RAHIM PELUNAS HUTANG

RAHIM PELUNAS HUTANG
BAB 25 : KETIDAK PERCAYAAN


__ADS_3

Fisik Gisel jelas tidak dalam keadan baik, pun jiwanya. Terlalu bertumpuk masalah di luar nalarnya untuk ia terus memiliki kewarasan yang hakiki. Saat keadaan memnyeretnya dalam situasi yang membuatnya tak nyaman, sekaranglah waktunya untuk berkubang dalam lumpur itu sendiri.


Maka ia dengan sengaja meminta Romeo yang memberi perhatian lebih untuknya.


"Biar orang-orangku yang akan membeli pakaian untukmu." Jawab Romeo pada permintaan Gisel tadi.


Gisel membuang muka. Bukan orang-orangan sawah takberguna itu yang ia inginkan untuk pulang ke rumahnya. Tetapi Romeo. Agar ia dapat menemukan informasi yang sesungguhnya, tanpa ia capek membenarkan dir, dan membuktikan kejahatan istrinya.


"Mestinya Tuan saja yang membantuku." Ucapnya lirih semacam putus asa.


"Aku masih mengkhawatirkan keadaanmu, dan bayiku. Jika aku kerumahmu. Siapa yang menemanimu di sini?"  tanya Romeo yang berhati hello kitty itu.


"Aku bahkan lebih aman saat berada di sini, ketimbang di rumah sendiri." Ucapnya tanpa melihat ke arah Romeo.


"Apa maksudmu ...?"


"Ya ... di sini lebih aman. Ada perawat dan dokter yang bisa menjaga dan memantau keadaank, bukan ...?"


"Apa kamu yakin akan baik-baik saja saat sendiri di sini?"


"Jika Tuan tidak merasa yakin, mintalah surat keterangan pada dokter yangmerawatku. Agar aku melakukan rawat jalan saja." Gisel seolah merajuk.


Romeo menatap Gisel dengan intens.


"Terakhir yang ku ingat, aku tadi sedang menyusun toples kukerku di depan, lalu Nyonya Manda datang. Kemudian aku tak tau lagi. Tapi ... jika setelahnya aku pingsan, bagaimana dengan rumah yang ku tinggal? bisakah Tuan memastikan jika rumah itu sudah terkunci dengan benar?' Gisel sungguh memutar otaknya, agar Romeo mau pulang kerumahnya.


"Baiklah, aku akan mampir sebentar kerumahmu. Tapi ... mungkin malam aku baru ke sini lagi. Sebab, Manda akan berangkat ke MIlan besok." Ujar Romeo menjelaskan sesuatu hal yang sama sekali tak ingin Gisel dengar.

__ADS_1


"Maaf merepotkan kalian. Lupakan saja tentang pakaian dan rumah yang aku khawatirkan. Mungkin memang aku yang lupa diriku siapa." Gisel benar-benar suka mengenai mental Romeo.


Membuat Romeo hanya diam membisu. Kemudian pamit meninggalkan Gisel di druang rawat inap itu sendirian.


Romeo tidak menggunakan jasa orang lain. Ia sungguh datang sendiri ke rumah Gisel. Mendapati beberapa orang yang masih terlihat duduk berjaga di depan rumah Gisel tanpa di kunci.


"Bagaimana keadaan Mama Gavy, Pak ...?" tanya salah satu tetangga yang jelas sok kenal. Sok dekat pada Romeo.


"Hah ... Mama Gavy?" Romeo agak tak mengerti.


"Iya ... bukankah ibu hamil yang tinggal di rumah ini namanya Mama Gavy ...?" tanya yang lain memastikan.


"Oh ... iya. Dia baik-baik saja. tapi memang perlu di rawat inap. Permisi, saya kedalam." Pamit Romeo pada mereka yang sengaja duduk di depan teras rumah Gisel.


Romeo memberanikan diri masuk ke dalam kamar Gisel. Meraih tas tangan, dompet juga ponsel wanita itu. Sedangkan pakaian dan yang lainnya, ia merasa tak sedetail itu membuka lemari pakaian wanita tersebut.


"Hah ...?" kaget Romeo. Ia bingung harus menjawab apa. Siapa suami? dan siapa yang mereka sebut korban.


"Saya ketua RT di sini. Sebagai warga yang baik, sebaiknya bapak melapor dan mnyerahkan kartu identitas sebagai kepala keluarga pada kami. Setidaknya, tinggalkan no ponsel yang bisa kami hubungi. Seperti kejadian tadi, sangat membahayakan jiwa istri anda, Pak." Tebak ketua RT asal.


"Kita duduk di dalam dulu pak." Romeo merasa perlu duduk berhadapan dengan pria yangmengaku sebagai ketua RT ini.


