RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 15 : PENYESALAN YUNIAR


__ADS_3

Suara yang berasal dari atas tangga itu jelas keluar dari mulut seorang Romeo. Ia baru saja bangun dari tidur dan rasa mabuknya. Kepalanya masih berat akibat pengaruh alkohol yang ia tenggak sendiri di kamar setelahh berhasil membawa Manda, istrinya dengan selamat.


Romeo mengerutkan dahi, setelah melihat Gisel dan ibunya sudah berdiri dengan beberapa tas yang siap di angkut. Sama seperti baru pertama kalinya Gisel menginjakkan kakinya di rumah itu.


“Kami akan kembali tinggal di rumah mama saja Romeo. Rumah ini tidak cocok untuk perkembangan bayi kalian. Dan sampaikan permintaan maaf mama untuk istrimu. Mama khilaf mengatakan itu padanya tadi.” Yuniar berjiwa besar. Ia memang memiliki watak keras, tetapi ia pun adalah seorang kstaria, yang berani mengakui kesalahan yang ia perbuat. Walau tak langsung menyampaikan pada orangnya.


“Heeiii … apa yang sudah terjadi di rumah ini …?” Romeo mendekati Gisel dan mamanya. Sungguh tak tau apa yang terjadi sebelumnya.


“Tidak ada hal buruk yang terjadi. Hanya mama sungguh merasa telah bersalah mengajak Gisel untuk tinggal bersama kalian. Sekali lagi … maafkan mama.” Pinta wanita itu sedih. Ia sungguh merasa bersalah, kasar pada Manda. Tetapi sisi egoisnya pun muncul, saat begitu ingin memiliki cucu.


“Jangan pergi … tetaplah di sini.” Pinta Romeo mengelus perut buncit Gisel bahkan di hadapan sang mama.


Romeo sudah kepala tiga, mendapatkan buah hati tidak hanya karena dorongan dari orang tua. Namun, sesungguhnya ia pun ingin memiliki itu bahkan sejak awal pernikahannya dengan Manda. Dan celakanya, semakin buncit perut Gisel, semakin rasa sayangnya tumbuh. Berkali-kali ia usir rasa aneh itu. Dan berharap semoga itu hanya perasaan ibanya saja. Tetapi entahlah, ini terasa berbeda.


“Maaf … aku memang bukan siapa-siapa di sini. Hanya wanita penjual rahim. Tapi, jika boleh sekali lagi aku meminta. Tolong … biarkan aku hidup sendiri saja. Aku berjanji, aku bersumpah akan tetap menyerahkan anak ini untuk kalian. Tapi, untuk sekarang aku tidak bersedia lagi tinggal di sini. Juga tidak ingin pulang ke rumah Nyonya Yuniar.” Tegas Gisel dengan mata sembabnya. Bukan gelar wanita penjual rahim yang ia tangisi, namun sapuan lembut tangan Romeo yang membuat buku-buku kakinya terasa lemah tak berdaya. Usapan itu sungguh mampu memunculkan rasa bahagia tak terkira dalam hatinya.


Mungkin anak dalam kandungannya memang sangat membutuhkan belaian seorang ayah kandungnya. Tapi Secara akal sehat Gisel tak bisa menjamin, jika perasaan itu akan muncul hanya oleh hadirnya nyawa dalam rahimnya. Bagaimana kalau perasaannya yang ikut campur mengacaukan semuanya.

__ADS_1


Bahkan hanya usapan selamat pagi dari sang Romeo saja membuatnya bergetar. Tidak … Gisel tidak bisa selamanya bersama. Ini tidak benar. Ini tidak boleh ada di antara mereka. Ini hanya tentang jual beli dalam sebuah perjanjian. Bukan tentang cinta kasih dalam sebuah ikatan.


“Tidak. Kamu boleh tidak di sini, tapi tidak hidup sendiri. Mama yang akan selalu memantau keadan cucunya.” Tegas Romeo bermaksud menahan Gisel terus berada di rumahnya. Sebab, iapun oleng dengan khasima yang terpancar oleh ibu hamil di hadapannya ini. Mungkinkah cinta pertamanya bisa tergeser begitu saja, saat melihat perut buncit itu.  Romeo yang selama ini sangat menjaga hatinya agar selalu pada tempatnya. Tak pernah ingin memindahkan rasa cintanya, hanya teruntuk Manda seorang.


