
Wanda menguap dan mengucek matanya dengan kantuk yang masih mendera. Gadis itu terduduk diranjangnya dan melirik jam dinding dengan pandangan sayu.
Pukul 5 sore.
Sudah hampir 2 jam lebih dia tertidur. Setelah menerima lamaran pria itu dan berbincang kecil, Wanda jadi lelah dan mengantuk. Akhirnya dia jatuh tertidur tanpa sadar. Toh hampir semalaman dia tak tidur karena mengkhawatirkan Yuzen. Wajar jika dia bisa tidur begitu saja.
Ngomong-ngomong, Kemana Yuzen?
Wanda beranjak dari kasurnya dan berjalan kearah wastafel. Gadis itu mencuci mukanya dengan air dingin agar segar. Lalu berdiri lama di depan cermin wastafel dan menatap pantulan tubuhnya lamat-lamat.
Wanda memegang rambutnya, meraba rambutnya dengan dahi mengernyit. Lalu gadis itu meraba wajahnya sendiri, dan kernyitan di dahinya semakin dalam.
Wanda tak mengerti.
Kenapa Yuzen bisa segila itu mencintainya?
Lihat, rambutnya jelek dan kusut. Wajahnya tak pernah terkena skincare dan make-up, benar-benar terlihat kusam. Tubuhnya, tubuhnya bahkan sangat kurus, tidak ada sexy-sexynya sama sekali. Apalagi dia tergolong pendek. Jika disandingkan dengan Yuzen yang jangkung apalagi, dia terlihat sangat mini!
Wanda mendesah.
Kasihan sekali Yuzen mendapatkan wanita seperti dirinya. Wanda merasa semakin minder. Apakah tidak apa-apa menerima lamara Yuzen? Wanda takut Yuzen akan menyesal suatu waktu.
"Jangan mulai lagi, Wanda." Sebuah suara merutuk dalam kepala Wanda. "Cukup jalani hubungan kalian dan nikmati, tak usah berpikir."
Awalnya hanya sebuah suara dalam kepalanya, tapi setelah Wanda mengamati pantulannya di cermin, pantulan itu hidup dan menyeringai jahil kearahnya.
Wanda terpekik tanpa sadar dan mundur beberapa langkah.
"Astaga, kau sudah pernah mengalami hal ini dan masih saja terkejut."
"Te-tentu saja aku terkejut. Orang mana yang tidak terkejut saat melihat pantulan dirinya dicermin bergerak sendiri."
Lalu Wendy tertawa.
Dia suka sekali dengan Wanda polos yang takut dengan banyak hal. Berkebalikan dengan dirinya yang suka tantangan dan berani.
"A-Apa orang lain akan melihat ini ju-juga?"
Wendy terdiam sejenak sebelum kemudian tersenyum kecil. "Menurutmu?"
Wanda yang balik ditanyai menggeleng tak tahu. Lagipula dia kan yang bertanya karena tidak tahu.
"Tentu saja tidak Wanda, orang hanya akan melihat pantulan dirimu seperti biasa. Aku hidup karena refleksi dari otakmu. Hanya kau yang bisa melihatku."
"Ngomong-ngomong, aku mulai kesal saat melihatmu pesimis lagi. Bisa kau buang rasa rendah dirimu itu jauh-jauh?" Lanjut Wendy lagi.
Wanda tertegun. Dia tak yakin bisa membuang perasaan rendah dirinya jauh-jauh. Kenyataannya, dia memang buruk rupa. Banyak gadis-gadis yang lebih cantik darinya, bahkan tak sedikit yang sangat cantik. Dan semua gadis cantik itu sangat cocok bersanding dengan Yuzen dibandingkan dirinya.
"Ah sudahlah. Aku kesal dengan pemikiranmu. Begini saja, kau mau jadi cantik?"
__ADS_1
Wanda dengan ragu mengangguk. Dia tak tahu bagaimana caranya menjadi cantik. Operasi plastik? Membayangkannya membuat Wanda ngeri. Saat jarum dan pisau berjalan di wajahnya, ugh Wanda ingin bersembunyi dibalik selimutnya saja.
"Bagus. Kau sudah punya motivasi. Kau harus menurutku mulai sekarang jika ingin cantik, mengerti?"
"Ba-bagaimana caranya?"
