
Gadis itu menatap langit-langit kamar dengan pandangangan kosong. Hari sudah beranjak siang, dan sudah semalaman dia dalam posisi tersebut. Dalam dekapannya ada seorang pria yang ia peluk dengan sayang, tak sadarkan diri dengan nafas yang teratur.
“Berhentilah melamun, menyedihkan sekali. Kau terkejut dengan tingkah Yuzen yang seperti itu?”
Gadis itu masih terdiam saat suara-suara itu terus berdengung dalam kepalanya semalaman. Dia jadi merasa terbiasa mendengar suara itu. Meski sesekali kepalanya agak kesakitan, tapi perlahan-lahan dia merasa terbiasa.
Lama… kepalanya terasa hening, dan suara dalam kepalanya berhenti mengoceh.
Tapi kemudian, Wanda mengerjapkan matanya. Menoleh pada Yuzen dengan tatapan sedih. Setelah itu Wanda memejamkan matanya dan berusaha meraba apa yang ada didalam kepalanya.
“Aku punya pertanyaan. Kau bilang, kau kepribadian lainku. Jadi, apakah Yuzen tahu tentangmu?”
Wendy yang berada di sudut kegelapan jiwa Wanda terkejut. Meski mereka satu tubuh, tapi pikiran mereka berbeda dan Wendy tak menyangka bahwa Wanda akan mempertanyakan sesuatu yang cukup mengejutkan. Yah, mengingat selama ini keberadaannya bahkan tak dianggap Wanda.
Pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang tiba-tiba terlintas sedetik lalu di pikiran Wanda. Karena semalam, sebuah kilasan suatu kejadian muncul dalam kepalanya saat menangisi keadaan Yuzen. Sebuah kilasan yang tak diingatnya pernah terjadi atau tidak. Entah itu nyata atau hanya imajinasinya. Saat itu, dia tampak menggunakan seragam SMA dengan Yuzen yang juga menggunakan seragam SMA. Hanya sebuah kejadian-kejadian kecil saat Yuzen tampak sedang berusaha mendekatinya yang takut dengan orang asing. Hanya sekilas sebelum ingatannya melompat ke kejadian saat Yuzen tampak baru lulus SMA dan sedang memohon padanya.
..
..
Beberapa tahun lalu,
Wanda mengurung dirinya di kamar. Sudah 3 hari dia di dalam sana tanpa berniat keluar sama sekali. Wanda bahkan hanya berbaring diranjangnya. Menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Gadis itu bahkan hanya bangkit jika ingin ke kamar kecil. Tidak ada hal lain yang dilakukannya. Bahkan untuk makan dan minum, gadis itu tak memiliki niat sama sekali. Rasanya dia ingin mati.
Mati?
Wanda beralih memandang langit-langit. Lalu dengan perlahan dia bangkit dari ranjangnya. Dia perlu melakukan sesuatu. Ya, sesuatu yang akan memenuhi keinginan terbesarnya kini. Sesuatu yang akan membuatnya bertemu dengan ibu yang di sayanginya.
Bibir pucat Wanda tersenyum kecil.
Gadis itu menuruni tangga dan menuju kearah dapur. Mengacak-acak laci bawah dapurnya dan kemudian merasa senang saat menemukan tali tambang disana. Wanda menaiki tangga lagi menuju ke kamarnya.
Setelah sampai dikamarnya gadis itu mengedarkan pandangannya. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan sayu sebelum kemudian menaruh talinya dilantai dan berjalan ke arah lorong disebelah kanan dari kamarnya. Dia membuka salah satu pintu yang merupakan tempat menyimpan barang-barang, dan kemudian menemukan tangga lipat disana. Dengan susah payah, Wanda membawa tangga itu menuju kamarnya. Lalu gadis itu balik lagi dan mengambil sebuah palu.
Wanda kembali ke kamarnya dan mulai memanjati tangga tersebut dengan sebuah palu di salah satu tangannya.
