Psychopath Prince

Psychopath Prince
-56- Hadiah Balasan dari Yuzen


__ADS_3

"Kak Yuzen!"


Kedua gadis itu gemetar ketakutan. Tatapan mereka tampak syok setelah menerima tamparan dari Yuzen. Untuk pertama kalinya, ada orang yang menerima kekejaman Yuzen secara publik. 


Kedua gadis itu perlahan mundur. Mereka ingin berlari sangat jauh, tapi kaki mereka gemetaran. 


Yuzen memasang Handsfree-nya ke telinga dan menghubungi Hanzel yang berada tak jauh darinya. Yuzeb menatap sekitar sejenak sebelum kemudian meriah ponselnya dan mulai memfoto keadaan. 


Sekali lagi, dia tak akan menyiksa. Belum waktunya. Tunggu saja jika dia sudah menikah, semua orang yang menyakiti gadisnya akan benar-benar mati di tangannya. Pokoknya tidak sekarang. Dia tidak ingin mengotori tangannya saat didetik-detik menjelang pernikahannya. Yuzen, akan menggunakan cara yang tak kalah kejam. 


"Siapa mereka Hanzel." Yuzen mulai berbicara pada Hanzel melalui Handsfree-nya. 


"2 yang masih berdiri, Dannissa wulandari dan angelica yohannnes. Dua-duanya mahasiswi kecantikan semester 4. Kebetulan sekali Ayah angelica bekerja sebagai manager di perusahaan pusat milik ayahmu. Pekerjaannya lumayan, tapi ada rumor jika dia sering melecehkan sekertarisnya, karena itulah sekertarisnya sering bergonta-ganti. Untuk Dannissa, dia seorang model tetap di sebuah majalan fashion ternama. Keluarganya biasa saja, cukup kaya. Keluarganya punya perusahaan air minum."


Yuzen mengangkat alisnya mendengar jawaban Hanzel. Kinerja Hanzel memang tak perlu diragukan lagi. Dalam waktu singkat pria itu sudah mendapatkan infromasi-informasi. 


"Bagus." Jawab Yuzen. Lalu pandangan pria itu beralih dengan dingin ke sekelilingnya. Dengan dingin dia berkata, "aku akan menuntut kalian semua. Akan kupastikan kalian menerima hukuman terberat."


2 gadis yang masih berdiri dan 2 lagi yang masih sadar dan terbaring di tanah terkejut mendengarnya. Mereka langsung menangis. Dan 2 orang yang berdiri langsung memohon di hadapan Yuzen. 


"Maafkan kami. Maafkan kami kak Yuzen. Hiks…Jangan tuntut kami."


Yuzen berdecih kesal. Maaf? Bukankah mereka seharusnya berpikir akan akibat perilaku memalukan mereka? 


"Hanzel, ada lagi yang bekerja diperusahaan ku maupun ayahku?" Tanya Yuzen lagi. 


Hanzel dengan segera menscrol informasi dari tab-nya. Lalu segera menjawab. "2 lagi yang sedang pingsan, ayah mereka bekerja di anak perusahaan ayahmu. Sisanya orang tua mereka pebisnis. Dan hampir semua memiliki kerja sama dengan perusahaan kita."


Yuzen tak bisa menyembunyikan seringaian nya. Dia menendang pelan kedua gadis yang memohon itu agar tak menyentuh tubuhnya. Tidak ada rasa belas kasihan dalam matanya. Baginya semua yang mengusik kehidupannya adalah Hama. Dan gadisnya adalah bagian dari hidupnya, tentu saja yang mengganggu gadisnya akan dia basmi seperti hama. 


"Aku akan memecat semua orang tua mereka yang bekerja di perusahaan. Dan Hanzel aku akan memutuskan kerjasama dengan perusahaan orang tua mereka. Sisanya kau yang bereskan. Hancurkan perusahaan mereka." Tidak akan sulit bagi Hanzel untuk menghancurkan perusahaan-perusahaan itu. Hanzek merupakan Hacker yang handal. Membuat saham-saham perusahaan itu jatuh adalah keahliannya, atau dia bisa saja menyabotase bagian IT perusahaan itu dan membocorkan rahasia perusahaan. Itu mudah bagi Hanzel.