"Sebelumnya, saya minta maaf belum sempat melaporkan diiri dan menyerahkan kartu tanda pengenal saya, sebagai warga di sini. Karena saya kebetulan sedang tugas di luar daerah." Bophong Romeo. Malu juga ia mengakui jika ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Gisel yang jelas sedang hamil anaknya.


"Maaf saja tidak cukup sebenarnya Pak. Sebab, resiko  itu bukan kami korbannya. Tetapi istri bapak yang sedang hamil itu. Wanita yang datang menyerang istri bapak tadi benar-benar kejam." Jelas pria berpeci tadi pada Romeo.


"Maksudnya ...?" tanya Romeo tak mengerti. Siapa yang ketua RT itu katakan wanita yang menyerang Gisel.

__ADS_1


"Iya pakm ... kami ini saksinya. Wanita cantik itu tadi yang datang marah-marah dengan istri bapak. Lalu mendobrak pintu yang akan di tutup oleh istri bapak, dia terjatuh, bahkan di injak oleh wanita jahat tadi." Jelas ibu-ibu yang tiba-tiba nimbrung masuk ke dalam rumah Gisel.


"Maaf ... saya tidak mengerti dengan cerita kalian, Wanita cantik yang mana?' Romeo ingin memastikan. Apakah itu Manda istrinya.


"Itu ... wanita yang tadi membawa istri bapak ke rumah sakit. saya ytang memegang istri bapak di belakang." Tambah seorang ibu lagi ikut menberi penjelasan.


"Kalian jangan mengada-ngada. Bukankah wanita itu yang membawanya ke ruamah sakit?" oh ... bodohnya Romeo. Masih saja mengira jika Manda adalah seorang malaikat.


"Kami memang tidak punya bukti pak. Tapi mata kami banyak sebagai saksi di sini. Telinga kami juga belum tuli jika sebelumnya, wanita itu menyebut jika istri bapak adalah seorang pelakor." Jelas ibu yang paling Vocal bercerita sejak tadi.


"Ada berapa orang wanita yang datang ...?" Romeo berharap tidak hanya Manda seorang yang datang. Ia hanya ingin ingkar dari kenyataan, jika istrinyalah yang selalu menuduh Gisel sebagai pelakor.


"Bapak ... yang datang itu hanya satu wanita. Wanita yang sama, yang marah-marah, yang mendobrak pintu, yang menginjak pinggang, juga yang kemudian mengantarnya kerumah sakit." Papar ibu tadi dengan sangat jelas. Sontak wajah Romeo memerah, kecewa jelas tergambar pada pias wajah tenangnya, Ia terluka dengan sikap kasar Manda, sekaligus menyesal dengan tindakan Manda. Lalu diam-diam merasa ialah yang bersalah. Karena telah membuat Manda sebrutal itu, akibat keputusannya membeli rahim Gisel demi obsesinya memiliki anak.


"Kami memang tidak punya bukti pak. Tapi mata kami banyak sebagai saksi di sini. Telinga kami juga belum tuli jika sebelumnya, wanita itu menyebut jika istri bapak adalah seorang pelakor." Jelas ibu yang paling Vocal bercerita sejak tadi.


"Ada berapa orang wanita yang datang ...?" Romeo berharap tidak hanya Manda seorang yang datang. Ia


hanya ingin ingkar dari kenyataan, jika istrinyalah yang selalu menuduh Gisel sebagai pelakor.


"Bapak ... yang datang itu hanya satu wanita. Wanita yang sama, yang marah-marah, yang mendobrak pintu, yang menginjak pinggang, juga yang kemudian mengantarnya kerumah sakit." Papar ibu tadi dengan sangat jelas. Sontak wajah Romeo memerah, kecewa jelas tergambar pada pias wajah tenangnya, Ia terluka dengan sikap kasar Manda, sekaligus menyesal dengan tindakan Manda. Lalu diam-diam merasa ialah yang bersalah.Karena telah membuat Manda sebrutal itu, akibat keputusannya membeli rahim Gisel demi obsesinya memiliki anak.


“Saya kenal betul dengan wanita yang datang tadi. Dan tidak mungkin dia berbuat nekad. Kalian bisa saya tuntut atas pencemaran nama baiknya, jika semua yang kalian tuduhkan padanya tidak bisa kalian buktikan.” Oh … cinta sebodoh itu. Hingga Romeo masih terlalu kokoh percaya pada Manda istri tercintanya.


“Kami memang tidak punya bukti. Tapi kami semua siap bersaksi jika wanita itu benar-benar telah melakukian tindakan criminal.” Tantang ibu yang lain menangkis ketidak percayaan Romeo.


“Ah … maaf. Lain kali saja kita bicarakan hal ini. Sebab, saya tidak bisa terlalu lama meninggalkan istri saya di rumah sakit.” Pamit Romeo yang terpaksa berpura-pura berlakon sebagai suami Gisel.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2