
[8/21 Monday. 8.20 am
Post by RenataDrian
Hot news!
Kabarnya Viola dan 3 temannya menghilang guys!
Bahkan keluarganya sedang mencari mereka. Dan tadi gue liat ortu mereka ada diruang dekan buat nge check CCTV kampus.
Bagi yang tahu keberadaan mereka sekarang, bisa lapor kebagian BEM, dosen, atau bahkan ortu mereka.
Untuk perhatiannya terimakasih.]
[+121] [- 5]
Mereka kan udah besar. Gak mungkin menghilang gitu aja. Atau mereka diculik?
[+97] [- 33]
Atau kabur? Hahah...
[+64] [-45]
Gue sih gak peduli ya. Mau kabur kek diculik kek, tapi yang pasti gue gak suka mereka. Sok cantik mana tukang bully. Karma tuh pasti.
[+202] [-79]
Berkurang juga pesaing buat dapetin kak Yuzen
[+36] [-57]
Elah, berkurang dong stok cewek cantik kampus kita
.
.
Flo mengunyah roti isinya dengan dahi berkerut. Tangannya terus bermain di atas layar ponselnya dan menggulirkan komentar demi komentar pada postingan baru dimedia sosial kampus.
Setelah selesai membaca semuanya, gadis itu melirik kearah Wanda yang melahap makan siangnya dengan lahap di kantin jurusan Wanda. Flo mendengus, tak percaya bahwa trending topic hari ini harus berita tentang nenek sihir Viola itu. Apalagi menurut kabar yang didengar Flo, gadis itu sempat melempar botol air ke arah Wanda.
"Menyebalkan sekali!" Pekiknya membuat Wanda menoleh sejenak sebelum kemudian masa bodoh dengan apa yang dilakukan Flo. Dia lebih semangat untuk menghabiskan makanannya daripada mendengarkan ocehan tak penting Flo. "Hei, kau gadis yang tak peduli apapun, dengarkan aku! Aku sedang kesal!" Flo mencak-mencak melihat betapa cueknya Wanda padanya.
"Hm." Wanda hanya bergumam kecil dan kembali menyuapkan makananya secara konstan tanpa berhenti.
Flo yang melihatnya kesal dan langsung saja merebut sepiring gado-gado dihadapan gadis itu. Yang dihadiahi Wanda dengan tatapan kesal nan tajam.
"Aku ingin makan, Flo!"
"Kalau begitu dengarkan aku dong."
"Apa?" Wanda berusaha mengambil kembali piring gado-gado nya tapi Flo kembali menjauhkannya. "Katakan saja apa yang mau kau katakan!"
Flo mendengus. Lalu menunjukkan apa yang dibacanya tadi pada Wanda. Wanda hanya melihatnya sekilas tanpa membacanya. Lalu kembali menatap Flo tajam. "Kenapa?"
"Masak Trending topic hari ini si nenek sihir itu sih. Aku tidak setuju. Bagaimana bisa berita itu menggantikan seluruh beritamu dan kak Yuzen yang menjadi topik hangat selama berhari-hari!" Flo berdecak. "Aku tidak setuju."
"Bagus dong." Wanda justru tersenyum senang. Pasalnya dia enggan digosipin terus-terusan. Setiap melangkah kemanapun pasti ada saja yang membahasnya dengan Yuzen. Apalagi lebih banyak menjelek-jelekkannya.
"Tidak bisa. Kalian harus terus populer. Tidak tahukah kau berapa senangnya aku kau mengencani kak Yuzen?!"
__ADS_1
Wanda tak mengerti hubungan dari dua kalimat Flo barusan. Toh, semua orang dikampus sudah tahu dia kekasih Yuzen. Tidak perlu lagi berita itu terpajang paling atas di media sosial kampus.
"Terserah kau saja Flo. Tolong kembalikan gado-gadoku. Tidakkah kau tahu, untuk pertama kalinya aku dapat uang saku setelah sekian tahun. Dan gado-gadoku itu jajan pertamaku dengan uang saku!"
Flo menatap Wanda aneh.
"Cuma gado-gado kau perhitungan sekali ya." Dengan kesal Flo melahap gado-gado milik Wanda hingga beberapa suap. Membuat Wanda melirik kesal pada gadis itu. "Memang kau dapat uang saku dari kekasih tersayangmu itu cuma 10ribu ya? Aku yakin Yuzen pasti memberimu banyak!"
"Dia memang hanya memberiku 10ribu." Ucap Wanda polos. Meski hanya 10ribu, dia bersyukur karena bisa membeli makanan untuk makan siang.
Flo sontak memegang kedua bahu Wanda dan menggoyangkannya keras. Gadis itu menatap tak percaya Wanda. Betapa malangnya gadis itu. Punya kekasih kaya tapi dikasih uang jajan cuma 10ribu.
"Benarkah? Pria itu pelit sekali. Kurasa kau lebih baik memutuskannya Wanda."
