
“Sarapan … “ Ujar Gisel sambil merapikan pakaian dan dasi Romeo saat mereka masih di kamar.
“Tidak sempat, yank. Kami ada meeting, dan bahan belum semuanya siap." Jawab Romeo.
“Roti saja di kunyah selama di perjalanan ke kantor.” Saran Gisel pada suaminya yang terlihat semakin manja. Mestinya mereka tidak akan terlambat bangun, jika durasi permaian tidak selama semalam.
“Kalau roti saja, aku akan cepat lapar.” Jawabnya menolak secara halus.
“Makan lah di kantor.” Saran Gisel lagi.
“Oke. Tapi, bunda yang antarkan makan siangku.”
“Tidak mau.” Tolak Gisel cepat.
“Kenapa?”
“Aku tidak mau meninggalkan Oniel.”
“Bawa saja dia ke kantor.” Jawab Romeo cepat.
“Kami hanya menggangu pekerjaanmu.”
“Kalian penyemangatku.” Peluk Romeo pada Gisel yang selalu mampu membuatnya rindu setiap waktu ini.
“Aku malu jika harus ke kantor mengantar makan siangmu. Seperti istri sah saja.” Jawab Gisel asal.
“Jangan menyindir kinerja detektifku untuk menemukan Dandy.” Jawab Romeo berubah gusar.
“Maaf.” Jawab Gisel peka.
“Jadi bagaimana makan siangku?” tagih Romeo.
“Baiklah akan aku antar, tapi ada syaratnya.”
__ADS_1
“Apa …?”
“Biarkan aku masuk kantormu tanpa siapapun menghalangiku, tanpa berkomunikasi dengan siapapun. Aku tidak mau di perkenalkan sebagai siapapun dan apapun di sana nanti.” Permintaan yang aneh. Suami berjabatan tinggi. Bukankah impian semua wanita akan di perkenalkan sebagai istri seorang CEO. Hal yang wajib di banggakan dan harus di hormati seantero kantor.
Jauh berbeda dengan Manda Julia. Yang kadang tak kenal waktu, kadang masuk, menyelinap melakukan pendekatan , dengan beberapa karyawan terutama yang berjenis kelamin perempuan. Demi melancarkan aksi ancaman, agar tidak macam-macam dengan suaminya. Walaupun kenyataannya, justru ia sedang menutupi kecurangan yang ia lakukan sendiri.
“Syarat yang aneh. Tapi, baiklah Gisel Maryam. Ny. Romeo Subagia. Lakukanlah yang membuatmu nyaman.” Akur Romeo pada istri sirinya itu.
Tak sulit bagi Romeo untuk jatuh cinta pada sosok Gisel. Selain wanita itu telah memberinya keturunan, kepribadian Giselpun tidak neko-neko. Dia bukan tipe wanita yang suka menuntut, apalagi memaksakan kehendak. Ia sederhana dan apa adanya. Hanya, pengakuan cintanya yang tak pernah Romeo dengar dari mulut wanitanya itu. Dan bagi Romeo itu adalah PR yang harus ia bantu selesaikan. Bagaimanapun, Manda sudah jadi bagian dari masa lalunya. Dan Gisel adalah masa depannya. Ia sudah sadar jika selama ini telah banyak membuang waktu dalam mencintai seseorang. Cinta yang keliru, cinta pada orang yang salah.
“Aku masih di mobil. Persis di depan pintu masuk.” Chat Gisel pada Romeo. Ia sudah menggunakan pakaian serba panjang, namun bukan syar’i. Menggunakan kacamata coklat gelap, dan masker untuk menutupi permukaan wajahnya.
Hal itu bertujuan untuk mendukung usahanya agar tidak di kenali orang-orang di kantor milik suaminya. Padahal dari outfit yang ia gunakan, orang juga tau jika itu adalah barang mahal dan berkelas. Romeo sudah mengganti semua gaya berpakaian istrinya. Agar seimbang dengan penampilannya, di waktu yang mungkin bersifat dadakan.
“Keluarlah. Dan langsung masuk lift. Aku sudah kasih karcis tolnya nyonya. Jadi bebas hambatan.” Romeo mengulum senyum bahagianya. Persis seperti remaja yang baru jatuh cinta pada istri sendiri.
“Baik.” Balas Gisel, yang Kemudian keluar mobil, lalu masuk tanpa permisi dan tak perduli dengan tatapan bingung orang di sekitar. Sebab ia, sungguh berjalan menuju lift sesuai arahan suaminya.
“Gisel …” sapa suara lelaki yang baru keluar dari lift yang baru terbuka.
