RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 74 : SIAPKAN UANGNYA


__ADS_3

Dendy sudah memperhitungkan hal yang akan ia lakukan dengan matang. Dalam sekejab, pakaian pengantin berwarna perak sudah ia tanggalkan. Sementara tangannya dengan cekatan melepas pakaian yang Gisel lenakan, sesekali tangannya dengan lincah memecet tombol sembarang. Agar pintu lift tidak terbuka. Demi menyamarkan penampilan Gisel saat mereka keluar nantinya.


Dan benar saja. Akhirnya, dengan alasan temannya terlalu mabuk pihak reseptionis hotel tidak begitu memperhatikan siapa yang di bopongnya dengan satu tangan. Sehingga, Dendy sungguh berhasil membawa Gisel keluar hotel itu dan masuk ke kamar hotel yang lain.


Lama Dendy memandangi tubuh yang masih terkulai lemas di hadapannya. Tangan Gisel sudah ia ikat. Mulut Gisel sudah ia tutup dengan sapu tangan.


Dendy sendiri bingung, bagaimana caranya untuk menghubungi Romeo suami baru Gisel. Ia kira Gisel membawa ponsel. Jadi ia bisa dengan mudah memberi ancaman pada suami Gisel yang kaya itu.


Dendy menangkap ada sebuah pergerakkan dari sudut matanya. Dan itu berasal dari kaki Gisel yang tidak terikat.


"Kamu sudah sadar Ny.Romeo Subagia." Suara tegas terdengar sinis tertangkap oleh rungu Gisel yang tidak sepenuhnya sadar akan keberadaannya.


"Em ... Em ... Eeeemmm." Gisel ingin berbicara, tapi bagaimana dengan kain yang tersumpal di bibirnya.


"Oh ... Aku lupa melepas ikatan mulutmu." Dendy segera melepas kain uang menghalangi mulut Gisel untuk bicara dengan lancar.


"Di ... Di mana aku?" Hanya kalimat itu yang mampu Gisal suarakan, saat otaknya masih tercerai berai akan kejadian sebelumnya. Tak mampu pikirnya menjangkau dengan cepat akan kejadian yang terjadi atas dirinya. Manik matanya segera ke arah perut dan pakaian yang kini ia kenakan.


“Kenapa aku menggunakan pakaian ini? Bukankah tadi aku masih menggunakan gaun pengantin. Tetapi… kenapa aku menggunakan pakaian ini. Katakan br3ngsek, apa kamu yang mengganti pakaianku … hah!!!” Gisel segera berseru dengan nada marah. Tentu saja ia emosi, ia sudah makin ingat. Jika tadi ia bertemu di lift, saat akan beristirahat ke kamar pengantinnya dengan Romeo.


“Waw … hebat sekali lelaki yang kini sudah menjadi suamimu itu. Dia tidak hanya pandai merebut istriku, tetapi juga sudah berhasil merubah tata bahasa seorang Gisel yang ku kenal dulu.” Ujar Dendy saat ia mendengar kata br3ngsek yang Gisel sematkan untuknya.

__ADS_1


“Istrimu …? Aku bukan istrimu lagi b0doh!” Gisel tetap memeprtahankan perkataan kasar yang sudah sangat lama ia pendam untuk ia tujukan pada daratan yang tepat.


“Lagi pula … Gisel yang kamu kenal dulu itu sudah mati. Mati bersama Gavy yang sudah kamu culik dan bunuh. Kamu bukan manusia, kamu itu s3tan!!!” Mata Gisel reah menyala. Dapat di bayangkan, di atas kepala Gisel sekarang bahkan tumbuh tanduk hitam dua, bersama dengan nyala api. Api dendam kesumat. Lama, sungguh memakan waktu yang sangat lama bagi Gisel mendapatkan kesempatan ini. Ini muara ketraumaannya. Yang membuat separuh hidupnya terbuang dengan hal tidak mengasyikkan. Beruntung ia bertemu dengan Romeo. Pria maha sabar dan penuh cinta yang sanggup menungguh hatinya pulih.


“Lepaskan aku b0doh ….!!!” Perintah Gisel sengit.


“Hanya kamu yang mengira aku b0doh. Ini, hubungi suamimu yang sudah merebut istriku. Dia harus bayar mahal, karena sudah merebutmu dariku.” Dendy hendak menyerahkan ponselnya pada Gisel. Tapi Gisel tidak menggubrisnya.