"Mudah, untuk langkah pertama. Minta Yuzen menemanimu ke salon kecantikan. Kau harus spa, luluran rutin hingga kulitmu tidak kusam lagi, mani padi, perawatan rambut, lalu pergi ke tempat perawatan wajah. Selesai. Sisanya pergi ke gym dan atur pola makan."
Mudah?
Wanda yang mendengarnya bahkan ingin menangis. Apa dia harus melakukan itu semua? Dia bukannya mengeluh perawatannya atau apapun itu. Dia hanya ngeri membayangkan seseorang akan menyentuh tubuhnya. Membayangkannya membuat tubuhnya bergetar.
"Aku takut…" Lirih Wanda. "Aku tidak mau melakukannya." Dan mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
Wendy menepuk dahinya. Kenapa dia lupa jika Wanda tak bisa berdekatan dengan orang asing. Astaga, ini lebih merepotkan dari yang dipikirkannya. Percuma jika Wanda sudah punya motivasi tapi takut pada orang asing.
Kemudian dengan mendadak seseorang memeluknya dari samping. Puncak kepalanya dielus dengan lembut. Wanda mendongak dan melihat Yuzen balas menatapnya.
"Kau berbicara dengan Wendy, hm?"
Wanda membelalak dan kemudian pandangannya jatuh kearah cermin. Tapi bayangan Wendy sudah menghilang dari sana. Wanda kembali memandang Yuzen.
"Kau tahu Wendy?" Tanya Wanda tak percaya.
Yuzen terkekeh, lalu menunduk dan menggesekkan hidungnya pada hidung Wanda. "Tentu saja aku tahu. Sejak dulu. Sejak tahu Wendy aku mempelajari segala hal tentang kepribadian ganda. Yah meski terkadang teori dan apa yang terjadi langsung berbeda. Paling tidak aku tahu garis besarnya. Jadi apa yang dikatakan gadis nakal itu?"
"Ga-gadis nakal?"
Wanda nyaris tersedak ludahnya sendiri saat mendengar kalimat Yuzen.
"Kau terdengar seperti sedang menduakanku." Wanda merasa badmood tiba-tiba. Tersadar, Wanda merasa heran dengan dirinya. Apa kini dia marah pada Yuzen hanya karena sosok lain di dalam tubuhnya. Tapi secara umum, mereka kan satu orang.
Melihat ekspresi Wanda yang berubah, Yuzen tertawa. Tak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari bibir Wanda. Jadi, apa gadisnya ini sedang cemburu? Memikirkannya entah kenapa membuat Yuzen merasa bergairah.
Dengan tanpa tahu malu, pria itu mengangkat tubuh mungil Wanda dan mendudukkan nya diatas wastafel. Salah satu tangan pria itu melingkar dipinggang Wanda, menjaga gadisnya agar tidak jatuh. Dan tangannya yang lain memegang dagu Wanda dan mulai mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
"Aku suka sikap posessife mu yang mulai muncul. Kau tahu, aku baru saja menghubungi orang tuaku dan menyuruh mereka pulang kecuali mereka ingin melewatkan pernikahan putra mereka."
Wanda mengerjap.
"Kenapa kau menyuruh orangtuamu pulang? Mereka pasti sibuk sekali. Lagipula pernikahan kita masih lama."
Yuzen menggeleng. "Aku belum bilang ya? Pernikahan kita 2 minggu lagi."
"A-APA?!" Wanda memekik dan tawa keras Yuzen ikut meyahuti rasa syok Wanda. "Ta-tapikan aku ma-masih semester 1." Mereka bahkan masih sangat muda! Yuzen bahkan baru 21 tahun. Dan Wanda sendiri baru 2 bulan lagi menginjak usia 19 tahun.
"Aku tidak peduli semua bantahan dan alasanmu sayang, kau kan sudah menerima lamaranku. Jadi daripada aku menyerangmu dan melakukan kegiatan suami istri sebelum kita sah, lebih baik kita sah sesegera mungkin saja. Kau tahu tidak, kau yang menerima lamaranku, terlihat semakin mempesona dan aku tidak bisa menahan diriku." Ujar Yuzen blak-blakan. Apalagi mengingat status asli mereka yang memang sudah suami istri. Siapa yang bisa tahan, dia belum mendapatkan malam pertamanya.
Mendengar itu Wanda tak bisa berkata-kata lagi. Dia mengerti semua kalimat Yuzen barusan. Meski dia sebenarnya tak bisa membayangkan semua itu terjadi padanya. Yuzen memang kerap melakukan sentuhan-sentuhan di seluruh tubuhnya. Tapi pria itu tak pernah keterlaluan.