“Papa …” Jawab Gisel terpaksa. Ya … itu adalah Keynan, ayah suaminya. Tidak mungkin kan ia tidak menyahuti, sapaan sang mertua.
“Kamu mau mengantarkan makan siang untuk suamimu …? Papa senang melihatnya, segeralah menemuinya, dia terlihat sudah sangat kelaparan.” Kekeh Keynan dengan suara yang tidak pelan.
Seketika bumi bagai berhenti berotasi. Mendadak terhenti, dan semua kepala menoleh ke depan lift. Ke arah posisi Gisel dan Keynan berdiri, yang saling berinteraksi tadi. Lalu untuk apa Gisel bagai orang yang sedang menyamar? Toh, ia sangat dengan jelas di sebut sedang akan mengantarkan makan siang untuk suaminya.
“Huh … mertua yang bikin kacau saja.” Umpat Gisel di dalam hati.
“E … Gisel permisi ke atas Pa.” Pamit Gisel sopan pada Keynan.
“Silahkan … “ Keynan memberi jalan agar menantunya bisa masuk lift yang ia gunakan tadi.
“Gisel … jangan hanya makan siang yang kamu berikan untuk Romeo. Papa masih mau kalian kasih cucu kedua lagi.” What …? Itu bukan ucapan, tapi teriakkan sebelum pintu lift benar-benar tertutup dan mengantar Gisel ke atas untuk bertemu Romeo. Bagaimana dengan mata orang yang hampir copot melihat Gisel dari atas kepala hingga bawah kakinya? Lalu, telinga mereka tentu tidak tuli untuk menangkap ucapan konyol yang sepertinya sengaja Keynan ucapkan, cukup memekakkan telinga. Gisel sungguh malu di buatnya.
__ADS_1
“Sayaaaang.” Peluk Romeo pada Gisel yang sungguh telah berada di ruangannya.
“Heem.” Dehem Gisel merasa masih agak kesal dengan kejadian di depan lift tadi.
“Ada apa … ? tidak ikhlas mengantar makan siang untuk suami?” ceklek, Romeo mengunci pintu ruangannya. Agar leluasa dan tidak di ganggu siapapun saat ia berdua-duaan dengan istrinya tersebut.
“Kamu sengajakan memintaku mengantar ini?”
“Ya … kan aku hanya sarapan roti tadi pagi. Kalau aku harus pulang ke rumah untuk makan, atau mampir di restoran atau kantin kantor, aku bisa mati. Karena kelaparan, nyonya.” Senyum Romeo terpasang penuh makna kemenangan.
“Ayah lebay.” Rutu Gisel, meletakkan lunch box itu di atas meja yang ada di tengah ruangan suaminya.
“Bukan tentang makan siangnya. Tetapi, kamu pasti sengaja mempertemukan aku dengan papa.” Curhat Gisel.
“Papa …? Oh, kami memang baru selesai meeting. Makanya tadi pagi aku cepat-cepat ke kantor, karena ada meeting dengannya.” Jelas Romeo memilih-milih makanan apa yang akan ia santap.
“Kamu kan bisa bilang, aku masuknya nanti-nanti. Supaya ga ketemu sama papa di bawah tadi.” Lanjut Gisel sambil menata makanan di piring untuk suaminya.
“Ya ... mana aku tau kamu akan bertemu papa di bawah sana.” Bela Romeo pada Gisel yang terlihat masih cemberut.
“Ada apa sih …?” tanya Romeo kemudian.
“Ah … aku sampai bingung pulang nanti harus lewat mana, karena malu. Apa ada pintu ajaib yang membuatku sekarang juga bisa berada di dalam rumah kita, atau di dalam kamar Baby O saja.” Pelas gumamam itu, tapi masih bisa di dengar oleh suaminya.
“Heey …. Kenapa wajahmu terlihat makin cantik saat kesal begini?” Romeo menunda niatnya untuk mulai menyuap nasi dan lauk yang di bawa istrinya tadi.
“Hah …?” Gisel mendongak melihat wajah suaminya yang hanya berjarak satu inchi.
“Aku tunda saja makan siangnya, aku mau makan kamu dulu aja.” Tubuh mungil Gisel sudah melayang di udara, dalam gendongan suaminya. Dan Romeo pun sudah membawanya masuk kesebuah ruangan kecil yang di lengkapi kasur empuk, menyejuk udara yang bahkan sudah membuat ruangan itu super dingin juga wangi. Hah … ini sudah terstruktur apik oleh suaminya, fix. Gisel memang sudah di kerjain oleh suaminya.
"Hey ... Kita di mana?" pertanyaan yang tak perlu di jawab bukan.
"Bukankah tadi kamu, mau ada pintu ajaib?"
__ADS_1
Bersambung ….