
Tidak ada yang salah dengan Wanda, itulah yang dikatakan dokter. Tapi gadis itu belum bangun hingga menjelang siang. Diguncang pun tidak bangun. Gadis itu seperti pingsan. Padahal dokter mengatakan gadis itu hanya seperti orang yang tertidur. Apa yang salah?
Yuzen menutup kamar tidur Wanda dan membiarkan gadis itu tetap beristirahat. Meski benaknya penuh dengan rasa khawatir yang membeludak.
Yuzen melangkah ke ruang kerjanya. Disana, sudah ada Hanzel yang duduk manis dengan secangkir kopi dan sepotong red velvet buatan salah satu koki yang di sewanya. Pria itu tampak santai dan memakan makanannya seperti anak kecil yang begitu menyukai makanan manis. Sangat tidak cocok dengan wajah dewasanya.
"Jadi bagaimana?"
"Tidak perlu meragukanku, bos. Semua beres."
Yuzen mengangguk. Dan mengambil amplop besar di samping cangkir kopi Hanzel. Tanpa meminta ijin dia membuka amplop besar itu dan terlihatlah beberapa kertas dan sebuah kaset CD disana.
"Apa kesimpulanmu?"
Di kertas yang dipegang Yuzen, ada biodata club malam dan biodata pria yang berciuman dengan Wanda difoto.
"Kau harus menonton kaset itu, bos. Gadismu benar-benar hot. Kesimpulanku... dia berselingkuh."
Yuzen menggeram. Lalu melempar kaset di tangannya tepat mengenai kepala Hanzel dan kemudian jatuh mengenaskan di lantai. Dia tak peduli jika kaset itu rusak dan dia tak sempat menontonnya. Mana mau dia menonton rekaman CCTV yang menunjukkan gadisnya bercumbu dengan pria lain.
Hanzel mengaduh dan berdecak melihat emosi bosnya yang naik tiba-tiba.
"Foto dan Video yang kau tunjukkan padaku benar-benar asli bos. Aku menyabotase CCTV club itu dan mengambil rekaman saat hari kejadian dan ternyata tidak hanya hari itu saja. Gadismu datang 3 hari berturut-turut dan bercumbu dengan 3 pria berbeda." Hanzel bersiul menutup kalimatnya. Pria itu langsung bangkit dengan cepat dan berlari ke sudut terjauh dari Yuzen. Hanzel bisa melihat wajah bosnya yang memerah. Tahu sekali pria itu marah besar.
"Kapan?" Yuzen mengepalkan kedua tangannya erat. Menahan diri untuk menonjok Hanzel sebagai pelampiasan.
Amarah yang sempat hilang karena keadaan gadisnya, kini menggelegak dengan sangat besar karena kenyataan tidak hanya satu orang yang bercumbu dengan gadisnya. Lihat saja, apa yang bisa dilakukannya pada pria yang berani-beraninya menyentuh gadisnya.
"Sa-saat kau dirumah sakit. Sekitar beberapa hari setelah kau masuk rumah sakit." Hanzel menelan ludahnya susah payah. Dia harus segera pergi dari ruangan itu atau dirinya akan babak belur.
Yuzen mengernyit.
Sekelebat pikiran mampir dalam pikirannya. Lalu sebuah fakta terlintas setelahnya.
"Beri aku copy-an kaset itu lagi." Yuzen menunjuk kaset yang berada di lantai dengan keadaan retak.
Cepat-cepat Hanzel mengangguk dan berjalan dengan hati-hati kearah tas punggungnya disofa. Pria itu mengambil sebuah flashdisk dan memberikannya pada Yuzen. Untung dia membawa copy-an nya. Jadi dia tak harus bolak-balik menemui Yuzen.
"Aku sudah boleh pulang tidak bos?"
Yuzen menatap Hanzel tajam. Dan seakan mengerti dengan tatapan itu, Buru-buru Hanzel membereskan tasnya dan segera berlalu pergi. Tapi sebelum keluar dari ruang kerja Yuzen dirumah Wanda, Hanzel kembali berbalik dan menyendokkan sepotong besar Red Velvet ke dalam mulutnya.
"Mubazir, bos." Ucapnya dengan mulut penuh dan segera berlari keluar dari sana.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
__ADS_1
Gadis itu membuka matanya dengan pandangan dingin. Matanya menatap sekitar sejenak seakan berusaha mengenali dimana dia berada sekarang. Gadis itu mendengus lalu bangkit dari tidurnya.
Gadis itu berjalan perlahan kearah cermin dan mendapati penampilannya yang buruk dengan baju tidur dan wajah berantakan. Tak peduli dengan penampilannya, gadis itu berjalan kearah pintu kamar dan segera keluar dari kamar.
Dia lapar.
Menyusuri tangga, gadis itu menuruni satu per satu tangga dengan perlahan. Dia belum makan sejak kemarin pagi, perutnya terasa melilit dan tubuhnya lemas bukan main.
Masih beberapa anak tangga yang dituruninya, gadis itu melihat seorang pria berjalan dengan terburu-buru keluar rumah. Gadis itu menelengkan kepalanya, lalu sebuah ide nakal terlintas dalam otak cantiknya.
