
“SUAMIMU INI, SELINGKUH!”
Ini masih di lobi hotel. Banyak orang memperhatikan mereka. Bahkan beberapa orang mulai memotret. Bagaimanapun ini hotel mewah, dimana para pelanggannya adalah orang-orang kelas atas. Tentu saja mereka mengenali Ayahnya yang terkenal dikalangan bisnis dan beberapa kali mengisi majalah bisnis dan seminar. Belum lagi suaminya yang tak kalah tenar di dunia bisnis sebagai pewaris salah satu perusahaan multinasional.
Rere panik bukan main. Namun, ekspresinya dibuat setenang mungkin. Apalagi saat dia menemukan wanita selingkuhan suaminya tampak santai dan tak ada rasa bersalah. Dia tak ingin terlihat kalah di hadapan wanita itu.
“Ayah, Bisakah kita membicarakannya secara pribadi. Banyak orang yang menonton.” Rere berusaha berbicara selembut mungkin. Berusaha membuat ayahnya mengerti akan situasi yang terjadi. Sorot beberapa kamera bahkan belum berhenti. Rere takut jika salah satu dari mereka adalah wartawan. Rumah tangganya akan benar-benar hancur jika begitu.
“Rere…” Pria paruh baya itu terdiam. Mengamati putrinya yang tampak tak terkejut. “Kau sudah tahu, iya bukan? Kau tahu suamimu berselingkuh selama ini.”
Rere tersentak. Lalu menunduk. Dia pun bisa merasakan tatapan suaminya yang sepertinya tak kalah terkejut.
Rere dian-dian menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu dia mendongak dan berusaha melihat orang-orang dengan tatapan santai.
“Ya, aku tahu ayah. Jadi kumohon, ayah tak perlu seperti ini. Lagipula ini rumah tanggaku. Aku tak masalah jika suamiku berselingkuh.”
Ayahnya membelalak. Tampak terkejut. “Kau gila. Bagaimana bisa kau…”
“Ayah, ayah pun berselingkuh dari Bunda. Dan kalian akhirnya bercerai. Aku melihat, jika situasi pernikahan kita sama, ayah. Jadi setelah melihat dari pengalaman kalian selama ini, aku akhirnya memilih jalan lain. Aku akan mempertahankan pernikahan ini selama mungkin. Tak peduli jika suamiku terus berselingkuh. Aku punya seorang anak, dan seorang calon anak di rahimku. Aku tak ingin mereka tinggal di dunia yang kacau sepertiku hanya karena orang tua mereka bercerai.”
Ayahnya diam dan suami serta selingkuhannya menatapnya tak percaya.
“Lagipula, aku masih mencintai suamiku. Tak apa jika dia ingin pergi dengan wanita lain. Asal dia masih ingat jika rumahnya, tempatnya kembali masih bersama kami. Tapi kurasa dia benar-benar ingin bercerai. Dia bahkan melupakan janji-janjinya. Melupakan bahwa hari ini putra Kami berulang tahun ke-2. Melupakan janjinya untuk merayakan bersama.” Lanjutnya dan menoleh kearah Suaminya. Rere menatap Suaminya dalam. Berusaha mencari keberadaan dirinya di kedalaman mata sang suami. Apakah dia masih ada disana? Atau, apakah dia pernah ada di sana?
“Nak, jangan menyakiti dirimu…” bisik ayahnya parau. Rere tahu, kini ayahnya merasa bersalah. Perceraian mereka memang sangat membekas dalam masa pertumbuhan Rere dan mempengaruhi setiap aspek kehidupannya.
Rere menggeleng. “Menurutku ini lebih baik Ayah, setidaknya aku bisa merasakan sebuah ikatan kekeluargaan lebih lama.”
“Rere…” Satu kata itu keluar dari mulut Beni. Tapi hanya itu. Entah kenapa Beni merasa sangat buruk. Tapi pilihannya masih belum berubah dan dia masih sangat ingin bercerai dengan Rere.
Rere menatap Beni dan bisa merasakan apa yang diinginkan Beni. Entah kenapa dia tahu dari tatapan pria itu.
“Aku tidak akan menolak jika kau ingin menceraikan ku. Kurasa perjuanganku memang harus berakhir. Keluarga? Itu hanya sebuah impian bagiku.” Lalu Rere menatap kearah Nadia. “Selamat untukmu. Kau akan punya keluarga dan suami yang mencintaimu.”
“Nak, kau tidak harus seperti ini.”
Rere menggeleng dan tersenyum. Lalu gadis itu berbalik tanpa membuka mulutnya lagi. Mengabaikan semua orang yang masih memperhatikan mereka, tapi Rere yakin tak ada dari mereka yang mendengar percakapan tadi.
Dia berjalan kearah dimana Yuzen dan kepala pelayan Ahn berdiri.
Beni melihat itu semua. Ada rasa sedih menyelip di hatinya tapi dia memilih mengabaikan keluarganya. Lalu tatapannya beralih ke arah Yuzen. Dia menyesal melupakan ulang tahun jagoan kecilnya. Tapi sekali lagi, dia berusaha mengabaikan rasa menyesal itu.
Tak apa.
Inilah yang dia inginkan. Sebuah perpisahan.
__ADS_1
“Kau ******** keparat. Berani sekali menyakiti putriku. Lihat saja apa yang bisa kulakukan padamu.” Bisik ayah mertuanya. Beni merasa sedikit takut.