Gadis mungil itu mulai memalu plafon kamarnya hingga hancur di salah satu bagian. Terus seperti itu hingga dia melihat sebuah kayu pondasi langit-langit rumah.
Keringat mengalir di dahi gadis itu. Dia kelelahan. Tangannya terasa sakit, hingga tak beberapa lama, dia menjatuhkan begitu saja palu yang dipegangnya hingga menghancurkan lantai yang ditimpa palu itu.
Wanda mendengus.
Lalu turun lagi dan mengambil talinya. Dia mulai memanjat tangga lagi dan mengikat tali tambangnya ke salah satu kayu. Setelah pekerjaannya selesai, Wanda turun dan menatap tali itu dengan senang.
Sebentar lagi….
Sebentar lagi keinginannya terkabul.
Wanda menyeret sebuah kursi dari meja belajarnya dan menaruhnya tepat dibawah tali. Dia naik ke atas kursi dan mulai membiarkan tali tambang itu melingkar di lehernya dengan erat.
Apa yang dia lakukan?
Tentu saja bunuh diri.
Dia kan ingin mati
Hidupnya sudah hancur.
Wanda memejamkan matanya. Tapi kemudian sebuah suara bergema keras dikepalanya. Membuatnya menjerit karena rasanya sakit sekali. Seperti ada yang menusuk kepalanya dengan banyak jarum.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! BUNUH DIRI, HUH? DASAR BODOH! KAU TIDAK BOLEH BUNUH DIRI TANPA SEIJINKU."
Lalu tak lama ada suara gedoran dari jendela kamarnya. Wanda buru-buru menoleh kearah jendela dan membelalak saat menemukan Yuzen berada di balkon kamarnya.
Sial.
Padahal dia sudah mengunci seluruh pintu dan jendela rumahnya. Tapi lihat, pria itu mencari alternatif lain dengan memanjat balkon kamarnya dilantai dua. Entah bagaimana caranya.
Yang lebih sialnya, Wanda merasa ingin menangis lagi saat melihat wajah Yuzen. Dia merasa frustasi, marah, dan sedih. Dia ingin Yuzen pergi dari hidupnya. Tapi entah kenapa dia juga merasa masih sangat membutuhkan sosok Yuzen untuk menemani hidupnya. Bukankah itu hal yang salah?
Yuzen sudah melakukan hal yang fatal padanya.
Tanpa mempedulikan sosok Yuzen yang terus menggedor-gedor jendelanya, Wanda dengan mantap menendang kursinya hingga jatuh. Dan kini, gadis itu dengan sempurna bergelantungan serta tidak memijak tanah.
Yuzen yang menatap kejadian itu berteriak marah dan frustasi. Pria itu meraih sebuah vas bunga di balkon dan dengan gerakan kuat, menghantam vas itu ke pintu kaca hingga pecah. Yuzen berlari cepat dan kemudian mendekap kaki Wanda. Menaikkan sedikit tubuh gadis itu agar tali yang melingkari leher gadis itu tidak mencekikkannya.
Wanda memberontak dan menendang-nendang tubuh Yuzen. Tapi Yuzen tidak peduli, dia terus mendekap kaki Wanda dan memastikan tali gadis itu tidak mencekiknya.
Yuzen memejamkan matanya. Dia merasa marah. Marah pada dirinya dan situasinya.
__ADS_1
"LEPASKAN AKU BRENGSEK!"
Deg.
Rasanya menyakitkan saat mendengar gadis tercintanya memakinya begitu. Baru kali ini Wanda memakinya.
"Sayang…"
"AKU TIDAK INGIN DIPANGGIL SAYANG OLEH ******** SEPERTIMU. BIARKAN AKU MATI BRENGSEK!"
Yuzen ingin meraung marah. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Yang pasti dia tidak akan membiarkan Wanda mati. Tidak akan pernah sebelum dia sendiri mati. Selama dia masih hidup, Wanda akan terus hidup.