Para gadis yang mendengar itu semakin memohon. Bahkan satu dari mereka tampak frustasi dengan ancaman Yuzen. Mereka semua tahu seberapa kaya Yuzen. Belum lagi kekayaan ayah pria itu. Jika pria itu berkehendak, bisa saja semuanya terjadi. Tak peduli semustahil apa. 


Dan salah satu gadis yang terbaring di tanah berteriak dengan kesal. "KAMILAH YANG LUKA-LUKA, BAGAIMANA BISA KAU MENUNTUT KAMI! WANDA LAH YANG AKAN KUTUNTUT BALIK. APA BAGUSNYA GADIS ITU, YUZEN! GADIS BURUK RUPA, URAKAN, KAU BISA CARI GADIS LAIN!"


Wendy yang mendengarnya meringis. Gadis bodoh, bagaimana bisa dia menyulut amarah Yuzen. Wendy bahkan yakin sekali sejak tadi Yuzen menahan dirinya agar tak menyiksa semua gadis itu tempat ini. 


Tapi Yuzen bergeming, sesuatu yang membuat Wendy bahkan Hanzel terperangah. Pria itu berbalik dan menghampiri Wendy. Lalu mulai mengecek serta memfoto satu persatu luka gadis itu. Semua foto akan dia jadikan bahan tuntutan. 


"Kebiasaanmu kembali lagi. Kau selalu memfoto luka-lukaku maupun Wanda." Bisik Wendy lirih. Dia memilih mengabaikan Yuzen yang tak menyiksa siapapun. Tenaganya habis dan dia lemas sekali rasanya. Meski begitu dia tetap berdiri tegap dan tak ingin Yuzen menganggapnya lemah. 

__ADS_1


Namun, Yuzen terlalu mengenal gadisnya. Pria itu segera membopong Wendy didepan dada. Mengarahkan kepala gadis itu agar bersandar di dadanya. Yuzen mengecup dahi Wendy sejenak sebelum kemudian berbalik dan berjalan ke arah UKS untuk mengobati luka-luka Wendy. 


"Foto-foto itu akan kujadikan bahan tuntutan, sayang. Seperti ibumu dulu. Untuk orang-orang yang tak bisa kubunuh secepatnya, aku harus menghukun mereka dengan benar."


"Kenapa kau tak bisa membunuh mereka?" Wendy selalu tak mengerti jalan pikiran Yuzen. Terkadang pikiran pria itu seperti labirin yang terlalu rumit. Jika ada jalan pintas, sesekali Yuzen memilih jalan memutar. Pria yang unik memang.


"Karena kita akan menikah. Aku tidak ingin menodai tanganku di saat kita akan menikah." Yuzen menggerakkan giginya saat berkata kalimat itu. Hanya dia yang tahu betapa dia ingin memukul dan membunuh para gadis itu. Namun, dia berhasil berekting sangat baik bahkan didepan gadisnya. 


"Kau bisa menyuruh orang." Kan, ada cara yang lebih singkat. Tapi sekali lagi, Yuzen memilih cara yang rumit.


Yuzen menunduk mengecup dahi Wendy. "Tidak menyenangkan sayang. Jika aku ingin membunuh, aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri. Biarkan aku menyiksa kehidupan mereka terlebih dahulu. Setelah itu kita lihat, jika aku mood, aku akan membunuh mereka."


Wendy menggeleng lalu terkekeh. Biarkanlah Yuzen bersenang-senang dengan pikiran psycho-nya. 


Lalu saat mereka mencapai keberadaan Hanzel, pria itu berhenti. Lalu menatap Hanzel dengan serius. Sejenak Yuzen menatap Flo yang terduduk diatas rerumputan sebelah Hanzel. Lalu kembali menatap Hanzel. 


"Sepertinya kau bekerja dengan baik." 


Hanzel meringis mendengarnya. Dia tahu sekali yang dimaksud Yuzen adalah pekerjaannya terhadap Flo. 


"Aku akan mengirimkan bayaranmu akan informasi tadi dan pekerjaanmu nanti terhadap para gadis itu. Jika kurang kau bisa meminta lagi. Jadi, kerjakan dengan benar. Biar aku yang mengurus pengadilan, aku ingin melihat sidang mereka dan tertawa disana."