"Hei, kau!" Panggilnya.
Pria dibawah sana mendongak dan berhenti berjalan saat melihatnya. Gadis itu buru-buru menuruni tangga, berusaha mengabaikan tubuh lemasnya.
"Hei, Wanda. Ada apa?"
Wanda tersenyum lebar. Lalu menghampiri pria yang tidak diingatnya bernama siapa. Tapi yang dia tahu, pria itu selalu bersama Yuzen dan membantu Yuzen mendapatkan banyak informasi. Setahunnya begitu, karena Yuzen pernah sekali bercerita.
"Hai... Kak?"
"Hanzel."
"Iya kak Hanzel." Gadis itu berusaha tersenyum manis. "Boleh aku pinjam ponselmu tidak? Aku ingin menghubungi seseorang tapi aku tidak punya ponsel."
Wanda mengangguk. Lalu menengadahkan tangannya pada Hanzel. Hanzel pun akhirnya pasrah memberikan ponselnya. Dia agak takut Wanda menghabiskan pulsanya. Apalagi jika gadis itu menelpon ke operator yang berbeda. Tak mungkin Hanzel meminta Yuzen menggantinya. Bosnya sedang dalam keadaan yang menyeramkan.
"Terimakasih." Wanda tersenyum dan mulai memainkan ponsel tersebut. Ditekannya salah satu aplikasi dalam ponsel itu. Mengaturnya sejenak dan balik menatap Hanzel dengan senyuman yang semakin lebar.
"Apa kau punya kekasih kak Hanzel?"
Hanzel hanya mengangkat bahunya asal. "Tidak." Ujarnya santai. Tidak tersinggung sama sekali Wanda mempertanyakan statusnya. Toh dia memang masih suka sendiri. Belum ada gadis yang menarik hatinya.
"Bagus kalau begitu."
"Bagus?"
Senyuman Wanda berubah menjadi seringaian. Lalu dalam sekejap, gadis itu sudah berjinjit dan menarik belakang leher Hanzel dengan satu tangan. Bibir gadis itu menempel lekat pada bibir Hanzel.
Mereka berciuman. Tepatnya, Wanda menempelkan bibirnya pada Hanzel.
Lalu....
CKRIK.
Sebuah flash dari kamera ponsel Hanzel menyoroti mereka selama sedetik.
__ADS_1
Wanda melepaskan ciuman mereka yang hanya menempel itu. Buru-buru gadis itu membuka aplikasi chat dan mengirimkan foto itu pada sebuah nomor yang diyakininya milik Yuzen.
Wanda terkekeh kecil saat melihat Hanzel masih terpaku ditempatnya. Sepertinya pria itu belum pernah dicium seorang gadis. Lihat, reaksinya seperti perjaka yang tidak pernah berciuman!
"Ini ponselmu. Terimakasih ya..."
Wanda mengambil tangan Hanzel dan memaksa pria itu menerima ponselnya. Pria itu masih saja mematung.
"Ngomong-ngomong namaku bukan Wanda. Panggil saja Wendy. Dilihat-lihat kau tampan juga ya." Wendy tersenyum. Lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Hanzel. "Sebaiknya kau segera lari. Aku baru saja mengirimkan foto kita berciuman pada Yuzen."
Seakan disambar petir, Hanzel langsung bereaksi dengan muka horor. Pria itu cepat-cepat memeriksa chatnya dan melihat sebuah foto terkirim pada Yuzen dan sudah dilihat pria itu.
Hanzel menatap ngeri gadis dihadapannya.
"KEPARAT KAU HANZEL!"
Hanzel tersentak saat mendengar suara itu yang menggelegar. Sosok Yuzen memang belum terlihat, namun suara menggelegar itu membuktikan bosnya baru saja keluar dari ruang kerjanya dan sedang mengamuk hebat.
Hanzel memandang gadis dihadapannya dengan ngeri sebelum kemudian berlari kalang kabut keluar rumah. Dia harus segera melarikan diri. Bisa mati dia dihajar bosnya.
Sedangkan Wendy melambai pada Hanzel yang kabur.
Gadis itu pun buru-buru menaiki tangga kembali. Ikut kabur seperti Hanzel.
Urusan makan nanti saja. Dia ingin kabur juga seperti Hanzel. Buru-buru Wendy mengunci kamarnya dan berganti pakaian. Disambarnya tas kuliah Wanda dan membukanya sejenak. Ada kartu yang diberikan Yuzen didalam tas.
Dia aman. Dia bisa memakainya untuk beli makanan nanti.
Dengan cepat. Wendy membuka jendela dan menatap kebawah dengan pandangan meremehkan. Hanya lantai 2. Mudah.
Dan gadis itu... Benar-benar kabur. Mengendap-endap di antara para penjaga dihalaman dan bodyguard pribadi Wanda. Hell yeah. Tidak seperti Wanda, Wendy tahu jika dia mempunyai 3 orang bodyguard yang berjaga dalam jarak tertentu. Itu masalah mudah. Toh selama ini dia berhasil kabur dari para pria kekar itu.
"Hahah Yuzen yang malang. Salah sendiri berani bermain-main denganku."
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
[Author Note:
Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.
Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗
dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍
Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]
__ADS_1