Dibawah sinar matahari terbenam, jeritan-jeritan frustasi Wanda terus terdengar. Dan Yuzen mendengarkan dengan hati tersayat.
Pria itu segera menghubungi salah satu bodyguardnya untuk segera datang. Dia harus menyelamatkan Wanda.
"Jangan mati, aku juga akan mati jika kau melakukannya." Bisik Yuzen. Namun Wanda mampu mendengarnya dan akhirnya gadis itu menangis sesunggukan. "Wendy, tolong ambil alih tubuh Wanda."
Dan kemudian Wanda merasa kepalanua sakit dan kemudian pandangannya menjadi gelap.
..
..
Banyak pertanyaan yang terlintas di otak Wanda saat kilasan itu hadir.
Pertama, benarkah dia mengenal Yuzen sejak lama? Dan jika iya, apa hubungannya dengan Yuzen dulu?
Kedua, kenapa dia ingin bunuh diri? Tentu dia sadar kejadian itu terjadi saat ibunya telah meninggal. Benarkah dia sefrustasi itu karena ditinggal ibunya?
Wanda menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, pasti semua kilasan yang hadir itu hanya sebuah kilasan kosong tanpa arti. Lagipula dia tak ingat kejadian seperti itu terjadi. Hanya sebuah kilasan, anggap saja mimpi.
"Bertukar tempat, yuk!"
Wanda kembali tersentak saat suara itu berhasil membuyarkan lamunannya.
"Aku juga ingin merawat Yuzen dan bersenang-senang tentunya."
"Hei, aku punya ide bagus. Bagaimana jika kau membisikkan kata-kata yang bisa membuat Yuzen cemburu. Siapa tahu pria itu segera bangun."
"Tidaklah kau ingin memanfaatkan keadaan ini, bagaimana jika kita eksplor tubuh Yuzen."
Wanda bergidik saat mendengar kata demi kata Wendy yang mulai mengoceh lagi. Gadis itu menggeleng ngeri, sepertinya Wendy tipe gadis liar dan mesum. Bagaimana bisa sosok dalam kepalanya menyarankan untuk memanfaatkan ketidaksadaran Yuzen?
"Nah benarkan. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini. Kita bisa bebas memegang-megangnya."
Wanda menggeleng kuat-kuar. Lalu dengan risih dia berujar, "jangan menghasut ku dan jangan berpikiran kotor dalam kepalaku."
"Oh ayolah, tidaklah kau tahu Yuzen sering meraba-raba saat tidur bersama?"
"A-APA?!"
Lalu tawa menggelegar terdengar dalam kepalanya. Wanda sedikit meringis, bagaimana pun dia belum terbiasa dengan suara keras sosok di dalam kepalanya.
"Hei, berhenti tertawa, kau menyakitiku."
"Owh, kau sudah berani menegurku." Lalu tawa itu semakin kencang. Wanda merasa kesal dan gadis itu cemberut.
"Sudahlah. Dan Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apakah Yuzen tahu keberadaanmu?" Meski Wanda mengingat bahwa Yuzen menyebut nama Wendy sebelum dia tak sadarkan diri dalam kilasannya, tapi siapa tau saja dia salah dengar.
"Menurutmu?" Wendy tampak senang mengerjai Wanda. Baru pertama kali ini dia bisa berinteraksi langsung dengan Wanda dalam keadaan santai. "Lebih baik kau tanya langsung saja pada Yuzen."
Wanda lagi-lagi merasa sebal pada Wendy. "Tapi Yuzen kan belum sadar."
Namun sedetik kemudian, Wanda merasakan tubuh Yuzen bergerak dalam pelukannya. gadis itu cepat-cepat melepaskan pelukannya agar Yuzen tidak sesak. Gadis itu mengamati Yuzen yang perlahan mulai membuka kelopak matanya.
Pria itu mengerjap beberapa kali sebelum kemudian mata pria itu menangkap mata Wanda yang tampak penasaran dan khawatir.