"Baik bos." Hanzel mengangguk patuh. Tentu saja bayaran Yuzen selalu luar biasa. Bagaimana bisa dia minta tambahan. Yuzen selalu bisa membayar pekerjaannya dengan baik. Dan pria itu selalu melindunginya dari hukum meski Hanzel terkadang ketahuan negara karena tindakan Hacker ilegalnya. Informasi saja, Yuzen lebih jago dalam membobol sesuatu. Yuzen adalah Hacker yang lebih handal dari Hanzel. Hanya saja pria itu terlalu banyak pekerjaan hingga pekerjaan macam itu diserahkan pada Hanzel. "Bos, para bodyguard Wanda datang."


Yuzen menoleh, dia berdesis kesal saat melihat orang-orang besar tak berguna itu. Kenapa dia selalu punya bodyguard tak berguna? 


"Jangan pecat mereka. Mereka sangat jago dalam berkelahi. Aku menendang pusaka mereka, hingga bisa kabur. Jika tak kulakukan aku takkan bisa kabur. Mereka bagus untuk menjaga Wanda." Bisik Wendy ditelingai Yuzen. 


Yuzen pun terbelalak. 


"kau menendangnya?" Oh, sebagai pria dia bisa mengerti. Yuzen memandang Wendy dengan ngeri. 


"Kau!" Yuzen balas berbisik ditelinga Wendy. "Jangan sesekali menendang punyaku, oke? Bisa-bisa kita tak akan punya anak nanti."


Dan Wendy tertawa keras mendengarnya. Membuat semua orang menoleh padanya dengan kaget. 


Apa yang gadis itu tertawakan? 


"Tidak akan. Aku kan belum merasakannya."


Sial. 

__ADS_1


Pipi Yuzen memerah. 


Wendy memang selalu blak-blakan. Dan kini perkataannya terlalu vulg4r. 


"Tunggu kita menikah. Dan kau akan kuhabisi." Disis Yuzen. 


Lalu Wendy kembali berbisik. "Kau sok suci sekali tuan pembunuh."


Yuzen mendengus tak ingin membalas ucapan Wendy. Pria itu mulai mengalihkan perhatiannya pada para bodyguard yang sudah berdiri dihadapannya dengan tundukan kepala. 


"Kalian bawa semua gadis itu ke rumah sakit dan awasi mereka, jangan ada yang kabur sampai persidangan. Tidak perlu menjaga Wanda selama beberapa hari ini, aku yang akan melakukannya sendiri."


Sekarang, Yuzen tak akan melepaskan gadisnya. Ini luka terakhir. Dia tak ingin melihat satupun luka pada tubuh gadis itu saat mereka menikah nanti. 


Lalu Yuzen kembali berjalan, dia perlu segera mengobati luka gadisnya. Dia akan membawa gadis itu ke UKS dulu sebagai pertolongan pertama sebelum ke rumah sakit. 


Saat berjalan dan memasuki gedung jurusan terdekat, semua orang mulai memandangi mereka. Apalagi tak sedikit yang kaget dan bertanya-tanya akan keadaan Wendy yang berantakan dan penuh luka. Di kaki tak beralasan Wendy yang menggantung di gendongan Yuzen bahkan terdapat banyak darah kering. 


Semua orang bertanya-tanya, apa yang terjadi? 


Tapi tak ada yang berani bertanya secara langsung karena entah kenapa mereka semua merasa takut dengan ekspresi dingin Yuzen yang baru kali itu mereka lihat. 


"Dimana UKS?" Yuzen tiba-tiba berhenti dan bertanya dengan suara keras. 


Semua orang tersentak. Dan salah satu dari mereka--seorang pria--buru-buru menyahut. "Akan kutunjukkan. Disana juga ada dokter yang sedang berjaga saat ini. "


Yuzen mengangguk dan mengikuti pria itu. Sedangkan Wendy, sudah memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya didada Yuzen sejak tadi. Gadis itu memilih tidur, dia terlalu lelah. Nanti, dia akan membiarkan Wanda yang menguasai tubuh ini. 


Bukannya dia ingin mengoperkan rasa sakitnya pada Wanda. Dia hanya sudah lelah, dan jiwa Wanda juga sudah berontak ingin menguasai tubuh miliknya.


✍👀✍


.


.


.


Hai guys....


Jangan lupa like dan komen ya...

__ADS_1


Secuil jejak kalian sangat berati buatku 😍


Yuk bantu cerita ini biar bisa dapat peringkat dengan cara vote cerita ini ya. Terimakasih banyak atas semua kebaikan kalian 😘


__ADS_2