Meski perusahaan ayahnya benar-benar sudah diwariskan seluruhnya padanya dan sangat kokoh, dia tetap merasa takut. Apalagi mengingat ayah mertuanya merupakan pebisnis hebat yang berada di atasnya.
“Ayo kita pergi.” Nadia berbisik di telinganya. Dan mereka akhirnya memilih memasuki lift. Beni juga tak ingin berurusan dengan mertuanya lagi.
Rere menatap itu semua. Perasaannya campur aduk, dan tangannya dengan rasa posesif mengelus perutnya.
Dia merasa sangat bersalah pada calon anaknya yang tidak akan merasakan sosok ayah.
Lalu dia meraih tangan Yuzen dan menggenggam tangan putra kecilnya itu dengan sayang.
“Yuzen sudah mengantuk belum?”
Dan pria kecil itu mengangguk lemah. Sudah hampir jam 9, tentu saja Yuzen akan mengantuk. “Mama ulang.”
Rere terkekeh dan mengangguk.
Dia tak boleh tampak lemah di depan putra kecilnya. Ya, dia harus kuat.
“Tuan Ahn, bisakah kau temani Ayah? Pastikan dia pulang ke rumah, dia tampak kacau.”
Kepala pelayan Ahn menatap pada ayah Rere dan mengangguk kemudian.
“Ayah anda merasa bersalah.”
Tuan Ahn mengerti akan perasaan Rere. Bagaimanapun dia sudah merawat Rere bertahun-tahun.
Lalu dia menoleh pada tuan kecilnya dan mengacak rambut pria kecil itu. “Tuan muda, harus mematuhi perintah mama-nya ya. Jadi anak yang baik.”
Yuzen hanya mengangguk dan sekali lagi menguap lebar.
Rere hanya tersenyum. Lalu dia berpamitan pada kepala pelayan Ahn dan berjalan ke arah mobil.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak hamil, dia menyetir sendiri. Dalam keadaan pikirkan yang kacau.
✍👀✍
Seorang pria berlari melewati koridor rumah sakit, nafanya putus-putus dan wajahnya berkeringat. Dia segera berhenti didepan meja resepsionis dan buru-buru menyebutkan kamar yang dicarinya
“Dimana ruangan Rere Yudhistira?”
Resepsionis itu dengan tanggap menyebutkan salah satu ruangan VVIP dilantai 4. Pria itu pun segera berlari lagi ke arah lift dan naik ke lantai 4.
Setelah sampai dilantai 4 dia mulai meneliti satu per satu nomor kamar. Dan segera menemukannya.
__ADS_1
Dia berhenti di depan pintu. Mengatur nafasnya sejenak dan mengelap keringat di dahi dengan lengan kemejanya. Matanya sejenak mengintip melalui kaca dipintu dan dia bisa melihat seseorang berbaring miring di ranjang.
Pria itu menghembuskan nafasnya lalu mengetuk kamar itu dan segera membukanya tanpa menunggu dipersilahkan masuk.
“Rere…” Panggil pria itu.
Dan gadis itu segera mendongak menatap pria yang baru masuk ke dalam ruangannya.
Gadis itu menatap pria itu datar sebelum kemudian menatap kosong ke sudut ruangan. Tangan gadis itu memeluk perutnya dengan erat. Dan jejak air mata bisa terlihat di mata gadis itu yang membengkak parah.
“Kau tidak apa-apa?” Plak! Reflek pria itu memukul mulutnya sendiri. “Maaf, aku bodoh. Aku tahu kau tidak baik-baik saja.”
Hening.
Rere masih menatap kosong.
“Aku baru mendengar kabarmu dari ayahmu. Aku berbincang dengan ayahmu tadi siang saat dia tiba-tiba menelponku dan membatalkan rapat. Lalu dia menceritakan keadaanmu yang mengalami kecelakaan.”
Yah sebagai sahabat Beni, Pangestu memang akrab dengan Rere dan ayahnya. Apalagi Pangestu bekerja di perusahaan Beni dan berhubungan langsung dengan proyek bersama perusahaan ayah Rere.
Tak ada jawaban.
Menurut ayah Rere, Rere memang belum berbicara sama sekali sejak siuman tadi pagi. Gadis itu masih syok kehilangan bayinya. Belum lagi keadaan Yuzen yang masih dirawat intensif karena keadaannya jauh lebih parah.
“Aku…” Pangestu membungkam mulutnya. Dia barusan ingin bilang jika dia tahu tentang apa yang terjadi sebelum kecelakaan malam itu. Ayah Rere bercerita juga padanya tadi siang. Pangestu merasa bersalah karena membantu Beni menyembunyikan segala hal. Dia merasa buruk.
Rere sudah sangat menderita.
Dia dikhianati suaminya.
Dan kehilangan calon anaknya.
Serta putranya masih kritis sekarang.
Dan parahnya, Beni tidak hadir. Tidakkah Beni tahu jika keluarganya sedang terkena musibah?
Pangestu berdecak.
Lalu dia mengamati keadaan Rere lagi. Gadis itu tampak menyedihkan. Pangestu memejamkan matanya. Seharusnya dia sudah bertindak sejak dulu. Seharusnya dia tak membiarkan sahabatnya menjadi keterlaluan seperti saat ini. Seharusnya dia membantu sahabatnya ke jalan yang benar.
Dan hari itu, dia bertekad untuk memperbaiki keadaan.
Tak peduli jika persahabatannya dengan Beni terancam hancur.
Dia mendekat dan mengelus rambut Rere yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. “Maafkan aku.” Bisik Pangestu.
__ADS_1
✍👀✍