RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 41 : ANAK KITA


__ADS_3

"Kemana saja Pak Romeo selama ini …? Sampai tidak mencium semua kelakuan busuk istri anda dan suami saya …?” suara wanita agak getir bertanya pada mantan suami Manda.


Romeo sudah berhasil membuat janji temu dengan Gladys, istri Roy. Di sebuah café yang sudah di reservasi oleh orang kepercayaan Romeo.


“Maksudnya …?”


“Kemana saja bapak selama ini? Rumah tanggaku dan Roy sudah selalu berada dalam masa perceraian akibat perselingkuhan mereka berdua.” Terdengar sangat kesal kata itu ia ungkapkan.


“Aku sungguh tidak tau … mereka sangat apik menutupinya dariku.” Jawab Romeo apa adanya.


“Jika tidak karena Ara dan Ari , anak kembar kami. Mungkin sejak dulu aku sudah menjadi janda saja.” Umpatnya kesal. Membuang muka ke arah lain. Agar tak melihat wajah lawan bicaranya.


“Sejak kapan kamu mengetahui mereka memiliki hubungan?” tanya Romeo penasaran.


“Saat perutku sedang besar-besarnya, akan melahirkan putra dan putri kami.” Jawabnya lagu dengab suara lantang. Sangat jelas terdengar, ia hanya sedang menyimpan rasa geramnya.


“Seandainya aku orang mampu … mungkin aku tidak akan memilih jalan hidup semenderita ini. Mereka bahkan kerap berkencan, bercinta atau apalah itu namanya. Bahkan di rumah kami. “ lanjut Gladys dengan nada kesal bercampur sedih.


“Berapa usia anak kalian?” tanya Romeo kembali.


“Sekarang sudah hampir tiga tahun. Mereka memulai hubungan itu, sejak aku hamil 4 bulan. Aku sempat stress di masa kehamilan itu. Dan kehamilanku membuat aku tidak punya ruang gerak yang banyak untuk membela diri, juga berusaha memisahkan pasangan gila itu. Membiarkan saja adalah hal yang harus aku terima. Karena Roy bilang, hanya Manda yang bersedia menyokong perekonomian keluarga kami.” Airmata Gladys bagai tumpah tak terbendung. Rasa malu juga tersirat dalam deraian air mata tersebut.


“Maaf …” Romeo memegangi tangan Gladys. Turut bersedih dengan yang istri Roy itu rasakan.


“Aku ingin hubungan mereka berakhir, demi anak-anak kami. Tetapi, semakin ku ingin pergi. Semakin banyak uang yang istri bapak gelontorkan untuk kami, agar kami merasa berhutang padanya.”Lanjut Gladys masih bersedih.


“Maaf … Manda sekarang bukan istri saya lagi. Saya sudah menjatuhkan talak padanya. Dan gugatan cerai pun sudah saya layangkan. Kami hanya menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan surat resmi perceraian kami.”

__ADS_1


“Hah … benarkah? Jika Pak Romeo tidak lagi menjadi suaminya … apakah ia akan menjadi janda kaya …?” tanya Gladys sedikit berpikir.


“Entahlah … ia kini justru sedang berada dalam tahanan. Dan akan siap di sidang untuk memastikan berapa tahun lamanya ia menjadi narapidana.” Ungkap Romeo.


“Oh …” Mata Gladys menajam melihat kejujuran di bola mata Romeo, lawan bicaranya. Tak ia dapatkan rasa sesal, malu ataupun kecewa di sana.


“Saya menemuimu, hanya untuk memastikan. Apakah kamu tau jika selama ini suamimu berselingkuh dengan Manda. Tetapi, ternyata kamu lebih banyak tau dariku. Dan, maaf. Setelah Manda telah di vonis menjadi narapidana. Kemungkinan besar suamimu juga akan menjadi target selanjutnya yang akan saya kasuskan. Sehingga tujuan saya berbicara akan hal ini adalah, agar anda tidak terkejut jika hal itu sudah kami laksanakan.” Ujar Romeo berhati-hati.


