RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 61 : AKTA CERAI


__ADS_3

Takut kelaparan, bahkan takut mati jika terlambat makan dan harus kesana kemari untuk mengisi perutnya. Itulah alasan terkonyol yang pernah Romeo sampaikan pada sang istri, agar Gisel mengasihaninya. Dan mau mengantarkan makan siang untuknya ke kantor. Tapi lihatlah kini. Bukan isi yang di dalam lunch box yang Romeo santap. Melainkan segala sajian nikmat yang ada di balik pakaian Gisel yang tengah di nikmatinya.


“Ayah bilang sedang dalam mode lapar stadium 4, bahkan sebentar lagi mati, karena lapar. Tapi kenapa aku yang hampir mati kelelahan melayanimu.” Rengut Gisel yang tubuhnya sudah di penuhi peluh akibat permaianan Romeo yang selalu menggairahkan.


“Kalau urusan itu, aku bahkan sanggup tanpa makan sebelumnya.” Kekeh Romeo mencium-cium istrinya tanpa jeda.


“Huh … besok aku minta pengasuh O saja, yang datang mengantar makan siangmu.” Ujarnya menjawab asal.


“Sayang yakin, meminta orang lain mengantar makan siang untukku?” pancing Romeo.


“Ya … dengan begini aku lagi-lagi harus lama meninggalkan anak kita.” Sungutnya, masih dalam posisi terlentang mengatur nafas yang menderu-deru.


“Bagaimana kalau menu makanan pembukanya, aku mau seperti tadi. Apa bunda mau itu juga di wakilkan oleh pengasuh O.” Pertanyaan yang sungguh menjebak sang istri.


Gisel hanya diam. Hanya pikirannya yang berujar.


“Yaaah …. Siapa yang mau ayah anakku harus bercinta-cintaan dengan pengasuh anakku.” Romeo tidak mendengar suara itu, sebab hanya dalam hati Gisel.


“Mengasuh Baby O, itu bisa di wakilkan yank. Tapi melayani suami tidak boleh. Dan aku yakin kamu pasti sepakat akan hal ini. Jadi, mulai sekarang. Antarkanlah selalu makanan untukku ke kantor. Supaya tidak ada cela untukku jajan di luar, sayang. ” Pintanya membalik tubuhnya, dalam posisi tengkurap di samping Gisel, lalu membelai kulit wajah istrinya yang tampak masih lelah.


“Kamu memang manis dan sangat ingin menjadi suami setia. Kamu terbaik Romeo.” Bisik Gisel dalam hati. Istri mana yang tidak terenyuh dengan permintaan sederhana suaminya itu. Masa Gisel menolak, jika permintaan itun sangat gampang untuk di penuhi juga demi menjaga keutuhan rumah tangga mereka.


Air mata Gisel mendadak keluar tanpa ijin. Ia terharu memiliki suami yang begitu baik. Hal itu membuat rasa bersalahnya muncul. Merasa salah karena belum bisa seutuhnya menerima cinta Romeo. Sepertinya traumanya akan cinta belumlah sembuh. Di tambah lagi bayangan statusnya masih tercatat sebagai istri sah Dandy, masih sering wara-wiri di dalam otaknya.

__ADS_1


“Maaf, aku belum bisa menemukan Dandy.” Romeom mengerti kegelisahan Gisel. Ia juga tau, alasan Gisel belum mau di publikasikan adalah karena status pernikahan mereka yang belum jelas tersebut.


“Mandi dan berpakaianlah. Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Ajak Romeo yang juga beringsut untuk membersihkan tubuhnya.


Melahap makan siang hingga kenyang, dan ternyata itu bukan saja teruntuk Romeo. Tapi Gisel juga terlihat lahap membantu menghabiskan jatah makan suaminya, hah. Bukankah ia habis di gempur oleh suaminya, tentu saja ia menjadi sangat lapar.


“Apa kita akan bertemu Gladys …?” tanya Gisel saat mereka berada di mobil yang sudah siap mengantar mereka.


“Tidak. Tapi lihat saja nanti.” Jawab Romeo sambil memegang tangan Gisel.


“Kemana …?” desaknya sambil kendaraan roda empat itu berputar, mengantar mereka ketempat tujuan.