__ADS_1
Melihat Wanda yang tampak speechless, Yuzen merasa gemas. Rasanya dia ingin memperkosa Wanda saja sekarang. Toh mereka akan menikah juga 2 minggu lagi.
Tanpa mencegah libidonya lagi, pria itu menarik dagu Wansa dan mengecul dahi gadis itu, lalu turun ke bibir dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.
Wanda yang awalnya terkejut dan berusaha lepas pun akhirnya pasrah. Dia ikut terhanyut. Kedua tangan gadis itu melingkar di leher Yuzen dan mengelus tengkuk pria itu tanpa sadar. Yuzen yang merasakan elusan itu seketika merinding. Alarm bahaya nya langsung berbunyi. Dengan cepat Yuzen melepaskan ciumannya dan memeluk Wanda erat. Nafas Yuzen tersenggal dan dia berusaha meredam hasratnya yang mulai kehilangan kendali. Dengan bodoh, sebagai pengalih otak mesumnya, Yuzen berceletuk.
"Jangan pakai bra kalau tidur, sayang." Ujar Yuzen. Pria itu melepaskan pelukannya dan hanya melingkarkan tangannya disekeliling pinggang Wanda.
"Ke-kenapa?"
"Tidak baik."
"Ta-tapi kita selalu tidur diranjang yang sama."
Yuzen terkekeh. "Memangnya kenapa? Aku kan tidak akan berbuat keterlaluan padamu. Lihat, memang selama kita tidur bersama aku pernah berbuat mesum?"
Wanda terdiam.
"Mulai sekarang jika aku tahu kau tidur pakai bra, aku sendiri yang akan melepasnya. Mengerti?"
Wanda dengan lugu mencebikkan bibirnya tak suka. Lalu mengangguk patuh pada Yuzen. Yuzen yang melihat kepatuhan Wanda pun tersenyum.
Lalu pria itu mulai menggendong Wanda dan membawa gadis itu kearah bath-up.
"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Wanda khawatir. Gelagat Yuzen bukan hal yang baik.
"Memandikanmu tentu saja." Jawab pria itu santai.
Wanda membelalak dan berusaha berontak lepas agar bisa kabur. Wanda akhirnya bisa turun dari gendongan Yuzen dan langsung berlari ke arah pintu kamar mandi. Namun naas, pintu itu tak terbuka sama sekali. Wanda menoleh kearah Yuzen, dan mendapati pria itu sudah memamerkan kunci kamar mandi dengan wajah pongah.
Wanda mencebik dan matanya berkaca-kaca. Tanpa kata, gadis itu meraih sandal bulu yang dikenakannya dan melemparnya ke arah Yuzen. Yuzen tertawa kencang melihat tingkah gadisnya.
"Ayolah sayang, memang aku mau berbuat apa. Hanya memandikanmu. Jangan bertingkah seperti ini pertama kalinya." Yuzen masih tertawa. Astaga, menggoda Wanda sangat menyenangkan. Apalagi bonusnya adalah memandang dan menyentuh Wanda. "Janji deh hanya memandikanmu."
Bohong. Tentu saja Yuzen tak akan benar-benar memandikan Wanda. Oke, tadinya dia memang berencana memandikan Wanda. Tapi setelah merasa hasratnya tak terkendali seperti ini, Yuzen mengurungkan niatnya.
"Maki saja dia Wanda." Wendy berbisik dikepala Wanda dengan suara jenaka. "Maki dia brengsek, pria tak tahu malu, bodoh, mesum, atau apapun. Ayolah, kapan lagi kau memaki Yuzen."
Dan dengan ajaran Wendy, "Yuzen Brengsek. Dasar mesum!"
Dan tawa Yuzen berhenti. Pria itu mengernyit, merasa heran Wanda bisa memakinya. Sejak kapan gadis itu belajar kosakata kotor itu?
Dan pria itu hanya bisa mengangga tak percaya. Jangan bilang….
"Wendy!" Desis pria itu tajam. Pasti Wendy, siapa lagi yang akan mengajarkan Wanda mengumpat?
Tapi kemudian pria itu hanya mendesah dengan perasaan gembira.
Ah dia suka saat-saat ini. Dia tak berharap badai akan menghampiri hubungan mereka lagi
__ADS_1
Jangan sampai. Biarkan mereka tetap bahagia dan Yuzen akan berusaha memastikannya.
✍👀✍