Wanda menahan nafasnya saat melihat pandangan Yuzen yang tampak kosong. Pria itu tak bereaksi saat menatapnya, hanya terus menatap tanpa emosi. Perlahan, rasa takut merambati Wanda.
"Yuu…." Panggil Wanda.
Yuzen hanya terdiam tanpa mengalihkan tatapannya pada Wanda.
"Kak Yuzen…"
Tidak ada sahutan. Dan Wanda yang merasa takut segera memeluk Yuzen erat tanpa banyak pikiran lagi. Kenapa?
Ada apa dengan Yuzen?
__ADS_1
"Kak Yuzen kenapa?"
Untuk pertama kalinya, Yuzen mendorong tubuh Wanda agar pelukan mereka terlepas. Wanda membelalak dengan tingkah Yuzen. Dorongan itu tidak kasar, Yuzen bahkan melakukannya dengan lembut. Tapi dorongan itu justru memberikan bukti bahwa Yuzen sedang menolaknya.
Wanda merasa takut.
"Tidaklah kau merasa jijik padaku?" Yuzen berujar lirih. "Aku menakutkan bukan?" Yuzen berusaha mengingat setiap detail apa yang dilakukannya di hadapan Wanda semalam. Yuzen merasa bergidik saat ingat dia bertindak gila dan bahkan menyakiti gadisnya.
"Tidak." Wanda menggeleng tegas. Tapi hal itu tak bisa mengembalikan emosi dimata Yuzen. Pria itu merasa kosong.
"Kau akan meninggalkanku." Itu adalah pernyataan sepihak yang dipikirkan Yuzen. Dan Wanda merasa tidak masuk akal dengan pemikiran Yuzen yang tanpa bukti.
"Tidak akan." Wanda memegang kedua pipi Wanda dan membiarkan pria itu tetap fokus menatapnya. "Kenapa aku harus meninggalkanmu?"
"Karena aku aneh dan menakutkan. Lihat…" Pria itu mengangkat tangannya dan memperlihatkan tangannya yang diperban. "Aku bahkan melukai diriku sendiri. Aku tidak pantas untukmu."
Selama ini Wanda selalu berpikir dialah orang paling negatif di dunia. Bagaimana pun dia selalu memandang rendah dirinya sendiri. Dan selalu takut dengan lingkungannya. Tapi lihat, bagaimana bisa orang sesempurna Yuzen memandang dirinya sendiri rendah?
"Aku tidak akan pergi." Lalu, Wanda ingat dengan kilasan nya. "Aku menyukaimu sejak SMA."
Deg.
Yuzen terbelalak. Pria itu sontak terduduk dan mata kosongnya kini penuh ekspresi ketakutan.
"Wa-wanda…" Yuzen merasa gemetaran saat mengucapkan nama Wanda.
Wanda sendiri merasa syok dengan reaksi Yuzen. Jadi, bukankah hal itu membuktikan bahwa kilasan nya nyata? Bahwa dia pernah menyukai pria itu waktu SMA. Padahal seingatnya mereka baru bertemu saat kuliah. Apa ada yang salah dengan otaknya? Apa ada ingatannya yang hilang?
"Jadi, apakah kita saling kenal sejak SMA? Apa hubungan kita?" Yuzen meneguk ludahnya susah payah. Dia mewanti-wanti sampai mana Wanda mengingat masa lalu. "Jujur padaku, atau aku akan pergi dari hidupmu."
Setelah kejadian semalam, rasanya Wanda punya kartu AS. Bukankah dia harus memanfaatkan kelemahan Yuzen sebaik-baiknya? Meskipun Wanda merasa aneh. Bagaimana bisa Yuzen takut kehilangannya yang hanya seorang gadis biasa nan jelek?
Yuzen sendiri gelagapan. Pria itu berusaha menormalkan detak jantungnya yang ketakutan. Menarik nafasnya sejenak sebelum kemudian menghembuskannya.