Wanda menepis kedua tangan Flo. Kepalanya sedikit berputar-putar karena goncangan. Lalu setelah berhasil memfokuskan pandangannya kembali, gadis itu segera mengambil gado-gadonya. Kini Flo tidak menghalangi lagi.
"Kau aneh. Tadi marah-marah karena beritaku dan kak Yuzen tidak jadi Trending Topic. Lalu sekarang minta aku putus dengannya."
"Habisnya! Pria macam apa yang memberi uang jajan cuma.... Astaga! Mengatakannya saja aku merasa prihatin padamu." Flo menatap Wanda sedih. "Maaf sempat memakan gado-gadomu. Apa kau masih lapar? Mau pesan lagi?"
Flo menatap Wanda yang memakan gado-gado yang tinggal sedikit itu. Lalu tak lama gado-gado itu sudah lenyap tak bersisa.
"Boleh? Aku mau mie ayam."
"Okey, kau duduk disini saja. Biar aku yang pesan."
"Oke. Terimakasih. Kau sahabat terbaik." Wanda tersenyum girang, membuat para pria dikantin yang sejak tadi memperhatikannya menjadi jumpalitan bukan main.
Apalagi para pria yang sempat melihat penampilan gadis itu saat berdandan. Mereka awalnya memang tidak kenal. Tapi saat Yuzen marah-marah dikantin jurusannya karena seorang gadis cantik yang makan dengan Jerome, mereka tahu bahwa itu Wanda. Kabar itu sudah tersebar. Apalagi banyak yang menjadi saksi.
Beberapa foto Wanda dengan dress kuningnya itu bahkan sudah tersebar disalah satu grup chat mahasiswa pria. Tentu saja tidak ada yang menyebarkannya diluar grup karena tidak ada yang ingin Yuzen tahu bahwa kekasihnya dijadikan bahan khayalan para mahasiswa kampus. Bisa panjang urusannya jika berurusan dengan Yuzen. Pria itu luar biasa kaya dan bisa melakukan apapun.
"Hai, Wanda kan?"
"Ya?" Tanyanya ragu. Wanda segera duduk tegap saat gadis itu duduk dihadapannya. Tangannya yang sebelumnya berada diatas meja kini diturunkannya dan saling bertautan dengan genggaman erat.
Orang asing.
Kenapa gadis itu mendekatinya?
"Maafkan aku jika aku mengganggu. Tolong berikan aku waktumu beberapa menit ya untuk mengobrol." Gadis itu tersenyum manis yang Wanda akui sangat cantik. "Namaku Fella dari Jurusan tata busana. Aku semester 5."
Wanda hanya mengangguk. Tatapannya awas menatap gadis itu. Dia tak ingin gadis itu menyentuhnya. Bahkan kakinya sedikit bergetar kini. Dia harap Flo segera kembali dan menenangkannya.
"Begini, kau tahukan sebentar lagi festival ulang tahun kampus. Semua jurusan harus berpartisipasi. Dan jurusanku mengadakan acara fashion show dengan baju rancangan kami. Aku menemuimu karena ingin mengajakmu bergabung denganku sebagai model di acara fashion show dan menggunakan rancanganku."
Wanda mengernyit. Sikapnya berubah sedikit longgar. Apalagi saat seseorang menepuk bahunya dan meletakkan semangkuk mie ayam di meja. Flo sudah kembali.
"Siapa?" Tanya Flo spontan.
"Ah Hai, aku Fella. Aku disini ingin mengajak Wanda untuk menjadi model rancanganku di acara festival kampus." Ujarnya singkat.
Flo membulatkan matanya. "Festival kampus? Maksudnya Wanda akan jadi model di festival kampus? Berjalan berlenggak-lenggok?"
Fella mengangguk semangat.
Flo langsung saja menatap Wanda dengan mata yang berbinar. Kesempatan bagus. Wanda akan menjadi lebih populer dan dihargai. Tidak hanya akan dianggap mahasiswa miskin yang berpenampilan berantakan. Tidak hanya akan dianggap kekasih Yuzen yang tak pantas. Gadis itu akan membuat semua orang terpana akan kecantikannya. Flo tahu Wanda sebenarnya sangat cantik. Lalu diluar itu semua, Flo berharap Wanda dapat terus meningkatkan lingkungan sosialisasinya.
"Terima." Flo berkata penuh penekanan. Lalu menatap Fella dengan wajah serius. Diraihnya tangan Fella dan menjabat tangan kakak seniornya itu. "Tenang saja. Aku akan memastikan Wanda menerimanya."
Fella merasa kikuk tiba-tiba. Lalu ditatap nya Wanda dan Flo bergantian. "Begitukah?" Tanyanya tak yakin. Wanda sendiri hanya terdiam dan menatap Flo sebal.
__ADS_1
"Ya. Kakak atur saja jadwalnya."
