Pangestu hanya menggeleng.
“Namun setelah itu, semuanya berakhir. Aku menjalani rumah tangga ku, dan ayahmu juga mulai menerima segalanya dan mencintai ibumu. Hubungan kami sempat renggang saat-saat itu. Namun hanya butuh setahun sebelum semuanya kembali normal.”
Pangestu menghembuskan nafasnya.
“Namun aku salah, Ternyata setelah sekian tahun istriku tidak baik-baik saja. Ah, dia dipisahkan dari kekasih tercintanya dan kemudian diperkosa sahabatnya. memang terlalu gila. Setelah menikah, Dia memang tak pernah bersikap hangat, kedinginan hatinya selalu membuatku merasa bersalah. Karena itulah aku sering mengambil pekerjaan diluar kota. Yang mana sebuah kesalahan karena Wanda yang kemudian menjadi korban ini semua. Kesalahan orangtuanya justru Wanda yang mendapatkan getahnya. Aku bukan orang tua yang baik, bukan?”
Yuzen bungkam.
Cerita ini masih sulit di cernanya.
✍👀✍
Hai guys…
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komennya ya…
Jika banyak respon untuk cerita ini, besok aku langsung update lohhh…