“Lihat saja nanti. Dan aku merasa bodoh tidak membawamu lebih cepat ke tempat itu.” Jawabnya, membuat Gisel semakin penasaran.


“Kenapa kita di sini?” tanya Gisel menatap mata sejuk suaminya.


“Menggugat cerai Dandy.” Jawab Romeo mengulurkan tangannya, untuk membawa Gisel keluar.


“Tapi … aku tak punya surat nikah. Bukankah itu syarat utama untuk aku mendapat akta cerai?” itulah kedangkalan pikiran Gisel selama ini. Tapi, wajar saja ini tertunda, sebab bukankah kemarin ia sedang sibuk menjaga kehamilannya. Juga Romeo belum mau mendesaknya, karena ia tau Gisel sedang di landa keraguan atas hatinya.


Tetapi berbeda dengan sekarang. Romeo telah yakin. Istri sirinya ini hanya sedang tidak mengakui perasaannya. Ia hanya belum dengan jelas menyusun kata untuk mengungkapkan perasaan cinta yang sesungguhnya. Bagi Romeo, segera meresmikan pernikahan mereka adalah hal terbenar, agar Gisel percaya diri dengan statusnya sebagai istri sah Romeo.


“Ya … surat nikah adalah syarat utama administrasi untuk menggugat cerai. Tapi, kita bisa meminta duplikatnya. Sebab semua pernikahan resmi yang pernah terjadi tentu terarsip di kantor ini.” Romeo menjelaskan pada Gisel yang akhirnya mengekor suaminya untuk melangkah ke dalam kantor tersebut.

__ADS_1


Romeo sudah di arahkan pada bagian yang menangani hal yang menjadi tujuan mereka. Gisel memang di beri beberapa pertanyaan seputar pernikahan sebelumnya. Juga tentu alasan hilangnya buku nikah tersebut.


Memang tidaklah sembarangan bagi kantor itu dengan mudah membuat duplikatnya. Tetapi, kasus rumah tangga Gisel dan Dandy memang layak untuk segera di keluarkan akta cerainya. Bisa di katakan memenuhi syarat, mengingat hampir setahun ia dan Dandy tidak saling berkomunikasi, di tambah lagi kini Gisel yang juga telah menikah siri. Sehingga, permohonan untuk di buatkannya duplikat surat nikah itu segera masuk dalam daftar untuk di proses.


“Maaf bertanya Pak. Butuh berapa hari untuk pembuatan duplikat Surat Nikah ini?” tanya Gisel pada petugas yang melayaninya.


“Ha … ha. Tidak sampai 24 jam bu. Hanya butuh 30 menit hingga 1 jam saja. Hanya … ibu bisa lihat sendiri deretan antrian panjang itu. Maka, mungkin makan waktu lebih lama dari satu jam.” Jawab petugas dengan renyah.


“Gimana …?” tanya Gisel pada Romeo.


“Mau menunggu …?” Romeo balik bertanya.


“Apa pekerjaan ayah bisa di tinggal lama?” tanya Gisel yang merasa tidak enak, jika karena dia pekerjaan suaminya terbengkalai.


“Kan sudah meeting tadi. Tidak kembali ke kantor lagi saja, tak masalah.” Jawab Romeo memastikan.


“Oh … baiklah. Aku tunggu saja.” Jawab Gisel mencari tempat yang masih kosong untuk duduk ikut mengantri salinan buku nikahnya.


“Huh bodohnya aku selama ini mengharapkan bertemu Dandy hanya demi mendapatkan surat nikah yang pasti sudah sengaja di bawanya, untuk mempersulit proses perceraian ini. Ternyata peraturan di Negara ini sangat fleksibel. Dan mengerti, tak ada perceraian yang terjadi dengan damai, dan tak semua perpisahan itu baik-baik saja. Dengan begini, pasangan yang bertikai tak perlu saling jumpa bukan?” Batin Gisel sibuk berbicara sendiri.


Tangan Gisel di genggam oleh Romeo, kadang di tepuk, kadang juga di elus. Begitulah Romeo yang selalu manis. Dan menunjukkan sisi perhatiannya pada wanita yang sudah memberinya keturunan ini.


“Aku janji akan setia dan hanya mencintaimu saja, Romeo.”

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2