
Gisel masih bingung harus berkata apa. Dan masih sangat berhati-hati untuk mengeluarkan suara agar tidak mengganggu Dendy. Tetapi di sisi lain ia juga tau, jika pihak penerima di ujung telepon itupun sedang menunggu jawabannya.
“Maaf saya tutup.” Gusarnya akan memutuskan sambungan telepon yang mungkin iseng.
“Tolong sa... ” tut tut tut. Belum sempat Gisel menyelesaikan kalimatnya, tanpa ia sangka ternyata Dendy tidak benar sedang tidur. Tiba-tiba saja Dendy bergerak cepat dan menekan tuts, agar panggilan yang Gisel lakukan itu terputus sepihak.
Plakh …
Dendy segera menampar pipi kiri Gisel hingga leher itu berotasi ke arah kanan.
Keras.
Pasti.
Bukan hanya dari suaranya, arah yang berpindah juga sangat menjelaskan betapa tamparan itu sangat keras untuk seorang wanita lemah. Kulit Gisel tidak putih, namun pada warna sawo matang itupu, tak mampu menyembunyikan semu merah bekas tamparan dari seorang bajingan Dendy tersebut.
“Apa yang kamu lakukan?”kini giliran dagu Gisel yang di cengkran dan di angkat dengan cengkraman yang tidak lembut oleh manusia yang tak pantas di sebut manusia tersebut.
Cuuh. Andalan Gisel masih sama. Saat tangan dan kakinya tak dapat melakukan pembelaan terhadap dirinya. Maka air ludahnya selalu ia gunakan sebagai senjata andalannya.
“Br3ngsek …!!!”
“Aku hanya bertanya apa yang kamu lakukan …!!” Hardiknya geram menghapus air yang terloncat mengenai pipinya.
“Jika hanya bertanya… mengapa sampai menamparku.” Gisel tak menyerah ia tetap terdengar berani melawan Dendy.
“Kamu mau menghubungi siapa, hah?” tanya Dendy ingin tau.
“Aku lapar. Aku ingin makan.” Bohong Gisel, tiba-tiba menemukan ide agar orang di luar kamar itu bisa menemukan keadaanya. Keadaannya yang tak pantas sebagai tamu di hotel itu.
“Kamu hanya perlu membangunkanku. Jangankan memberimu makanan, menyuapimu pun aku bisa melakukannya untukmu.” Tawanya sinis.
__ADS_1
“Kalau demikina, cepat lakukan. Sebelum aku jatuh sakit karena lapar bahkan mati, dan kamu akan segera menjadi tersangka pembunuhan. Bukankah sebentar lagi kamu akan menerima uang 1 M dari suamiku. Maka, lakukanlah yang terbaik untukku, sebelum suamiku menemukanku dalam kondisi teraniaya olehmu.” Gisel mengingatkan Dendy. Walau sesungguhnya hatinya sedang pilu. Tak tau cara apa lagi yang bisa ia lakukan agar bisa lepas.
Kring …. Kriiiing.
Telepon di dekat mereka berdering.
Siapa lagi kalau bukan petugas receptionis yang penasaran akan telepon yang tidak jelas tadi.
Dendy dan Gisel saling berpandangan. Dengan tajam Dendy melotot ke arah Gisel. Ia segera berdiri, lalu meraih tali yang tersambung dari dinding ke pesawat telepon itu, kemudian mencabutnya. Agar sambungan jalur telepon itu sungguh terputus.
“Ha … ha …” Tawa Dendy menyeruak. Dia persis seperti orang gila. Yang sangat bahagia membuat orang lain sengsara.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan.” Terpaksa Giselmenurunkan nada bicaranya. Ia merasa, Dendy sungguh tidak bisa di ajak bermain kasar. Semoga dengan bicara baik-baik, mantan suaminya ini bisa sedikit melunak.
“Uang.” Jawabnya singkat.
“Ya sudah, tolong segera berikan alamat kita pada Romeo. Maka, kamu akan menjadi kaya.” Simpul Gisel meyakinkan.
“Apa yang Romeo katakan padamu tadi?” tanya Gisel.
“Jangan membuatmu terluka, makan uang itu akan menjadi milikku.” Ulang Dendy pelan.