"Sudahlah ... Biar Gisel jadi urusan mama sampai anakmu lahir. Maafkan mama yang selalu menuntut kehadiran cucu pada rumah tanggamu. Sampai kamu berbuat nekat. Membawa Gisel masuk dalam masalah rumah tanggamu. Padahal banyak cara lain untuk mendapatkan anak. Bisa dengan bayi tabung, asalkan di pastikan letak permasalahan rahim Manda separah apa." Ucap Yuniar lirih. Sungguh menyesal sudah menghina istri anaknya.


"Romeo tau, ini adalah langkah yang salah. Terlalu tergesa mengambil sebuah keputusan. Tapi ... Bisakah Gisel tetap di sini." Permintaan aneh dari seorang Romeo.


"Tidak. Mama yang keberatan jika Gisel tetap di sini. Selain kata-kata kasarnya, semalam Manda bahkan berani main tangan pada Gisel. Dan mama tidak bisa bayangkan jika ia tetap di sini. Mama tidak berani membayangkan ke depannya." Yuniar merasa cemas akan tingkah menantunya yang tempramental itu.


Manik mata Romeo menatap tajam, ke arah sang mama. Mencari kebenaran di sana. Serasa tak percaya jika Manda, wanita pujaannya telah berani berbuat sekejam itu pada Gisel.


Yuniar paham betul jika hati Manda jelas telah ia lukai. Dan ia menyesal akan hal tersebut. Bukankah tak ada satu wanita pun, ingin terlahir menjadi wanita tanpa anak. Untuk itu, Yuniar menyayangkan ucapannya pada Manda.


"Tunggu aku mandi dulu. Biar aku yang mengantar kalian." Pinta Romeo tak lagi menahan Gisel dan wanita yang melahirkannya tersebut.


"Tidak usah. Supir mama sudah di depan." Jawab Yuniar enteng tanpa memperdulikan tatapan bingung Romeo.

__ADS_1


Setelah punggung dua wanita itu hilang di balik pintu mobil yang terkantup. Romeo pun bergegas mencari kebenaran tentang CCTV yang sempat Yuniar singgung padanya tadi.


Romeo bungkam. Hanya bisa menutup mulut dengan tangannya sendiri. Otaknya sedang berpikir keras. Mengapa Manda seberani itu bertindak kasar pada Gisel.


Sebentar ...?


Mengapa ia justru memihak pada Gisel? Apa Manda sungguh telah geser?


Romeo bangkit dari duduknya. Melangkah nelangsa ke ruang makan. Mendapati beberapa menu makanan yang sama sekali tak menggugah seleranya.


Sudah pada panggilan kesekian kali Romeo menekan nama 'My Wife' di gawainya tetapi nihil. Ia tidak dapat meneruskan panggilan pada ponsel yang hanya berisi suara operator. Yang isinya hanya informasi, jika yang sedang ia hubungi sedang di luar jangkauan.


"My Everithing ... How are you?" Isi chat Romeo yang hanya centang satu berwarna abu abu.


Dalam keputus asaannya. Romeo akhirnya memutuskan untuk ke kantor saja. Walau matahari sudah semakin tinggi dan galak. Tepat berada di tengah bumi. Pertanda waktu sudah tengah hari. Di mana sebagian raga lainnya, telah merindukan bidang datar untuk sekedar beristirahat. Juga perut yang merasa perlu di isi sebagai pengganti energy yang terkuras sejak pagi.


Tapi tidak dengan Romeo. Ia justru merasa sedang perlu melahap semua pekerjaan, untuk meluapkan emosi yang tak sempat ia ungkapkan. Bahkan tak tau bagaimana cara meluapkannya, sebab dalam rekaman itu jelas Manda yang salah. Tapi, bagaimana dengan hatinya? Cintanya terlalu besar pada Manda, bahkan saat istrinya melakukan kesalahan pun. Ia harus berpikir dua kali untuk menegurnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2