"Ya." Jawab Yuzen pelan.
"Jadi?" Wanda berusaha menekan Yuzen agar terus melanjutkan pernyataannya.
"Kita berpacaran sejak SMA."
Wanda merasa tertohok. Benarkah? "Ke-kenapa aku tidak ingat?"
Yuzen yang sudah tenang berusaha mengamati segala reaksi Wanda dan dia kemudian sadar bahwa Wanda tidak mengingat sebanyak yang dia bayangkan. Hanya ingatan kecil yang Wanda ingat.
"Kau kecelakaan, melupakanku. Ingatanmu hanya ada sebelum kita berpacaran. Lalu agar ingatanmu kembali secara alami tanpa ada paksaan, aku harus menyingkir. Kata dokter kehadiranku hanya akan menyakiti kepalamu."
"Be-benarkah?" Wanda merasa tak percaya. Jadi selama ini dia lupa ingatan? "Lalu kenapa sekarang…."
Merasa tahu apa yang ingin ditanyakan Wanda, Yuzen segera menjawab. "Aku tidak tahan. Aku terlalu mencintaimu. Aku tidak tahu kenapa kau hanya melupakanku. Aku frustasi. 2 tahun aku menjauh, tapi setelah itu? Aku tidak sanggup terus berjauhan darimu. Hanya mengamatimu dari jauh justru menambah rasa frustasiku."
Wanda merasa speechless.
Bukankah Yuzen luar biasa? Bagaimana bisa pria itu sangat setia padanya?
Di kepala Yuzen sendiri, pria itu mulai menyusun kata-kata. Keadaan semakin rumit. Ayah Wanda muncul, dan ingatan gadis itu perlahan kembali. Dia harus segera memiliki Wanda atau dia akan kehilangan gadis itu. Situasi semakin mendesaknya.
"Aku bahkan takut kau dibawa pulang oleh ayahmu. Aku ingin kau selalu didekatku."
"Eh?" Tidak mungkin itu alasan Yuzen tiba-tiba diluar kendali semalam, kan?
"Aku serius. Ayahmu adalah wali sahmu. Dan aku apa? Bukan siapa-siapa. Aku tidak akan bisa menahanmu terus disisiku, sayang. Aku sudah biasa bersama terus denganmu selama berhari-hari ini. Tapi jika ayahmu ingin membawamu pulang, aku tidak bisa mencegahnya. Aku tidak punya hak. Itulah hal yang kutakutkan sejak melihat kehadiran ayahmu dirumah ini."
Lalu Yuzen bergerak kearah laci nakas dan membuka salah satu laci paling bawah.
Wanda tak yakin apa yang diambil Yuzen, tapi benda itu ada didalam genggaman besar Yuzen.
Dan kemudian hal yang paling mengejutkan adalah… "Menikahlah denganku Wanda. Aku janji akan selalu mebahagiakanmu." Sebuah cincin terpajang dihadapan Wanda. Cincin indah dengan sebuah permata kecil dan bentuk cincin yang terpahat daun-daun kecil yang indah. "Kita bisa bersama selamanya. Tanpa terpisah lagi. Kali ini kumohon pikirkan jawabanmu dan rasakan hatimu."
Wanda pernah menolak Yuzen sekali tanpa bepikir.
Kini Yuzen kembali melamarnya. Haruskah dia menerima lamaran itu? Tapi dia masih sangat muda.
Wanda mengamati Yuzen baik-baik. Tapi jika membayangkan Yuzen pergi jauh, Wanda juga merasa sedih.
Dia….
Mencintai Yuzen. Sangat.
"Ayo menikah." Jawab Wanda saat dirinya mendekatkan bibirnya pada telinga Yuzen.
__ADS_1
Dan kemudian dia membiarkan dirinya ditindih Yuzen diatas kasur dan dicium pria itu dengan intens.
✍👀✍