“Asal kamu tau, Romeo pria sejati. Ia bukan pembohong. Ikuti saja yang ia pinta, maka uang itu akan sungguh menjadi milikmu.” Ucap Gisel meyakinkan.
Ting tong
Suara bel di balik pintu berbunyi. Dendy mendekatian tubuhnya pada Gisel. Bersiap akan mencekik atau apa saja, jika mungkin yang datang adalah segerombolan polisi bersama Romeo. Itu yang ada dalam otak seorang kriminal.
“Siapa …?” teriaknya dengan posisi waspada.
“Servis room.” Suara dari luar.
__ADS_1
“Kami tidak memesan layanan apapun.” Jawab Dendy mendekat ke pintu dan meninggalkan Gisel, sebab mendengar suara wanita yang bersuara di balik pintu.
“Pelayanan hotel kami memang seperti ini. Ini Sarapan. Apa hanya kami letakkan di depan pintu?” tawar suara itu lagi. Dendy segera berdiri mengintip di kaca darurat di depannya. Untuk memastikan jika ujaran yang di tangkap oleh telinganya sungguh benar.
Dan ternyata benar saja. Di depan pintu itu nampak seorang wanita dengan pakaian khas pelayan hotel. Sedang membawa nampan, berisi beberapa botol mineral juga makanan ringan.
“Sebentar.” Jawab Dendy merasa aman. Ia ingat jika tadi Gisel berkata sedang lapar. Bukankah ini adalah sebuah kebetulan. Dia tak perlu capek keluar hotel untuk mencari makanan. Yang sesungguhnya ia sendiri tak tau, bagaimana caranya keluar tanpa mengajak Gisel. Dan ketika ia kembali, wanita itu tetap berada di dalam dengan tenang. Buktinya, saat ia terlelap tidur saja. Gisel sudah berulah dengan telepon hotel.
Cletak. Suara kunci terbuka. Gagang pintupun Dendy buka masih dengan mode waspada. Walau ia sudah memastikan, dari kaca darurat tadi. Jika di balik pintu itu sungguh seorang pelayan hotel.
Braakh
“Jangan bergerak.” Wanita yang memegang nampan tadi segera menjatuhkan benda di tangannya, menyisakan pistol yang kini di todongkan tepat di dahi Dendy. Di ikuti segerombolan petugas pengayom masyarakat lainnya kurang lebih 5 orang ikut masuk menyerbu kamar yang di tempati Dendy dan Gisel.
“Gisel …” Romeo, itu suara Romeo. Ia segera masuk dan menemukan istrinya yang masih duduk di kursi dengan ikatan memilit tubuhnya.
“Ayah O.” tangis Gisel pecah. Tak sanggup lagi matanya menahan semua kepiluan yang terjadi atas dirinya. Romeo berlari ingin segera melepas ikatan yang membahayakan istrinya.
“Maaf sebentar pak. Kita foto terlebih dahulu. Untuk barang bukti.” Pinta salah seorang Polisi yang tentu saja akan melakukan olah TKP setelah kejadian ini. Sementar yang lainnya, sudah melaksanakan tugasnya. Yaitu memborgol dua tangan Dendy.
Dendy yang tak dapat berkutik apalagi mengelak. Ia kalah telak, terjebak dalam permaianan yang ia buat sendiri. Karena kebodohannya.
“Segera kita berurusan di kantor saja. Kami menyusul. Sebab saya harus membawa istri saya ke rumah sakit terlebuh dahulu, untuk di visume.” Tegas Romeo padam para petugas berpakaian serba coklat itu.
“Siap, tetap kami kawal pak.” Jawab Polwan yang menyamar sebagai pelayan hotel tadi.
“Sudah ku katakan. Jangan buat karya apapun dalam tubuh istri saya. Jika tidak ingin membusuk di penjara.” Geram Romeo berucap di hadapan Dendy, sembari menunjuk pipi Gisel yang masih terlihat merah dan tentu sangat sakit itu.
“Hah … dasar lelaki perebut istri orang.” Teriak Dendy. Oh … fix. Dendy itu kelaian jiwa.
Bersambung …
__ADS_1