“Jika kamu tidak berniat menghubunginya. Itu artinya, kamu memilih hidup kembali bersamaku. Jangan lupa, mestinya. Tadi malam adalah malam pertama kalian secara sah sebagai suami istri bukan?” Karang Dendy, ia memang memperhatikan perjalanan kehidupan Gisel, namun tidak detail. Sehingga ia mengira, jika Gisel baru saja resmi menjadi istri Romeo, padahal hanya sebuah resepsi yang tertunda.


Sejenak Gisel berpikir. Ada benarnya juga yang Dendy sampaikan. Bukankah lebih baik ia segera menghubungi Romeo agar ia segera bebas dari lelaki kurang ajar ini.


“Hey … b0doh. Bagaimana aku bisa menghubungi suamiku. Jika tanganku masih kamu ikat begini. Dasar gilak.” Ide Gisel pun tercetus, mengingat tangannya masih terikat, membuatnya tidak leluasa bergerak.


“Jangan lapor polisi, jika ingin menemukan istri anda dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.” Setelah melewati beberapa kali tolakan panggilan pada nomor tujuan yang di sebut Gisel. Tanpa kata hallo dan sapaan lainnya, Dendy segera memberikan kalimat pembuka dengan gaya brandalnya.


“Kamu perlu uang berapa?” Romeo bahkan tidak perduli itu penipuan atau hanya iseng. Dalam otaknya hanya ingin Gisel dan calon anaknya selamat.


“Ayah … itu Dendy.” Teriak Gisel memberi kode pada suaminya.” Aliran darah Romeo segera naik dengan tiba-tiba. Bagaimana perasaannya, setelah dari pukul 11 malam mencari istrinya namun sudah di pukul 4 dini hari ia baru menemukan kabar dari sang istri.


“Dengar … sampai ada ku temukan satu saja goresan luka di tubuh istri saya. Saya pastikan kamu akan menbusuk di penjara.” Emosi Romeo seketika mencuat. Resah melandanya, mendengar teriakan Gisel. Walau terdengar baik-baik saja. Tetapi, Romeo tidak pernah bisa sesegera itu untuk tenang.

__ADS_1


”Jangan banyak permintaan. Saya hanya mau uang cash.” Dendy seolah tuli. Tidak perduli dengan ancaman Romeo.


“Berapa?” tantang Romeo.


“500 juta.”


“Hah… kecil. 1 M juga akan menjadi milik mu. Cepat katakan, di mana kita bertemu?” tanya Romeo dengan suara melecehkan permintaan Dendy.


“Waw … bahkan kamu rela menukarkan Gisel dengan uang 1 M. Kamu benar-benar di butakan oleh cinta, pada istriku?” bahak Dendy menertawakan Romeo.


“Hey … bung. Dia bukan istrimu lagi. Kalian sudah lama berpisah.” Ujar Romeo menjawab lecehan Dendy.


“Dasar lelaki b0doh. Berpisah bukan berarti bercerai. Kami hanya terpisah dalam waktu yang tidak sebentar.” Dasar Dendy gilak. Rumus dari mana, berpisah lama begitu dengan segala catatan kriminalnya. Ia masih berharap masih sah berstatus sebagai suami. Kan otaknya memang sudah miring.


“Iya … terserah kamu saja. Yang penting, berikan alamat kemana aku harus membawa uang 1M itu untukmu.” Romeo tidak merasa pantas adu mulut dengan pria yang otaknya tidak selevel dengannya.


“Ha … ha … ha. Santai saja. Aku belum merasa bosan memandang istriku ini. Kami bahkan belum sampat tidur berdua, setelah lama tak saling membari hak dan kewajiban sebagai suami istri.” Kekeh Dendy membuat Romeo geli mendengarnya.


“Heey s3tan. Jaga bicaramu. Aku bukan lagi istrimu. Aku sudah haram bagimu.” Teriak Gisel yang sejak tadi dapat mendengar dengan seksama apa yang Dendy bicarakan dengan Romeo.


“ha … ha … ha. Ah sudah lah. Aku mengantuk. Siapkan saja uang 1 M itu. Nanti jika aku sudah puas bersama Gisel istriku. Baru aku kabari kamu lagi.” Tut tut tut. Obrolan berakhir.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2