"Kalau begitu bagaimana kalau besok dilakukan pengukuran badan? Dan kurasa Wanda membutuhkan latihan untuk berjalan seperti model. Waktunya tidak banyak. Festival kampus tinggal 2 minggu lagi."
Flo mengangguk antusias. "Tenang saja. Besok akan kubawa Flo ke gedung jurusan kakak."
"O-oke. Kau bisa simpan nomorku."
Lalu Flo menyerahkan ponselnya dan membiarkan seniornya itu memasukkan nomornya disana. Fella merasa tidak enak melihat ekspresi Wanda yang sepertinya ingin menolak. Tapi dia juga merasa senang karena sepertinya sahabat Wanda akan membantunya membuat gadis itu mau menjadi modelnya.
Meski tubuh Wanda terbilang mungil dan kurus. Tapi karena Fella sempat melihat gadis itu dengan dress kuningnya, Fella menjadi tertarik melihat gadis itu menggunakan rancangannya. Gadis itu akan membuat pakaiannya sempurna.
Fella sungguh merasa antusias. Lalu gadis itu dengan sopan berpamitan pada Wanda dan Flo, Meninggalkan kedua gadis itu yang kini sibuk bergelut dalam tatapan mereka.
"Apa?!" Tanya Flo karena tidak tahan dengan perang tatapan mereka.
"Kenapa kau menerimanya. Aku tidak bisa tampil ditempat umum. Bagaimana jika aku mempermalukan senior itu. Kasihan rancangannya jika aku gunakan. Kau tidak lihat betapa jeleknya aku!"
Flo memutar matanya jengah.
"Jika kau jelek. Yuzen tak akan mau padamu." Ujar Flo sarkas.
Wanda melotot. "Kak Yuzen saja yang buta. Pria itu gila!"
"Ya ya ya. Benar-benar gila karena hanya memberimu 10ribu."
Wanda mencebikkan bibirnya. "Dia tidak punya uang di dompetnya. Bahkan 10ribu itu hasil merogoh celananya. Dia hanya memberiku ini. Mana aku tahu cara menggunakannya." Wanda mengangkat tangannya dan melemparkan sebuah kartu berwarna emas pekat pada meja dihadapannya.
Flo meraih kartu itu dan melotot saat melihatnya. Itu kartu kredit tanpa limit! Wanda bisa belanja apa saja dengan kartu itu, astaga!
"Dasar kau bodoh tidak ketulungan!" Pekik Flo kesal. Lalu dia menatap kagum kartu itu. Membawa kartu itu saja ketempat-tempat mahal akan membuat mereka menjadi customer VVIP seketika dan dilayani dengan sangat baik. Kartu itu adalah surga.
"Apa gunanya kartu itu. Tidak bisa dimakan!"
Flo mendesah kesal. Punya teman gaptek memang harus banyak sabar. "Kau! Bayar mie ayam itu 100x lipat padaku!"
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Yuzen mendesah lelah. Dia baru saja selesai rapat membahas game baru yang akan diluncurkan akhir bulan depan oleh perusahaannya. Perusahaan yang telah berdiri selama 2 tahun itu memang hanya perusahaan kecil dan belum banyak menghasilkan game. Tapi game-game yang mereka keluarkan terkenal dan populer. Tentu saja pencapaian luar biasa untuk anak kuliahan sepertinya. Selama itu Yuzen juga suka memainkan saham. Sebab itulah dia punya banyak uang. Tidak ada yang tahu memang, bahkan orangtuanya. Orangtuanya hanya tahu bahwa dia punya perusahaan game yang sedang dirintisnya, tidak dengan bermain saham. Hanya Hanzel teman kampusnya sekaligus asistennya itu yang tahu.
Sejak menjauh dari Wanda 2 tahun lalu. Yuzen bekerja keras. Dia merencanakan segala masa depannya agar bisa menghidupi gadisnya dengan nyaman kelak. Tak peduli bahwa dia hanya anak yang baru lulus SMA. Toh dia punya otak jenius yang bisa digunakan untuk mencari uang.
Dia ingin membuat gadisnya bahagia. Tidak semata-mata dengan uang orangtuanya.
Kini, dia punya kekayaan yang cukup melimpah untuk membahagiakan Wanda. Membuat gadis itu nyaman hidup dengannya.
Ah... Dia sayang sekali dengan gadis itu.
Yuzen meraih sebuah figura dimeja kerjanya. Disana dia sedang berfoto dengan Wanda. Mereka sama-sama mengenakan seragam SMA. Saat itu, Wanda masih kelas satu dan dia sudah kelas tiga.
"Aku ingin bahagia dan kau adalah kebahagianku." Yuzen berucap lirih membaca kalimat yang tertulis di bagian bawah foto itu. Wanda yang menulisnya.
Yuzen berharap, dia bisa menjadi alasan kebahagiaan gadisnya lagi.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
[Author Note:
Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.
Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗
__ADS_1
dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍
Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]