“Urusan Roy akan di tahan, di tangkap bahkan di jadikan narapidana itu bukan urusan saya. Sebab, itu adalah urusan Pak Romeo. Saya yakin, tak mungkin Bapak sebeini percaya diri jika tidak mengantongi bukti. Hanya … jika bapak masih memiliki hati dan berprikemanusiaan. Jangan pandang saya atau Roy. Tetapi, tolong berbaik hatilah untuk kedua anak saya.” Pinta Gladys terdengar sungguh-sungguh.


“Itu anak Roy dan kamu. Mengapa saya harus berbaik hati …?” tanya Romeo tak mengerti.


“Setidaknya bermurah hatilah, bagaimanapun rumah tangga saya rusak karena ulah mantan istri bapak.” Pinta Gladys.


“Saya bahkan tidak menemukan korelasi, untuk menyantuni anak seorang pebinor dalam rumah tangga saya.” Romoe bergegas pergi meninggalkan Gladys yang masih bingung harus berbuat apa selanjutnya.


“Gisel …” panggil Romeo pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Saat wanita itu sedang asyik menyiram bunga di taman samping rumah orang tuanya.


“Hmm …” Sahut Gisel datar.


“Jadwal periksa dede bayi kapan …?” Romeo tentu ingin mengakrabkan suasana.


“Wah … aku lupa. Masuklah ke kamarku. Di sana sudah ku lingkari tanggalnya.” Jawab Gisel seadanya. Romeo pun tanpa menjawab, segera masuk ke dalam rumah menuju kamar Gisel memastikan jadwal control calon anaknya.


Gisel ingat, jika baru kemarin melakukan pemeriksaan. Dan yang ia lupakan adalah jadwal selanjutnya. Sehingga, memilih ikut masuk ke dalam kamarnya untuk memastikan jadwal pemeriksaan tersebut.


Brugh …

__ADS_1


Dua tubuh itu saling bertabrakan di ambang pintu kamar. Saat Romeo akan keluar meminta konfirmasi pada Gisel. Di detik yang sama Gisel pun tengah berada di posisi itu, untuk memastikan jadwal yang telah ia lingkari.


“Kamu ga papa …?” Romeo segera memegang bahu Gisel dengan dua tangannya.


“Huh … daddy mu tak hati-hati nak.” Usap Gisel pada perutnya. Tentu saja itu hanya pancingan Gisel. Bukankah sudah sepekan Romeo tidak berada di rumah orang tuanya. Itu berarti selama itu pula ia tidak merasakan usapan belaian dari ayah bayinya tersebut.


“Maaf nak … maafkan daddy.” Cium Romeo cepat pda perut buncit yang semakin ia rindukan dan membuatnya senantiasa terkesima.


“Kamu lupa atau sengaja, Sel …?” hardiknya kemudian setelah baru saja dengan begitu mesra dan lembut mencium perut Gisel.


“Sengaja gimana …? Mana aku tau kamu akan keluar kamar.” Gisel ikut sewot dengan tuduhan Romeo.


“Bukan soal tabrakan tadi. Tapi itu …” Tunjuknya pada kalender yang ada di dalam kamar Gisel.


“Apanya …?” tanya Gisel tak mengerti.


“Lihat kalender yang kamu lingkari itu … Di sana bahkan terlingkar di dua hari yang lalu. Itu artinyta kamu telah melewatkan jadwal control anak kita.” Tunggu … tunggu kita? Anak kita? Sejak kapan Romeo menyimpulkan jika anak yang Gisel kandung adalah anak mereka berdua. Bukankah selama ini ia selalu mengaku jika itu anaknya saja.


“Anak kita …? anakmu. Ini hanya anakmu.” Tegas Gisel seolah tak merasa memiliki akan anak yang sedang ia kandung itu.


“Kamu lupa … jika aku ini suamimu? Sehingga kini statusnya tentu ikut berubah. Dia akan menjadi anak kita berdua.” Tegas Romeo.


“Dia hanya anakmu …” Jawab Gisel dingin.


“Gisel … pliiis. Kemasi barang-barangmu dari sini. Aku bahkan sudah tidak mau pisah rumah denganmu.” Rengek Romeo pada Gisel yang memang notabene sudah sah saya ia akuinya sebagai istri


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2